
Warning. . !!!!!
Mengandung unsur kekerasan. . . !!!
Jangan lupa like dan vote ya teman. .
Selamat membaca. .
***
Pada malam yang sama Bram dan Dion mendapatkan informasi dari pengawal yang dikirim untuk menjaga Tania.
"Tuan, nona Tania keluar dari rumah dengan berjalan kaki, tidak jauh dari rumahnya seorang pria menculiknya. Saya melihat ada seorang wanita didalam mobil pria tersebut, saya sedang mengikuti mobilnya. Apa yang harus saya lakukan tuan?"
"Kirim lokasinya pada Dion. Kita akan menyusulnya. Ingat jangan lakukan apapun kamu hanya perlu memantau keadaan sekitar. Jangan sampai ketahuan. Aku akan melihat siapa yang berani mencuri mainanku" Bram menutup telepon dari pengawalnya.
"Dion ayo kita berangkat. .!!"
"Baik tuan"
Bram menyiapkan sebuah pistol dan pisau untuk dibawa.
"Dion bawa ini untuk antisipasi "
"Baik tuan"
Dion dan Bram bergegas menaiki mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Mengikuti arah yang telah dikirim oleh pengawalnya. Dalam perjalanan mereka memerlukan waktu cukup lama. Melewati jalan dipinggiran kota.
"Shit...!!! Apakah masih jauh Dion.??"
"Sebentar lagi tuan," Dion fokus mengemudi dengan kecepatan tinggi
"Dari tadi sebentar lagi terus. Sudah berapa lama kita dijalan hah ...!!! Jika aku melihat Tania terluka sedikit saja akan aku bunuh yang telah mencuri mainanku..!!!"
Dion hanya terdiam tidak berani menjawab atau menimpali perkataan Bram "Sebuah mainan yang berharga. Sampai tuan tidak sadar mengkhawatirkan seorang wanita sampai segitunya" Dion hanya bisa berkata dalam hati.
Tidak lama kemudian sampai ditujuan, mobil tidak bisa masuk mereka melihat dua mobil terparkir disana ada salah satu mobil pengawalnya. Terpaksa Dion dan Bram berjalan kaki, mereka melihat sebuah bangunan mewah namun terlihat tidak berbenghuni hanya satu ruangan yang terpancar sinar lampu kuning.
"Dion sepertinya diruangan itu Tania disekap."
"Iya tuan, saya akan menjaga keadaan sekitar" Mereka berjalan dengan hati-hati.
"Baiklah aku akan fokus ke ruangan itu"
Tidak lama kemudian mereka menemukan seorang berpakaian hitam tergletak didepannya dengan luka parah. Tidak lain adalah pengawalnya yang mengikuti Tania.
"Sialan. . Dion kamu mengirimkan seorang pengecut untuk melindungi mainanku..!!! Lihatlah baru sehari bekerja saja sudah terluka..!!!" Bram langsung berlari dengan cepat tidak mempedulikan keadaan sekitar.
"Kau ini...!!! Cepat pergi ke mobilmu..!! disana ada P3K. Urus lukamu itu" Dion langsung berlari mengikuti Bram.
Mereka kira tempat ini tidak berpenghuni, namun didalam ada beberapa penjaga yang sedang berdiri tegap, hampir setiap ruangan ada dua penjaga. Yang mereka lewati jalan dari arah belakang bangunan bukan dari gerbang utama. Entah mungkin untuk mengelabui pengawal Bram yang ketahuan mengikutinya.
Dengan sigap Dion dan Bram bersamaan memukul dua penjaga pertama dengan kuat hingga mereka tidak sadarkan diri tanpa mengeluarkan suara.
"Dion kamu fokus untuk mengalihkan penjaga aku akan langsung ke ruangan itu" Bram menunjukan ruangan yang terdapat dua penjaga dilantai atas.
"Baik tuan" Dion sengaja memecahkan guci agar mengeluarkan suara untuk mengalihkan perhatian dua penjaga dilantai atas.
Praaaank.....!!!!!!!
"Siapa disana...!!!" Salah satu penjaga memperhatikan keadaan sekitar lantai bawah yang gelap.
"Hey coba kamu lihat aku akan jaga disini" tunjuk ke rekan penjaga.
"Oke kau harus tetap disini"
"Oke"
Salah satu penjaga dengan cepat turun ke lantai bawah,sesampai di lantai bawah Dion memukul kembali dengan kedua tangannya dari belakang hingga membuat orang tersebut tidak sadarkan diri seperti penjaga didepan.
Bram melangkah ke lantai atas dengan satu penjaga yang sedang menunggu rekannya.
"Hey siapa kau..!!" Tampan menjawab Bram langsung memukul satu tinju ke arah wajahnya.
"Kurang ajar" Orang tersebut melawan dengan membawa pisau ditangannya membabi buta dengan gerakan cepat Bram merebut pisau dan menikamnya tepat di bagian dadanya. Seketika tempat perkelahian mereka menjadi penuh dengan darah.
Bram membuka pintu yang tidak dikunci melihat Sella sedang melukai Tania. Sesegera mungkin Bram melepaskan tembakan.
DOOORRRR .....!!!!
Tepat kearah tangan Sella. Sedikit saja Bram terlambat mungkin Tania sudah kehilangan nyawa.
"Aaaaaaaaaa . . "Sella menjerit, terkejut dan takut melihat dengan seksama berhadapan dengan Bram.