Almeera

Almeera
BAB 2


Hari-hari Almeera di lewati di Panti Asuhan Bina Kasih, tanpa mengetahui asal usul keluraganya dan bagaimana kisah dia bisa ada di Panti ini, yang selalu menjadi pertanyaan di dalam hati Alma. Kini gadis cantik itu sudah berusia 10 tahun, banyak sekali kejadian yang ia lalui sendiri tanpa orang tua yang mendampingi nya. Alma biasa


di sebut begitu di sana. Gadis cantik, cerdas, dan berhati lembut membuat semua orang yang dekat dengan dia begitu senang. Tak terlebih lagi Reyhan, Reyhan adalah sahabat Alma dipanti Asuhan itu, mereka sangat dekat seperti kakak dan adik, kesedihan apapun yang di rasakan alma dia selalu bercerita dengan Reyhan. Alma merasa beruntung punya Reyhan yang selalu ada untuknya,


Melisa adalah teman 1 panti dengan Alma, tetapi Melisa sangat tidak baik sikap nya kepada Alma, dia


selalu mencari gara-gara untuk mengerjai Alma. Karena menurut Melisa Alma adalah orang yang munafik dan bermuka dua sehingga semua orang begitu dekat dengan Alma, Melisa iri atas apa yang ada pada Alma. Dan terlebih lagi dia tidak suka jika Reyhan dekat dengan Alma.


Hari-hari melisa hanyadi sibuk kan dengan ke dengkian nya tehadap Alma, dalam benak nya “ Apa lagi


yang harus aku lakukan agar semua orang benci kepadamu??, Ah baiklah kamu lihat saja Alma” pekik Melisa dalam hati.


Pagi-pagi di dapur Panti ada Alma yang memang setiap pagi selalu membantu untuk memasak, masakan


untuk anak-anak Panti disana, dan ketika di dapur tidak ada orang dan hanya ada Alma yang sedang sibuk menata piring di meja sehingga tidak dengar jika ada orang yang masuk ke dalam dapur, dan Melisa dengan cepat menaruh sesuatu di dalam makanan tersebut dan langsung pergi takut jika ada yang memergoki dia di


dapur. Setelah semua masakan beres, menata meja juga selesai nah sekarang aku akan panggil mereka semua untuk sarapan, bergegas Alma memanggil semua anggota yang ada di Panti untuk sarapan


bersama dan itu adalah kegiatan rutin tiap hari yang dilakukan dipanti tsb.


Tak lama setelah selesai


sarapan dan Alma sudah membereskan semua nya, tiba-tiba dia melihat Reyhan dengan wajah pucat, “Kau kenapa Kak? Tanya Alma pada Reyhan, “ Entahlah rasanya kepalaku pusing, mual dan rasanya perut ku sakit sekali”, kau tunggu disini dulu aku akan minta obat ke Bu Hamidah Kak. “tok-tok, Assalamualikum Bu Hamidah ini” Walaikum salam terdengar suara dari dalam namun tidak ada orang yang keluar, dan Alma kaget ketika melihat Bu Hamidah sudah tersungkur meringkuk dibawah dengan wajah pucat. Ibu, Ibu kenapa? Tanya Alma, Ibu tidak enak badan


setelah sarapan tadi. Mari Alma bantu untuk duduk di atas bu, Alma buatkan teh hangat ya bu, hanya dibalas anggukan oleh Bu Hamidah.


Ketika Alma berlari ke dapur dia melihat Dina, Rara dan Tio lemas duduk di bawah, lalu alma bertanya kepada


mereka, kalian kenapa? Kok pucat dan terlihat tidak sehat. Lalu Tio menjawab badan kami lemas, mulat terasa pahit dan perut kami rasanya seperti diaduk-aduk tak karuan. “Dalam batin Alma kenapa mereka semua sakit bersamaan?”. “Aduh-aduh sakit banget” Rara menangis sambil meremas baju nya, seketika membuyarkan


lamunan yang ada di pikiran Alma. Kalian tunggu di sini dulu akan aku buatkanTeh hangat untuk kalian.


Dan ketika di dapur dia melihat Bu Niar sedang memanaskan air, Syukurlah ada Bu Niar disini apakah ibu


bisa bantu saya?  Tanya Alma kepada Bu Niar. Ada apa Alma? Ibu Hamidah, Kak Reyhan, Dina, Rara dan Tio sakit Bu, mereka sangat pucat dan lemas. “Baiklah Alma, akan ibu bantu, setelah itu Alma pergi melihat kondisi Dina, Rara, Tio, Reyhan dan Bu Hamidah masih tertunduk lemas menunggu teh hangat dari Alma. Tak lama kemudian


Alma mendengar suara dari dalam kamar ada beberapa anak di dalam kamar dan mengeluhkan sama seperti Rendy, Tio, Rara dan Dina. Kalian kenapa?? Tanya Alma pada anak-anak itu, tapi tak ada sahutan dari mereka, Alma semakin Panik dan memanggil Bu Niar, Alma bergegas lari ke dapur dan akan memberitahu Bu Niar


akan kondisi tsb. Ibu…Ibu.. Ibu Niar, “Ada apa Alma?” Tanya Bu Niar, Bu di Kamar anak-anak juga mengeluhkan sama seperti Kak Rendi, Tio, Dina dan Rara bu, ada apa ini sebenarnya? Kenapa mereka sakit


bersamaan bu? Ini sepertinya ada sesuatu Alma, sebentar ibu akan Telpon dr. Hendra dulu ya imbuh Bu Niar, “Baik bu” jawab Alma.


Tak lama dr. Hendra datang dan memeriksa semua yang dipanti mereka terlihat sangat pucat, dan lemas. Lalu dr. Hendra menanyakan kepada bu Niar, apakah mereka habis makan sesuatu ? tanyanya. Iya dok kami semua habis sarapan, imbuh Bu Niar. “Hem.. sepertinya keracunan makanan bu, apakah saya bisa membawa sample makanan nya akan saya bawa ke lab untuk di tes”, baik dok.


Alma sedih melihat Bu Hamidah, Kak Reyhan dan teman-teman nya dalam kondisi seperti ini, ada sepasang


mata yang mengawasi Alma, ya itu adalah Melisa, dalam hati Melisa berkata “Kau


lihat saja Alma apa yang akan terjadi setelah ini”


Keesokan hari nya setelah keadaan bu Hamidah membaik, bu Hamidah memanggil semua anggota Panti,


tak lama mereka semua berkumpul lalu Bu Hamidah menarik napas dan mebuangnya lalu berkata “ Diantara kalian siapa yang berani mencapur racun dalam makanan kita sewaktu sarapan kemarin?? Tanya Bu Hamidah sedikit kesal. Semua kaget atas apa yang di bicarakan Bu Hamidah seakan tak percaya jika ada orang yang jahat


yang tega mencapur racun dalam makanan. “ Apa kalian tidak dengar bu bicara “ bentak Bu Hamidah, lalu terdengar suara “ Memangnya yang selama ini masak untuk kami siapa lagi kalau bukan Alma bu, kan dia setiap pagi memasak untuk kita sarapan, siapa tau dia yang merencanakan ingin membunuh kita semua dengan


mencapur racun di makanan kita”, apakah kau senang Alma, melakukan itu ? “Suara Melisa dengan senyuman tipisnya.


“Apa” Ibu Hamidah mendengar itu seakan tak percaya, Apakah itu benar Alma?? Apakah kau ingin


membunuh kami semua disini yang seperti keluargamu sendiri” Bu Hamidah seakan


tak percaya dengan ucapan Melisa. Alma yang mendengar itu seperti tersambar petir di siang hari, dia hanya menunduk dan tak mampu berkata apa-apa dia menangis “ Itu tidak benar bu”, dengan suara terbata-bata.


Apa kau yakin tidak melakukan itu sedangkan kan yang setiap pagi memasak di dapur bukan nya kau?


Melisa menunjuk Alma mendungus.“Tapi aku tidakmelakukan apa yang kau tuduhkan Mel” dengan pelan suara Alma mengatakan, halah tidak usah sok polos dengan tangisan buaya, kalau buka kau lalu siapa lagi


hah?? Ibu Niar, Pak Tono, Bu Simi??? Mana mungkin mereka melakukan itu kalau bukan Kau hah!! Bentak Melisa.


Bu Hamidah hanya membuang nafas dan hanya diam seakan tak percaya Alma bisa setega itu bisa melakukan nya, sepertinya tidak mungkin!! Tapi aku harus menyelidiki ini karena ini tidak bisa di biarkan bisa membahayakan anggota panti yang lain jika nanti terulang kembali.


Alma hanya menunduk dan menangis seakan tak percaya jika dirinya dituduh atas apa yang terjadi, lalu


Ibu Hamidah berkata “ Alma ibu akan memberimu hukuman atas apa yang kami lakukan, dan ini tidak bisa di maafkan kau tau. Ini membahayakan untuk anggota yang lain apakah kau tidak sadar itu hah?? Alma hanya menangis tidak bisa berkata apa-apa.


Semua anggota panti melihat Alma dengan tatapan yang marah dan tidak suka, Alma hanya tertunduk.


Melisa berbicara di sebelah Alma “ dasar kau anak tidak tau diri, pembunuh!!!” Alma mendengar itu menangis sejadi-jadinya tidk tau lagi harus bagaimana membuktikan kalau dia tidak melakukan apa yang di tuduhkan Melisa sedangkan dia juga tidak ada bukti, dalam hati nya “Ya Allah kenapa engkau memberiku cobaan seperti ini, pada siapa lagi aku bercerita, bersandar tidak ada orang tua yang memeluk ku disaatseperti ini, ya Allah aku bersimpuh kepadamu sesungguhnya engkau maha mengetahui, tunjuk kan lah kebenaran nya ya allah. Alma terus menangis dan dia tidak bisa tidur semalamam.