
Kring.. Kring...
Terlihat nama Sella dilayar Handphone nya
"Halo ada apa??"
"Sayang kamu kemana bukankah kamu sudah janji untuk makan malam bersamaku? Jangan bilang kamu lupa"
"Baiklah aku akan menjemput mu. Tunggu aku 30 menit."
"Baiklah aku tunggu sayang"
"Ciihh merepotkan sekali. Untuk malam ini sepertinya malam terakhir aku memperlakukan mu sebagai teman ranjang eeeh mainan yang sudah tidak dibutuhkan lagi"
Bram bersiap-siap membersihkan tubuhnya memakai pakaian kasual dengan kemeja pendek berwarna grey dan celana jins hitam dengan sepatu hitam.
***
"Sayang kamu datang juga" Sella langsung memeluk Bram dengan erat tidak ada balasan pelukan seperti biasanya lalu Sella mencoba mencubit dadanya namun tangan Bram menahannya
"Ayo kita pergi"
"Baiklah sayan ayo" Sella mencoba tersenyum "Ada apa dengan Bram tidak biasanya dia diam seperti ini " dalam hati Sella
Disepanjang perjalanan Bram hanya terdiam tidak membuka suara untuk berbincang rasanya sangat enggan sekali pergi bersama Sella.
Sesampai direstoran ternama dikota mereka duduk di tempat VVIP yang hanya menyediakan dua tempat duduk saja dalam satu ruangan.
"Sayang mau pesan makanan apa?"
"Tolong berikan wine saja aku sedang tidak nafsu untuk makan"
Sella pun mengikuti pesanan Bram. Dengan melihat Bram yang sedang tidak banyak bicara membuat Sella bingung.
"Bram kamu kenapa dari tadi mendiamkan aku seperti ini. Apa aku ada yang salah?"
Sebelum menjawab pelayan membawakan wine dengan membuka dan menuangkan dua gelas untuk Bram dan Sella.
Saat ini yang dipikirkan oleh Bram adalah bagaimana caranya agar wanita yang diapartemennya menjadi miliknya.Pasti sangat lezat jika diumpamakan seperti wine dalam gelas yang dia minum secara perlahan. Sampai tersenyum sendiri hingga Bram tidak menyadarinya.
"Sayang kamu tersenyum. Apa yang membuat kamu senang hari ini?"
"Sella sekarang dan seterusnya jangan menghubungi aku lagi" Bram memberikan selembar cek kosong kepada Sella
"Tulis berapa yang kamu butuhkan"
"Bram apa maksud kamu??"
"Sudah jelas"
"Tapi bukankah kita sepasang kekasih?"
"Sejak kapan?"
"Sejak kamu tidur bersamaku Bram. Kita... kita sudah banyak melewati malam bersama Bram" mata Sella berkaca-kaca
"Jangan bermimpi, yang menganggap kekasih hanya kamu, aku tidak merasa memiliki kekasih. Hmmm bukankah kamu mendekati ku karna ini? " Bram menunjukkan cek yang tergletak dimeja.
Plakkk.......!!!!
Mau tidak mau Sella mengambil cek sebelum menampar pipi Bram dan meninggalkan Bram sendiri.
***
Tania terbangun memperhatikan sekitar "Apa aku masih hidup? Bukankah aku telah tenggelam. Kenapa aku bisa dikamar ini lagi "
Tania melihat jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. "Kepalaku pusing sekali" Tania melihat ada segelas air putih dimeja samping tempat tidur "Aku haus sekali. Tidak aku tidak boleh meminumnya siapa tau si brengsek itu memasukkan sesuatu dalam minumannya."
Tak lama kemudian seorang pelayan wanita paru baya menghampiri Tania dengan membawakan makan malam. Tania yang sedang duduk di tempat tidur.
"Nona saya bawakan makan malam."
"Tidak perlu repot-repot saya mau pergi" Tania mencoba berjalan dengan kekuatan yang tersisa.
"Nona setidaknya makan malam dulu jika mau pergi. Percuma jika tenaga habis paling baru sampai di depan pintu sudah dilempar lagi ke kamar oleh para pengawal Tuan Bram"
"Apa?? Jadi didepan pintu ada pengawal.? Sialan."
Bruukkkk. ..
Tubuh Tania tersungkur diatas lantai.
"Mari nona saya bantu"
Tania kembali duduk diatas tempat tidur dibantu oleh Sarah
"Nona makan saja dulu. Setelah itu bersihkan tubuh nona"
Tania baru sadar bajunya kering padahal kemarin basah "Aaaaaaaa. . . Bibi jangan bilang si brengsek itu yang menggantikan bajuku "
Sarah pelayan apartemen terkekeh "Saya yang menggantikan baju saya Nona tenang saja"
Tania bernafas lega "Syukurlah"
"Tapi tuan Bram memperhatikan nya disitu" Sarah menunjuk sebuah sofa saat mengganti baju Tania Bram memang melihatnya dengan duduk disofa yang berada di kamar tersebut.
"Apaaaaah. . . ? Jangan bercanda bibi"
"Sudahlah Nona lebih baik makan saja dulu "
"Aku tidak mau" Tania menahan marah dan malu bagaimana bisa dia bisa tidak sadarkan diri padahal sebelumnya dia berpikir mungkin akan tiada.
"Nona saya tinggalkan makanannya dimeja, permisi " Sarah meninggalkan Tania.
"Tu.. Tunggu bibi"
"Iya Nona ada apa ?"
"Emmm saya boleh meminjam baju bibi.? Saya tidak membawa baju selain baju yang kemarin saya pakai"
"Baju Nona sudah ada dilemari semua" Sarah tersenyum
"Nona adalah wanita spesial tuan Bram tidak pernah menyiapkan semua kebutuhan wanitanya selama ini. Mungkin Nona sudah membuat tuan Bram jatuh cinta " dalam hati Sarah
Tania membersihkan tubuh dengan berendam air hangat menikmati hangatnya air menyentuh seluruh tubuhnya aroma yang begitu harum membuat Tania hampir tertidur di bak mandi.
"Apa yang aku lakukan. Aku harus pergi dari sini secepatnya"
Tania membuka lemari pakaian yang ditunjukkan oleh Sarah "Waaaah pakaian ini yang dulu pernah aku miliki. Beberapa pakaian Brand yang terkenal dan harga yang sangat mahal. Apa benar ini pakaian untuk ku?" Tania memilih pakaian yang sederhana yaitu dress hitam.