LOVE IN THE DARK

LOVE IN THE DARK
LITD 02


Bram mendekati Tania dengan santai sedangkan Tania sangat ketakutan " Hahaha aku tidak akan memaksa wanita untuk melayaniku" Bram melepaskan baju memperlihatkan luka didadanya.


"Siapa yang mengirimmu. .??"


Tania hanya terdiam tidak menjawab sepatah katapun tangannya gemetar memeluk kedua lututnya masih berada dilantai karena rasa takutnya. Bram tersenyum melihat wanita yang ketakutan "Lady.. mau menjawab atau akan aku makan kau malam ini diatas ranjang? ?"


Tania masih terdiam "Hey...!!! Apa kau tuli aku hanya bertanya siapa yang telah mengirimmu berusaha membunuh ku??"


"Lebih baik aku mati daripada aku melayani seorang iblis sepertimu...!!!"


Bram tertawa "Hahaha apa kau bilang?? Iblis.?? Hey lihatlah wajah rupawanku ini banyak wanita-wanita yang antri untuk bisa berkencan denganku bahkan menyerahkan diri diranjang ku. Kau bilang aku iblis.?? Ckckck sekarang aku tau jawabannya" Bram mendekati Tania menarik tangannya dan melemparkannya diatas tempat tidur dengan kasar. Tangan kiri Bram mengunci kedua tangan Tania. Tangan satunya mulai menyelusuri lekuk tubuh Tania


"Brengsek kau Bram..!!! Lepaskan aku."


"Bukankah ini yang kau mau Lady.?? Kau bahkan tidak menjawab pertanyaan ku dengan benar" Bram melanjutkan aktifitas nya untuk menggodanya


Tania melawan dengan rasa takut kakinya berusaha menendang tubuh Bram dengan sekuat tenaga hingga dapat terlepas dari genggaman Bram. Tania berlari menuju balkon apartemen yang tidak terkunci.


"Hey aku hana ingin tau siapa yang mengirimmu kenapa kau berlebihan ha.??"


Bram dengan santai mendekati Tania lagi


"Aku tidak dikirim oleh siapapun.!!!" Mata Tania menunjukkan kebencian kepada Bram.


"Lalu untuk apa kau melakukannya?"


"Jangan pura-pura tidak tau brengsek. !!!"


"Hey lady aku tidak tau kamu siapa. Namamu juga aku tidak tau. Tiba-tiba kau datang menikam ku." Bram berjalan semakin dekat hingga Tania terpojok oleh pagar balkon


"Jangan mendekat..!! jika kau mendekat selangkah lagi aku akan melompat. !!"


"Kau yakin mau melompat. ??"


Tania dengan gugup melihat kebawah terdapat sebuah kolam renang yang tenang "Ouh my God tinggi sekali" dalam hati Tania.


"I Iya aku akan melompat jika kau berani melangkah mendekati ku..!!!!"


"Baiklah kau mau melompat? ? Lompat saja siapa yang akan peduli" Bram melangkah mendekati Tania "Aku yakin kau tidak akan berani melompat "


Tidak disangka Tania benar-benar melompat kebelakang dari lantai dua apartemen Bram dengan posisi terlentang.


"Akhirnya aku bisa menjaga kesucianku lebih baik aku mati tenggelam daripada aku melayani seorang yang sangat aku benci "


Tania memejamkan matanya membiarkan tubuhnya tenggelam dengan tenang.


****


"Malam ini kamu bisa lolos. Tapi tunggu saja kamu pasti akan bertekuk lutut dihadapanku " guman Bram melihat wanita yang terkapar diatas tempat tidur tidak sadarkan diri. Dokter Hendrik sedang memeriksanya.


"Bram dia sangat lemah, butuh istirahat dan aku pikir dia terlalu banyak tekanan.." belum selesai Bram memotong pembicaraannya


"Hendrik kau boleh pergi"


"Hey kau tadi menyuruhku buru-buru tapi sekarang malah mengusirku."


"Pekerjaanmu sudah selesai jadi untuk apa berlama-lama disini mengganggu saja"


Hendrik memukul bahu sebelah kiri "Dasar tengik sepertinya wanita ini mainan barumu yang istimewa "


Bram sedikit meringis nyaris mengenai lukanya "Shit. .!!! Jangan menyentuh ku Hendrik"


"Sejak kapan kau begitu sensitif" Hendrik membereskan peralatan kedokteran selesai memeriksa Tania. Dia memperhatikan Bram ada bercak darah dikaos yang dipakainya.


"What. . !!! Seorang Bram bisa terluka juga ternyata. Buka biar aku lihat lukanya"


"Tidak perlu. Luka ini tidak seberapa. Sudahlah cepat pergi"


"Aku akan pergi setelah memeriksa mu"


"Baiklah terserah kau saja" Bram membuka kaos dan memperlihatkan luka didadanya


"Siapa yang berani melukaiku Bram?" Hendrik memberikan perban baru untuk Bram.


"Tidak ada urusan denganmu sekarang pergilah, Dion antar dokter ini"


"Oke oke aku bisa pergi sendiri " Hendrik selaku dokter pribadi Bram meninggalkan Tania, Dion dan Bram.


"Tuan bagaimana keadaanmu? Tuan tadi ikut melompat menyelamatkan wanita itu"


"Sudahlah tidak perlu mengkhawatirkan aku"