You Are The Best Part Of My Life

You Are The Best Part Of My Life
Bekerja


"Some people chose to hate for no reason. I choose to love you for no reason."


Angel mengayuh sepedanya sekuat tenaga, peluh sudah membanjiri pelipisnya. Dia sudah tidak peduli sakit di kedua lututnya, pikirannya hanya tertuju pada sebuah kafe yang jadi pabrik mata uangnya. Angel menggeram kesal di atas sepedanya, semakin dia mengayuh cepat sepedanya semakin jauh jarak yang dirasa. Ini semua gara-gara si bodoh itu.


"Apa kau gila?" tanya Angel menatap lekat wajah William.


"Aku gila karenamu." balas William


"Pergilah! jangan menggangguku."


William segera menangkap lengan kecil itu, saat dia melihat Angel mulai melangkah. "Jadilah pacarku, aku tidak akan mengganggumu lagi."


Angel menepis tangan William kasar. "Jangan membuatku marah, kita baru sekali bertemu dan kau ingin aku jadi kekasihmu? tanya Angel sinis. "Gadis lain mungkin tergila-gila padamu, tapi tidak denganku. Pergilah, aku tidak terbiasa jadi pusat perhatian." pinta Angel. William mengedarkan pandangannya, dia baru sadar bahwa mereka sedari tadi jadi pusat perhatian. Semua orang menatap heran ke arah mereka berdua. Angel sudah menjauh tanpa disadari oleh William. William berteriak saat langkahnya kalah cepat dari Angel.


"Ella!!!!"


"Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta kepada ku**!!!!"


"Kau akan jadi kekasihku!!!!"


"Aku mencintaimu Ella!!!!!"


"Apa kau dengar?!!!!!!!!"


"Aku mencintaimu!!!!"


Angel semakin mempercepat langkahnya menuju parkiran, dia menutup kedua telinganya saat mendengar teriakan William.


Angel berdecak kesal saat pikirannya dipenuhi perkataan William. Dia memukul kepalanya berharap kesadaran mulai mendatanginya. Angel menarik nafas mengusir kegelisahan yang sejak tadi memenuhi hatinya. Dia memasuki kafe dan langsung menganti seragam sekolahnya dengan seragam pelayan.


"Aku pikir kau tidak akan datang Angel." ucap Salsa, dia melihat Angel keluar dari toilet.


"Kau tahu aku butuh uang, Salsa." balas Angel sambil menggulung rambutnya.


"Semua orang butuh uang Angel."


"Tapi tidak ada yang lebih membutuhkannya daripadaku bukan?"


Salsa menatap sedih gadis berbadan kurus dihadapannya. "Apa luka mu bertambah lagi?"


Angel tersenyum miris. "Aku tidak punya obat untuk menyembuhkannya Salsa."


"Tapi kau selalu punya cara untuk menutupinya."


"Aku hanya tidak punya jawaban saat orang mulai bertanya."


"Katakan padaku, apa Monic menyakitimu lagi?" tanya Salsa memandangi wajah Angel.


"Apa dia pernah tidak menyakitiku? balas Angel melempar pertanyaan Salsa.


"Kenapa kau tidak pernah berteriak saat mereka menyiksamu?"


"Lalu membiarkan manusia lain mengasihaniku. Itu maksudmu?"


"B-bukan, maks___"


"Aku sudah pernah salsa, tidak hanya berteriak bahkan merangkak pun sudah ku lakukan. Tapi tak satupun mendengarku." jelas Angel tersenyum pedih. Ingatannya melayang saat dulu dia memohon belas kasihan orang. Sayangnya, tangisannya tidak terlalu kuat hingga membuat orang lain mendengarnya.


"Angel, m-aaf." cicit Salsa dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan membuatku merasa gadis yang sangat hebat dengan permintaan maafmu Salsa." ucap Angel sambil mengelus pelan sebelah punggung Salsa.


"Kau tahu, ayahmu tidak salah memberi namamu Angel. Kau benar -benar seorang malaikat." ucap Salsa menghapus air matanya.


Benarkah aku malaikat? lalu kemana perginya sayapku saat aku tak punya tempat di dunia ini, kenapa mereka tidak membiarkanku terbang jauh meninggalkan luka ini.


"Kau sangat hebat dalam merangkai kata Salsa." balas Angel meninggalkan Salsa dengan sejuta perasaan bersalah.


Aku sangat berharap kau bahagia Angel. batin Salsa.


Angel menyibukkan dirinya dengan membersihkan seluruh meja pelanggan. Sebentar lagi kafe ini pasti ramai pengunjung. Dia tidak ingin jadi sasaran kemarahan pria plontos itu nantinya.


"Beres." gumam Angel melihat hasil kerjanya yang memuaskan. Dia menatap kedua tangannya. "Benar-benar tangan Upik abu." kekeh Angel mengamati kedua telapak tangannya yang sudah sekasar aspal.


"Angel, kesini sebentar!" panggil seorang pria dari meja bartender.


"Baik boss." jawab Angel berlari kecil mendekati meja bartender.


"Dasar pendek, kau seperti bebek. Larimu cepat sekali." ujar Rio menyindir langkah Angel. Dia seorang bartender hebat dan muda. Rio sudah seperti seorang Kaka bagi Angel. Jika Angel dingin maka Rio sebaliknya.


"Maafkan aku, kau tahu kalau aku tidak pernah makan makanan bergizi." balas Angel.


"Ck, kau sangat pandai merusak suasana."


"Apa yang bisa dibantu?" tanya Angel mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku hampir lupa, tolong antarkan minuman ini ke ruangan VIP."


Angel mendekatkan hidungnya di minuman itu. " Bukankah ini alkohol?" tanya Angel ragu.


Rio mengangkat bahunya acuh. "Perintah boss, dan dia menginginkan kau yang mengaturnya langsung."


"Kenapa?" tanya Angel bingung.


"Aku bukan dukun, jadi aku tidak bisa menebak isi pikiran si plontos itu." dengus Rio.


Tak ingin ambil pusing, Angel mengambil nampan berisi cairan hangat yang membakar tenggorokan itu ke ruangan VIP. Dia memasuki lift yang akan membawanya kelantai atas. Angel keluar dari dalam lift, dia berjalan mendekati pintu ruangan yang bertuliskan VIP. Angel mengayunkan sebelah tangannya mengetuk pintu itu pelan.


"Masuk!" perintah suara dari balik pintu.


Cklek...


"Maaf tuan, ini pesanan anda." kata Angel meletakkan nampan berisi minuman itu di atas meja. "Saya permisi tuan." pamit Angel segera beranjak.


"Jangan berani keluar dari ruangan ini!"


deg!


lagi-lagi suara itu.


Pria itu memutar kursinya menghadap ke arah seorang gadis yang berdiri di hadapannya. Angel menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kau?!" pekik Angel. Dia masih tidak percaya bahwa pria yang dihadapannya adalah William.


"Hy Ella, gadis empat mata. Nice too see you." Ucap William dengan nada mengejek.


"Apa yang kau lakukan disini?!"


"Berkunjung, apa lagi?


"Kau mengikutiku bukan?" tebak Angel menyipitkan kedua matanya.


William menahan kedutan di belahan bibirnya. "Kau selalu cantik dalam berbagai ekspresi, tapi kali ini kau tidak hanya cantik tapi juga menggoda." jelas William menggoda.


"Pergilah, kau tidak dibutuhkan disini."


"Hey, aku adalah tamu disini. Maka sebagai seorang pegawai yang baik kau juga harus melayaniku dengan baik." kata William menegaskan posisinya.


Angel menatap jengkel pria dihadapannya. "Aku sudah melakukan tugas ku sebagai pegawai, saatnya aku pergi." balas Angel dingin lalu mulai menggerakkan kakinya.


"Aku pastikan detik ini juga kau dipecat jika tanganmu sampai menyentuh gagang pintu itu!" ucap William menahan amarah. Angel berhenti melangkah, dia tidak berani bertindak lebih jauh lagi. Dia merasa William punya sesuatu yang membuat orang tunduk padanya. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaan berharga ini hanya karena keras kepalanya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Angel dalam sekali tarikan nafas.


"Temani aku." pinta William tegas.


"Aku tidak bisa Will_


"Liam, bukan William." koreksi William saat Angel mulai melupakan nama kesukaannya.


"Baiklah Liam, aku harus bekerja." ulangi Angel menjelaskan keadaannya.


"Aku akan bayar 10 kali lipat harga minuman ini jika kau menemaniku." tawar William.


Apa dia tahu berapa harga alkohol itu? apa siswa seperti dia punya uang sebanyak itu?


"Apa kau punya uang?" tanya Angel tak percaya.


"Aku bahkan bisa membeli kafe kecil ini jika kau mau".


Membeli? kafe kecil ini? dasar William bodoh.


"Aku tidak ingin dipecat." tolak Angel.


William terdiam, rahangnya mengetat jelas terlihat di wajahnya, manik biru itu berubah tajam seperti silet. Angel memekik kaget saat sebuah suara teriakan menyapa indera pendengarannya.


"BENTO!" teriak William di balik panggilannya.


"I-iya?!" tanya suara bergetar dibalik panggilan yang sudah memakai pengeras suara itu.


"Angel akan bersamaku, apa kau berani memecatnya?!"


"T-tidak t-tuan."


William memutuskan panggilannya, dia memandangi wajah Angel yang berubah pucat.


"Duduklah." pinta William lembut.


"A-aku tidak mau." balas Angel takut.


"Jangan membuatku marah Angel, aku bilang duduk!" perintah William lagi.


Angel menarik nafas berulang kali, dia meremas tangannya mengusir rasa takutnya. Dia berjalan sambil memandang kearah lantai. "A-aku akan menuangkan minumanmu." ujar Angel bergetar.


"Tidak perlu, kau bukan pelayanku." ujar William menghentikan gerakan tangan Angel.


"T-tapi a_


"Duduklah disampingku." ucap William menepuk sofa kosong yang berada disampingnya.


Angel mematung di tempatnya. Dia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.


"Angel?!" geram William mengamati wajah takut Angel.


Tanpa menjawab panggilan William, dia berjalan mendekati tempat duduk William. Angel duduk di samping William, kedua tangannya saling bertautan menahan getaran takut yang semakin menjadi-jadi.


"Kau sangat suka membuatku mengulangi kalimatku." ujar William mengubah posisi duduknya menghadap Angel.


"Maaf." cicit Angel.


William mengangkat dagu menunduk Angel dengan sebuah jarinya. "Tatap aku saat bicara".


Angel menganggukkan kepalanya. Matanya tidak lepas dari tatapan tajam biru itu.


"Bisa kau tenang sedikit? aku hanya ingin dekat denganmu."


Tapi aku tidak ingin dekat denganmu!


Angel menganggukkan kepalanya sekali lagi.


"Apa kau bisu kacamata?!"


Angel mengeleng kepalanya cepat, wajahnya kembali panik saat mendengar nada marah William.


"Kalau begitu bicaralah, atau akan benar-benar membuatmu bisu sesaat." William memperingati Angel tajam.


"B-b-baiklah." balas Angel


William tersenyum kemenangan. "Kenapa kau bekerja?"


"Karena aku butuh uang."


"Dimana ayahmu?"


Wajah takut Angel berubah sendu mendengar pertanyaan itu. "Dia sudah bahagia di atas sana."


William menatap bingung. "Di atas mana?"


"Surga." balas Angel


Manik biru itu melebar seketika, dia merasa sangat bodoh dengan pertanyaannya.


"Maaf." bisik William merasa bersalah.


"Jangan minta maaf, aku tidak terbiasa menyalahkan." balas Angel.


William semakin mengerutkan keningnya dalam. Apa maksudnya?


"Dimana ibumu? tanya William penasaran


Angel terdiam sebentar. "Di rumah."


" Apa dia tidak bekerja?"


"Apa kau pernah mendengar kisah Cinderella?"


"Ibuku sangat menyukai kisah itu, aku sudah hapal setiap alur dalam cerita itu."


Begitulah kisahku. Angel membatin


Angel mengalihkan tatapannya dari William. "Apa kau haus?"


"Kau belum menjawab pertanyaanku." ujar William kembali menghentikan gerakan tangan Angel.


"Ada banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak membutuhkan jawaban." ucap Angel datar.


William mengangkat sebelah alisnya. "Apa pertanyaanku kali ini ada jawaban?"


Angel mengangkat wajahnya kembali menatap William. "Pertanyaan apa?"


"Apa kau punya pacar?"


"Tidak."


"Apa kau pernah jatuh cinta?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Karena tidak ada yang menyukaiku."


Mereka terdiam, William menatap lekat wajah Angel, membiarkan kedua matanya mengelilingi wajah putih berlemak itu. "Tapi aku menyukaimu." ucap William tiba-tiba


Angel hanya bungkam, perasaannya kaca balau. Hatinya sejak tadi berdebar tak karuan.


"Kau cantik Angel." Ujar William kembali menjelajahi seluruh wajah Angel dengan manik birunya. William mengangkat tangannya di wajah Angel, dia melepas mata palsu yang merusak pandangannya, tangannya diarahkan ke belakang kepala Angel. William melepas gulungan rambut wanita itu, membiarkan suarai hitam lembut Angel menyentuh bahunya. William menyisir rambut gadis dihadapannya menggunakan jemarinya. "Sangat cantik." gumam William memandangi hasil karyanya.


Angel masih tetap bungkam, tiba-tiba sesuatu yang lembut menempel di sebelah pipinya.


Cup!


"Kau sangat menggemaskan." ujar William terkekeh pelan saat melihat kedua manik hitam Angel melebar sesaat.


"K-kenapa kau menciumku?"


"Karena aku menyukaimu?."


Angel menggerakkan kedua bola matanya mencoba mencari sesuatu dari raut wajah William. Angel terkesiap saat telapak kasar William menyentuh pipinya.


"Apa pertanyaanku ini punya jawaban?" tanya William mengelus lembut pipi tembam itu.


"A-apa?" tanya Angel. Angel menunggu lama kalimat yang akan terlontar dari bibir pria dihadapannya. Dia hanya menatap bibir seksi dihadapannya, menunggu dengan sabar kalimat yang akan keluar dari bibir William. bibir itu seakan sulit digerakkan pemiliknya tiba-tiba. Angel membeku saat William kembali mengulang pertanyaan yang sangat dihindari Angel.


"Apa...... kau mau jadi kekasihku, Ella?"


deg! deg! deg!


Haruskah hati mulai berhianat? haruskah hati yang memenangkan pertarungan ini? lalu bagaimana dengan pikiran yang berdiri di depan bak perisai demi melindungi segenggam hati dari luka.


Orang bilang berani mencintai, berani terluka. Lalu beritahu aku, apa penawar hati yang terluka?