You Are The Best Part Of My Life

You Are The Best Part Of My Life
Let Me Love You


"Dulu ceritamu bukanlah milikku, dan ceritaku bukanlah milikmu, tapi hari ini berbeda. Bagiku kau adalah ceritaku sekarang, besok dan selamanya."


William berdiri bak patung hidup dibalik pelukan Angel, punggungnya menegang, bibirnya terasa kelu tuk berucap.


"Liam?" panggil Angel, rasa penasaran semakin menggerogoti dadanya.


William memejamkan matanya, dia lalu melepaskan diri dari pelukan itu.


"You okay?" tanya William, meneliti seluruh wajah putih mulus Angel. Matanya terpaku pada bekas jahitan di dahinya, William meraba bekas luka itu.


"Answer me." ujar Angel, menuntut jawaban dari pria dihadapannya. Angel menangkap tangan William yang masih bergerilya di kulit wajahnya, dia ingin jawaban sekarang juga.


William menghela nafas pelan. "Aku....menolong seorang gadis yang kecelakaan tadi sebelum ke sini." ujar William, setelah otaknya berhasil menemukan solusi cerdik dari pertanyaan Angel.


"Apa?!" tanya Angel, menutup mulutnya tak percaya.


"Aku tidak bohong Ella, makanya tubuhku seperti bau darah, karena darah gadis itu menempel di bajuku." ujar William, memanipulasi kebenaran yang sesungguhnya.


"Lalu..... kenapa kau pakai jas?" tanya Angel, meneliti pemandangan dihadapannya.


****** aku, tamat riwayatku.


William menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "I-ini milik Jeremi, dia tadi meminjamkan jasnya padaku karena baju ku sudah berlumuran darah." balas William dalam satu tarikan nafas, menutupi suara gugupnya.


"Oh..... jadi alasanmu tadi keluar karena ingin bertemu Jeremi?" tanya Angel, mempercayai ucapan William.


"Yah, begitulah." balas William singkat. Detak jantungnya sudah kembali normal, melihat Angel sudah kembali percaya padanya.


"Lalu, dimana gadis korban kecelakaan itu?"


deg!


Sial, si kulkas ini sulit sekali dikelabui.


"Dia di rumah sakit yang sama denganmu." balas William datar.


"Kalau begitu, aku ingin melihatnya." tukas Angel antusias.


"Tidak usah, hari ini kita akan pulang kan?" tanya William, mengalihkan perhatian Angel.


"Astaga, aku hampir lupa." ujar Angel, menepuk keningnya pelan.


"Dasar tua, ayo kita pulang." William berujar, menarik tangan Angel segera keluar.


"T-tunggu dulu, biaya rumah sakitnya bagaimana? cicit Angel. Dia tidak punya uang membayar rumah sakit semahal ini, belum lagi obatnya, biaya kamar VIP yang ditempatinya hampir seminggu ini, dia yakin jantungnya tidak akan sanggup membayar semua biaya rumah sakit itu meski dijual.


William menatap geli, gerak-gerik manik hitam itu. "Aku sudah membayarnya." ujar William enteng, menarik tangan Angel.


"Bagaimana kau membayarnya?" tanya Angel menatap heran pria disebelahnya, dia tidak yakin dengan jawaban William, dia tidak mungkin punya uang membayar total biaya rumah sakit mewah itu.


Dia kan bukan anak sultan, darimana dia dapat uang sebanyak itu?.


"Aku menjual sebelah ginjal ku." jawab William santai.


"APA?!" pekik Angel.


William terkekeh pelan melihat aksi menggemaskan gadis itu.


"Kenapa kau menjualnya?!" seru Angel kuat, dia tidak peduli jika semua orang menatapnya aneh, dia menuntut jawaban pasti dari William sembari berlari kecil mengikuti langkah lebar William.


Dasar Ella bodoh, katanya IQnya diatas rata-rata. Diatas rata-rata pantatku, kerbau saja jauh lebih pintar darinya.


"Jangan banyak tanya, atau aku akan menutup mulutmu dengan mulutku." ancam William, membuat nyali Angel hilang pergi ntah kemana, dia segera menutup mulutnya. Si bodoh ini tidak akan main-main dengan ancamannya, lebih baik ku selamatkan diriku dari pria bodoh ini.


Akhirnya langkah mereka sampai di depan sebuah mobil sport mewah berwarna merah keluaran terbaru. Angel menganga lebar, dia tidak pernah melihat mobil semewah ini langsung dengan kedua matanya, dia hanya melihat di koran ataupun televisi, dan tentunya aslinya jauh lebih bagus daripada di TV atau di koran.


"Masuk!" perintah William, membuka pintu mobil mempersilahkan Angel untuk masuk.


"Huh?" tanya Angel bingung, dia masih belum sadar dari keterkejutannya.


William habis kesabaran, dia lalu mengangkat Angel ala bridal style tanpa memperdulikan makian dan sumpah serapah gadis itu, mendudukkannya di kursi penumpang tepat disebelahnya, tak lupa juga dia memasang sabuk pengaman di badannya. Dia tidak ingin mengambil resiko jika sampai Angel terluka.


William mengitari mobil lalu duduk di kursi kemudi.


"Ku sarankan tutup mulutmu sebelum aku menjelajahi langit-langit hangatmu dengan lidahku." ujar William dengan senyum miringnya, dia terkikik geli melihat ekspresi keheranan Angel mengamati isi mobil mewahnya.


Angel terkesiap, dia segera mengatupkan rahangnya setelah mendengar kalimat mesum William.


"Darimana kau dapat mobil semewah ini?" tanya Angel bingung, menoleh ke arah William yang fokus menyetir.


"Ini milik Jeremi." balas William datar, tidak ingin membuka peluang bagi Angel untuk kembali bertanya.


Angel manggut-manggut mengerti.


"Mau kemana kita?" tanya Angel penasaran.


"Kau harus makan, sebentar lagi akan gelap, aku tidak ingin kau melewatkan makan malam mu." jelas William, menunjukkan kekhawatirannya.


"Aku harus pulang, ibuku pasti mencari ku." ujar Angel, dia tidak ingin semakin menambah hutangnya pada William.


William mengangkat alisnya. "Apa kau punya ibu?" tanya William meremehkan.


"Semua orang punya ibu." balas Angel datar menyembunyikan kesedihannya.


Sandiwara yang menarik sayang.


"Lalu, dimana ibumu, kau sudah hampir seminggu dirawat di sana, kenapa dia tidak menjenguk mu?" tanya William, melirik wajah sendu Angel.


"Dia tidak tahu kalau aku sakit."


"Dia bisa menelpon mu."


"Aku tidak punya ponsel."


"Berarti dia bukan ibumu."


deg!


Angel menatap pria disampingnya lama, Kau benar, dia memang bukan ibuku, tapi aku menyanyanginya.


"Kenapa kau menatapku? aku benar bukan, seorang ibu dan anak memiliki ikatan batin yang kuat, suatu hal yang mustahil jika dia tidak memiliki perasaan khawatir padamu saat kau tidak ada kabar selama hampir seminggu, dia ibumu dan kau puterinya. jelas William panjang lebar, menyakinkan Angel.


Hening.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau selalu tahu isi hatiku? tanya Angel bersuara dari keheningan, menatap lekat pria tampan itu.


"Aku adalah seorang pangeran dari London yang akan membawa Cinderella ke istananya." balas William, tanpa menoleh pada gadis cantik disampingnya.


"Siapa Cinderella itu?" tanya Angel penasaran.


William mengalihkan pandangannya dari jalan, menoleh kesamping sebentar. "Kau, kaulah Cinderalla yang ku maksud Angela Gabriella Rivano, My Ella... My Cinderella."


deg!


Angel merasakan kupu-kupu beterbangan dari perutnya mendengar kalimat manis William, wajahnya tiba-tiba memerah tersipu malu. Dia membuang wajahnya dari William, menatap jalanan dari balik kaca mobil. Wahai, jantung tahu malulah sedikit.


William menatap gemas wajah merona cantik Angel, seandainya dia tidak memikirkan keselamatan Angel, dia tidak akan berpikir dua kali untuk menghujani wajah merona itu dengan berjuta kecupan lembut disana. Tapi dia harus menahan hasratnya, dia tidak ingin merusak suasana hangat ini.


Akhirnya setelah menempuh waktu cukup lama, mereka sampai di sebuah restoran mewah berbintang 5 . William memarkirkan mobilnya, dia lalu turun kemudian berlari mengitari mobil, membuka pintu Angel.


"Liam, ini restoran termahal di kota ini." bisik Angel panik, masalahnya mereka tidak akan sanggup membayar menu makanan di restoran mahal itu.


"Tenang saja, aku sudah mengaturnya." balas William tenang, menghilangkan raut wajah cemas Angel.


Ya Tuhan, si kulkas ini, bahkan restoran jelek ini saja bisa ku miliki detik ini juga.


"Ikut aku, atau.... ku cium kau?!" ancam William, dan berhasil, ancaman itu selalu membuat Angel tak berkutik.


Dengan langkah terpaksa Angel mengikuti William dari belakang.


"Gandeng tanganku, jangan berjalan dibelakang, kau bukan pembantuku." tukas William jengkel, segera menarik tangan Angel dan menggandengnya. Angel diam menahan kekesalan, tidak ingin berdebat, dia menuruti perintah William.


Seisi restoran dibuat terperangah oleh kedatangan mereka, seluruh mata menatap lapar ke arah mereka, terkhusus kaum Hawa yang kurang belaian, matanya tak lepas dari kedua orang itu. Bukan, tepatnya ke arah William. Bagaimana tidak, pakaian formal William membuatnya semakin tampan dan dewasa, dia seperti seorang CEO dengan jas abu-abunya. Angel mendengus tak suka, dia mengeratkan tangannya di gandengan William.


"Silahkan masuk tuan?" sapa seorang pelayan pria dengan hormat ke arah mereka berdua.


Angel mengerutkan keningnya. Apa Liam tamu penting? kenapa pelayanan ini menunduk hormat padanya.


"VIP room." ucap William dingin, tanpa menghiraukan sapaan pelayan di hadapannya.


"Over here, Sir." ujar pelayan itu mempersilahkan mereka mengikuti langkahnya.


Mereka berhenti, melihat pria itu berhenti di depan lift. "Fifty five floor, Sir." ujar pria itu memberitahu.


Angel membelalakkan matanya. VIP? Lantai 55? Astaga, aku baru tahu restoran ini berlantai 55.


William hanya mengangguk, dia menggerakkan dagunya pelan mengusir pria yang sedari tadi berdiri di depannya. Pelayan itu menunduk hormat lalu segera berlalu dari hadapan kedua orang itu.


"Masuk!" perintah William, menarik tangan Angel memasuki lift yang akan membawa mereka ke atas.


"Sebenarnya kita ini mau makan atau mau festival sih, kenapa harus repot begini." tukas Angel jengkel, dia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini.


"Kadang aku lebih suka mulutmu yang pendiam daripada mulut seperti pantat ayam begini." balas William tak kalah jengkel, gadis itu selalu membuatnya kewalahan.


"Apa kau bilang?!" pekik Angel kuat.


"Aku mencintaimu." balas William datar.


"Cih, dasar bodoh." umpat Angel pelan.


Ting!


William dan Angel melangkah keluar dari dalam lift, William membawa Angel memasuki ruangan bertuliskan VIP.


Angel terperanjat saat mendapati ruangan itu disulap sangat indah, ternyata ada ranjang mewah nan besar disisi kiri ruangan ini, sofa panjang dan mahal berada disisi kanan, isi ruangan ini persis seperti kamar pengantin. Mata Angel terpaku pada sebuah balkon di ujung kamar itu, dia segera melangkahkan kakinya di balkon dan menatap seluruh kota Jakarta dari atas. Dia menoleh kesamping, makan malam romantis dengan sebuah lilin menanti disana, Angel ingin menitikkan air mata saat itu juga, dia tidak pernah bermimpi mendapat kejutan seindah ini. Dia beranjak mendekati meja itu, ketika matanya tak sengaja mendapati sebuah note kecil berwarna pink, lalu membukanya pelan.


I know, I am not a perfect man for you..


I also not a good man for you..


I do not force you to love Lou Ella.


I am just asking you, Let me love you, let me love you Ella.


Liam.


Angel tak lagi bisa menahan tangis harunya, dia mendekap erat note kecil itu, mengedarkan matanya menjelajahi ruangan VIP itu, hingga suara melodi gitar mengalun indah di telinganya, Angel berbalik dan mendapati William tengah berjalan sembari mendekap gitar di dadanya, dia melangkah mendekati Angel sambil bernyanyi, jari-jari lentiknya saling beradu di senar kasar itu menghasilkan melodi indah nan lembut menyejukkan hati.


Sebuah lagu cinta dari Bon Jovi_ Thank For Loving Me.


It's hard for me to say the things


I want to say sometimes


There's no one here but you and me


And that broken old street light


Lock the doors


We'll leave the world outside


All I've got to give to you


Are these five words when I


Thank you for loving me


For being my eyes


When I couldn't see


For parting my lips


When I couldn't breathe


Thank you for loving me


Thank you for loving me


I never knew I had a dream


Until that dream was you


When I look into your eyes


The sky's a different blue


Cross my heart


I wear no disguise


If I tried, you'd make believe


That you believed my lies


Thank you for loving me


For being my eyes


When I couldn't see


For parting my lips


When I couldn't breathe


Thank you for loving me.....


William bernyanyi, menatap lekat gadis dihadapannya, dia melihat jelas raut wajah cantiknya menangis haru. William tak lagi sanggup melanjutkan nyanyiannya saat melihat air mata Angel semakin deras, dia melemparkan gitarnya sembarangan lalu membawa Angel tenggelam ke dalam pelukannya.


"Kenapa kau berhenti bernyanyi?" tanya Angel masih terisak.


"Aku tidak sanggup melihat air matamu." bisik William lirih, dia tidak bermaksud membuat Angel menangis, dia hanya mengutarakan isi hatinya tadi.


"Kau merusak suasana romantisnya." lirih Angel.


"Kau lebih penting dari situ." ujar William mencium puncak kepala Angel.


Angel semakin menenggelamkan wajahnya di pelukan William. "Liam?"


"Hmm?"


"Would you be my boyfriend?".


Huh?