
"Jika bukan karena Tania perusahaan yang aku bangun dari nol itu musnah dalam waktu dua hari oleh Bram.!! Harusnya kamu berterima kasih kepada Tania.!!" Johan kesal istrinya sering kali menganggap Tania hanya sebuah sampah. Namun berbeda dengan Johan.
"Terserah lah.." Laras beranjak pergi ke kamar lain. Memutuskan untuk tidur sendiri.
***
Malam begitu terasa lebih cepat bagi Tania, Tania membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, memandang langit-langit kamar.
"Mungkin ini adalah sebuah balasan yang tidak terduga, aku sudah bersusah payah berencana membunuh Bram karena menjatuhkan perusahaan ayah. Sudah cukup lama mempersiapkannya, dan sudah nekat. Namun takdir berkata lain, aku harus membayar dengan pernikahan yang tidak pernah aku inginkan" Tania menangis hampir sepanjang malam sampai tertidur dengan mata yang sembab.
Tok tok tok. . .
Brakk. ..!!! Pintu terbuka.
Jam baru menunjukkan jam sepuluh malam Tania terbangun dan terkejut oleh pintu yang dibuka oleh Candy
"Kakak ada apa ?" Tania mencoba tersenyum "Tumben ke kamar Tania, ada yang bisa Tania bantu kak?"
"Ehmmm. . Begini aku ingin sekali makan Pizza dan Pasta. Bisakah kamu membelikannya untukku. Ini uangnya"
"Baik kak" Tania mencuci wajah dan mengganti baju dengan memakai hode berwarna pink dan jins hitam.
"Ouh ya jangan lupa pesanannya ekstra Saos"
"Baik kak "Tania pergi berjalan kaki. letaknya tidak terlalu jauh dari gerbang masuk perubahannya.
Sebelum keluar dari gerbang ada sepasang mata sedang menunggu Tania keluar. Mengikuti Tania pergi dibelakangnya.
"Sasaran keluar dengan mudah ternyata." Jack mengikuti Tania dengan hati-hati. Dia menutup mulut Tania dengan sapu tangan yang disemprot obat bius.
Tania terkejut dan langsung berteriak.
"Lepaskan aku. .!!! tolong. . " Bruukkkk Tania tidak sadarkan diri.
Jack memasukan ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
***
"Mami, aku sudah menyuruh Tania pergi. Apakah sudah ada kabar dari rekan mami?"
"Belum sayang. . Diki belum mengirimkan pesan atau telepon."
"Mami tidak mungkin Tania sengaja kabur kan?"
"Bagaimana bisa. ? Awas saja jika berani kabur"
"Tapi mi.. sampai sekarang belum ada kabar. coba mami kontak rekan mami"
"Oke sayang mami coba telepon Diki"
"Halo Dik"
"Iya nyonya?"
"Tania dimana?"
"Maaf nyonya saya sudah menunggu hampir dua jam tapi non Tania belum lewat"
"Apaah....!! Tidak mungkin. Coba kamu cari daerah disekitar."
"Baik nyonya"
Laras memutuskan telepon dan membanting diatas tempat tidur.
"Sial...!!!"
"Bagaimana mi.?"
"Sepertinya dugaanmu benar sayang. Tania kabur."
"Mami serius.??? Yes...!!! Berarti besok Candy bisa menggantikan Tania menikah dengan pangeran Bram" Candy tersenyum bahagia.
"Kamu betul sayang" Laras ikut bahagia melihat anak kesayangannya.
"Mami, hubungi rekan mami lagi untuk membiarkan Tania, tidak perlu mencarinya"
"Memangnya kenapa sayang? "
"Mami ini bagaimana. Jika rekan mami masih mencari dan ketahuan nanti yang ada nama kita yang terseret. Aku ingin indi indisen ini terlihat seperti natural. Kita menggunakan kesempatan ini mam."
"Uuuww sayang kamu pintar sekali. Baiklah kita besok harus terlihat tidak tau apa-apa. Mami akan mengirim pesan untuk Diki" Laras langsung mengetik pesan untuk Diki
"Diki biarkan saja. Tidak perlu mencari Tania." Tidak lama kemudian balasan muncul.
"Baik nyonya."
Laras memperlihatkan layar handphone kepada Candy "Sayang mami sudah mengirimkan pesan untuk Diki. Sudah beres"
"Sekarang hapus pesannya mam"
"Dihapus? "
"Iya mami. Dihapus agar tidak meninggalkan jejak bahwa kita telah merencanakannya"
"Kamu benar sayang " Laras langsung menghapus histori panggilan dan pesan Diki.