Forever Tampere

Forever Tampere
Helsinki, aku kembali...


Liburan panjang yang tadinya hanya akan di rumah Saja, menjadi tidak berlaku, karena akhirnya Keyla diantar oleh Fariz ke Helsinki,


untuk menemui Sarah dan Mama Laura yang sudah memberikan surprise padanya, untuk ikut liburan dengan Mereka besok siang.


Sampai detik ini aku tak tau mau kemana tujuan liburannya.


" Key, setelah mengantarmu keep tempat Sarah, aku akan langsung kembali ke Tampere, nanti aku akan beritau Sam kemana kamu pergi." Fariz mengusap punggung tangan Keyla, sangat jelas bahwa Fariz masih belum bisa menerima bahwa dirinya sudah bukan kekasih Keyla.


" Iya, Fariz, tentu kamu harus pulang, ingat istrimu sangat membutuhkan kamu apalagi di saat seperti ini, 2 bulan lagi Marianne akan melahirkan." Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan perjalanan bersama Fariz ini untuk berbicara dari hati ke hati lebih mendalam lagi, karena aku menghendaki Fariz dan Marianne bisa terus bersama dalam kebahagiaan pernikahannya.


"Percuma, harapanmu Akan pernikahanku dengan Marianne akan berbahagia, itu sesuatu yang tidak mungkin! Aku sudah terlanjur mencintaimu, menyerahkan seluruh hatiku untukmu Key! Mohon tidak usah mengguruiku dan menasehatiku tentang Pernikahan! " Ucapan Fariz terdengar sangat Ketus.


"Ma'af, aku hanya berempati terhadap sesama perempuan, apalagi saat dia tengah hamil, yang mana mengalami perubahan hormon yang signifikan, aku merasakan bagaimana dia merindukanmu sebagai suaminya, dapat memberikan perhatian padanya, " ucapku panjang lebar.


"Diam key !!!" bentakan Fariz dengan suara meninggi, membuatku tersentak kaget, aku benar-benar tidak menyangka dia bisa membentakku keras seperti itu.


Aku menundukkan kepala, lagi - lagi aku merasa menjadi perempuan yang lemah dihadapannya.


Fariz menepikan mobilnya dan segera meraih pundakku, dia memelukku seraya memegang tanganku erat.


" Keyla... maafkan aku, aku tak bisa menahan emosi saat kamu selalu menyebut Marianne dalam percakapan kita," ungkap Fariz dengan menatap lekat kedua bola mataku, kemudian dia melanjutkan ucapannya,


" Aku mohon saat kita berdua, bicaralah hal lain yang bisa membuatku tertawa, tidak usah membahas percintaan kita yang kandas sebelum kita memulainya, tidak perlu juga membahas Marianne, karena itu hanya membuatku makin merasa bersalah Padamu , pada cinta kita, pada Marianne, aku terlalu sakit hati Key... semua memang salahku, semua kebodohanku. " Fariz mengeluarkan isi hatinya yang cukup membuatku membelalakan Mata.


Karena bagiku yang memang diharuskan selalu dekat dengannya karena pekerjaan, secara tidak langsung, aku menjadi semakin mengenalnya , baik sifat maupun kepribadiannya memang luar biasa, dia adalah sosok yang baik, pekerja keras, bertanggungjawab dan yang paling kurasa saat ini, ternyata Fariz memang sungguh sangat mencintaiku, memiliki cinta yang tulus, tetapi waktu dan keadaan yang tidak berpihak pada kita.


Bagaimanapun keadaannya dia sekarang adalah suami Marianne, dan Marianne sudah menganggap aku teman baiknya, mereka berdua sedang menunggu kelahiran putra nya.


"Kamu janji padaku Key, jangan pernah bahas Marianne, kalau aku tidak menanyakanmu!" Ucapan Fariz sangat Tegas.


" I-iiyaa Fariz..., " terbata - bata aku menjawabnya.


"Key, namun yang pasti, kamu akan senang mendengarnya, kalau aku berjanji padamu tentang satu hal ini." Suara Fariz sudah mulai melunak .


"Apa yang akan membuatku senang?" aku cukup penasaran dengan yang dia katakan,


"Apapun yang terjadi antara aku dan Marianne nanti, namun aku berjanji akan sangat menyayangi anakku, aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku." Fariz seolah berbicara dan berjanji pada dirinya sendiri.


"Ya, aku bahagia mendengar janjimu." Aku tersenyum.


Memasuki kota Helsinki yang berarti hanya 10 menit lagi aku akan bertemu Sarah Dan Mama Laura.


" How are you, sister? Sarah dan mama Laura bergantian memelukku.


Dibelakang Keyla, Fariz menatap punggung Keyla, melihat Pemandangan bagaimana ibunya dan adiknya terlihat memeluk erat Keyla, mereka sangat bahagia bertemu kembali, " seharusnya memang kamu yang menjadi istriku Key" Fariz membathin.


"Kamu sudah tau belum kemana kita akan liburan seminggu ini?" tanya Sarah padaku


"Tentu aku belum tau, aku bertanya pada Fariz, dia pun gak tau... " ucapku.


" Kita akan mengunjungi beberapa kota di negara di Eropa Barat...kita akan ke Paris, Berlin, Copenhagen, Amsterdam dan Luzerne." Teriak Sarah.


Dan aku spontan melompat kegirangan, karena aku dikejutkan oleh hadiah indah ini, aku merasa sangat senang, seperti mendapatkan hadiah Undian.


Aku pun memeluk Fariz dan Fariz membalas pelukanku dengan lebih erat, hingga aku tersadar saat Sarah dan Mama Laura berdua menatapku dengan raut muka yang sedikit bingung, aku segera melepaskan pelukanku pada Fariz.


"Ma'af aku lepas kendali, aku terlalu senang mendengar tujuan liburanku, hingga... " belum sempat aku meneruskan penjelasanku pada Sarah dan Mama Laura, Sarah berkata,


" Tidak usah difikirkan Key, kami semua sangat memakluminya, kamu dan kak Fariz memang saling mencintai dan chemistry kalian tidak dapat dihindari, kami pun merasakannya dan aku bangga padamu Key, kamu mengalah menekan rasa itu demi kebaikan masa depan bayi yang dikandung Marianne, I am so proud of you." Sarah memeluk aku, kemudian mama Laura pun mengikuti.


Fariz membuang muka dan mengalihkan pandangannya keluar, ia tidak ingin meneteskan air matanya di hadapan semua wanita yang dicintainya ini.


" Mama , Sarah... aku sudah mengantar Keyla sesuai permintaan kalian, sekarang aku paint mau kembali ke Tampere, aku harap kalian dapat bersenang-senang menikmati liburan panjang in, aku pamit sekarang." Fariz mencium tangan mama Laura,


"Take care of yourself Mom, don't forget to drink supplement" Kulihat Fariz mencium kening mama Laura.


" Annoying Sissy, jangan lupa selalu jaga kesehatan, perhatikan vitamin mama, jangan ajak Keyla ke tempat hangout kamu dan teman lain yang banyak laki-laki, awas kamikaze kalau berani! " Fariz mengacak rambut Sarah dan mencium kening adiknya sambil tertawa, dan Sarah membalasnya dengan pelukan pada kakak tercintanya itu ,


" Baik Kakakku sayang, semua perintah akan aku laksanakan dengan baik!" Sarah mengangkat tangannya ke kepala, memberi tanda hormat ke kakaknya, aku tertawa melihat keakraban mereka.


" Key, jaga diri baik-baik, jangan ikut Sarah kalau dia mengajakmu ke klub malam ya, kamu lebih baik jalan dengan mama kalau dia memaksamu ke klub," Fariz tersenyum padaku memberi arahan sambil melirik Sarah dan melanjutkan pembicaraannya denganku,


"Aku pulang dulu, selamat bersenang-senang, sepulang liburan nanti, aku jemput kamu kesini." Fariz mendekapku, mencium keningku dengan lembut dan pamit dengan memberiku amplop.


"Ini untukmu, siapa tau disana kamu butuh sesuatu atau ingin membeli souvenir" Kali ini dia mencium pipiku sekilas dan benar-benar pamit, meninggalkan kami semua.


"Key, jangan bengong ditinggal kak Fariz! ayo segera istirahat, besok kita berangkat pagi, pesawat kita jam 11, sekarang lebih baik kamu istirahat" Sarah tertawa sambil mempersilahkan aku untuk ke kamar bekas tinggalku disini.


Aku tidur terlentang menatap langit -langit kamar, aku masih bingung dengan keadaan aku sekarang ini.


Satu sisi aku menginginkan Fariz bisa membahagiakan Marianne, namun disisi lain dia mengetahui kebahagiaan Fariz adalah bersamaku.