
"Seharusnya pernikahan yang aku impikan seperti sepasang pangeran dan putri yang saling mencintai. Ha..!! mungkin ini sudah takdir. Seandainya aku bisa memilih lebih baik aku tiada daripada menjalankan kehidupan seperti ini"
Bram membuka pintu melihat Tania sedang termenung "Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada tuan"
"Hey aku kan sudah bilang panggil aku suamiku" Bram duduk disofa dengan santai merebahkan tubuhnya dengan posisi yang nyaman.
"Rasanya canggung jika aku melakukannya"
"Kedepannya harus terbiasa"
"Kenapa.? Bukannya kau tidak akan menganggapku sebagai istri diluar. Kenapa harus memanggil seperti itu?"
"Sudahlah itu urusanku, jika saja kondisimu tidak terluka aku akan menghukummu karena tidak patuh, namun sekarang kau sedang terluka aku akan membiarkanmu kali ini." Bram bangun dan mendekatkan posisinya dengan Tania.
"Ayo kita pergi"
"Kemana?"
"Ikut saja"
"Aku belum mandi."
"Tidak perlu, nanti mandi disana saja"
"Ba.. Baiklah" Tania mencoba turun dari tempat tidur namum Bram dengan cepat mengangkat tubuh Tania dengan hati-hati.
"Turunkan aku. Aku bisa sendiri"
"Jika menunggumu turun dari ranjang saja lama apa lagi jika berjalan kemobil bisa-bisa besok baru sampai. Lebih baik kamu diam saja"
"Tapi aku malu jika banyak orang yang melihat kita terutama ibumu"
"Diam saja dan patuhlah. Jangan pedulikan mereka. Anggap saja mereka nyamuk"
"Tapi..."
"Sudahlah kamu tinggal diam apa susahnya"
"Pegang leherku dengan tangan mu yang tidak terluka"
"Bagaimana caranya?"
"Begini" Tujuam Bram mengrangkulkan tangan Tania yang tidak terluka untuk memegang leher Bram agar Tania dapat memeluknya. Bram mulai berjalan membuka pintu dan melewati banyak pelayan yang sedang memperhatikan mereka.
"Jika kalian ingin bekerja disini lanjutkan pekerjaan kalian" Seketika para pelayan berhamburan melanjutkan aktifitas mereka.
Pipi Tania merah merona jantungnya berdetak dengan cepat "Aku tidak pernah merasakan kenyamanan seperti ini" Tania melihat wajah tampan Bram dengan seksama.
Bram melangkahkan kakinya dengan cepat Dion mengikutinya dibelakang membukakan mobil untuk mereka. Dan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan mereka berjalan melewati jalan dipinggiran kota.
Tania tidak berani bertanya kemana mereka akan pergi walaupun dalam benaknya sangat penasaran kemana tujuannya karena letak apartemen Bram berbeda jalur.
"Kenapa diam?"
"Lalu aku harus apa?"
"Kamu tidak penasaran kita akan kemana?"
"Aku tidak peduli kemana kau membawaku pergi karena kau adalah aturan yang mutlak aku hanya bisa mengikutinya saja"
"Kamu benar, baiklah aku juga tidak akan memberitaumu"
Hampir tiga jam perjalanan mereka belum sampai pada tujuan, hingga membuat Tania mengantuk dan tertidur.
Bram melihat Tania tertidur didekat jendela mobil langsung bergeser mendekati Tania dan memposisikan kepala Tania pada pangkuannya dan membuat Tania merasa lebih nyaman.
"Kita udah sampai tuan" Dion memberhentikan mobil didalam garasi dan mematikan mesin mobilnya.
"Biarkan menyala aku akan menyusul nanti. Kau duluan saja dan siapkan saja keperluan Tania di kamar utama"
Dion melihat Tania tidur dalam pangkuan Bram "Baik tuan" Dion membiarkan mesin mobil menyala agar AC dalam mobil tetap dingin. Dia membuka bagasi dan membawa koper ke dalam rumah yang telah lama tidak ditinggali Bram.
"Sudah lama sekali baru kali ini tuan Bram membawa wanita kedalam rumah ini, semenjak kejadian masa lalu yang membuat tuan Bram pindah dari sini."