LOVE IN THE DARK

LOVE IN THE DARK
LITD 17


Kediaman Hernandes


"Bram apa benar kamu akan menikah? "


"Iya ma" Bram


"Jangan bercanda Bram, mama tau kamu menikah dengan wanita itu hanya untuk main-main kan?"


"Mama memangnya aku terlihat bercanda?"


"Batalkan"


"Mama memangnya kenapa? "


"Ciih.... Keluarga kita tidak sepadan dengan seorang wanita penebus hutang"


"Apa maksud mama?"


"Jangan kira mama tidak tau Bram. Keluarga Wijaya hanyalah keluarga penjilat..!!!. Lihatlah belum apa-apa kamu sudah terlibat masalah."


Bram hanya menghela nafas panjang "Ini keputusanku ma"


"Apa istimewanya wanita itu?"


"Satu-satunya wanita yang aku cari ma, sudah ya ma Bram lelah" Bram pergi meninggalkan ibunya menuju kamarnya.


***


"Cepat minum dan habiskan makanannya." Bram menatap Tania dengan seksama.


"Terimakasih tuan." Tania hanya terdiam saat Bram meletakkan meja kecil seperti nampan yang berisi makanan dan minuman didepannya, dengan posisi duduk diatas tempat tidur Tania dapat memakan dengan leluasa.


"Hmm rupanya kau jadi penurut ya sekarang?"


Ada tiga sandwich sayur campur daging, semangkuk buah segar, air putih, susu dan jus jeruk. Untuk pertama Tania hanya fokus ke air putih, dia mengambil dan meminumnya tanpa jeda, rasa haus yang amat sangat dia tahan sedari dia sadar sekarang terasa sangat lega.


"Sabar tidak perlu buru-buru, sekarang makanlah kita perlu bicara setelah ini" Bram beranjak menduduki sofa dikamar tersebut dia membuka tab untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya.


Tania mengambil sandwich dan memakan dengan lahap, tiga sandwich kini sudah Tania habiskan dia memilih untuk meminum jus lalu memakan buah dengan santai dan sebagai penutup meminum jus jeruk.


"Kenyang sekali" Tania tersenyum "Aku seperti tidak pernah makan saja. Jika dipikirkan aku tidak tau malu ya?"


Tania tersenyum kembali untuk yang kedua kalinya "Bagaimana nanti aku sudah menikah dengannya? Apakah dia akan selembut ini?" Tania memperhatikan Bram yang sedang fokus dengan tab nya,


"Oh tidak aku tidak boleh menatapnya" Tania menepuk-nepuk pipinya dengan perlahan.


"Jangan menepuk wajahmu seperti itu, kau sedang terluka" Bram tersenyum


"Baiklah kita bicarakan acara pernikahan kita"


"Untuk apa?"


"Anda sudah membantu keluarga ku, dan.. dan.. menyelamatkan ku" Tania dengan gugup


"Siapa yang membantumu.? Aku hanya tidak mau mainanku rusak sedikitpun"


Deg....


"Oh maaf tuan saya sudah lancang" Tania terkejut "Ya Tuhan bagaimana aku percaya diri dia menyelamatkanku, aku lupa ternyata dia hanya seorang iblis yang berwujud manusia" guman Tania menahan malu.


"Sudahlah, kau tidak perlu seformal itu. Tidak ingatkah waktu pertama kali kau menatapku dengan mata tajam?"


"Hmmm" Tania sudah tidak ingin memancing perdebatan


"Baiklah karna kau sudah menandatangani perjanjian yang aku buat, mulai saat ini kau akan aku bawa ke apartemen tugasmu adalah sebagai layaknya istri"


"Baik tuan"


"Jangan panggil aku tuan"


"Lalu aku harus memanggil apa?"


"Suamiku saja"


"Aku tidak mau, kita belum menikah.!!"


"Tapi pernikahan itu akan terjadi Tania"


"Baiklah Baiklah tapi kau harus memastikan posisi keluargaku aman"


"Ciihh keluarga, sejak kapan keluargamu menganggapmu keluarga? mereka melakukanmu seperti pelayan kan"


"Jaga mulutmu"


"Opsss aku lupa kau juga akan menjadi pelayanku. Itu sangat cocok denganmu?"


Tania terdiam, memang yang dikatakan Bram benar dia dianggap seperti pelayan dikeluarga Wijaya, namun berbeda dengan ayahnya yang menganggap sebagai anaknya.


"Ouh ya aku kasih tau, peraturan untuk pertama kau tidak boleh membuka mulut tentang pernikahan kita nanti."


"Baiklah aku setuju lagipula untuk apa aku memberitahu pernikahan kita"


"Bagus jika kau sudah mengerti, untuk peraturan selanjutnya aku akan memberitaumu nanti, hari ini kau istirahat saja disini aku akan ke ruang kerja"


Bram meninggalkan Tania untuk menyelesaikan pekerjaan belum selesai.