
Warning !!Mengandung unsur kekerasan
Selamat membaca. .
***
Tania terbangun dengan keadaan tangan terikat, mulut disoletif, dan kaki terikat disebuah bangku kayu dalam ruangan yang remang. Cahaya lampu warna kuning ruangan itu hanya ada Tania sendiri. Tania berusaha membuka ikatan dengan susah payah namun tidak ada hasil ikatannya terlalu kuat. "Mmmmm... Mmmmm... Mmmmm... " Hanya itu suara yang dapat Tania keluarkan, ungkapkan yang sebenarnya adalah "Tolong aku.. Siapapun tolong aku.. Siapa yang menculikku"
Tidak lama kemudian dua orang menghampiri Tania. Seorang perempuan cantik dengan rambut lurus dengan penampilan yang elegan dan seorang laki-laki tampan dengan tatapan mata yang tajam.
Perempuan itu mengelilingi Tania dengan tatapan kebencian. "Jadi ini yang namanya Tania. Lihatlah tubuhnya saja kecil. Tidak sexy. Pendek. Rambut yang tidak teratur. Penampilan seperti anak kampung." Sella membuka seletif dimulut Tania dengan kasar "Dan lihatlah wajahmu juga tidak secantik aku berani-beraninya mencuri kekasihku "
"Ma... Maa..Maaf anda siapa? Maksudnya kekasih apa??" Tania dengan gugup.
"Kamu tidak perlu berpura-pura. Kamu sengaja mendekati Bram supaya kamu dapat menjadi nyonya Hernandes bukan?"
"Tidak..!!"
Plakk. . Satu tamparan mendarat di pipi Tania hingga memerah. "Jangan bohong." Sella mengambil pisau dalam tas nya. Jack yang melihat langsung mendekati Sella
"Apa yang akan kamu lakukan pada wanita ini.?"
"Jangan ikut campur dengan urusanku kali ini Jack" Sella mengarahkan pisau didepan Jack persis didepan matanya.
"Woow Woow Woow kamu sudah lupa ya. Aku yang membawanya kesini dan kita sudah sepakat tidak akan melukainya bukan?" Jack dengan santai.
"Oke oke jika itu maumu, aku akan menjadi penonton saja silahkan lakukan apapun yang kamu mau" Jack menjauh dan menepi di sudut ruangan menghidupkan sebatang rokok dan menghisapnya. Melihat pertunjukan apa yang akan Sella lakukan kepada wanita itu.
Sella memperlihatkan pisau yang tajam didepan mata Tania. "Ma..mau apa kamu? Aku tidak mengenalmu. Aku juga tidak membuat masalah denganmu. Apa yang akan kamu lakukan?" Tania merasa ketakutan dan tubuhnya mulai bergetar.
Sella hanya tersenyum dan menempelkan pisau dipipi Tania lalu menggoreskannya pada pipi Tania dengan cepat.
"Aaaaaaaaaa. . . Sakit. . . Tolong lepaskan aku. . . Hiks. . hiks. ." Panas dan perih yang Tania rasakan , dia mengeluarkan semua tenaganya agar dapat lepas dari ikatannya. Tetesan darah segar mengalir dari pipi hingga membasahi leher.
"Sepertinya aku akan puas jika menyayatmu dengan perlahan" Sella mengarahkan pisau ke lengan kanan Tania dan menekannya hingga tebalnya hode yang dipakai Tania robek sampai lengan Tania terluka.
"Kyaaaaaa. . ." Tania berusaha menahan sakit yang kedua kalinya. Hanya bisa menangis dan tidak tau harus bagaimana. Selain PASRAH "Tidak mungkin jika aku harus memohon untuk meminta melepaskannya. Dia tidak akan mungkin melepaskannya. Biarkan saja aku mati ditangan perempuan ini. Ayah maafkan aku. . Aku tidak bisa membantu ayah " Tania menundukkan kepala membiarkan air mata mengalir tanpa isakan tangis.
"Kenapa diam?" Sella mengangkat dagu Tania dengan pisau "Bukankah sebelumnya kamu memintaku untuk melepaskanmu " Tania tidak menjawab dan hanya diam dan diam.
"Baiklah sepertinya kamu sudah pasrah aku tidak akan sungkan lagi" Sella mengangkat pisau dan membolak-balikkannya tanpa pikir panjang Sella mengarahkan pisau tepat pada leher Tania
"Bersiaplah menyambut ajalmu wanita murahan. .!!!!"
DOOORRRR....!!!!!
Satu tembakan mengarah ke Sella pada bagian tangan kanannya yang akan menghabisi Tania.