
"Sometimes you have to eat your words, Chew your ego, swallow your pride and accept that you are wrong. it's not give up. it's called growing up".
_ The inspiration of life.
Angel meringkuk di atas kasurnya, lagi -lagi air matanya tak berhenti berlomba membasahi pipinya. matanya bengkak karena terlalu lama menangis. Ia merasakan pergerakan diranjangnya. Anastasya membaringkan dirinya menghadap gadis itu. Ia membawa angel kedalam pelukannya. mendekapnya erat sembari mengelus pelan punggungnya.
"Mom"? panggil angel pelan dengan suara seraknya.
"apa sayang?" balas Anastasya.
angel terdiam sejenak sebelum akhirnya ia kembali berucap. "I am sorry"
Anastasya menyunggingkan bibirnya sekilas. "it's okay. it's not your fault".
"but, how about _
"Shutt! "ujar Anas cepat membentengi bibir angel dengan menempelkan jari telunjuknya. "biar mommy yang bicara dengan Daddy". sambungnya.
"Apa Daddy akan memaafkanku mom?"
"Mom akan membunuhnya kalau dia tidak memaafkanmu" Kata Anastasya.
Angel tersenyum kecil mendengarnya. "baiklah, aku akan menunggu hari itu"
"sekarang tidurlah sayang, lupakan apa yang membuatmu sedih hari ini" bisik anastasya.
Angel menganggukkan kepala sebagai jawaban. Anas merasakan tubuh angel semakin melekat erat dalam rengkuhannya. Ia tak henti-hentinya mengusap punggung gadis itu dengan lembut hingga membuat kelopak indah angel terpejam.
Merasa tidak ada pergerakan lagi, Anastasya bangkit dari posisi miringnya. sebelum meninggalkan gadis itu, ia memberi kecupan hangat dan lembut di kening angel. "sleep tight baby". bisiknya.
Anastasya meninggalkan angel bersama sinar rembulan yang mengintip dari sela-sela jendela kamarnya.
Sementara disisi lain, Thom berdiri di sudut ruangan kamarnya. Ia memandang kearah luar dibalik dinding kaca kamarnya. Ingatannya kembali menerawang peristiwa tadi. kedua manik biru itu kembali berkaca-kaca pandangannya mulai mengabur, dengan gerakan cepat ia menghapus genangan air itu dari kedua bola matanya.
"Aku benar-benar ********" lirih batin Thom.
Cklek!
derap langkah kaki mulai terdengar mengisi keheningan. Tanpa menoleh Thom tahu kalau itu adalah Anastasya. Semakin mendekat hingga ia merasakan sepasang ranting kecil mendekap erat pinggulnya. Thom menegang.
"Apa kau marah?" Tanya anatasya sambil menempelkan pipinya di punggung Thom.
Thom bungkam. Ia hanya menempelkan tangannya diatas lengan kecil Anastasya.
"Maafkan aku" lirih Anastasya
Merasa tak ada jawaban, Anastasya kembali berucap. "kau boleh menghukumku tapi jangan mendiami ku seperti ini" isaknya pelan.
Thom masih bungkam. Ia hanya menatap ke arah luar dengan pandangan kosong.
"ku mohon katakan sesuatu, Gabriel" kata Anastasya dengan suara bergetar karena tangisnya. Anastasya benar-benar tidak sanggup jika Gabriel mendiaminya. Ia menangis begitu menyedihkan, menumpahkan seluruh tangisnya di punggung tegap pria itu.
"berhenti menangis, Anas! aku tidak bisa melihatmu menangis?!" ujar Thom tiba-tiba dari balik punggungnya.
Anastasya tidak menjawab. ia semakin menempelkan wajahnya, menangis dengan keras.
"aku bilang jangan menangis Anas! perintah Thom.
Tangis anastasya mulai mereda. Ia mengusap wajahnya yang bersimbah air mata. "aku tidak menangis lagi, sekarang lihat aku" ujarnya. Ia mengangkat wajahnya dari punggung Thom.
Thom membalikkan badannya, menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca. "aku benar-benar tidak sanggup melihat air mata itu". batinnya.
Anastasya menubrukkan tubuhnya di pelukan Thom, Ia kembali menangis. "jangan menangis Anas?!" bisiknya menenangkan. "Maafkan aku" sambungnya lagi.
"Aku tidak menangis" sela Anastasya cepat.
"lalu?".
"hanya saja air mataku tidak berhenti turun! kesalnya. "Lihatlah! sedari aku sudah menghapusnya tapi tetap saja tidak mau berhenti" kata Anastasya menunjuk wajahnya dengan jari telunjukknya.
"menggemaskan sekali" batin Thom
Thom terkekeh pelan. "dasar cengeng" kata Thom sembari mengusap sisa air mata di wajah anastasya.
"aku tidak cengeng" bantah Anastasya.
"lalu kenapa kau menangis?" tanyanya gemas. ingin sekali rasanya ia mencium habis bibir mungil berwarna pink itu yang sedari tadi menggodanya.
"itu karena kau mendiami ku! kau jahat sekali!" balas Anastasya sengit memukul-mukul pelan dada bidang itu.
Thom tertawa pelan. Ia membawa Anastasya kepelukannya. membenamkan seluruh tubuh mungil Anastasya dalam dekapannya. Ia mengusap lembut punggungnya. "Maafkan aku" ujarnya. "aku tidak sanggup melihat air matamu" katanya dengan suara parau.
Anatasya tersenyum dalam dekapan itu. "aku tahu, aku mencintaimu, Gabriel"
"aku lebih mencintaimu" balas Thom semakin mempererat pelukannya.
Mereka terdiam sebentar. tiba - tiba Thom berujar. "apa angel sudah tidur?
"hmm" gumam anastasya.
"apa dia membenciku?" tanya Thom.
Anastasya melepaskan diri dari pelukan Thom. Ia mendongakkan wajahnya yang hanya sebatas dagu pria itu. "angel atau pun aku tidak membencimu, kami berdua sangat mencintaimu"
Thom tersenyum kecil. Ia mengecup lembut dahi wanitanya, lama dan penuh perasaan. "terimakasih sayang" balas Thom. "ahh!" rintih Thom tiba-tiba memegang dadanya. "Anas, tolong aku!"
Anastasya membelalakkan matanya. "a-apa yang terjadi?" tanyanya gagap.
Thom membungkukkan badannya. Ia bersimpuh dilantai dengan kedua lututnya, seperti sedang menahan sakit.
"apa yang terjadi padamu Gabriel!" seru anastasya panik. ia takut terjadi apa-apa dengan suaminya. Ia benar-benar ketakutan saat ini.
Thom mengangkat wajahnya, menatap wajah panik anastasya. "bagaimana ini, jantungku berdetak hebat karena semakin mencintaimu sayang" godanya sembari mengedipkan sebelah matanya.
Anastasya terdiam. air mukanya berubah menjadi merah padam menahan amarah.
"dasar brengsek!" makinya sambil menghujani pria itu dengan cubitan di pinggangnya. Thom tertawa keras memegangi perutnya hingga terbaring dilantai.
"aduh.. aduh.. ampun sayang!" ujar Thom disela-sela tawanya. Dengan cepat Thom menangkap tangan kurus itu dan menariknya hingga terjatuh didadanya.
"apa yang aku lakukan" pekik Anastasya mencoba bangun dari posisinya. sepersekian detik, Thom melingkarkan kedua lengannya di pinggul kecil Anastasya. Ia mendekapnya kuat agar tidak kabur.
"lepaskan aku" desis Anastasya menggerakkan badannya.
"biarkan seperti ini sebentar" kata Thom. Anastasya menghentikan usahanya. Ia menundukkan wajahnya yang mulai memerah.
Thom mengangkat pelan dagu Anastasia dan membuat pandangan mereka bertemu. "sangat cantik" kata Thom menatap lekat wanita itu hingga membuatnya salah tingkah. "Anas, can I?" bisiknya parau.
Anas yang sudah mengerti, tersenyum malu dan menganggukan kepalanya.
Merasa mendapat lampu hijau. secepat kilat Thom membalikkan posisi mereka. Kini ia sudah berada di atas Anastasya dengan bertopangkan sebelah tangannya. ia tidak ingin menyakiti wanita itu dengan tubuh beratnya. Dia menumpukan kepala wanita itu di lengannya yang bebas. "Aku akan "menghabisimu" malam ini sayang" ujarnya tersenyum miring.
Anastasya menjilat bibirnya. dadanya bergemuruh hebat. Sialan! padahal ini bukan pertama kalinya tapi debaran itu tetap ada bahkan kali ini terasa berpuluh puluh kali lipat.
Thom terkekeh pelan. "aku tidak akan memaksamu" katanya mengusap lembut wajah tegang itu. "ayo kita tidur, lain kali saja" sambungnya sembari membantu Anastasya untuk duduk.
"Why?" tanya Anastasya tiba-tiba.
Thom menaikkan sebelah alisnya. "tubuhmu bergetar, kau ketakutan" ujarnya mengusap bulir - bulir keringat di pelipis Anastasya.
"sepertinya dia benar-benar ketakutan" batin Thom.
"dasar bodoh aku bukan takut, tubuhku bergetar karena aku mendambakan sentuhanmu! sepertinya aku harus berubah liar malam ini! batin Anastasya.
Anastasya memejamkan matanya sebentar. mengumpulkan keberanian, menarik kerah baju laki-laki itu, mendorongnya agar lebih dekat padanya.
dan...
CUP!
sebuah kecupan lembut mendarat di bibir seksi pria itu. Thom menegang, ia tidak percaya bahwa isteri kecilnya seberani ini.
Anastasya terdiam menetap lekat kedua manik biru itu. "but I want to... I want you in me, fill me in rightnow, gabriel" bisiknya pelan sembari mengukir pola abstrak di dada bidang pria itu. Ia melihat kedua manik biru Thom berubah sayu menahan gairah yang mulai membuncah.
"shit!"
"jangan menggodaku sayang, kau tahu aku tidak akan berhenti, bukan?! kecamnya.
Anastasya tersenyum miring. Dia kembali menempelkan bibirnya di bibir seksi Thom. mengecupnya pelan dan sangat lembut, tidak ada nafsu disana hanya sebuah ciuman penuh perasaan. Baru saja Thom ingin membalas ciuman itu tiba-tiba Anastasya melepas bibirnya hingga membuat Thom mengeram kesal.
Anastasya terkikik geli.
"Aku sudah tidak tahan lagi sayang" bisik Thom dengan serak.
Tanpa menunggu balasan Anastasya lagi. Thom segera menarik lengan Anastasya dan mengalungkannya dilehernya.
Anastasya terpekik kaget saat tubuhnya tiba-tiba melayang. Thom terkekeh melihat wajah Anastasya merona menahan malu. Ia membawa tubuh mungil isterinya ke ranjang milik mereka dan membaringkannya dengan hati -hati.
"You're ******g so sexy baby" bisik Thom dengan gairah yang sudah diujung tanduk.
Anastasya tersenyum miring. "and I am yours, Western!" do it now! I can't wait anymore!" rayunya dengan mengusap lembut dada bidang itu. turun kebawah hingga berhenti tepat di perut kotak Thom yang masih bersembunyi di balik benda sialan itu. Thom memejamkan matanya menikmati sentuhan Anastasya.
"Apa isteriku ini mulai berubah jadi kucing liar? Tanya Thom memandang lekat bibir tipis itu. "kau yang menggodaku nyonya, aku akan membuatmu meneriakkan namaku berkali-kali?" Thom tersenyum mengerikan. tanpa menunggu lama lagi, Ia melekatkan bibirnya diatas bibir mungil itu dan melahapnya lembut. Anastasya mengerang, ia merasakan pria itu mulai menurunkan ciuman basahnya di leher jenjangnya hingga semakin lama ciuman basah itu mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Meninggalkan jejak basah dan keungguan. mereka mengerang panjang membiarkan tubuh mereka menyatu dalam kenikmatan.
"aku mencintaimu!
sangat mencintaimu!
Anstasya Gabriella Western! stay with me!
cause I am nothing without you".
Mereka menghabiskan sepanjang malam dengan berbagi kehangatan satu sama lain.
Setelah pergulatan panas mereka. Thom enggan tuk menutup mata, ia masih menatap penuh cinta wanita yang kini berada dalam dekapannya. mengusap lembut bahu telanjang Anastasya. Wanita itu sudah tertidur lelap sedari tadi. Thom tersenyum kecil, mencium lembut kening isterinya. Ia segera bangkit dan memakai pakaiannya asal. Ia melangkah keluar. Thom kembali menoleh sebentar dan memastikan bahwa Anastasya benar-benar tidur.
Thom memasuki ruang kerjanya dan mengeluarkan benda pipih dari sakunya. Ia mendial nomor seseorang.
"hallo" ujar si pemilik suara di balik telepon itu setelah menunggu beberapa saat.
Terjadi keheningan beberapa saat diantara mereka. Tiba-tiba Thom mulai berujar. "How dare you!" desisnya tajam.
"What do you Mean?"
Thom memejamkan mata sejenak lalu melanjutkan perkataannya. "I will kill you if you touch my daughter!" Ancamnya menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya. "Aku tahu kau dibalik semua ini, Handerson!" sambungnya lagi sembari mengepalkan erat tangannya.
"deg!"
keheningan kembali menyapa mereka. hingga salah satu dari mereka kembali bersuara.
"I waited for that moment!"
"Western!" sambungnya.
Bip!
menandakan bahwa panggilan itu sudah berakhir.
"let's start this war, Handerson! gumam Thom dengan senyum mengerikan.