LOVE IN THE DARK

LOVE IN THE DARK
LITD 22


Acara pernikahan selesai Johan, Laras dan juga Candy sudah pergi pulang. Tania termenung dikamar setelah membersihkan tubuhnya dengan dibantu oleh pelayan.


Tania memakai piyamanya berwarna merah terang "Apakah malam ini dia akan tidur bersamaku?" Pipi Tania merah merona memikirkan hal yang senonoh.


"Oh tidak, apa yang aku pikirkan bukankah ini memang sudah menjadi tugasku? Bagaimana jika nanti dia menyakitiku? Bagaimana jika dia memaksaku? Aku harus bagaimana nanti? " Tania berjalan bolak-balik merasa takut, gugup, dan khawatir untuk pertama kalinya harus tidur dengan laki-laki dalam keadaan sadar. Tania mencoba menunggu kedatangan Bram namun sudah larut malam belum ada tanda-tanda kedatangannya.


"Syukurlah sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak" Tania menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur senyaman mungkin.


Bram membuka pintu kamar, lampu sudah padam hanya sebuah lampu remang yang menyala. Bram melihat Tania tidur dengan nyenyak, "Dia sangat cantik jika sedang tidur"


dengan perlahan Bram membuka kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Bram memakai piyama yang warnanya senada seperti yang dipakai oleh Tania "Aku tidak suka warna ini" Bram melepaskan piyama berwarna dan menggantinya dengan warna grey.


Bram menaiki ranjang dengan perlahan agar Tania tidak terbangun, memposisikan tidur dengan posisi miring tepat didepan melihat wajah Tania yang sedang tidur dengan nyenyak.


"Jika saja wajahmu ada tahi lalat disini dan kulitmu sedikit gelap sedikit saja" Bram menunjukan hidung tanpa menyentuh. "Mungkin aku akan menganggapmu sebagai Rara, sangat terlihat manis dan cantik. Apa lagi jika kau tersenyum. Tapi kau tetaplah orang lain tidak dapat menggantikan posisi Rara" Bram memposisikan tubuhnya miring menatap Tania dan memejamkan matanya.


Bram terbayang-bayang saat kebersamaannya dengan Clara atau biasa dipanggil Rara. Rumah ini sebagai saksi kebersamaan mereka namun saat ini posisi Rara telah diganti dengan wanita yang sedang tidur disampingnya.


***


"Apa kau baik-baik saja?" Jack memperhatikan Sella dengan penuh kekhawatiran. Sella baru sadar diatas tempat tidur selama beberapa hari selesai insiden penculikan Tania.


"Dimana ini?" Sella memaksa bangun dari tempat tidurnya namun tangannya merasakan nyeri.


Sella menolaknya "Tidak Jack terimakasih, ini kamarmu? Kau jangan mencoba untuk mencuri kesempatan dariku Jack"


Jack terkekeh didepan wanita satu ini "Apa aku pernah membuatmu terluka selama ini? Sebagai temanmu, bagaimana mungkin aku mencuri kesempatan darimu? Hatimu saja hanya memikirkan orang lain. Aku tidak suka itu"


"Maafkan aku Jack, dan terimakasih telah merawatku. Aku akan pulang sekarang" Sella menahan rasa sakit pada tangannya.


"Bisakah kau memikirkan aku sedikit saja?" Jack memperkuat genggaman pada gelas air putih ditangannya.


"Apa maksudmu?" Sella mencoba menafsirkan arti dari perkataan Jack.


"Tidak.! Lupakan saja. Jika kau ingin pulang silahkan pulang pintu ada disana. kau akan diantar oleh sopirku"


"Tidak perlu aku bisa sendiri"


"Baiklah terserah kau saja, setelah ini kau jangan menghubungi ku lagi"


"Terimakasih Jack kau teman terbaik ku" Sella tidak mempedulikan perkataan terakhirnya. Dia bergegas mengambil tas yang berada disamping tempat tidur, melangkah dengan cepat meninggalkan Jack sendirian.


"Sella kau bodoh..!!! Apa aku yang bodoh" Jack membanting gelas dengan keras. Percikan kaca tersebar kemana-mana diatas lantai. "Shit. .!!!! Jika saja Bram tidak mencuri wanitaku, aku tidak akan menjadi seorang yang bodoh seperti ini..!!!"


Jack keluar dengan wajah penuh dengan amarah, melihat Sella pergi dari ambang pintu. "Apa hebatnya Bram?" Jack mengepalkan tangannya dengan erat. Emosi yang selama ini terbenam untuk Bram "Jika saja aku bisa membunuhmu Bram" Jack memejamkan matanya terbayang saat Bram menembak Sella


"Tidak..!! Aku akan pastikan hidupmu hancur"