Forever Tampere

Forever Tampere
Dilema Keyla


Pukul 8 pagi Sam sudah menjemputku untuk berangkat kerja bareng, padahal tadinya aku mau sarapan dulu, tapi terlanjur dijemput, ya sudah ! aku ikut jadinya, daripada nanti ke Kantor harus naik bus,repot.


"Key, gimana bebenahnya semua sudah rapi? Maaf ya gak sempat mampir semalam,aku sampai apartment hampir pukul sebelas malam." Sam membuka percakapan pertama di dalam Mobil.


"Tenang aja Sam, kamu bisa mampir kapanpun, tempatku sudah rapi semua,kurasa kamu bakal betah kalau berkunjung nanti," Aku tersenyum bangga mengingat hasil kerja kerasku kemarin.


"Khusus soal itu, ibarat kata nih Key, kalau tempatmu super berantakan asal ada kamu, aku jamin aku tetap akan betah, apalagi Kalau tempatnya rapi, bersih dan wangi ,aku akan lebih betah, mungkin gak akan mau pulang, gimana dong Key?" Sam mulai menggodaku.


"Hahaha ... pagi-pagi aku harus sarapan gombalan dari kamu Sam." Aku tak bisa menahan tawa.


" Oh iya Key, ini serius, aku tadi gak sempat sarapan karena pengen mampir dulu ke coffee shop, Aku mau cheesecake, mampir dulu ya sebentar? Toh kita terlalu pagi juga kalau langsung ke kantor sekarang," pinta Sam


"Kamu tau Sam, aku juga sama, aku lapar perlu sarapan sehat."


Coffee Shop langganan Kita ini buka sejak pukul 6 pagi dan tutup pukul 12 malam. Kursi yang tersedia selalu terisi penuh bergantian, luar biasa! Padahal tempatnya tidak terlalu besar, namun Dekorasi, Design Interior dan Furniture-nya sangat cozy, membuat customer merasa nyaman, selain itu semua yang terutama tentu saja Kopi yang disajikan memang punya cita rasa special.


Kuhirup aroma Espresso yang sangat menggoda,nikmatnya ... aku makin menggilai kopi hitam ini.


Tanpa kusadari, Kenangan Lama melintas dalam benakku, aku teringat Jakarta 4 tahun yang lalu, saat aku jatuh bangun membangun bisnis Kafe sampai di satu titik bisnisku mulai berkembang dan melaju dengan pesat karena aku meracik sendiri dengan takaran sempurna antara kopi Arabica dari Tanah Gayo Aceh , Gula Merah lokal dan susu murni.


Sayangnya , setelah 3 tahun bertahan dengan sangat baik, namun memasuki tahun keempat saat aku dalam kondisi tidak stabil,tidak fokus dalam berbisnis hingga akhirnya kafe Kedua hanya tinggal menjadi kenangan.


Semua yang sudah berlalu tak perlu aku sesali, cukup jadikan bekal dan pembelajaran untuk aku menjadi lebih baik lagi ke depannya.


"Key, kamu itu kebiasaan deh, setiap aku ajak kamu ke coffee shop, aku selalu perhatikan ,kamu dan fikiranmu seperti terbang entah kemana, ada apa sebenarnya Key?" tanya Sam dengan penuh perhatian.


Wajar juga sih Sam sampai bertanya seperti itu karena memang aku pun kadang baru tersadar setelah melamun entah berapa lama.


"Iya, kamu benar Sam, intinya dulu di Jakarta aku punya coffee Shop juga, namun Karena sesuatu dan hal lainnya menyebabkan coffee shop ku akhirnya tutup di tahun ke 4." Aku berkata lirih berharap tidak ada pertanyaan lagi yang diajukan oleh Sam.


"Really? I'm so sorry for hear that, tapi siapa tahu kita nanti bisa membuka bisnis Coffee Shop di Finland ," Sam memegang erat tanganku, aku tau Sam mencoba menghiburku.


Senin pagi, hari pertama di minggu ini, aku harus bersemangat, apalagi nanti bertemu pasangan pengantin baru di Ruang Meeting membayangkannya saja sudah malas aku, apalagi nanti bertatapan langsung, Ya Tuhan Kuatkan hambaMu ini ... perlihatkan ketegaranku, aku ingin rasa sedihku hanya di hari Jum'at saja.


Setelah menyelesaikan sarapan, kami langsung menuju kantor. Sampai kantor tepat pukul 9.


Aku memeriksa semua bahan yang akan dibahas dalam Meeting Manajer Mingguan ini, dan aku sudah mendapatkan beberapa catatan kaki dari CEO.


Karena libur dari hari jumat, meeting kali ini lebih banyak bahasannya, sampai waktu makan siang baru selesai.


Seperti biasa Sam sudah memberi kode padaku untuk segera keluar.


Saat aku hendak meminta Izin untuk keluar meninggalkan ruangan, Fariz sudah terlebih dahulu memerintahkan,


" Keyla, Aku minta waktumu 5 menit untuk menemuiku di ruanganku,sekarang juga !" Ucap Fariz tegas tanpa menolehku, dia pun meninggalkan ruangan .


Hari ini Marianne tampak tidak bersemangat, mungkin bawaan bayi menjadi mudah lelah, dia pun meninggalkan ruangan tanpa berbicara sepatah kata pun, saat meeting tidak ada kata yang keluar dari Marianne selaku Manajer HRD, dan Fariz pun sepertinya tidak memperdulikan kehadiran Marianne, walaupun pas memasuki ruangan Meeting, mereka terlihat bersama.


Sudahlah Key! Ngapain juga difikirin, aku segera memasuki ruangan Fariz.


"Key, setelah selesai kamu langsung ke bawah ya aku menunggu kamu di lobi." Pesan Whatsapp masuk dari Sam.


"Okay Sam." Aku langsung membalasnya dengan singkat.


Kuketuk pintu ruangan CEO


"Masuk Key .... " Fariz sambil membukakan pintu ruangannya.


"Maaf Tuan, Anda menyuruh saya menemui anda, apakah ada tugas yang harus saya kerjakan?" , tanya aku pada Fariz.


Aku benar-benar merasa bingung bagaimana menghadapi Fariz saat berhadapan Face to face berdua saja dan itu akan terus terjadi selama aku menjadi sekretaris pribadinya, poor Keyla!


"Key, apa-apaan kamu manggil aku dengan Tuan terus Anda " , sahut Fariz melayangkan protesnya.


Sudah dapat kutebak, dia akan protes, namun aku tetap merasa kebingungan dengan situasi ini.


" Key, aku serius memohon maaf ... percayalah Key ... aku teramat sangat mencintaimu, hanya kamu yang selalu ada di hatiku, aku memang menikahinya sebatas tanggungjawabku sebagai pria sejati karena Ann mengandung bayiku, tapi aku tidak pernah dan tidak akan mau menyentuhnya lagi sejak 3 bulan lalu, dan itu berlaku untuk selamanya, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri, hanya denganmu aku mau mengarungi indahnya mahligai rumah tangga, kamu sekarang tinggal dimana, Key? kamu tega meninggalkan rumah tanpa pamit padaku, sebegitu bencinya kamu kepadaku Key? " Suara Fariz bergetar, nampak emosinya sedang tidak stabil, terlihat kegusaran, kegalauan dan kebingungan dia.


Ya Tuhan ... aku tak sanggup menghadapi Fariz secara langsung seperti ini, mendengar curahan hatinya aku merasakan kepedihan yang sama, kita tak mungkin bersama Fariz, sebesar apapun cinta kita,namun kenyataannya adalah kamu sudah menjadi suami Marianne Sekarang.


Kalimat-kalimat itu hanya mampu aku ucapkan dalam hati, di depan Fariz aku hanya bisa diam seribu bahasa, kufikir aku sudah bisa bersikap biasa, hari sabtu dan minggu aku sudah banyak menciptakan tawa dan suasana riang dengan Sam berarti sudah mampu bersikap wajar di depanmu, namun semua itu hanyalah teori dangkalku, kenyataannya aku tetap masih diperbudak rasa cinta terhadapmu ... Dilema.