
"Relations is not about kiss, hugs and romance only. It's all about trust and never giving up on each other."
Keheningan melanda pasangan yang berada dalam mobil mewah itu, sejak pernyataan Angel beberapa saat lalu, yang tentunya membuat William terkejut hampir mati, tidak satu orang pun yang berani bersuara. Mereka membisu, suasana canggung itu masih melanda benak mereka masing-masing. Angel menatap jalan, sengaja menyembunyikan wajah malunya, dia tidak sadar saat mengucapkan kalimat itu. William terlihat mencuri pandang pada gadis disebelahnya, sesekali bibir seksinya menyungging senyum kecil melihat tingkah konyol gadis yang disampingnya. Lama hanyut dalam lamunannya, Angel tidak sadar bahwa mobil itu sudah berhenti di depan rumah sederhana.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikiran William, dia memajukan wajahnya, menatap dalam wajah cantik Angel yang masih bersekutu dengan lamunannya.
"Kita sudah sampai...... sayang." William berujar sangat dekat di samping pipi Angel.
Angel tersentak kaget, dan.......
CUP!
Tepat saat wajahnya menoleh ke samping, sesuatu yang lembut menempel di pipi tembemnya.
"Apa yang kau lakukan?!" pekik Angel, saat menyadari bahwa William mencium pipinya. Dia mendorong tubuh kekar yang menghimpitnya menggunakan tangan kecilnya.
William sama sekali tidak bergeming, dia malah semakin gencar menggoda gadis itu. "Apa..... sekarang jantungmu mulai berdebar-debar." goda William menaik turunkan kedua alisnya.
Akhirnya, wajah cantik itu tak lagi kuasa menyembunyikan rona merah malu yang menjalar di seluruh wajahnya. Dia menangkup kedua pipinya dengan tangan mungilnya.
William tertawa.
Dia langsung membawa kepala gadis itu dalam dekapan hangatnya. "Kau menggemaskan sekali." bisik William lembut, menghujani kecupan-kecupan hangat di puncak kepalanya.
Angel tersenyum di dalam dekapan William, tubuhnya mulai terbiasa dengan kehangatan itu. Mereka berpelukan cukup lama.
"Masuklah, kau harus istirahat banyak." ujar William setelah melepas dekapannya.
Angel mengangguk pelan, rona bahagia tak kunjung hilang dari wajahnya.
William mengamati wajah gadis dihadapannya dengan perasaan campur aduk. Aku akan melakukan apapun demi melihat senyum indahmu.
"Selamat malam." ujar Angel dengan malu-malu, tangannya bergerak membuka pintu mobil.
"Biar aku saja, kau bukan penumpang, tapi pemilik hatiku." ujar William menahan gerakan tangan Angel. Tanpa butuh waktu lama lagi, William turun dari kursi kemudi kemudian berlari mengitari mobil, membuka pintu gadisnya.
Kebingungan di raut wajah Angel sirna sudah diganti senyum manisnya. Dia turun, lalu berdiri di hadapan pria itu.
"A-aku masuk dulu." ujar Angel gugup, dia ingin bebas dari pesona William secepat mungkin, jantungnya tak lagi berdetak dengan normal sejak tadi. Tanpa menunggu balasan pria dihadapannya, Angel berjalan menjauh dari pria itu.
"Ella?!" panggil William, menghentikan langkah Angel. Dia lalu berbalik, menatap bingung pria yang berdiri agak jauh darinya.
William berlari kecil ke dalam mobil, dia mengambil sebuah kotak yang tidak terlalu besar yang dibungkus dengan kertas kado bergambar Cinderella. Dia melangkah lebar, mendekati Angel.
"Ini untukmu, jangan menolaknya, atau aku akan marah." ujar William dengan nada mengancam.
Angel menatap bingung kotak yang sudah berada di tangannya. "A-apa ini?"
"Masuklah, aku tidak ingin kau sakit." ucap William mendorong pelan bahu Angel, pertanyaan Angel sama sekali tidak dihiraukan.
Lipatan-lipatan di kening Angel semakin terlihat jelas, dia menatap William yang sudah kembali berdiri di samping mobilnya. Apa lagi ini?
Angel tersentak saat angin malam mulai menusuk pori-porinya, tanpa menunggu lama lagi dia segera berbalik.
"Ella?!" panggil William kembali menghentikan langkah Angel.
Dengan perasaan jengkel, Angel berbalik pelan.
"Apa lagi Liam?"
Cukup lama William terdiam, menyatukan rangkain kata dalam otaknya.
"Terimakasih sudah hadir dalam hidupku." ujarnya tersenyum, setelah berhasil menyusun potongan kata dalam kepalanya. William segera menancap gasnya meninggalkan gadis yang masih berdiri mematung di depan pintu.
deg!
Angel merasakan jantungnya kembali berdetak kencang, lagi-lagi William berhasil menyentuh sudut hatinya yang membeku. Dia mengusap kedua sudut matanya yang tiba-tiba berair, matanya tak lepas memandangi mobil mewah yang mulai menjauh. Aku yang harusnya berterimakasih Liam.
William memacu gasnya dengan kecepatan sedang, bibirnya tak berhenti tersenyum sedari tadi. Hatinya berbunga-bunga, tidak ada kata yang bisa melukiskan perasaannya saat ini. Ini bukan pertama kalinya William dekat dengan gadis, tapi dari semua gadis yang pernah ditemui dan dikencaninya hanya Angel yang mampu membuat hidupnya jungkir balik. William menambah kecepatan mobilnya, dia ingin segera sampai di mansion.
Tak perlu menghabiskan waktu berjam-jam, mobil mewah itu sampai disebuah mansion besar dan megah. William turun lalu memasuki mansionnya, hampir saja jantungnya berhenti berdetak saat melihat ketiga sahabatnya dengan beragam ekspresi sedang duduk di sofa panjang yang terletak di ruang tamu.
"Brengsek, aku masih ingin hidup." ujar William, memaki ketiga pasang mata yang kompak menatap dirinya.
"Jangan mati dulu, dosa mu terlalu banyak." celetuk Alfredo dengan santai.
"Tutup mulutmu Jhonson." balas William, mendudukkan bokongnya di samping Jeremi.
"Bagaimana kabar Angel?" tanya Jeremi, menggoyangkan gelas berisi alkohol di sebelah tangannya.
"Baik." balas William singkat, dia mengeluarkan rokok dari saku lalu menghisapnya, menghempaskan sisa asapnya ke udara membentuk beberapa pola. William kemudian menyesap alkohol, membiarkan cairan itu membakar tenggorokannya.
"Monica kritis, kau menusuk perutnya terlalu dalam." ujar Jeremi, dia sudah mengetahui cara kerja William. Tanpa perlu mencari tahu, William adalah orang dibalik semua itu. Jiwa psikopatnya akan berontak jika ada yang berani menyentuh miliknya.
"Selamatkan dia, aku tidak ingin dia cepat mati." perintah William dingin.
"Tenang saja, rumah sakit Jhonson memiliki dokter paling hebat di dunia ini." Alfredo berujar sombong, memamerkan kekuasaannya.
William hanya tersenyum tipis, dia kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Jangan sakiti Angel William." Stefano menimpali percakapan mereka tiba-tiba, entah kenapa setiap mengingat manik hitam gadis itu hatinya mulai terusik. Dia baru sekali bertemu dengan gadis itu, tapi hati kecilnya mengatakan gadis rapuh itu menyimpan banyak luka. Dia seakan tidak rela jika gadis rapuh itu kembali terluka.
William mengepalkan tangannya kuat hingga jari-jarinya memutih. "Tidak ada yang ada boleh mengkhawatirkan Ella selain aku, termasuk kau Stefano." desis William tajam, menyadarkan Stefano bahwa posisinya tidak penting sama sekali.
Jeremi dan Alfredo menghela nafas pasrah, mereka takkan sanggup lagi menghentikan William jika sampai meledak.
"Aku hanya mengingatkan, kau sudah terlalu jauh bermain." ucap Stefano
William tersenyum miring. "Aku mencintainya." ujar William lantang, menantang gagasan Stefano.
Stefano mengangkat tinggi alisnya. "Lalu kenapa kau berbohong padanya?"
"Aku punya alasan untuk itu."
Stefano tertawa.
Ketiga orang itu menatap heran pria dihadapannya, Stefano jarang sekali tertawa bahkan dalam hal lucu sekalipun dia tidak akan pernah tertawa.
Apa dia mulai gila? batin Alfredo.
"Jangan salahkan aku, jika seluruh wajahmu ku lukis dengan belati ku." ancam William dingin.
Sinar bahagia di wajah Stefano mulai meredup perlahan, dia menatap datar manik biru dihadapannya.
"Aku menunggu hari itu." balas Stefano tak kalah dingin, menantang William.
Bunyi gemeletuk gigi yang saling beradu membuat suasana diantara mereka berempat begitu mencekam. William berusaha mati-matian menahan nafsu untuk membunuh pria dihadapannya.
Jeremi yang mengerti situasi saat itu, segera mencari akal menghentikan perang dingin diantara kedua sahabatnya.
"Baiklah, ayo kita pulang." ujar Jeremi memutus pertikaian dingin diantara kedua pria itu, suasana hati William saat ini tidak baik.
"K-kau benar Jeremi, ayo kita pulang." ucap Alfredo gugup, memahami isi pikiran Jeremi, dia tidak ingin si William monster mengulitinya hidup-hidup.
Jeremi segera berdiri dari duduknya, menghampiri Stefano lalu menarik tangannya pelan agar secepatnya pergi meninggalkan mansion mewah itu.
William masih diam, matanya tak lagi berkilat marah, sepertinya emosinya mulai surut. Jeremi memang yang paling mengerti dirinya, jika William api maka Jeremi adalah air, pria itu selalu berhasil memadamkan kobaran api dalam hati William.
"Will?" panggil Stefano sebelum melewati pintu mansion itu. "Kau harus ingat, Angel adalah gadis lugu, jangan bawa gadis itu terlalu jauh masuk ke dalam duniamu."
deg!
Sebuah batu besar menghantam dada William, mendengar pernyataan itu. Dia tidak menyadari bahwa gadis itu kini memiliki tahta penting dihatinya.
Disisi lain, Angel membaringkan tubuhnya di ranjang kecil sembari menatap langit-langit kamarnya, senyum bahagia belum juga hilang dari raut wajahnya, pikirannya melayang-layang mengingat betapa manisnya perlakuan William terhadapnya.
"Apa aku sudah jatuh cinta?" gumam Angel pada dirinya sendiri, tiba-tiba dia teringat akan kado William yang sedari tadi tergeletak di mejanya.
"Astaga hampir saja aku lupa." ujar Angel, menepuk pelan keningnya. Dia beranjak mengambil kotak itu. Rasa penasaran yang menggebu-gebu memenuhi hatinya, tanpa menunggu lama lagi, Angel segera merobek bungkus kado itu dengan kasar. Matanya melebar, dia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, dia bahkan menampar pelan pipinya, menyadarkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi. Yah siapa sangka, isi kotak itu adalah sebuah ponsel mewah berlogo Apple yang harganya bisa dipastikan 10 kali lipat dari gajinya. Angel langsung menyalakan ponsel canggih itu, matanya membulat saat melihat wallpaper ponsel itu adalah photo seorang pria tampan bermata biru, siapa lagi kalau bukan William. Angel memekik kaget saat ponsel digenggamnya bergetar, hampir saja dia melemparkan ponsel canggih itu.
EL is calling...
Angel mengerutkan kening bingung, melihat nama yang tertera di layar ponsel itu, dia kemudian menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Hallo, Angel's here, who's speaking there?"
Hening.
Angel semakin bingung saat tak mendapat balasan dari panggilannya.
"Hello?" tanya Angel menahan kekesalannya.
Hening.
"I miss you so bad.... Ella."
deg!
Suara lirih seorang pria terdengar dari balik panggilannya.
Liam?
"Liam? Kau ini, aku pikir siapa." geram Angel, hampir saja dia memutuskan panggilannya.
Suara tawa pelan terdengar dari balik panggilan itu.
"Aku yakin kau pasti sangat menggemaskan dengan wajah kesal mu, Ella."
Angel mendengus, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Liam, kenapa kau memberiku ponsel mahal ini?"
"Itu tidak ada harganya dibandingkan dirimu Ella."
"Kau ini, ponsel ini mahal sekali, darimana kau punya uang sebanyak itu."
"Jangan lupa, sahabatku konglomerat semua."
"Dasar sombong."
"That is me."
"Lalu... kenapa nama kontaknya EL?" tanya Angel.
Suara gelak tawa kembali terdengar dari balik panggilan itu.
"Aku mengambil dua huruf dari depan namamu"
"Apa itu? "
"EL, E untuk Ella dan L untuk Liam. Jadi EL adalah gabungan nama kita berdua, Ella dan Liam.
Blushhh....
Rona merah mulai menjalar di seluruh wajah Angel. Kenapa manis sekali.
Angel langsung memutus panggilan itu, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, jantungnya kini berdegup kencang, dia berguling-guling di atas kasur seperti orang gila, mendekap erat ponselnya. Ayah, aku bahagia sekali, aku sudah menemukan kebahagiaanku ayah.
William menatap ponselnya, dia tersenyum kecil saat panggilannya terputus sepihak. Dia pasti malu, aku merindukan rona merahnya.
Sebuah photo gadis cantik yang dicurinya diam-diam terpampang di layar itu. William melarikan ibu jarinya, mengusap lembut layar ponselnya.
"Angela Gabriela, how can I fall in you." gumam William.
Flashback on
"Would you be My boyfriend?"
Huh?
"Liam.... aku tidak punya harapan lagi untuk hidup sebelum bertemu denganmu. Aku hanya punya satu mimpi yaitu bertemu dengan ayahku secepat mungkin, aku tidak punya tempat di dunia ini, aku sendirian, kesepian bahkan tak satupun menginginkan ku. Aku tidak punya alasan sama sekali untuk bertahan hidup lebih lama. Sampai kau datang, hatiku mulai egois, aku ingin hidup lebih lama, aku ingin bahagia, aku ingin merasakan cinta seperti yang kau rasakan padaku. Liam..... kau tidak akan membiarkan ku terluka bukan?"
deg.
Finally, I am trap.