
Dikediaman Wijaya.
Dion memberikan informasi kepada Johan jika Tania telah diculik dan sudah diselamatkan sekarang berada dikediaman keluarga Hernandes.
Johan yang tidak mengetahui jika Tania pergi langsung mencari Laras dan Candy.
"Candy... Laras...!!!" Johan mencari kekamar Candy mereka sedang berbincang.
"Candy..!!"
"Iya dady kenapa?"
"Kenapa Tania bisa diculik?"
"Dady?? Apa maksudnya? "
"Jangan pura-pura tidak tau, kamu yang merencanakan ini bukan?"
"Apa diculik? Candy tidak tau dad"
Laras yang tidak terima anak kesayangannya disudutkan oleh Johan "Johan apa-apaan. Candy tidak tau masalah ini. Kami saja baru mengetahui darimu bagaimana bisa kamu menyudutkan Candy"
"Karena aku tau kamu dan Candy tidak suka dengan Tania"
"Dady aku tidak mengerti, dia tadi hanya keluar untuk membeli makanan aku kira dia kabur setelah lama menunggu" Candy dengan santai
"Baiklah jika dady tau kalian terlibat tidak akan aku maafkan" Johan pergi dari kamar Candy
"Anak sampah itu benar-benar merepotkan" Laras merasa kesal.
"Candy sayang acting kamu bagus juga, yah walaupun bukan kita yang menculiknya tapi setidaknya kita tidak perlu repot-repot memberi Tania pelajaran"
"Mami.." Candy merengek setelah mengetahui kabar dari sekretaris Bram.
"Kenapa Tania masih saja mengganggu rencana kita mam, sudah bagus kemarin dia hilang" Candy menggerutu tidak terima.
"Sayang kita udah usaha oke? Sudahlah jangan dipikirkan masih banyak laki-laki diluar sana yang lebih hebat"
"Mami... aku tidak mau. Aku ingin menikah dengan Bram mam hiks. . hiks. . "
Laras memeluk anak kesayangannya "Jangan menangis sayang, mami akan pastikan pernikahan mereka tidak akan bertahan lama"
"Benarkah?" Candy tersenyum
"Iya sayang mami akan membuat rencana agar Tania sendiri yang meninggalkan Bram"
"Baik mam aku akan mengikuti rencana mami nanti" Candy memeluk Laras dengan erat.
Laras melepas pelukan Candy secara perlahan
"Mam sudahlah kita sudah beruntung karena bukan kita yang menculiknya. Coba kita pikirkan jika kita yang ketahuan oleh Bram. Bukan hanya kita yang kena imbas mam, tapi perusahaan dady pasti akan kena juga mam"
"Betul kamu sayang, jika saja mami tau siapa yang merencanakan ini semua. Mami akan berterimakasih atau jika bisa mami akan menjadikannya partner"
"Iya mam aku setuju"
Candy tersenyum kembali "Mami jika perusahaan dady pulih, apa aku sudah bisa shoping lagi??"
"Sayang bukan hanya kamu mami juga rindu shoping - shoping"
Mereka tertawa senang merencanakan berbelanja ini itu dan semuanya.
***
Ceklek. .
Pintu kamar terbuka. Tania yang kala itu sedang tertidur ayam merasa terkejut. Tania berfikir yang datang adalah Bram. Namun dia seorang wanita paru baya dengan penampilan yang elegan dan cantik. Tidak lain adalah orang tua Bram.
Tania merubah posisi untuk duduk diatas tempat tidurnya.
"Bagaimana rasanya tidur dikediaman Hernandes? Nyaman?"
"I.. Iya tante sangat nyaman" Tania tersenyum.
"Jangan pikir kamu bisa masuk dalam keluarga Hernandes kamu bisa berbuat seenaknya ya, aku peringatkan kamu untuk meninggalkan Bram. Dia sudah memiliki calon yang setara dengan keluargaku"
Tania menelan savilia dengan gugup. Tidak mampu menjawab apa-apa.
"Dan satu lagi jangan sampai keturunan Hernandes lahir dalam rahimmu..!!!"
Brakk ....!!! Pintu tertutup kembali dengan suara yang begitu nyaring.
Tania hanya terdiam dan mengelus-elus dadanya yang merasa sesak, "Sabar Tania ini adalah ujian, aku sebenarnya tidak ingin hadir dalam keluarga ini, tidak sama sekali, bahkan jika aku berharap aku tidak akan pernah menyinggung Bram si brengsek itu. tapi mau bagaimana lagi. Posisi keluargaku sedang terancam, sedangkan aku harus membayarnya dengan perjanjian pernikahan yang tidak jelas"
Tania merebahkan kembali tubuhnya seakan tidak bertenaga.
"Seharusnya pernikahan yang aku impikan seperti sepasang pangeran dan putri yang saling mencintai. Ha..!! mungkin ini sudah takdir. Seandainya aku bisa memilih lebih baik aku tiada daripada menjalankan kehidupan seperti ini"
\=\=\=//\=\=\=
Semangat pagi semuanya.
Semoga dalam keadaan sehat semua ya readers . . 😘
Jangan lupa like dan vote ya...