BETWEEN LOVE AND REALITY

BETWEEN LOVE AND REALITY
11


Suasana begitu mencekam saat ini bagi Lona. Raut cemas gadis itu sangat kentara dengan kondisi perasaan nya yang kalang kabut menyaksikan sosok itu kembali.


Lona hanya berharap bahwa hari ini adalah mimpi baginya jika kedatangan sosok itu selalu menawarkan takdir kelam untuk nya.


Lona masih duduk di ruang tamu rumah nya sambil was-was apa yang akan Rani sampaikan kepada nya.


"Apakabar hm?" Suara Rani melesat masuk ke dalam gendang telinga nya tiba-tiba lalu menaruh se cangkir teh hijau hangat ke sukaan Lona. Gadis itu jelas saja terkejut dan semakin menunduk kan kepala nya.


Rani yang melihat respon dari sang Puteri nya pun hanya bisa mengerti, bahwa ke datangan nya kali ini benar-benar di takuti Lona. Rani jika di perbolehkan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mau menakuti Lona tentang kehadiran nya


Rani mengambil posisi duduk tepat di depan Lona berada, lalu memiringkan kepala nya ke arah bingkai foto Lona dan dirinya yang di ambil beberapa tahun sebelum Lona memasuki Fase sekolah.


"Mama datang ke sini buat jemput kamu untuk-


Suara pecahan kaca terdengar di ruangan ini, dan pecahan itu berasal dari Lona yang tiba-tiba berdiri dan membanting gelas berisi teh hijau pemberian Rani untuk nya tadi.


Rani tertegun melihat itu, Sedangkan Lona


"Mama bisa gak pergi aja sih hah? Lona gak mau ikut sama mama, Lona bisa hidup sendiri di sini tanpa mama." Lona meneriakkan isi hati dan kepala nya hari ini.


Karena Lona tau jika ke datangan Mama nya kali ini hanya untuk meminta nya lagi dan lagi ikut serta dalam kehidupan pahit yang sangat di hindari oleh Lona. Sedangkan Rani sama sekali hanya diam terkejut sambil mencoba menenangkan diri.


"Mama gak bisa paksa Lona ma, mama gak bisa jadiin Lona kayak mama. Ini Lona bukan Rani!"


Plak


Rani menampar wajah anak gadis nya dengan tangan kanan milik nya, dan menatap tajam ke arah Lona. Tatapan Rani jika di lihat penuh dengan luka yang seharusnya tidak ia lakukan. Penyesalan itu selalu datang di akhir cerita dan kehidupan lantas itu lah yang terjadi kepada Rani hari ini.


"Justru kamu Lona, kamu harus jadi Rani. Dan kamu harus ngerasain apa yang Rani ini rasain!" Lona memegang bekas tangan Rani yang masih membekas di pipi nya. Dengan kejengkelan yang sudah mendarah daging, Lona berusaha tegar.


Lona tertawa sumbang sambil mengelap air mata nya yang sial nya terus menerus mengalir.


"Rani yang mama sebut itu adalah Rani yang semasa remaja nya selalu berontak dan berontak ingin menjadi gadis bebas, dan sekarang Rani itu merasakan penyesalan yang sudah nggak bisa di sesali Yakan?"


Nafas Lona naik turun melihat reaksi Mama nya yang hanya diam membisu dengan kata-kata nya itu. Lona yakini jika ke datangan Rani hanya ingin membawa dirinya ikut ke dunia nya dan Lona harus merasakan apa yang Rani rasakan.


"Kamu lupa Lona? Buah itu tidak jatuh jauh dari pohonnya, dan kamu adalah Anak saya maka kamu harus jadi saya!" Kalimat Rani penuh penekanan dan mencoba menyadarkan Lona bahwa dunia ini tidak selama nya se indah itu.


Lona menggeleng,


Rani menunjuk ke arah Foto diri nya sedang tersenyum menggendong Lona yang berumur 6 tahun itu. Foto yang berada di atas meja berwarna merah.


"Lihat, Dulu Lona tidak pernah berontak tentang ke inginan saya. Tapi sekarang, Lona bahkan rela membentak saya." Lona menggigil di tempat dengan perkataan Rani.


Kata orang, Seburuk-buruk nya seorang ibu. Tidak akan bisa di putuskan hubungan nya dengan seorang anak walaupun sejauh apa jarak komunikasi mereka. Kata orang hubungan anak dan Orang tua itu layak nya Air yang mengalir di selang, mau sekuat apapun kau berusaha memotong Air nya, tidak akan pernah terputus sampai kapan pun.


"Mama mau nya apa sekarang hah?" Suasana tidak se emosional tadi, tapi Suara Lona masih bergetar.


Rani tersenyum miring dan menatap kembali putrinya.


"Ikut dengan saya pergi dari kota ini, dan ikuti pekerjaan saya." Tanpa kata pembantah Rani hanya ingin itu dari diri Lona.


Yang tadi nya sudah terlihat bahagia dan kali ini berubah jadi kebingungan.


"Kamu? Menikah?" Lona dengan ragu mengangguk sambil berdoa dalam hati semoga wanita di hadapan nya ini percaya dengan tuturannya tadi.


"Dengan siapa?" Lona meneguk air ludah nya dengan kasar, ia tidak yakin apakah seseorang yang akan ia jadikan sebagai temeng mau membantu dirinya.


Lona tidak tau sama sekali tentang hal itu.


"Besok, besok Lona bakal bawa dia kesini. Maka dari itu tolong bersabar lah Ma." Lona mencoba meyakinkan Rani yang mulai mempercayai itu.


Rani mengangguk paham, Rani tidak bisa juga membawa Lona yang akan menikah. Karena jika Lona menikah rencana untuk menjadikan Lona seperti nya gagal lah sudah. Tapi jika Lona berbohong pada Rani, jangan kan untuk memaafkan Lona, Rani akan menyeret paksa gadis itu untuk ikut bersama nya ke dalam dunia gelap yang sama sekali tidak akan pernah ada jalan untuk keluar


Lona membuang nafas lega


"Mama ga bisa bawa kamu, kalau kamu akan menikah. Mama tidak bisa menyakiti orang lain yang mencintai kamu, tapi jika kamu berbohong. Maka mama tidak akan segan-segan menyeret kamu pergi dari sini."


Ya itu yang di katakan Rani untuk Lona. Rani hanya ingin yang terbaik untuk Lona, walaupun harus menarik Lona ke dunia kelam nya. Tak apa asal Lona terjauh dari satu kenyataan yang Rani simpan selama ini.


Jika Lona menikah, Rani akan sedikit lega meninggalkan Lona di Kota ini. Dengan lapang dada menyerahkan Lona kepada sang suami.


"Tidurlah, Mama sangat lelah."


...🌸🌸🌸...


"Mau makan bubur ini atau aku beliin dari Luar?" Tanya Bara yang sudah mengaduk bubur putih dengan lauk Ayam bakar ke sukaan Mama nya.


Ayu menggeleng dan membuka mulutnya menandakan bahwa Bara segera memasukkan makanan nya ke dalam mulut Ayu.


Bara menyodorkan bubur itu ke dalam mulut Ayu dengan telaten, lalu mengelap bibir itu yang sudah mulai mengunyah bubur sebagai makanan sehari-hari nya selama Ayu di nyatakan memiliki riwayat penyakit darah tinggi 2 Bulan lalu


"Gimana Kabar gadis itu Bara?" Bara mengehentikan pergerakan nya membersihkan bibir Ayu menggunakan tisu kering.


Bara menatap mama nya dengan mata se datar mungkin.


"Gadis yang mana?" Pura-pura tidak tau adalah jalan ninja bara kali ini.


Ayu berdecak kesal, "Yang Safira bilang itu loh." Benar bukan.


Bara kembali memasukkan satu sendok ke dalam mulut sang Mama dengan telaten lalu mengulang kegiatan itu berulang kali.


"Udah ih, mama lagi mau ngobrol sama kamu." ayu menolak suapan dari Bara kali ini.


Bara kemudian menaruh mangkuk itu ke Nakas Sebelah tempat tidur ayu


"Mama nyuruh Bara nikah untuk apa?" Tanya Bara dengan nada serius di kalimat nya.


Ayu tersenyum mendapatkan pertanyaan tadi, langsung saja ayu  menggenggam tangan putra nya.


"Mama mau cucu Bar, kasih Mama segera."