BETWEEN LOVE AND REALITY

BETWEEN LOVE AND REALITY
06


"Makasih untuk tumpangan nya." Itu suara Lona mengucapkan terimakasih kepada Dua orang yang sama otak nya di dalam mobil sana.


Lalu mobil itu melaju melesat meninggalkan tempat tinggal Lona. Hari yang sangat menyebalkan bagi Lona dan harapan Lona semoga ini tidak akan terulang lagi.


Lona segera masuk ke dalam rumah dan membersihkan tubuh yang sangat lengket akibat kerja dari pagi hingga petang. Apalagi malam ini Sabrina akan menginap di rumah nya


Ia merasa tidak akan kesepian malam ini. Tubuh Lona merasa tidak enak, mungkin hanya kecapean atau semacam nya Lona tidak mengerti. Setelah mandi dan berpakaian, Lona berjalan menuju dapur dan membuka isi kulkas rumah nya.


Mengambil satu kotak susu stroberi kesukaan nya. Lalu meneguk sampai tandas tanpa sisa sama sekali. Ia ingat sekali tentang susu kotak ini, dimana dulu dia jarang bisa membeli nya karena keterbatasan uang serta jarang nya Mama Rani ke rumah ini.


Lona sudah terbiasa tinggal sendiri bahkan dulu saat dia bersekolah SMP Lona tidak pernah merasakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya


Contoh kecil saja, pengambilan Raport atau tidak hari Ibu.


Lona sama sekali tidak akan datang saat itu, hanya untuk menghindari ocehan dari teman-teman nya yang menanyakan dimana keberadaan sang Ibu. Hanya saja jika semua orang sudah menerima raport, ke Esokan hari nya Lona baru mengambil raport milik nya ke rumah wali kelas yang cukup jauh dari rumah Lona.


Jalan kaki? Iya tentu saja.


Tanpa sadar Lona menitis kan air mata, mengingat kejadian-kejadian dulu yang sangat ia takuti terjadi lagi.


Ia sudah cukup nyaman dengan kehidupan yang sekarang, walaupun kesepian sering menghantui kehidupan masa muda nya ini.


"Mama Lona rindu mama."


🌸🌸🌸


Pertemuan keluarga atau kumpul keluarga sering di selenggarakan di rumah Kediaman Indra, dimana acara pertemuan ini sering dilakukan jika seluruh keluarga tidak sibuk.


Contoh nya hari ini, saat Indra kembali ke rumah. Suasana nya sudah ramai dan banyak sekali anak-anak berkeliaran bercanda gurau.


"Assalamualaikum Bunda." Ucap Indra yang mendekat ke arah gerombolan Ibu-ibu Se umuran mama nya.


"Ihh kok bunda nya aja yang disapa, kita nya nggak ya." Itu ocehan dari mulut para bibi nya.


"Eh lupa, Assalamualaikum bibi-bibi." Kata Indra dengan senyum manisnya.


Semua Langsung berteriak heboh melihat keponakan mereka ini sangat tampan rupawan di umur 22 tahunnya.


"Ya ampun Indra, nikah sana buruan supaya Kami dapat Cucu."


"Oho Indra bibi pengen ngerasain jadi Nenek di umur 39 tahun ini." Indra hanya bisa tertawa dan tersenyum menyakitkan.


Pasti soal pernikahan semua orang mau melakukan nya, masalah nya itu gak ada yang mau sama Indra.


"Tante Ratna, tuh Meisya mending suruh nambah 3 anak lagi. Puseng Indra rasanya di tagih nikah Mulu." Kata Indra mengeluh sambil memojokkan Meisya yang sudah memiliki anak 2 di tahun ini.


"Eh ndra, Lo harusnya nikah. Udah bangkotan." Ejekan Meisya membuatnya mendelik tidak suka.


"Gue pijek Lo ya Sya." Saat Indra mau menjalankan aksi nya, suara teguran muncul


"Udah-udah, Indra ganti baju sana habis itu makan malem ya."


"Siap Bunda." Indra sedikit berlari menaiki anak tangga menuju kamar nya. Sedangkan Ibu-ibu dibawah kembali merumpi.


"Oh ya Tante, Beberapa hari lalu Meisya Liat Indra lagi jalan sama cewe. Apa itu Pacar nya?" Tanya Meisya yang penasaran dengan gadis yang Indra bawa beberapa hari lalu.


"Cantik gak Mei cantik gak?" Itu suara Dari Ani mama dari Meisya.


"Cantik Ma, sampe Hiri aku liat wajah nya tapi ya dia itu kayak keliatan banyak beban hidup. Ga cocok dia sama si Geblek  Indra." Jelas Meisya yang mengingat wajah gadis itu, sangat rapuh namun memiliki semangat hidup yang mendarah daging mungkin?


"APA LO GIBAHIN GUE."


🌸🌸🌸


Suara deru mobil memasuki perkarangan rumah Bara ya tentu saja mobil Bara pelaku nya.


Sosok gadis petakilan keluar dari mobil miliknya dan berlari penuh semangat menuju kamar sang Mama.


"Assalamualaikum Mama." Teriak gadis cantik ini dengan senyuman yang merekah.


"Walaikumsalam anak cantik, tumben jam segini baru pulang." Tanya Mama nya yang mengelus rambut hitam legam milik putri nya ini.


"Biasa tuh ma, ceroboh. Untung aja ada orang baik mau nolong dia." Itu kalimat ocehan dari Abang nya.


Safira memberengut melihat sang Abang memojokkan dirinya.


"Tapi ya Ma, baru kali ini Safira dapat orang baik."


"Oh jadi kisahnya mau ekperimen kayak di TV TV gitu? Nyari orang baik terus di kasih hadiah?" Lagi dan lagi Bara mengoceh.


"ABANG BACOT."


hening semua nya terdiam, hanya Mama nya yang tertawa setelah nya.


Tertawa hingga mata nya tidak terlihat lagi.


"Ma tapi beneran, dia cewe yang baik banget sama Safira bahkan dia mau nunggu di trotoar sampe Abang sampe ke tempat Safira. OMG ma cocok itu buat jadi mantu mama."


Bara masih sibuk berdoa dalam hati, semoga Mama nya tidak meminta Lona di seret ke rumah ini.


"Beneran? Wah sepertinya mama harus melihat nya, nanti kamu bawa kesini ya Fira." Safira mengangguk bahagia dan memeluk Mama nya.


"Sana mandi, Kamu bau asem." Tutur mama nya kepada Safira, gadis itu patuh dan berdiri dari duduk nya lalu meninggalkan ruangan ini.


Hanya Mama dan Bara.


"Bara, Kamu kenal gadis yang Fira maksud?" Bara masih diam tanpa suara, ia tidak ingin Lona secepat itu mengenal sang Mama sebelum waktu dimana Lona sendiri lah yang mau dan mengerti keadaan Bara.


Bara menggeleng sambil memainkan jarinya. Mama nya tersenyum miring melihat kebohongan sang anak yang gampang terbaca.


"Yasudah, mandi sana. Kamu bau juga seperti adik mu."


"Baik ma."


Mama nya tau, jika Bara berbohong. Bara itu takut melangkah untuk hal baru yang mengejutkan di hidup nya.


"Sampai kapan kamu seperti itu Bara."