
"Hanya selangkah lagi rencanaku akan berhasil" guman Tania dengan sedikit gugup mendekati seseorang dengan menyelipkan sebilah pisau kecil dipahanya yang tertutup rok mini mendekati seorang yang telah lama dia tunggu.
"Sangat menjijikkan aku berpakaian seperti seorang ******. Harus aku tahan ingat hanya berpura-pura menabrak dan langsung menikam" dalam hati Tania
Bram selalu datang dengan penjagaan yang ketat bak seorang kaisar. Tania berjalan cepat berpura-pura sedang dikejar seseorang. Belum sampai menyentuh Bram seorang pengawal menghadangnya dengan kasar. Namun Tania meronta dengan sekuat tenaga sampai terlepas
"Tuan tolong aku hiks hiks . . ." Menerobos pengawal dan sampai kedekapan Bram dan langsung menikam nya dengan pisau yang telah dia siapkan tepat mengenai dada kirinya
"Kau....!!!" sebuah tangan kuat memegang pisau yang hampir seluruhnya masuk kedalam dadanya tidak lain tangan Bram sendiri
"Sial..!!!" Tania berusaha menguatkan tusukan pisau yang tertahan namun dua pengawal telah menyeretnya dan menampar Tania dengan begitu keras hingga sampai Tania tidak sadarkan diri.
"Siapa dia...!! panggil manajer bar..!! bisa bisanya ada seorang wanita membawa senjata tajam masuk kebar ini " Dion yang selalu mendampingi Bram juga lengah.
Bram memperhatikan wajah wanita yang merah karena tamparan pengawal nya wajahnya terlihat begitu polos .
"Dion biarkan saja. Bawa dia ke apartemen ku. Sepertinya dia lumayan cantik aku mau tau rasanya mencicipi seorang wanita pemberani ini "
"Tapi tuan anda sedang terluka, sebaiknya memanggil dokter Hendrik dulu untuk menutup luka anda"
"Tenang saja luka ini tidak seberapa. Tolong carikan informasi wanita ini aku mau besok sudah ada dimeja kerjaku"
"Baik tuan"
Bram berlalu meninggalkan bar dengan luka didalamnya dengan berjalan santai. Luka seperti ini bagi Bram tidak seberapa sebagai seorang penguasa harus bisa mampu melindungi diri sendiri.
Salah satu pengawal membawa Tania dengan menggendong seperti membawa sekarung beras.
Bram masuk kedalam mobil. Sambil membersihkan sendiri luka didadanya dengan P3K yang selalu tersedia dimobilnya. "Wanita ini tidak tau cara menggunakan senjata, bagaimana bisa menggunakannya tanpa keahlian yang matang. Banyak wanita yang antri untuk aku cicipi diranjang tapi kenapa wanita ini malah ingin mencelakai ku. Haha aku mau tau nyalimu sebesar apa"
***
Tania sadar dalam keadaan tubuh nya tergoncang oleh gerakan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
"Sial...!!! dimana aku.. astaga disini sangat pengap sekali" Tania berusaha membuka pintu bagasi dengan kedua tangan namun tidak ada hasilnya hingga kekuatannya sudah terkuras habis. Udara dalam bagasi semakin Lama semakin membuat Tania susah bernafas hampir sampai tidak sadarkan diri hingga mobil berjalan perlahan dan pintu bagasi terbuka Tania langsung melompat dan berusaha berlari
"Tidak semudah itu lady.." terlambat sebuah tangan kuat mencengkeram pergelangan tangan Tania
"Lepaskan aku brengsek. .!!!" Tania berusaha melepaskan diri dari cengkeraman yang tak lain adalah Bram laki-laki yang sangat dia benci dan mukulinya dengan tenaga yang tersisa.
Bram tidak menghiraukan teriakan Tania dia menarik paksa Tania masuk kedalam apartemennya dan melemparkan Tania keatas tempat tidur Bram membuka kancing baju, Tania sangat ketakutan "Mau apa kamu hah....!!" berusaha menjauh dari Bram.
Bruukkkk tubuh Tania tersungkur diatas lantai berusaha menjauh dari Bram yang terus melangkah mendekatinya.
"Mau apa lagi selain mencicipi wanita yang telah berani melukaiku" Bram mendekati Tania dengan santai sedangkan Tania sangat ketakutan " Hahaha aku tidak akan memaksa wanita untuk melayaniku" Bram melepaskan baju memperlihatkan luka didadanya.
"Siapa yang mengirimmu. .??"
***
Terimakasih sudah mampir ke tulisan saya
😀😀 jangan lupa like komen dan vote ya...