LOVE IN THE DARK

LOVE IN THE DARK
LITD 23


Tania menepuk-nepuk pipi Bram berusaha membangunkannya sudah beberapa saat Tania terbangun karena teriakan Bram menyebut Rara.


"Rara....!!! Rara....!!! Jangan tinggalkan aku" Tania terus berusaha membangunkan Bram.


"Tuan bangun.. Tuan Bram bangun" Tania menepuk-nepuk pipinya terus menerus.


"RARA.....!!!!!!" Bram terbangun dengan nafas yang tidak beraturan. Keringat dingin keluar disekujur tubuhnya. Tania mengambil segelas air putih yang selalu tersedia dimeja samping tempat tidur.


"Minumlah tuan" Tania memberikan segelas air putih dengan sedikit gugup.


Bram menatap Tania, matanya berbinar "Rara..!!" Bram memeluk Tania secara tiba-tiba. "Jangan pergi lagi" Bram mengeratkan pelukan sampai membuat Tania hampir tidak bisa bernafas.


"Tu..Tuan le..lepasan aku"


Saat sadar Bram melepaskan Tania dan pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.


"Rara siapa? Apa dia kekasihnya? Tapi kenapa harus menikah denganku jika sudah memiliki kekasih" Tania meletakkan gelas ke meja, menaiki ranjang menaikkan selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Syukurlah dengan begini, dia tidak menyentuhku" Tania tersenyum merasa beruntung malam ini tidak terjadi apa-apa dengan Bram.


***


Tengah malam Bram meninggalkan Tania dalam keadaan terpuruk, mengingat mimpi yang baru saja menghampirinya. Betapa terlukanya Bram melihat kepergian Clara. Bram menelpon Dion setelah kesadarannya mulai stabil.


"Halo tuan"


"Dion besok siapkan beberapa tenaga medis bagian kecantikan ke sini"


"Untuk apa tuan?" Bram terdiam mendengar pertanyaan Dion. "Maaf tuan. Saya akan menyiapkan semuanya"


"Untuk Tania, buatkan dia seperti Clara"


"Maksud tuan agar nona Tania sama persis dengan nona Clara? dari wajah dan postur tubuhnya? "


"Betul"


"Tuan jika nona Tania dijadikan seperti nona Clara, apakah nona Tania bersedia?"


"Baiklah, tapi jika tuan ingin seluruh tubuh nona berubah menjadi nona Clara, setidaknya harus keluar negeri. Seperti Korea Selatan yang sudah terkenal dengan kemampuan medis bagian kecantikan"


"Berapa lama waktu yang diperlukan ?"


"Kemungkinan memerlukan waktu paling tidak sebulan tuan"


"Ya sudah kau atur semua. Ingat jangan sampai dia kabur, jika itu terjadi akan aku kasih pelajaran bukan hanya dia tapi kamu juga Dion"


"Baik tuan saya pastikan akan membuat nona Tania seperti nona Clara"


"Kau urus saja. Besok serahkan semua keperluan Tania untuk bersiap-siap, aku akan ikut ke Korea"


"Tuan jika boleh saya sarankan, tuan lebih baik di sini saja"


"Kau berani mengaturku? "


"Bukan mengatur tuan, hanya saja disini banyak pekerjaan penting perlu kehadiran tuan. Apalagi disana nanti akan memerlukan waktu yang cukup lama."


"Kamu pikir aku akan tinggal disana? Aku hanya mengantarnya saja, memastikan dia mau melakukan dengan sukarela."


"Oh begitu saya pikir tuan akan tinggal disana"


"Tidak.. sudahlah aku mau melanjutkan istirahat." Bram mematikan panggilan telepon Dion.


Bram memutuskan untuk pindah ke kamar yang penuh dengan kenangan bersama Clara.


Ceklek...


Bram membuka pintu dan menyalakan lampu dan pendingin ruangan, kamar itu begitu rapi diatas tempat tidur terdapat foto pernikahan dengan ukuran hampir dua meter. Pernikahan yang dia rasakan betapa bahagianya bisa hidup bersama Clara. Bram menjatuhkan tubuhnya terlentang menatap langit kamar dengan penuh kesedihan.


"Rara apakah kau marah karena aku telah menikah dengan wanita itu?" Bram memiringkan tubuhnya menutup tubuhnya dengan selimut tebal meratapi kesedihannya


"Rara aku sangat merindukanmu"