LOVE IN THE DARK

LOVE IN THE DARK
LITD 05


"Halo jack tolong kamu selidiki perempuan yang telah merebut Bram dariku"


"Bukankah kau yang selama ini bersamanya? " suara Jack dengan santai


"Dia meninggalkanku, membuangku seperti sampah. Dia tidak tahu seorang Sella, aku tidak akan membiarkan apa yang telah aku miliki berbagi dengan orang lain "


"Sella kau bisa mencari laki-laki selain Bram si brengsek itu, aku bisa menjaga mu "


"Diam kau Jack, aku hanya ingin tau jawabannya bersedia untuk bekerja denganku atau tidak"


"Baik lah baik lah sebagai temanmu aku akan lakukan apa yang kamu inginkan tapi aku minta sebuah permintaan "


"Permintaan apa?"


"Jika Bram tidak memandangmu sebagai wanitanya lagi. Kau menjadi Wanitaku"


"Jangan gila kau Jack.! Lupakan saja apa yang aku minta, lebih baik aku mencari orang lain saja"


"Baik lah tapi pikirkan baik-baik" Jack menutup telepon dari Sella


"Sialan." Sella memlempar handphone ke sembarang tempat, dia mondar-mandir memikirkan bagaimanacaranya agar Bram kembali lagi dengannya. "Hanya aku yang boleh menjadi satu-satunya wanita untuk Bram"


***


"Tuan ini adalah berkas yang tuan inginkan" Dion meletakkan data tentang Tania diatas meja kerja Bram. Bram melaju dan memegang kerah baju Dion dan..


Bugg. ..!!!!


Bram menghamkan satu pukulan kepada Dion hingga sampai keluar darah dari hidungnya "Dion lain kali jika kau melakukannya sesuatu tanpa izinku aku tidak akan mengampunimu..!!!" Bram kembali duduk dan mengambil berkasnya.


"Baik tuan maafkan saya" Dion membersihkan darah segar yang keluar dari hidungnya dengan sapu tangan.


"Oke kau boleh pergi"


Bram membuka lembaran satu persatu data yang diberikan oleh Dion "Tania Wijaya? Waah kebetulan sekali" sudut bibir Bram tersenyum "Sungguh menarik, aku akan membuatkan Tania sebuah permainan"


Bram mengetik sesuatu yang membuatnya tersenyum, selesai mengeprinnya Bram meninggalkan ruang kerja dan melangkah ke arah kamar untuk menemui Tania


Ceklek. . .


Tania terkejut dia baru saja selesai mandi dan sedang memakai baju.


"Kyaaaaaa. . . kurang ajar kau...!!! bisakah ketuk pintu dulu sebelum masuk hah.!!" Tania segera menyelesaikannya memakai baju dengan cepat karena malu.


"Hmm memangnya kenapa? Ini adalah tempat tinggalku" Bram tersenyum


"Iya aku tau ini adalah tempat tinggal anda tuan Bram yang terhormat, tapi bisakah anda mengetuk pintu dulu.?" untuk yang kedua kalinya Tania memprotes atas ketidaksopanan Bram.


Bram hanya terkekeh "Kau malu?? lagipula untuk apa kamu menutupinya aku sudah melihat semuanya setiap inci kulitmu yang indah semalam" Bram mendekatkan wajahnya dengan wajah Tania dan membuat Tania ketakutan kejadian semalam terulang lagi


"Mau apa kau.?" Tania berusaha memberanikan untuk bertanya


Bram menjauh dan duduk disofa "Apa yang kau pikirkan dikepalamu itu? Aku hanya ingin kamu tanda tangan ini" Bram meletakkan selembar kertas terbaca dengan jelas Kontrak Pranikah


"Apa Kau sudah hilang akal hah.?" Tania merobek lembar kertas yang Bram berikan.


"Baiklah tapi aku hanya memperingatkan bahwa semalam aku tidak memakai pengaman. Jadi jika kau mengandung anakku, aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja dengan anakku"


"Kau..!!!" Tania hanya terdiam dan memberanikan mentalnya yang seakan jatuh karena perkataan Bram. "Tega sekali kau Bram" mata Tania berkaca-kaca "Aku tidak pernah membuat masalah denganmu, aku juga tidak mengusik kehidupanmu tapi kenapa kau begitu tega"


"Lalu apa ini?" Bram membuka baju dan memperlihatkan bekas luka kepada Tania


"Apa yang akan kau lakukan??" Tania hanya terdiam dia tidak tau bagaimana menjawabnya.