You Are The Best Part Of My Life

You Are The Best Part Of My Life
Bring Me To Your Life


"When you are important to another person, that person will always find away to make time for you. No excuses, no lies and no broken promises."


_ Broken heart quotes


Pemandangan yang pertama disuguhkan kepada Angel sesaat dia bangun adalah sebuah ruangan mewah nuansa putih. Dia mengernyit bingung, manik hitamnya berkeliling menjelajahi seluruh isi ruangan itu. Rumah sakit, aku berada dirumah sakit ternyata. bisik batin Angel lirih.


Angel mencoba menggerakkan tangannya yang terasa pegal, dia merasa tangannya seperti di timpa sesuatu yang sangat berat. Angel memiringkan kepalanya kesamping, dan sesaat itu juga jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia melihat William tertidur pulas disampingnya, melingkarkan tangan di pinggangnya, menumpukan kepalanya di bahu perempuan itu, dia tidur seperti bayi yang menggemaskan. Hampir saja dia menitikkan air mata melihat pemandangan di depan matanya. Dia terharu saat William sangat memperdulikannya, sejak kepergiaan ayahnya tak seorang pun yang peduli padanya. Dia benar-benar seorang diri di dunia ini.


Angel mengubah posisinya menjadi miring, matanya menatap lekat wajah tampan dihadapannya. Angel memberanikan diri menyentuh pahatan sempurna itu, mengusap lembut seluruh wajah tampannya, tangannya berhenti di bibir seksi William, dia tersenyum tipis mengingat betapa kejam dan manisnya bibir itu di waktu bersamaan. Hatinya menghangat melihat pemandangan di hadapannya, sudah lama rasanya dia tidak pernah setenang ini.


"Ella, aku akan membunuh diriku sendiri jika kau tidak membuka matamu."


"Jangan pergi, tetaplah disini. Aku membutuhkanmu."


"Ella! wake up please!


"Ella!!"


"Ella."


"Ella, Kumohon buka matamu."


Masih terasa jelas diingatan Angel, betapa paniknya William saat menemukan dirinya tergeletak bersimbah darah di lantai kamar mandi. Dengan sisa kesadaran yang dimilikinya saat itu, Angel melihat William mendekapnya erat, dia benar-benar ketakutan saat itu. Apa aku sepenting itu bagimu?


Senyum yang udah lama sirna dari wajah Angel, saat ini terbit tanpa izin menghiasi wajah suramnya.


"Aku memang tampan, dan aku milikmu." William berujar tiba-tiba dengan suara seraknya, manik birunya bertubrukan langsung dengan manik hitam Angel. Dia sudah terjaga sejak Angel membuka kelopak indahnya, hanya saja dia ingin merasakan sentuhan langka dari tangan mungilnya.


"Apa aku membangunkanmu?" tanya Angel, mengangkat tangannya dari wajah William.


William segera menangkap tangan Angel dan membiarkan tangan mungil itu kembali bertengger di wajahnya. "Aku akan sangat rugi jika melewatkan pemandangan dihadapanku." ujar William lembut.


Angel mengerutkan keningnya bingung. "Pemandangan apa?"


"Aku mendapati senyum diwajah cantikmu." goda William, membuat warna merah mulai hadir di wajah putihnya.


"Aku masih mengantuk." Angel berujar pelan, mengalihkan topik pembicaraan mereka. Dia benar-benar malu saat wajah datar Angel kembali tersenyum hanya karena seorang William.


William terkekeh pelan. Tidurlah Ella, aku akan menjagamu." ujar William menarik kepala Angel menenggelamkan di dadanya, dia semakin mendekap erat pinggul ramping itu. William mengelus lembut punggung Angel, lalu mengecup puncak kepalanya.


"Liam?" gumam Angel di sela-sela kantuknya, usapan lembut William membuat kelopak matanya terasa berat.


"Huh?" William bertanya tanpa menghentikan usapannya, dia sudah menempelkan wajahnya di puncak kepala perempuan itu.


Hening.


"Bawa aku ke dunia mu."


deg!


Seketika usapan lembut itu hilang, tangan William berhenti di udara, matanya memanas mendengar nada putus asa itu.


Aku sudah kalah akan cintaku, aku tidak punya alasan untuk meninggalkanmu.


"Aku akan bersamamu disana." balas William setelah berhasil mengumpulkan suaranya.


"Aku akan belajar mencintaimu, Liam."


"Aku menunggu cintamu, Ella" bisik William sangat lembut.


Aku harap keputusanku tidak salah, aku tidak ingin terjebak dengan dunia kelamku selamanya, mungkin kau adalah bahagiaku, Liam.


"Dan aku menunggu kapan kau siap menceritakan tentang dirimu, aku tahu kau punya banyak rahasia." gumam Angel lagi, perasaannya mengatakan banyak hal yang disembunyikan William.


William terkesiap, untung saja Angel berada di pelukannya. Dia tidak ingin Angel melihat wajah menegangnya saat ini.


"Kembalilah tidur." sambung William lembut, menghindar dari pernyataan Angel. Tak butuh waktu lama, kelopak mata Angel mulai tertutup, dia akan berada di dunia mimpi sebentar lagi.


Ku harap waktu itu segera tiba, Ella. batin William.


Setelah melanjutkan tidur panjangnya, Angel akhirnya bangun. Dia mengernyitkan kening saat menyadari bahwa dia seorang diri di ruangan itu. Angel duduk, dia menyentuh perban yang menempel diatas lukanya. Sepertinya semakin parah.


Dia mengedarkan pandangan mencari seseorang yang sedari tadi bersamanya, pencariannya berhenti saat mendengar suara pintu terbuka.


"Kau sudah bangun? Maaf, aku tadi keluar beli makanan untukmu." ujar William, menjelaskan kepergiannya. Dia langsung mendekati Angel dan duduk di sampingnya.


"Tidak apa-apa." balas Angel singkat, menatap wajah disampingnya.


"Kau harus makan badan kurus menyakiti mataku." William berucap, mengejek badan Angel yang seperti tengkorak hidup. Dia segera mengeluarkan makanan yang dibawanya.


Angel mendengus. "Kau tidak tahu tubuh kurus ku juga menyimpan lemak di beberapa tempat." balas Angel, mengambil paksa makanan dari tangan William lalu memasukkan makanan itu kedalam mulutnya. Sayangnya, dia tidak menyadari bahwa pernyataan Angel ditanggap ambigu oleh William.


William mendekatkan wajahnya, dan......


CUP!


Kecupan ringan mendarat di wajah tembam Angel, kedua bola matanya melebar. Lagi? tanpa permisi? Si bodoh ini!


"Aku tahu bagian tubuh yang berlemak kau maksud." ujar Wiliam menyeringai, matanya menjelajahi bagian tubuh berlemak Angel, mulai dari pipi tembem nya, bibir seksi yang sedikit tebal di bawah, hingga tatapannya berakhir di dada Angel yang masih terbungkus pakaian rumah sakit. Dia sangat yakin Angel memiliki harta karun indah dibalik bajunya.


Angel segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Dasar mesum, kau memang bule mesum." pekik Angel, mendapati tatapan William di dadanya. Tanpa sadar dia melayangkan tangannya mendarat di tengkorak pria itu.


William meringis sakit merasakan pukulan dikepalanya. "My Ella, 3 jam yang lalu kau masih seperti kucing jinak, sekarang kau berubah jadi singa betina."


"Ck, masih ku lihat saja kau sudah seperti singa lapar" balas William jengkel. Bagaimana jika ku sentuh? aku bisa mati detik itu juga.


"Dasar gila." umpat Angel pelan, melanjutkan makannya kembali.


William tersenyum mengamati wajah cantik Angel, akhirnya wajah cantik itu bisa juga marah, kesal, malu dan yang terpenting tidak lagi datar seperti tanpa harapan. William menopang dagu menggunakan sebelah tangannya, dia menatap leluasa wajah cantik Angel dari dekat. Aku tidak tahu bahwa waktu tidak cukup kuat menahanku untuk tidak jatuh cinta denganmu, Ella.


Hanyut dalam lamunannya, William tiba-tiba terkesiap mendengar pekikan nyaring seseorang.


"Astaga Liam! Aku harus bekerja, Pak Bento akan memecatku jika aku tidak bekerja." pekik Angel tiba-tiba, wajahnya sangat panik. Dia tidak bisa berpikir tenang saat ini, saat ini pikirannya dipenuhi oleh wajah mengerikan pak Bento jika saat marah. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.


William mengetatkan rahangnya, dia mengepalkan tangannya kuat. Aku hampir lupa bernafas saat menemukanmu pingsan, dan sekarang dengan mudahnya kau ingin bekerja, langkahi dulu mayatku sayang.


"Aku sudah mengurusnya, kau tidak perlu bekerja." ujar William datar, menyembunyikan raut wajah marah.


"Apa maksudmu?! Kalau aku tidak bekerja, aku tidak bisa makan." seru Angel tidak terima.


"Kau sudah pingsan dari semalam jika kau lupa." ujar William, memberitahu Angel kebenaran.


"APA?!" seru Angel, menatap tidak percaya pria dihadapannya.


Wiliam hanya mengangguk membenarkan.


Bahu Angel lemas seketika, memikirkan bagaimana nasibnya nanti. Mati aku, bagaimana caraku membayar kontrakan rumah jika si plontos itu memecatku. Apa aku memang pingsan selama itu?


"Kau tidak akan dipecat, jika itu yang kau pikirkan." ujar William, menebak raut wajah Angel.


Angel menatap heran. "Benarkah? Bagaimana kau melakukannya?" tanya Angel penasaran. Lagi-lagi William selalu menolongnya.


"Kau tidak perlu tau, percaya padaku. Kau boleh membunuhku jika aku berbohong" balas William, meyakinkan jawabannya.


Angel menghela nafas lega, hatinya mempercayai perkataan William. "Baiklah, Aku percaya padamu."


William terseyum menang. "Sekarang istirahatlah, kau butuh istirahat lebih banyak." ujar William lembut, membaringkan tubuh Angel di ranjang empuk itu.


Angel tak membalas, dia hanya mengikuti perintah William. Tak berapa lama, Angel merasakan pergerakan disamping ranjangnya, William membaringkan diri disampingnya. Angel merasa sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Satunya lagi mengusap punggungnya lembut.


"Liam dimana kacamataku." ucap Angel, teringat akan sesuatu yang penting dalam dirinya.


"Aku sudah membuangnya." balas William datar.


"Apa?! Aku tidak bisa melihat jika tidak pakai kacamata."


"Diamlah, aku akan membeli mata palsu yang lebih bagus daripada si jelek itu."


"Kau menyebalkan." ucap Angel ketus.


"Aku mencintaimu." balas William, menghentikan perdebatan diantara mereka.


Mereka berdua terdiam, William hanya mengelus sayang kepala Angel.


"Ella, apa kau masih ingat perkataanku beberapa hari lalu?" tanya William, menghilangkan kesunyian diantara mereka.


"Terlalu banyak, yang mana satu." balas Angel ketus, dia mana ingat semua perkataan William.


"Aku akan membunuh siapa saja yang menyakitimu....


deg!


Angel menekan ludah kasar, punggungnya menegang mendengar kalimat mengerikan itu.


dan itu bukan hanya sekedar ancaman." sambung William tajam, jiwa singa miliknya mulai bangun. Tidak ada yang boleh menyentuh miliknya meski seujung kuku sekalipun.


Angel berpikir mencari alasan. "A-aku terjatuh Liam." jawab Angel tergagap, dia tidak ingin Monic dalam bahaya.


"Aku tidak meminta penjelasan darimu." balas William singkat.


"Tapi aku.......


"Tidurlah, jangan pikirkan apapun." perintah William, memotong perkataan Angel.


Angel memilih mengalah, dia tidak akan pernah menang dari William. William selalu berhasil membuatnya tak berkutik sedikitpun. Meskipun begitu, Angel merasa nyaman di dekatnya, dia semakin menenggelamkan wajahnya di pelukan William. Sepertinya keputusanku tidak salah, aku benar-benar merasakan kehangatan ayah dari dekapanmu.


William menghentikan usapannya di punggung Angel, saat menyadari bahwa gadis itu sudah asyik di dunia mimpi. Dia mencium lembut dan penuh perasaan kening Angel, tak lupa juga perban yang menutup luka di dahi gadisnya. Dia mendaratkan kecupan sayang di atas perban putih itu. "Sleep tight, My Ella." bisik William, lalu mencium kedua pipi tembemnya. William bangkit sangat pelan, dia tidak ingin tidur Angel terganggu. Dia berjalan menjauh, merogoh ponsel dari sakunya.


"Bagaimana?" tanya William tanpa basa basi, saat mendengar suara dari balik panggilannya.


"Menunggu perintah selanjutnya, tuan muda?"


William tersenyum penuh arti, seringai mengerikan terlukis di wajah William. "Jangan membunuhnya, mati terlalu mudah untuknya. Siksa dia, seperti dia menyiksa gadisku, biarkan dia merasakan penderitaan Ella." perintah William, pelan dan tajam.


"Baik tuan muda."


William menutup panggilan segera, dia melirik ke arah ranjang memastikan bahwa Angel tidak mendengar apapun.


Maafkan aku sayang, tapi aku tidak terbiasa melihat milikku terluka.


"Monica Rivano, selamat datang di dunia William." desis William, matanya mengkilat marah membayangkan penderitaan angel.


17 tahun kau menyiksanya, aku akan membuatmu membayar semua itu. Kau akan menderita, sangat menderita, hingga kematian akan menjemputmu.