
"Cincin apa itu Lona?"
Lona merasakan hawa panas yang tiba-tiba memasuki ruangan ini. Aura jahat mulai berkumpul di Dapur
Lona menarik tangan nya dan terlihat sangat gugup. Dia membasahi bibirnya sesekali untuk menutupi rasa gugup nya saat ini.
Indra masih memperhatikan gerak-gerik Lona yang sangat mencurigakan. Selama ini Indra tidak pernah melihat Lona memakai perhiasan seperti itu, Lona sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak suka memakai benda-benda itu.
Tapi sekarang, Cincin sedang melingkar manis di jari manis Kirinya
"Lona itu."
"Mas Indra, Pesanan meja nomor 5 udah?" Sabrina masuk ke dalam dapur dengan wajah gugup.
Indra melihat sekilas ke arah Lona, lalu melihat ke arah Sabrina yang berada tidak jauh dari nya. Indra mengangguk dan menaruh pesanan itu di nampah yang Sabrina bawa.
"Makasih mas, oh ya mas di depan ada yang nyariin mas Indra. Katanya dia kenalan nya mas Indra."
Sabrina memberitahu Indra kalau ada seseorang sedang mencari nya di depan sana dan mengaku kenalan Indra. Tentu saja Indra akan keluar dan mencari tau siapa yang ingin menemui nya itu.
"Kenalan saya?" Sabrina mengangguk.
Indra menatap sekilas ke arah Lona yang sama sekali masih berdiri di tempat tanpa berniat berbalik.
"Lona aku ke depan dulu." Lona mengangguk tanpa melihat Indra.
Lalu lelaki itu keluar dari dapur dan menyisakan Sabrina dan Lona.
Sabrina menatap punggung Lona yang tampak begitu tegang.
"Mba." Tangan Sabrina menyentuh pundak Lona, dan wanita itu terkejut
"Ini Sabrina." Lona mengangguk sambil mengelap dahi nya yang keringatan. Tentu saja keringat dingin
"Saya denger semua nya mba, jujur kenapa mba gak kasih tau aja kalau-
"Saya belum siap Sabrina. Saya masih bingung kasih tau mas Indra sebagai apa untuk mengetahui masalah ini."
Sabrina menatap mata Lona yang hampir berair itu, Sabrina tau kondisi Lona saat ini. Bingung ingin mengatakan sebagai apa diri nya di mata Indra. Tidak mungkin kan jika Lona mengatakan bahwa ia akan menikah dengan adegan drastis seorang kekasih bertunangan dengan pria lain. Itu tidak mungkin
"Dia cuma boss kita kan Sabrina? Apa dia harus tau?" Sekali lagi Lona mengatakan itu.
"Tapi dia berperan penting kan Mba?"
Lona terdiam, menunduk dan membuang pandangannya ke arah jendela dapur. Kondisi terumit adalah menjelaskan yang sebenernya kepada seseorang sama sekali tidak ada sangkut paut nya di hidup Lona.
"Mba, walau mas Indra gak pernah bilang. Tapi orang-orang yang ah bukan orang, tapi Aku sama Bemo tau kalau mas Indra itu memperlakukan mba dengan amat beda." Jelas Sabrina mengingat kan Lona.
Posisi Lona memang amat sangat berbeda jika kalian melihat sendiri selama ini perilaku Indra pada nya. Ya Lona menyadari itu, tapi bagaimana mungkin dia berharap lebih kepada Indra yang akan menikah juga.
"Mba Lona, di panggil sama mas Indra." Lona berbalik ke arah bemo yang berada di belakang nya. Bemo pasti sudah mendengar semua nya, dari raut wajah nya pun sudah terbaca.
"O-oh iya oke." Lona menaruh minuman terakhir yang sudah jadi di nampan milik Bemo.
"Ini pesanan terakhir." Bemo mengangguk dan pergi dahulu sebelum dua wanita ini.
"Ayo mba." Lona mengangguk.
Dua wanita ini berjalan keluar dapur menuju ruang utama Cafe. Suasana agak lenggang sudah tidak seperti beberapa menit lalu. Mungkin sudah ada yang kembali ke kantor mereka
Lona masih berdiri antara dapur dan ruang utama, lalu Bemo melambaikan tangannya di dekat jendela Cafe dimana Indra dan seseorang sedang duduk berdua.
Lona berjalan ke arah sana, dengan Sabrina yang memperhatikan tingkah Lona. Indra melihat wajah Lona suram. Rasanya ada yang mengganjal di hati nya
"Duduk Lona." Lona sudah datang di tempat itu, di meja pelanggan. Lona melihat Indra sedang duduk berdampingan dengan wanita cantik dengan gaya glamor itu.
Lona menurut dan duduk di bangku berhadapan dengan dua insan ini. Lona terlihat kebingungan dengan wajah mengisyaratkan nya.
"Halo , kamu Lona?" Lona sedikit terkejut karena wanita itu tau nama nya. Ia yakin pasti Indra yang memberitahu nya.
"Iya, saya Lona." Jawab nya.
Sabrina kembali ke kasir dengan mata masih mengawasi gerak-gerik di pojok sana. Bemo masih setia berdiri di samping Lona yang sedang duduk
"Eh? Tunangan mas Indra?!" Heboh Bemo dengan wajah tidak PERCAYA.
Cleo tersenyum sambil mengangguk dan kembali memfokuskan ke arah Lona yang menatap pria di samping nya. Cleo tersenyum miring
"Btw, kamu hebat banget ya bisa buat milk shake se enak ini." Jujur Cleo walau ini hanya basa-basi agar tidak kentara menyadarkan Lona siapa dirinya sebenernya.
"Terimakasih." Hanya itu.
Cleo mengangguk.
"Ndra, Kamu punya pelayan hebat-hebat banget ya. Walau cuma 3 tapi bisa handel, wah mana cantik semua lagi." Kalimat itu agak sedikit menyentil perasaan.
"Huftt, aku takut nanti Indra kecantol eh tapi kalau gak salah Cafe ini udah 3 tahunan ya? Wah Indra iman nya kuat banget gak naksir sama salah satu pelayan di sini."
"CLEO, cukup. Pulang." Indra tidak berteriak, tapi pria itu menggeram di tempat.
Cleo sudah mau bermain-main dengannya ternyata.
"Loh kok di suruh pulang, Aku belum lama di sini." Ucap Cleo menatap pria itu dari samping.
Indra meredam amarah nya, karena jika ia membuat keributan suasana Cafe masih ada pelanggan lainnya.
"Pulang Cleo." Indra mengingatkan Cleo sekali lagi.
Cleo nampak berfikir keras, ternyata apa yang ia tebak adalah kenyataan.
"Oke aku pulang." Cleo berdiri dari duduk nya dan mengambil tas yang ia bawa.
"Aku pulang dulu ya Indra, baybay."
Wanita ular itu membuat Indra muak dengan kepalsuan di wajah nya. Cleo sudah keluar dari Cafe meninggalkan beberapa uang lembar 50an di atas meja. Sedangkan Lona ikutan berdiri dan berjalan meninggalkan Indra dan Bemo.
Lona kembali ke dapur dan menepatkan diri nya di bangku ruangan ini. Lona tidak marah sama sekali tapi dia merasa aneh dengan perasaan nya. Rasanya begitu menyebalkan.
"Lona kamu."
Indra berhenti berbicara begitu melihat Lona sedang duduk merenung. Indra berjalan mendekat Dengan hati berdebar. Indra benar-benar tidak tau kalau Cleo ke cafe nya siang ini.
Indra sangat terkejut melihat nya duduk manis di sana.
Indra berada di belakang Lona sambil mengelus pucuk kepala Lona. Indra menarik Lona ke dalam pelukannya dari arah belakang. Otomatis pipi Indra menempel di pipi Lona. Wanita itu sedikit tersentak namun setelah nya kembali rileks
"Bisa jelasin gak? Kenapa respon kamu seperti ini." Sekian lama berdiam satu sama lain
Indra mengeluarkan suara nya dengan lirih.
Lona mematung di tempat.
"Lona, kamu."
Lona segera melepaskan pelukan Indra , dia berdiri dari duduk nya dan sekarang menatap Indra dengan tatapan secara langsung.
"Mas Indra. Jangan salah paham, ak- maksudnya saya gak ada bermaksud untuk berekspresi layak nya orang cemburu tapi-
"Aku gak ada bilang kamu cemburu Lona."
Mereka berdua saling melempar tatap dengan isi hati berbeda. Lona mengutuk omongannya tadi.
"Jadi kamu beneran cemburu?"
"Untuk apa saya cemburu Mas, kita ini hanya sebatas boss dan saya ini karyawan yang makan gaji." Benar kan apa yang dikatakan Lona barusan
Lona dan Indra tidak jauh dari kata boss dan pelayan.
Indra menatap sedih ke arah Lona. Indra hanya mau Lona mengatakan yang sebenarnya.
"Mas, seharusnya kita-
"Saya cinta sama kamu Lona."