
Thom berdiri di depan sebuah ruangan bertuliskan VIP seperti orang bodoh. Dia menarik nafas panjang, mengumpulkan kekuatan, sebelum bertemu dengan kedua malaikatnya.
Cklek..
Thom memberanikan diri membawa kedua kakinya memasuki ruangan mengerikan itu. Keheningan mulai menyapanya saat berada di dalam ruangan itu. Thom mengedarkan pandangannya hingga berakhir pada sebuah ranjang besar. Matanya tertuju pada seorang gadis cantik yang tertidur damai di sana. Thom berjalan mendekati ranjang putrinya, menatap lekat wajah cantik Angel. Sebuah senyum kecil terbit di wajahnya. "Kau benar-benar cantik sayang. Bertahanlah, kami membutuhkanmu." bisik Thom. Dia menjelajahi wajah tidur Anastasya dengan jarinya.
Thom menahan air matanya yang mendesak keluar. Dia merasa tidak berguna, tidak ada yang bisa dilakukannya selain berpura-pura. Thom menatap wajah cantik Angel sekali lagi. Hatinya menjerit pilu mengingat betapa menderitanya gadis kecil itu.
Thom mengetatkan rahangnya kuat, bunyi gemeletuk gigi pria itu mulai terdengar mengerikan. Dia menggigit kuat bibirnya menahan gejolak emosi yang mulai berkobar-kobar. aku tidak ingin kembali menjadi seorang predator.
Thom mengalihkan pikirannya dengan mengirup udara disekitarnya rakus mengisi rongga paru - parunya, berharap rasa sesak itu menghilang.
Thom mendaratkan kecupan lembut di kening Angel. Dia membawa wajahnya berhenti disalah satu sudut wajah Angel. "Sleep tight baby." bisik Thom lembut.
Thom mengangkat wajahnya kembali, sebelah tangannya bergerak mengelus lembut surau hitam Angel. Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dirindukan Thom menghentikan kegiatannya.
"Sayang, sudah berapa lama kau disini?" tanya Anastasya dengan suara serak. Dia bangun dari posisi terlentangnya lalu mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali.
Thom terkekeh melihat betapa imutnya isteri cantiknya itu. Dia melangkahkan kakinya menjauh dari ranjang Angel. "Aku belum lama berada disini. Aku melihatmu tertidur, jadi aku tidak ingin membangunkan mu." ujar Thom. Dia mendaratkan bokongnya tepat di samping isterinya.
"Astaga! Maafkan aku, bisa-bisanya aku tertidur dan tidak tahu bahwa kau masuk." kata Anas dengan panik .
Thom tersenyum kecil. "tidak apa-apa, aku tahu kau lelah."
Thom menggeser posisi duduknya semakin merapatkan diri pada Anastasya. Dia membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya dan menumpukan wajahnya di puncak kepala wanitanya. Thom memejamkan mata sejenak, menikmati aroma lavender yang menguar dari rambut halus Anastasya. Benar-benar menenangkan.
Larut dalam ketenangan itu, tiba-tiba Anastasya bersuara. "Kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Anas di dekapan Thom. Deru nafas Anstasya terasa menggelitik. Thom membuka manik birunya kembali.
Thom terkekeh kecil. "Apa kau tahu? kau selalu berhasil membaca buku tertutup ini." kata Thom masih dengan menempelkan wajahnya di puncak kepala isterinya sembari menghujani kecupan-kecupan kecil disana.
Anastasya semakin merapatkan dirinya didada bidang kokoh itu. "Kau tidak pandai berbohong, mata indah mu menyiratkan kepedihan meskipun bibir seksimu tersenyum." kata Anastasya. Dia mendongakkan wajahnya menatap lekat wajah tegas pria yang dihadapannya. "Ada apa dengan wajah tampan mu ini? Tanya Anastasya mengusap sudut bibir pria itu.
Thom memejamkan mata menikmati sentuhan Anastasya yang selalu membawa ketenangan bagi dirinya. "Tidak apa-apa." jawabnya sembari membawa telapak tangan mungil itu di bibirnya. Thom mengecup lembut dan lama telapak tangan Anastasya.
"Kau ingin bercerita?" tawar anas lembut. Dia dengan sengaja menggerakkan ujung jari telunjuknya menyusuri wajah tampan itu.
Thom menangkup jari mungil Anastasya dan menyembunyikannya di kepalan tangannya. "Apa kau mencoba menggodaku nyonya Western? Bisik Thom sensual yang dibalas dengan wajah merona Anastasia.
Anastasya melepaskan jarinya dari kepalan tangan Thom. "Diamlah, kau membuatku malu" ujar Anastasya menyembunyikan rona merahnya di kedua telapak tangan miliknya.
Thom semakin menggoda Anastasya, dia mengecup singkat kedua telapak mungil yang menutupi wajah isterinya. Dia kembali menenggelamkan wajah cantik istrinya dalam dekapannya. Keberadaan Anastasia disini benar- benar menenangkan dirinya. "Thank you Anas?" bisiknya Thom.
"For?"
"For Being here with me." ucap Thom.
Dia merasakan Anas tersenyum kecil dalam dekapannya lewat pergerakannya. Perempuan itu semakin masuk ke dalam dekapan suaminya, sesekali dia menggesek-gesekkan ujung hidungnya didada bidang itu.
Thom menepuk-nepuk punggung wanita itu. "Anas?" panggil Thom pelan.
"Hm?"
"I need to say something."
"Is something serious?" tanya Anastasia. Dia mendongakkan wajahnya yang hanya sebatas dagu Thom.
Thom menatap Anastasya sebentar, dia mengambil kedua tangan Anastasya lalu menggenggam erat. Dia menghujani ciuman bertubi-tubi di kedua punggung tangan Anastasya. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
Anastasia tertawa pelan. "Aku sudah tahu tuan Western. Katakan apa yang ingin kau katakan, aku tahu bukan ini yang ingin kau katakan" kata Anas tegas.
Thom menghela nafas panjang menundukkan kepalanya sesaat sebelum akhirnya dia memberanikan diri menatap manik hitam itu lagi.
"Aku harap kau baik-baik saja mendengar berita kali ini. Kau tahu kan aku akan mati kalau kalian berdua meninggalkanku." jelas Thom. Anastasya semakin mengerutkan keningnya dalam.
"Kau ini, apa kau akan membiarkanku mati penasaran. Katakan dengan cepat, jangan membuatku menunggu lama lagi." ujar Anas memerintah. Wajah Anastasya berubah masam semakin menambah kecantikannya. Dia sangat cantik jika sedang kesal.
Thom tertawa, dia menjepit ujung hidung mancung wanita cantik itu pelan dengan kedua jarinya. "Baiklah beri aku energi, aku butuh energi yang banyak untuk menyampaikan berita kali ini." kata Thom menggoda. Wajah Anastasya berubah merah padam, kedua matanya membulat.
"Kau ini, dasar mesum!" kata Anastasya jengkel. Tanpa menunggu lama, dia mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan bibir tipisnya diatas bibir seksi Thom. Dia tidak ingin mati penasaran sebelum mengetahui apa yang dikatakan Thom.
Awalnya hanya mengecup sebentar, sayangnya Thom tidak sebaik itu. Thom menahan tengkuk Anastasya lalu menariknya agar lebih dekat padanya. Thom mencium habis bibir mungil yang selalu jadi candunya. Anastasya terkejut mendapat serangan mendadak, bibirnya masih diam tanpa membalas ******* pria itu. Merasa tak ada balasan, Thom menggigit bibir bawah istrinya dengan lembut. dan gotcha! Thom tersenyum licik saat bibir tipis itu terbuka. Dia langsung menyerang bibir mungil Anastasya, ******* bibir bawahnya lembut bibir. Thom menyeludupkan lidahnya mengeksplor seluruh isi mulut wanita cantik itu. Dia semakin memperdalam ciumannya saat pemilik bibir mungil itu mulai membalas lumatannya.
Ahhh!
Anas mengerang akibat ciuman suaminya yang memabukkan. Thom melepaskan ciumannya saat dirasa pasokan udara mulai menipis. Dia mengusap saliva yang menempel dibibir mungil Anastasya. Thom mengelus wajah merah Anastasya lembut. Dia terkekeh kecil melihat Anastasya menunduk malu. Anas menyembunyikan kembali wajahnya di pelukan laki-laki itu. Sial! perempuan ini benar-benar membuatku gila.
"Aku tidak keberatan menidurimu saat ini juga, jika kau masih memasang wajah menggemaskan itu sayang." bisik Thom mencoba meredam gairahnya yang sudah di ubun-ubun.
Anas mengangkat wajahnya dari pelukan suaminya. Dia mendengus kesal saat Thom menatapnya lapar.
"Bisa kita mulai tuan Western?" tanya Anas. Dia mengubah raut wajahnya datar, jika tidak dia akan dihabisi tanpa ampun.
Air muka Thom berubah sendu, dia terdiam menatap lekat wajah cantik Anastasya. Dia benar-benar tidak sanggup melihat rona kebahagiaan itu menghilang dari wajah Anastasya. Lamunan Thom buyar saat Anas meneriakkan kembali namanya.
"Tom! ada apa?" tanya Anas saat melihat raut wajah Thom berubah sendu.
For God Sake! aku benar-benar tidak sanggup**!
Thom mengangkat wajahnya menatap langit-langit ruangan itu. Dia menahan air matanya agar tidak keluar. Dia kembali menunduk, menatap wajah Anastasya yang penuh tanya. Dia menutup mata mengumpulkan keberaniannya.
"Sayang......
Angel s\-sakit." Kata Thom dengan suara bergetar. Dia menunggu tamparan, makian, bahkan pukulan dari Anastasya.
Tidak ada jawaban, tidak ada teriakan bahkan makian. Thom memberanikan diri membuka matanya, hal yang pertama dilihatnya adalah wajah pucat Anastasya. Pandangan wanita itu kosong. Tidak ada lagi binar bahagia disana, tidak ada lagi rona merah di wajah cantiknya, tidak ada lagi senyum indah di bibir mungilnya. Semuanya pergi tanpa aba-aba.
Thom membawa perempuan yang sangat dicintainya itu kedalam pelukannya. Dia meluknya erat seakan tiada hari esok. "Anas tenang, semua akan baik baik saja." bisik Thom lembut. Dia menenggelamkan sela-sela jemarinya di rambut panjang Anastasya, mengusapnya sangat lembut.
Tubuh Anastasya yang tadinya menegang dipelukan Thom, mulai bergetar. Anastasya terisak, hingga semakin lama isakkan itu berubah menjadi tangisan pilu yang menyayat hati. Rasanya sakit sekali, benar-benar menyakitkan. Thom semakin mengeratkan pelukannya, dia mengusap lembut punggung bergetar Anastasya.
Kau benar-benar pecundang Thom.
Dan tanpa mereka sadari seorang gadis mendengar tangisan pilu itu dengan menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
"Mom, dad. Help me! bisiknya lirih yang hanya bisa didengar olehnya.