LOVE IN THE DARK

LOVE IN THE DARK
LITD 04


Bram sampai diapartemennya ingin sekali melihat wanita yang menikam nya


"Bibi Sarah belum pulang?" Bram meneguk segelas air putih.


"Eh tuan Bram, iya saya baru selesai"


"Bagaimana keadaan wanita yang dikamar tamu.?"


"Nona Tania sedang tidur tuan"


"Ouh jadi namanya Tania" dalam hati Bram


"Baiklah terimakasih bi sudah merawatnya"


"Iya tuan" Sarah merasa heran "Tumben tuan Bram berterimakasih, mungkin Nona Tania telah merubahnya "


***


"Kau telah sadarkan diri. . ?"


Tania hanya terdiam dan menggliat kan tubuhnya


"Panas. . . Hiks hiks. . . Panas. ."


Bram menyentuh dahi Tania "Panasnya normal kenapa bisa dia merasa begitu panas? "


Bram keluar dari kamar "Bibi Sarah. . .!! Apa yang kau campurkan keminumanmya " Namun tidak ada jawaban Bram mengeluarkan handphone dan menghubunginya


"Halo tuan Bram?".


"Apa yang telah kau campurkan dalam minumannya? "


"Maaf tuan maksudnya apa ya?"


"Jangan pura-pura tidak tau Sarah.!"


"Tuan saya hanya mengikuti perintah dari tuan Dion yang memberikan obat katanya untuk Nona dari dokter Hendrik "


Bram langsung mematikan sambungan telepon dan menghubungi Dion


"Halo tuan Bram ada apa?"


"Jangan pura-pura tidak tau berapa dosis yang kamu kasih ke Tania. ?"


"Tuan saya hanya ingin wanita itu menyerahkan diri kepada tuan"


"Dion..!!!!! Sejak kapan kamu mengambil keputusan sendiri..!!! Katakan berapa dosis yang kau berikan.!!!"


"Ada cara lain?"


"Hanya itu tuan"


"Shit..!!!" Bram melemparkan handphone kesembarang tempat lalu masuk ke dalam kamar


Semua pekerja maupun penjaga sudah pergi kini hanya Bram dan Tania yang berada dalam apartemennya


"Sakit sekali. . Hiks hiks tolong aku kenapa panas sekali " Tania merengek


Bram menyentuh pipi Tania mendekatkan wajah nya dan berbisik ditelinga Tania "Biarkan aku membantumu menghilangkan rasa sakitmu"


Malam terasa begitu panjang bagi dua manusia yang sedang menikmati nikmatnya bercinta.


***


Tania terbangun dalam keadaan seluruh tubuhnya pegal dan sakit terutama diantara kedua pangkal pahanya


"Sial kenapa tubuhku sakit sekali..!!" Tania berusaha bangun dan duduk alangkah terkejutnya Tania melihat seluruh tubuhnya tidak ada penutup sama sekali hanya sebuah selimut daan melihat sebercak darah diatas seprai


"Kyaaaaaa. . . . .!!!!!"


"Selamat pagi Tania"


"Aaaaaaaaaa. . . Brengsek apa yang telah kau lakukan hah. . .!!!!"


"Apa yang aku lakukan? aku hanya terdiam menikmati permainanmu semalam"


"Kurang ajar kau Bram.!!! Kau sangat menjijikkan melakukan hal yang tidak terhormat memakai obat untuk. . . . hiks hiks hiks" Tania menangis sesenggukan


"Hey jangan seperti itu coba lihatlah apa yang kamu lakukan padaku"


Bram membuka selimut dan memperlihatkan seluruh tubuhnya banyak sekali tanda ****** di mana-mana dan beberapa bekas cakaran yang memerah"Aku hanya mencoba membantumu menghilangkan rasa sakitmu semalam"


Bram tersenyum namun dalam diri Bram dia merasa tidak puas karena memakai cara seperti ini "Aku ingin memiliki Tania dengan menyerahkan diri bukan dengan obat. Sial Dion akan aku kasih pelajaran nanti" guman Bram meninggalkan Tania dengan memakai piyamanya.


"Hiks. . Hiks. . Hiks. . Aku . . .Aku sudah tidak layak lagi hidup bagaimana nanti jika ayah dan bunda mengetahui. Betapa menjijikkan anaknya ini. Aku . . Hiks. . . aku harus bagaimana. ? Lebih baik aku mati saja" Tania melihat sekitar kamar mencari sesuatu yang akan dia gunakan


"Iya lebih baik aku mati saja" Tania menancapkan sebuah pisau yang tergletak diatas meja "Tania kamu harus berani mungkin hanya satu sayatan saja tidak akan sakit. Ah... bagaimana ini bagaimana caranya agar tidak merasa sakit. Ayo Tania berfikir" Tania mengurungkan niatnya dan meletakkan pisau ketempat semula.


"Tidak. . .!!! Aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam"


Jangan lupa like komen shere dan vote 😘