BETWEEN LOVE AND REALITY

BETWEEN LOVE AND REALITY
07


Langkah demi langkah Kaki jejang itu melewati beberapa kursi taman yang tak jauh dari rumah nya. Senyum di bibirnya tidak terlihat, bahkan hanya tatapan kosong selalu ia tampilkan.


Minggu pagi yang sangat cerah membuat banyak sekali warga yang berolahraga dari segala umur berkumpul untuk menyehatkan badan atau sekedar melepas kan penat di hari libur.


Termasuk juga Lona. Gadis itu kini hanya memakai setelan Hoodie dan celana training selutut dengan headset yang ia sumpalkan di telinga. Keramaian bukan pilihan tepat untuk menghapus kan ke sendirian, namun mau tidak mau gadis ini harus ikut serta dalam ide Sabrina yang mengajak nya berolahraga pagi.


"Huss, Mba Lona mau makan atau minum nih?" Tanya Sabrina yang berhenti berlari. Sedangkan Lona melepaskan headset nya terlebih dahulu.


Mata Lona menyusuri ke adaan lalu berkata, "Sarapan aja dulu, habis ini kita mau Buka Cafe. Ayo." Lona berjalan mendahului Sabrina setelah melihat satu Warung kecil yang tak jauh dari pijakan mereka saat ini.


Lona berjalan layak nya orang sombong jika kalian bertemu dengannya. Tapi kenyataannya adalah Lona tidak ingin melihat atau mendengar ocehan dari manusia.


Sabrina dan Lona memasuki warung kecil itu, yang bertuliskan Warung Bubur Pak Gio. Ini first time mereka masuk ke warung pinggir jalan ini.


"Pak satu porsi Bubur tanpa kacang." Ucap Sabrina yang sudah duduk lebih dulu di sebelah Lona, sedangkan Lona masih merenggangkan otot-otot nya.


"Kalau Mba yang itu?" Tanya pak Gio pemilik warung ini sambil menunjuk ke arah Lona.


"Sama aja." Hanya itu kalimat yang Lona lontarkan, Pak Gio mengangguk paham dan mencatat pesanan nya. Lalu mereka berdua menunggu hingga sarapan mereka tersaji.


Lona sibuk memperhatikan game cacing di handphone nya berharap Game itu menghilangkan dahaga menunggu pak Gio yang belum mengantarkan pesanan sejak 10 menit lalu. Kemudian Lona tidak sengaja melihat Jam yang berada di sebelah kanan atas handphone milik nya. Mata Lona membulat sempurna


"Sab, sebentar lagi Cafe harus buka." Teriak Lona tanpa sadar, namun Sabrina hanya cengengesan dan menatap sekitar yang juga menatap mereka dengan tatapan aneh.


"Eee iya mba, sabar bubur kita belum dateng." Kata Sabrina mencoba menenangkan Lona yang sudah di tebak pasti sangat heboh.


Lalu datanglah pak Gio dengan nampan berisi bubur Putih yang di atas nya banyak toping menggugah selera bagi orang-orang lapar seperti Lona dan Sabrina.


"Silahkan dinikmati."


Sedangkan sisi Cafe


"Tumben Mba Lona sama Si Sabrina belum datang." Ujar Bemo yang membantu Indra menarik beberapa bangku untuk di susun ke tempat awal.


"Palingan mereka lagi ngegibah, terus heboh-heboh ala-ala gitu di pagi Minggu." Cemoh Indra yang kesal karena semalam Lona tidak mau mengangkat telpon dari nya.


Dan pagi ini Lona terlambat datang ke Cafe. Sebenernya gadis itu kenapa sih. Pikir Indra


"Ck, mba Lona kalau orang ngomongin kita dari belakang nanti pas Hari akhir pahala mereka kepotong terus kita yang dapat."


Pekerjaan dua pria itu terhenti, badan mereka mematung ditempat sambil melemparkan tatapan masing-masing. Salah satu dari mereka ada yang meringis dan salah satu nya juga ada yang mengigit bibir bawah nya dengan kencang


"Iya kamu benar, syukurlah setidaknya pahala bukan dosa." Sahut Lona yang mulai berjalan menuju ruang ganti Cafe. Lalu di susul oleh Sabrina yang menghentakkan kaki nya secara keras agar dua Adam itu melihat keberadaan mereka.


"Dasar dua terong."


Mas Indra dan Bemo masih setia berdiri di ujung Cafe tempat mereka tadi,


"Mati kita Mas." Lirih Bemo, dan Mas Indra mengangguk.


"Gara-gara kamu ini Bemo, pakai mancing-mancing saya lagi."


🌸🌸🌸


Di lain tempat dimana seorang pria sedang berlutut menghadap satu orang wanita cantik dengan wajah pucat lalu memegang satu Buket bunga lili cantik di pagi ini.


Gadis itu adalah, Alena dan pria itu adalah Bara.


Gadis itu masih setia tersenyum melihat bunga lili yang sangat indah berada di peluk nya. Lalu Bara mengelus pucuk kepala Alena dengan lembut layak nya Alena adalah boneka yang tidak boleh terluka.


Bara itu tipe pria yang susah jatuh cinta, sekalinya dia jatuh cinta maka gadis itu mungkin hanya Alena.


Mengingat beberapa tahun lalu dimana merek bertemu untuk pertama kali nya.


"Pokok nya Mama gak mau tau Bara, minta maaf sama Anak nya tante Ani." Perintah Mama ayu kepada Bara yang masih berumur 15 tahun itu.


Bara menggeleng tidak mau melakukan hal itu, karena bagi nya ia tidak salah melainkan Alena lah yang mengajak nya bertengkar.


"Bukan Bara yang ngajak Alena Berkelahi, tapi Alena yang nonjok bara dahulu." Adu Bara tidak terima.


Mama ayu memejamkan mata nya sejenak meredam amarah yang mungkin akan meledak jika melihat ekpresi Bara saat ini.


"Bara, Kamu ini pria. Seharusnya tidak menyakiti wanita! Kamu tau kan? Kamu juga punya adik perempuan bar, semisal nya kalau-


"Iya ma iya, Bara bakal minta maaf walaupun tidak salah sama sekali." Bara keluar dari ruang kerja mama nya yang berada di butik ujung kota.


Langkah pria remaja itu menghentak tidak karuan karena kesal terhadap sikap Alena yang begitu kurang ajar kepada nya. Lalu Bara melihat gadis itu lagi duduk di depan kaca besar sambil membaca buku berwarna pink


Otak jahil Bara pun mulai bangkit setelah bertengkar dengan Mama nya. Lalu pria nakal ini berjalan mengendap-endap melewati beberapa pakain yang terjejer di ruangan.


Bara sudah sampai tepat dibelakang gadis yang sedang menunduk itu dan saat itu juga tangan panjang nya terulur mengambil alih buku yang Alena baca dengan serius.


"A A A Bata kamu ini kurang ajar." Itu teriakan Alena.


"Hahahah kita lihat apa yang sedang di baca Oleh Alena jelek." Bara berusaha keras melihat isi buku itu dan ternyata isi nya adalah.


"Kenapa? Puas lihat isinya? Kembalikan." Alena langsung menarik buku itu dengan kasar dan meninggalkan Bara yang termenung di tempat.


Bara tidak mengejar Alena atau menjahili lagi. Namun pria ini masih mematung tanpa suara.


Isi dari buku itu adalah beberapa desain Baju-baju yang sangat indah. Bara saja sampai tercengang melihat nya. Masih tidak percaya? Iya masih kata Bara Alena itu adalah sosok paling jahat di hidup nya, bahkan Alena bisa saja membuat Bara tidak bisa menjadi pria jantan.


Pernah suatu ketika, Bara di marahi Habis-habisan karena menjatuhkan patung Butik. Sebab nya memang Bara, tapi awal mula nya dari Alena.


Kalian pasti bertanya, kenapa Bara bisa jatuh cinta sama Alena?


Jawabannya, Karena Alena selalu sendiri di pojok butik atau tidak duduk dimana pun asal sepi. Dan kerjaan Alena adalah menggambar dan menggambar. Sungguh menyenangkan pikir Bara.


Tidak seperti dirinya yang selalu di tuntut untuk jadi sempurna, untuk selalu jadi yang pertama. Lalu di saat mereka menyelesaikan Sekolah Menengah Atas.


Alena menyatakan cinta kepada Bara, tentu saja Bara akan memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun hubungan itu di ketahui oleh orang tua mereka.


Mama ayu tidak masalah sama jalinan cinta anak ke dua nya itu, tapi Mama ayu tidak akan segan menghilangkan sesuatu yang menghalangi cita-cita anak nya.


Bara sempat menolak untuk kuliah di luar kota, tapi Mama ayu mengancam Bara dengan Alena yang akan di buat tidak akan pernah menggapai impian nya. Bara tentu saja sangat marah saat itu, tapi lama-kelamaan dia sadar. Bahwa di masa depan nanti bukan hanya dia yang akan hidup, tapi ada satu sosok yang harus ia jaga dan hidupi.


Hubungan LDR terjalin sangat baik, bahkan Bara sering pulang jika ada hari libur. Waktu itu di sempat kan untuk berjalan-jalan bahkan menuruti semua kemauan kekasih nya. Tapi Bara sangat tidak suka melihat Alena yang masih sangat manja kepada orang tua nya.


Alena selalu meminta ini dan itu tanpa mau di bantah, dan Bara tentu saja akan mengatakan


"Minta sama aku aja, aku ini pacar kamu."


Walaupun sudah seperti itu, Alena tetap Alena.