You Are The Best Part Of My Life

You Are The Best Part Of My Life
Kembali ke Indonesia


"Remember that wherever your heart is, there you willl find treasure".


Ada yang bilang negeri ini adalah kepingan surga. Semua keindahan yang tiada duanya ada di negeri ini. Awan putih nan bersih menghiasai langit diangkasa. Tak hanya itu, gunung-gunung berdiri kokoh bak pelindung, air beriak-riak kesana kemari, ombak saling mengejar tertawa riang hiasi bibir pantai. itulah surga ini, surga Indonesia. aku merentangkan tanganku, membiarkan semilir angin menyapu tubuh mungilku dan rambut panjangku. Ku pejamkan kedua mataku melepas lelah terbalut masa lalu. Di tempat inilah ratapku dimulai, ku buka mataku perlahan membiarkan kedua manik hitam itu menyusuri satu per satu keindahan itu.


"*hey, mata empat! aku mencintaimu! apa kau dengar? ku bilang aku mencintaimu mata empat!"


"happy birthday mata empat, aku mencintaimu."


"apa yang lakukan, lukanya dalam Ella kau harus kedokter*!"


Tes!


Air bening turun tanpa izin, kenangan itu, lagi-lagi kenangan itu. Lama aku tak berpijak lagi disini, tapi kenangan itu seakan tak berhenti berputar bagaikan kaset di kepalaku. lagi-lagi kau, kenapa kau tak pernah pergi.


"Angel!" panggil seorang gadis mendekat. Dia berdiri tepat disamping angel, menatap wajah sendu itu dari samping. mereka terdiam sebentar, hanya deru ombak yang mengisi keheningan itu.


"Avery....... bagaimana kalau aku bertemu dengannya?" Tanya angel lirih mengisi keheningan diantara mereka.


Elisabeth membuang nafas kasar. dia mendudukkan bokongnya di atas pasir dingin nan kasar. Dia menepuk-nepuk pasir di sebelahnya yang kosong mengisyaratkan angel untuk mengikutinya.


Angel duduk tepat di sebelah Elisabeth. "kau tahu angel..... sebelum aku bertemu denganmu aku selalu merasa bahwa akulah yang paling menderita di dunia ini. Ayahku bunuh diri saat mengetahui ibuku berselingkuh, kakak ku juga bunuh diri karena depresi. Sementara aku, aku hidup luntang Lantung seorang diri, saat itu tak seorang pun menawarkan tangannya untukku termasuk keluargaku. jelas Elisabeth tersenyum pedih.


Angel bungkam tapi matanya mengisyaratkan lalu apa yang terjadi setelah itu.


"kau tahu, saat usiaku remaja aku bertemu ibumu yang juga saat itu kehilanganmu. Beliau wanita terhebat yang pernah aku kenal, dia menolongku, menarikku dari kubangan kotor hingga aku seperti manusia saat ini".


"*Nak, apa yang terjadi? dimana ibumu? tanya wanita cantik itu.


"a-aku t-tidak p-punya keluarga" jawab gadis kecil itu.


"lalu kenapa kau berada di tempat kotor ini?".


"a-ku l-lapar Nyonya, a-aku i-ngin mencari m-makan".


"astaga, itu tidak sehat! kau ikut aunty sekarang."


"a-ku tidak punya uang"


"aku tidak butuh uangmu, sekarang ikut aunty yah sayang*".


Elisabeth kembali tersenyum pedih mengingat kenangan itu. "dan saat itulah angel, aku benar-benar merasakan arti dari seorang ibu. ibumu menyekolahkan ku, memberiku makan dan yang paling penting dia memberiku kasih sayang seorang ibu, dia benar-benar malaikat. Itulah kenapa aku menamparmu dulu saat kau mengatakan bahwa dirimu gila. aku tidak sanggup melihat Nyonya kembali terluka seperti dulu lagi". jelas Elisabeth menelungkupkan wajahnya diatas kedua lututnya. bahunya bergetar karena menangis. sebuah dekapan hangat melingkupi tubuhnya.


"Menangislah Avery, biar alam mendengar jeritanmu. alam takkan berbisik pada yang lain, jadi menangislah". tawar angel sambil mengelus bahu bergetar Elisabeth. Matanya sudah berkaca-kaca sedari tadi. Tapi untuk saat ini biarkan dia jadi bahu untuk Elisabeth.


Setelah tangisnya perlahan mereda Elisabet kembali melanjutkan perkataannya. "dan kau tahu angel, saat kau ditemukan 6 tahun lalu aku tidak pernah melihat Nyonya sebahagia itu. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi kami sekaligus juga menyakitkan. Kau dan Nyonya harus kembali berpisah, kau harus mengobati kejiwaan mu terlebih dahulu. Aku melihat bagaimana Tuan Western harus berjuang kembali mendirikan perusahaannya saat Gabriel's Corp hancur karena banyaknya musuhnya yang merusak citranya dengan mengatakan bahwa putrinya yang telah lama hilang gila. Tidak ada yang lebih menyakitkan saat Nyonya meraung-raung kesakitan menyalahkan dirinya sendiri".


"Aku bukan ibu yang baik Gabriel, aku *******! aku brengsek! aku tidak berguna! teriak wanita itu histeris memukul-mukul dadanya.


"Hentikan Anas!" seru Thom mendekap erat wanita itu.


"Putri ku gila Gabriel! dia gila! dan a-aku yang membuatnya gila! a-aku tidak berguna! aku tidak berguna, Gabriel! bunuh aku, cepat bunuh aku! AKU BILANG BUNUH AKU, APA KAU TIDAK DENGAR! BIARKAN AKU MATI!" bentak Anastasya.


PLAK...


Anastasya menolehkan pipinya kesamping akibat tamparan itu.


"Sadar Anas! kau membuat Elisabeth ketakutan. lihat disana dia ketakutan melihatmu, dia putrimu bukan?!" seru Thom dengan suara bergetar. dia tidak sadar telah melukai wanita yang dicintainya. dia benar-benar ketakutan saat anastasya ingin mati.


Anastasya membawa kedua matanya, dia melihat seorang gadis seusia Angel berdiri ketakutan di balik punggung Thom.


"Sayang.... m-maafkan mommy". lirih Anastasya. "ayo, sini peluk mommy" tawar Anastasya merentangkan kedua tangannya. Dia menghapus air mata dari wajahnya menggantikan dengan senyum indahnya.


Elisabeth berjalan takut, ia melangkah mendekat dengan bahu bergetar. "M-mom?" panggilnya lirih dengan bibir bergetar.


"Ini mommy sayang, jangan takut. ayo sini peluk mommy" kata Anastasya selembut yang dia bisa. dia menahan isakannya dengan menggigit bibirnya kuat.


Anastasya semakin memeluk erat tubuh Elisabeth menghujani ciuman lembut di puncak kepalanya. "Mom tidak akan mati sayang, selama kalian hidup mom juga hidup"


Pecah sudah, air mata yang sedari tadi di pelupuk mata angel sudah tak sanggup lagi menampung genangan kesedihan itu. Mereka menangis berpelukan, tidak peduli jika banyak orang menatap mereka aneh. Kenyataan itu memang benar - benar meyakitkan. aku tidak pernah tahu bahwa selama ini bukan hanya aku yang menderita.


"Sudah elisabeth, kau tak perlu mengingat kesedihan itu." ujar angel lembut, setelah berhasil meredakan tangisnya.


Elisabeth mendongak lalu menggenggam jemari angel kuat. Matanya masih berkaca-kaca. "Berjanjilah padaku angel, apapun yang terjadi nanti percayalah kau tidak sendirian. Kau punya kami semua, kau harus kuat dan hadapi kenyataan. apa kau mengerti? jelas elisabeth .


"Aku berjanji." kata angel mantap membalas genggaman Elisabeth.


"Saat kau mulai tak sanggup ingatlah bahwa kami semua mencintaimu" kata Elisabeth menekankan setiap kata yang terucap dari bibirnya.


"Aku berjanji Avery" kata angel mengukir senyum indahnya.


Senyum di wajah Elisabet terbit seketika.


"baiklah.... sekarang ayo kita tinggalkan tempat yang menjadi saksi kesedihan kita ini. Aku tidak ingin deras air mata kita mengalahkan deras ombak di pantai ini.


Angel terkekeh. "hapus dulu lendir di hidungmu Avery, kau menjijikkan".


"Kau ini, hidungmu juga tidak kalah berlendir dari hidungku" ujar Elisabeth.


"*******"


"berhenti mengumpat, ayo pergi" tukas Elisabeth menarik tangan Angel dan membantunya berdiri. "aku akan membuatmu menjadi tuan Puteri di acara nanti malam"


"Big no!" seru Angel. " aku tidak mau! aku tidak ingin wajahku kau hiasi dengan bahan kimia menyebalkan itu Avery".


"Diamlah, mulutmu sangat bau!" tukas Elisabeth menutup hidungnya.


Angel membuka mulutnya lebar-lebar. "Apa kau bilang sialan!" pekiknya sarkas.


"Aku bilang mulut mu bau busuk!" kata Elisabeth. dia berlari menjauh saat dilihatnya angel melepas sepatunya dan melemparkan kearahnya.


Suara gelak tawa Elisabet terdengar melihat sepatu Angel terbang meleset.


"Awas kau Avery, akan ku bunuh kau!" desis Angel mengejar langkah Elisabeth. Mereka tertawa bersama, berlari di bibir ombak yang saling berkejar-kejaran kearah mereka. Alam semakin bersinar terang melihat kedua gadis itu tertawa bahagia.


Saat luka tak bisa kau lukisan dengan kata, saat semua orang menutup mata dan telinga untukmu, saat kau tak punya bahu tuk bersandar, maka menangislah, biarkan alam mendengar tanpa berucap.


Sementara disisi lain, seorang pria sedang duduk termenung. Sesekali dia meneguk minuman beralkohol, menyesapi rasa pahit yang membakar tenggorokannya. Rambutnya acak-acakan, mata memerah dan tampak menyeramkan. Dia benar-benar hancur saat kekasihnya meninggalkannya. Dia mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan gelap itu dan membiarkan matanya menjelajahi setiap sudut ruangan yang ada. Seluruh dinding itu dihiasi photo gadis yang paling dicintainya. Bibirnya mengukir senyum menyedihkan saat matanya berhenti disebuah figura besar berisi gambar seseorang. Disana sebuah photo gadis cantik sedang tersenyum bahagia, begitu cantik bahkan Dewi akan merasa malu melihat kecantikannya. Pria itu tertawa menyedihkan, dia menghapus air mata dari kedua sudut matanya.


Dia berjalan sempoyongan dan berhenti tepat di hadapan figura besar itu. "kau tahu sayang... aku sudah gila. aku benar-benar gila". gumamnya pada diri sendiri. "dimana kau sekarang? Apa kau tidak merindukanku?, Apa kau tidak ingin memelukku? sambungnya lagi dengan isakan pelan.


"*Ck, kau tahu? kau ini pria tampan tapi bodoh"


"Lihat Liam! aku punya sesuatu untukmu"


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu William!


"Jangan terluka, biar aku saja karena aku sudah terbiasa dengan luka*.


William menutup matanya mengingat memori indah itu, sudah bertahun-tahun berlalu kenangan itu tak kunjung juga berlalu. Dia bersimpuh dihadapan figura itu menangis sekeras-kerasnya disana. Menangisi kebodohonnya, juga takdir yang tak kunjung berpihak padanya.


*Aku merindukanmu.


Benar-benar merindukanmu


Ella


Angelina Gabriella*.