
Pagi hari yang cukup cerah tidak bisa menutupi rasa gundah di hati seseorang. Dan tidak bisa menutupi kesedihan di wajah tampan miliknya.
Seseorang itu adalah Indra, saat ini Indra tengah duduk di ruang pribadi nya di Cafe ini. Dengan pulpen di tangan sambil pura-pura menyibukkan menatap laptop.
Indra sudah berada di Cafe sejak semalam, karena tidak bisa tidur dengan nyenyak Indra memilih untuk menginap di Cafe nya. Bukan pilihan buruk ternyata, walaupun pikiran itu masih terus melekat di otak nya.
Sudah pukul 7 pagi, biasanya gadis berambut pendek dengan setelan kebesaran nya itu sudah datang lebih awal. Tapi dari tadi Indra tidak mendengarkan langkah seseorang atau suara gadis itu yang membuka ruangan ini dengan senyum sendu.
Tok tok tok
Ketukan pintu itu membuat Indra mengangkat wajah nya dengan secerah harapan bahwa gadis itu lah yang mengetuk pintu nya.
"Masuklah." Suara Indra menginterupsi sambil berharap bahwa itu adalah
Ceklek
Pintu terbuka dan ternyata pelaku nya adalah
"Mas Indra toh, saya kira siapa." Ternyata yang mengetuk bukan gadis itu.
Indra yang tersenyum langsung memudarkan nya dan hanya mengangguk mendengar perkataan Sabrina. Indra menutup laptopnya lalu berdiri dari duduk nya tadi lalu berjalan menuju Sabrina yang masih setia berdiri di ambang pintu.
"Minggir saya mau keluar Brina." Ujar Indra yang dibalas cengengesan oleh gadis itu. Sabrina pun menepi dan Indra keluar dari ruangan nya. Indra hanya bisa melihat ke hadiran Bemo dan Sabrina sekarang, terus kemana Lona? Tumben sekali.
"Halo mas Indra." Sapa Bemo yang sedang mengelap meja kasir dengan senyum menjengkelkan milik bemo.
Indra terkekeh kecil, "Eum, kemana Lona?" Tanya Indra yang berdiri di dekat pintu keluar dari ruangannya. Sabrina yang sudah melewati Indra pun melengah dengan miris
Miris melihat boss yang kelewatan Bucin dengan Lona.
"Loh kemarin kan kalian ketemuan, mana kami tau sekarang mba Lona dimana." Ah benar apa yang di katakan Sabrina.
Kemarin Indra dan Lona bertemu dan semua nya terlihat tidak baik-baik saja. Indra tau itu, tapi Indra tidak mau menganggap bahwa Lona patah hati kemarin.
"Ya-ya maksudnya-
"Hayo, kenapa mas Indra kemarin hampir mau 3 hari gak ada? Jangan-jangan." Bemo si biang kerok mulai bersuara dan Sabrina yang masih jengkel melihat tingkah Bemo pun langsung menegur lelaki itu.
"Eh kampret. Diam Lo sana kerja gibah Mulu hidup Lo heran gue." Usiran Sabrina tidak membuat hati kecil bemo terluka, malahan lelaki itu tertawa lalu berbalik untuk melakukan pekerjaan lainnya.
Sabrina yang masih di satu tempat yang sama dengan Indra pun memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Berusaha tau apa yang terjadi dengan Indra hingga pria ini tampak kusut di pagi hari, biasanya Indra itu kalau pagi-pagi pasti ganteng nya bisa ngalahin abang-abang tukang bakso mari-mari sini. Eh maksudnya bisa ngalahin Chanyeol EXO itu loh.
"Mas, kenapa kusut gitu? Ada masalah?" Indra yang merasa di sebut pun, hanya menggeleng dan berusaha menciptakan senyuman di bibir nya.
Sabrina bukan sok tau nih ye, tapi kan biasanya si mas nya ini gak pernah bergaya kek gembel.
"Sudahlah Sabrina, saya mau-
Sebelum kalimat Indra tersambung, kalau di putus duluan oleh bunyi bel tanda masuk seseorang dari pintu depan cafe. Dan ternyata itu adalah
"Woi mba Lona tumben siangan datang nya." Bemo meneriaki Lona yang memasuki Cafe dengan senyuman yang jarang di liat oleh siapapun.
Bahkan Indra pun terlihat sangat terkejut dengan senyuman Lona yang biasanya sama sekali tidak di umbar sembarangan pada siapapun.
Bemo yang berada di sebelah kiri pintu masuk pun terlihat menatap Lona dengan selidik,
"Wah wah, mba Lona kok senyum. Kayaknya ada yang iya-iya ini."
"BEMO LO GUE JITAK JUGA, sana kerja gibah aja tau nya." Lagi-lagi Sabrina menegur Bemo yang terlihat ingin sekali tau urusan manusia.
Bemo menurut langsung saja berbalik pergi meninggalkan Lona, lalu Lona pun berjalan menuju ruang ganti Cafe dan mengabaikan Indra yang melihat nya. Mengabaikan Sabrina yang terlihat tidak tau apa-apa.
Sabrina menyusul Lona yang memasuki ruang ganti, dan Sabrina langsung menutup rapat pintu nya.
Lona terkejut
Mata Sabrina itu ada Empat, jadi jangan Salahkan kalau dia melihat
"Mba itu cincin apa." Pekik Sabrina.
Lona melihat apa yang di maksud oleh gadis itu, dan Lona tersenyum.
"Ini cincin Sabrina." Jelas Lona.
"Saya tau itu cincin, tapi itu cincin tunangan?" Sabrina tidak mau salah paham di belakang mending dia tanya duluan yakan?
Yang ditanya pun menelan ludah nya dengan susah payah, huft dia tidak bisa menyembunyikan ini bukan? Cepat atau lambat pernikahan akan di laksanakan dalam kurun waktu 1 Minggu.
"Bukan cincin tunangan, tapi lamaran."
"HAH SIAPA LAMARAN." teriakan dari luar membuat Lona dan Sabrina melotot tidak percaya
Kalian ada yang mau menebak siapa sosok penguping handal serta gosip sana sini, Heboh tak ketulungan, ngompor sana kemari.
Hayo tebak.
"Bemo kamu kenapa teriak-teriak." Suara Indra yang terdengar oleh dua orang wanita di dalam ruang yang tidak besar ini. Sabrina dan Lona saling melempar kan pandangan.
Lalu Lona melewati Sabrina untuk membuka pintu, dan ternyata sudah ada Indra dan Bemo.
"A-nu mas ah Mba Lona di lamar sama mas Indra ya?"
Indra yang tidak tau apa-apa hanya bisa mengerutkan dahi sambil menatap aneh bawahannya ini. Apa yang dikatakan bemo itu salah, Indra bahkan mencampakkan hati nya.
"Bemo kembali kerja ****, sana." Usir Sabrina lagi dan lagi.
"Apaan sih Lo sab, ngatur-ngatur gue. Memangnya Lo siapa? Pacar? Bukan kan." Balas Bemo tidak terima.
Raut wajah Sabrina berubah, wajah Sabrina sudah menekuk jengkel yang awalnya sudah baik-baik saja dengan hati nya. Dan sekarang bemo mengungkit hal-hal sensitif.
Bemo yang menyadari perubahan suasana, Langsung saja
"Eh bukan gitu maksudnya, jadi gini."
"TERSERAH ****." Sabrina melewati Bemo dengan rasa jengkel, sedangkan Indra dan Lona menatap dua bocah itu dengan wajah raut masing-masing.
"Nah kan, Marah pacar mu." Ejek Indra yang biasanya ejekan itu selalu meluncur dari mulut Bemo.
Bemo nelangsa rasanya dengan sikap Sabrina yang kelewatan baper nya belakangan ini. Untuk menyelamatkan nya dari amukan selanjutnya, Bemo memilih membujuk Sabrina sebelum kadaluarsa maaf nya.
Hanya Lona dan Indra yang masih tertinggal di depan ruang ganti. Pagi-pagi begini sudah banyak drama yang di ciptakan oleh Bemo.
Sekarang Lona dan Indra saling melempar pandang dengan rasa masing-masing. Lona yakin tidak akan bisa merubah takdir yang sudah ia ambil jalan pintas nya.
"Saya mulai bekerja ya mas, permisi." Indra mengangguk tanpa mau menahan momen berdua.
Karena disini, yang paling tersakiti nanti nya adalah
"Sabrina ih marah Mulu, maaf deh maaf."
Bemo masih gencar meminta maaf kepada Sabrina yang mengambil kasar celemek di Atas meja kasir. Bemo masih setia berada di belakang tubuh Sabrina.
"Brina ih jangan marah kan aku cuma."
"Bacot tau gak, sana gue mau kerja." Usir Sabrina yang mendorong tubuh bemo agar tidak menghalangi jalannya menuju meja pelanggan.
Bemo tidak mengerti dengan perubahan Sabrina itu, Yang hanya bemo harap. Sabrina tidak pergi dari nya karena Sabrina adalah teman satu-satunya yang ia punya.