
Tania menutup matanya dan menunggu rasa sakit yang akan dia rasakan.
1 2 3 4 5 6 dan seterusnya
Tania menghitung sedetik demi detik dalam hati. Pada hitungan ke 10 mendengar suara tembakan tepat didepan matanya.
Tania membuka mata sesaat darah Sella memercikkan ke wajah Tania.
Takut. . Ngeri. . dan Mual yang Tania rasakan. Tania menoleh ke arah belakang betapa terkejutnya Tania melihat Bram yang memegang pistol dengan nafas yang terengah-engah.
"Haruskah aku berterima kasih kepada Bram, mungkin ini yang kedua kalinya dia menyelamatkanku, bagaimana aku membayarnya?"dalam hati Tania, saat itu kesadaran Tania mulai menghilang.
"Br..Bram..." Sella menahan rasa sakit pada tangannya, tubuhnya bergetar karena ketakutan. Iya takut Sella tau betul sifat Bram seperti apa.
Jack yang melihat Bram menembak Sella langsung bergegas menjatuhkan Bram hingga pistol ditangan Bram terlempar.
"Kurang ajar kau..!!!"
Bugg. .!! Bugg. .!! Bugg. .!!
Jack memukul Bram berkali-kali. Bram melawan dengan sekuat tenaga. Dion baru saja sampai langsung menikam punggun Jack dari belakang dan tersungkur diatas lantai.
"Lancang sekali kau menyentuh tuan Bram..!!!" Dion hendak menikam kembali namun Bram menahannya.
"Sudahlah biarkan saja. Aku bawa Tania keluar kau bereskan yang disini Dion" Bram berjalan menuju kursi dimana Tania duduk tertunduk tidak sadarkandiri.
"Sella sekali lagi kau menyentuh wanitaku, aku anak benar-benar membunuhmu"
"Bram. .Aku. . . aku tidak mau kehilanganmu, aku lakukan untuk memperbaiki hubungan kita"
"Sudahlah aku tidak peduli" Bram membuka tali yang terikat ditangan Tania. melihat luka diwajahnya, lengan dan bekas ikatan tali yang tertinggal. Bram mengangkat tubuh Tania dan membawa pulang.
"Kau benar-benar menjijikkan Sella, menggunakan trik kotor seperti ini, kau kira aku akan berubah menjadi lebih menyukaimu? ?Tidak..!! aku justru lebih membencimu. Jika saja bukan karena orang tua kita berteman. Saat ini sudah aku bunuh kau...!!!!"
Mendengar kata-kata dari Bram Sella hanya bisa terdiam. Tubuhnya bergetar takut dan menyesal
"Ayo kita ke rumah sakit "Ajak Jack melangkah dengan tenang meskipun punggungnya terluka namun dia masih bisa berjalan. Menggandeng tangan Sella dengan hati-hati.
"Bodoh sekali aku. Jika tau dia sudah menjaganya sejauh ini mungkin aku tidak akan mengotori tangan ku." Sella menahan sakit.
***
Keesokan harinya harusnya hari pernikahan Bram dan Tania namun harus diundur sampai kondisi Tania membaik.
Tania terbangun diatas tempat tidur yang begitu nyaman. Memakai piyamanya berwarna pink seluruh tubuhnya merasakan sakit. Pergelangan tangan dan kakinya membekas dengan jelas ikatan tali semalam. Perban yang menempel di pipinya dan lengan yang dibalut melingkar.
"Aku masih hidup?" Tania bangun dan mencoba duduk ditepi tempat tidur. Rasa haus ditenggorokannya yang telah mengering. Tania melihat segelas air putih dimeja samping tempat tidur.
Tangannya mencoba meraih gelas yang penuh dengan air putih. Tania meraih dengan satu tangan pada posisi duduk ditepi tempat tidur namun usahanya belum berhasil.
Tania mencoba berdiri dan berjalan perlahan meraih gelas, namun Tania hanya mampu menggapai sebagian dan tidak mampu menahan tubuhnya berdiri lama.
Prank..!!!!
Pecahan gelas tergletak dimana-mana lantai. Tania tertunduk dilantai.
Brakk.. Bram membuka pintu dengan keras.
"Apa kau mau bunuh diri lagi. ?" Bram mengangkat Tania ke ranjang, merebahkan tubuh Tania dengan hati-hati.
"Tunggu disini aku akan mengambilkan air untuk mu" Bram meninggalkan Tania di kamar.
Tidak lama kemudian Bram kembali membawa makanan dan minuman dengan diikuti oleh Sarah untuk membersihkan lantai yang penuh dengan pecahan gelas.
\=\=\=\=Skiip\=\=\=\=
Maaf baru update kondisi anakku lagi kurang sehat..
mohon doanya ya teman-teman 😢😢.
jangan lupa untuk like komen shere dan vote
terimakasih