You Are The Best Part Of My Life

You Are The Best Part Of My Life
Siswa Baru


"Don't trust everything you see, event salt looks like sugar."


"Angel!" panggil seorang pria dari balik punggungnya. Angel membalikkan badan saat mendengar namanya dipanggil. Seorang pria berlari menghampirinya dengan peluh yang sudah membasahi dahinya. Dia terlihat sangat lelah seperti baru selesai lari maraton.


"Ada apa gendut?!" tanya Angel ketus.


"Robby Angel cantik, Robby. R-O-B-B-Y. jelas pria gendut itu mengeja namanya dalam bahasa Inggris.


Namanya Robby Mahendra, dia teman sekelasku juga sahabatku. Sebenarnya dia cukup tampan, wajahnya putih mulus, bibirnya berwarna merah delima, matanya coklat terang. Sayang, dia memiliki gumpalan lemak jahat di seluruh tubuhnya, lemak jahat itu membuatnya terlihat seperti **** pink. Otaknya juga encer, hanya saja dia rabun sepertiku, kami sama-sama memiliki penglihatan yang menyedihkan.


"Bukankah kau gendut?!" sindir Angel.


"Tapi aku tampan!" seru Robby membela diri.


"Terserah." balas Angel. Dia melanjutkan langkahnya, meninggalkan pria gendut itu dibelakangnya.


"Angel tunggu aku!" seru Robby mengikuti langkah Angel dari belakang. Dia semakin cepat melangkah hingga berjalan beriringan dengan Angel.


"Selamat ulang tahun Angel." ucap Robby


"Terimakasih." jawab Angel datar.


"Apa kau tidak bisa bicara lebih dari 5 kata?! tanya Robby kesal. angel selalu irit bicara, dia akan bicara saat ditanya itupun hanya beberapa kata.


Angel diam, dia terus melangkah tanpa menghiraukan rengekan sahabatnya itu. Dia memasuki ruangan yang bertuliskan XII IPA-1. Dia mendekati mejanya lalu mengeluarkan buku dari dalam lacinya. Robby masih terus mengikuti Angel seperti orang bodoh, dia tidak berani bersuara. Dia sangat mengenal Angel, diam adalah dunianya. Itu sebabnya, Angel sering dipanggil kulkas berjalan. Robby duduk saat melihat Angel sudah duduk disebelahnya.


"Apa kau tahu, hari ini kita kedatangan murid baru?" tanya Robby mulai bersuara.


Angel menatap dingin kearah Robby. "Aku tidak mau tahu." balas Angel. Dia mulai sibuk dengan buku dihadapannya, baginya bukunya lebih penting dari kabar konyol itu.


"Dia dari London." sambung Robby lagi. Pikirannya mulai menerawang akan indahnya kota London. Dia tersenyum sendiri membayangkan jika suatu saat nanti dia bisa pergi ke London. Pasti sangat menyenangkan.


Angel tetap bungkam, matanya terfokus pada tulisan-tulisan yang di hadapannya. Robby menatap kesal Angel, dia menutup buku sahabatnya lalu menyembunyikan di belakangnya.


"Kembalikan." kata Angel mencoba meraih bukunya dari pria itu.


"Aku tidak mau." balas Robby semakin menjauhkan buku itu dari jangkauan Angel.


"Robby." peringat Angel. Dia memasang wajah datar seperti biasanya.


"Apa kau tak punya wajah lain selain datar, Angel?!" tanya Robby.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya lagi menutupi lukaku selain menyembunyikannya di wajah datarku Robby." ucap Angel. Dia mengukir senyum tipis di wajah cantiknya menutupi kesedihannya. Angel segera mengambil bukunya saat dia melihat Robby mulai lengah.


deg!


Robby terdiam melihat senyum di wajah cantik Angel. Dia menyelami manik hitam itu dengan manik cokelatnya, tidak ada selain luka disana. Manik hitam itu benar-benar terluka, menyimpan berbagai kesedihan, kesepian bahkan penderitaan. Robby sangat ingin menghapus luka itu, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya.


Robby memutus pandangannya dari wajah Angle, saat sebuah suara nyaring mengalun di telinganya. Suara itu milik ibu Annisa, seorang guru fisika. Semua orang sangat takut padanya, disiplin adalah motto hidupnya. Baginya, pintar tapi tak berattitude adalah omong kosong.


"Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru." kata ibu Annisa tanpa menunggu balasan sapaannya. dia mengangkat sebelah sudut bibirnya saat dilihatnya wajah panik gadis itu.


Semua siswa terlihat heboh, rasa penasaran mulai di benak mereka masing-masing. Berbeda dengan Angel, dia hanya memasang wajah datar, dia sama sekali tidak peduli.


"Masuklah!" perintah ibu Annisa yang berdiri sejak tadi di luar pintu.


Keheningan mulai memenuhi ruangan itu seketika, tak ada sedikitpun suara terdengar. Angel mengerutkan keningnya, dia mengangkat wajahnya lalu melihat satu per satu teman sekelasnya, mulai dari sisi kiri, kanan bahkan memutar setengah punggungnya menoleh kebelakang. Semua siswa membuka mulutnya lebar, sepasang bola mata mereka membola, ada yang menutup mulutnya dengan telapak tangan, ada juga diantara mereka seperti ingin meneteskan air liurnya. Angel menoleh pada Robby yang berada di sebelahnya, dia juga sama seperti lainnya. Mulutnya menganga lebar seperti mendapat undian berhadiah jutaan rupiah.


"Aku William."


deg


suara itu?


Angel mengarahkan Pandangannya kedepan, raut wajahnya berubah panik. Disana pria itu sedang berdiri dengan senyum manisnya.


"*Siapa kau?!"


"Seseorang yang akan selalu hadir dalam hidupmu*."


"Senang bertemu dengan kalian." sambung pria itu. Pandangannya tertuju pada Angel. Dia mengangkat sebelah sudut bibirnya saat melihat wajah Angel berubah panik.


Sialan! dia menatapku.


Angel membalas tatapan pria tampan itu dengan kening berkerut, dia mengangkat sebelah alisnya. Angel kembali mengubah air mukanya datar. Tidak penting! batin Angel.


Suasana yang tadinya hening, tiba-tiba berubah jadi pasar malam.


"Wah, tampan sekali."


"Ya, ampun bule nyasar!"


"Damn, he's sexy".


"Peluk Ade bg?!"


" Thom Cruise sayang".


"Duduklah, kau bisa duduk di belakang Angel!" perintah ibu Annisa menunjukkan bangku di belakang Angel yang masih kosong.


Tanpa membalas perkataan ibu Annisa. William mulai berjalan menenteng tas punggungnya. "Pindah!" perintah William pada seorang pria yang duduk di samping Angel. Angel mendongak saat dirasa suara pria itu sangat dekat dengannya.


Robby melirik Angel yang tengah menatapnya. "Tidak mau!" tolak Robby cepat. Dia tidak ingin dipisahkan dari Angel.


"Aku tidak suka mengulang kalimatku." desis William tajam.


Semua orang yang memujanya seakan hilang ditelan bumi, bukan tatapan kagum lagi yang ada dimata mereka melainkan ketakutan. Mereka menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa takutnya saat dilihatnya pria itu berubah seperti monster yang siap menerkam mangsanya.


Angel menyipitkan kedua matanya dibalik kacamatanya. Siapa sebenarnya pria aneh ini, kenapa semua jadi takut begini.


"Biar aku yang pindah, kau bisa duduk ditempatku." kata Angel mengalah, dia sangat benci keributan. Angel merapikan buku di atas mejanya lalu memasukkannya kedalam tas. Sebuah teriakan membuat tangannya berhenti bekerja.


"Aku tidak menyuruhmu!" teriak William. Angel memekik kaget, tanpa sadar buku yang digenggamannya sudah tergeletak di lantai. Semua diam, Angel melirik Robby yang sudah dipenuhi keringat dingin. Dia menatap wajah ibu Annisa yang tidak jauh berbeda dengan Robby. Kemana ibu Annisa yang ditakuti itu?.


Angel kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah, semua orang masih menunduk takut. Sial! siapa sebenarnya pria aneh ini.


"Jangan berteriak, aku membencinya." kata Angel.


"Suruh dia pindah atau aku akan menghancurkan seluruh sekolah ini." ancam William.


Robby semakin bergetar takut di tempatnya, tanpa menunggu lama lagi, dia segera bangkit dan meninggalkan tempat duduknya. Angel menatap sedih wajah takut Robby. Dasar ********!


William tersenyum miring. "Bagus." ujarnya lalu mendaratkan bokongnya.


Angel masih diam menatap wajah pria disampingnya, sesekali dia mencuri pandang kearah ibu Annisa. Sayangnya, ibu Annisa sama sekali tidak berkutik di hadapan pria ini.


"Duduklah!" perintah William. Angel masih diam dan tak terusik sama sekali. Dia mengepalkan kedua tangannya.


"Selain rabun apa kau juga tuli?" tanya William mendongakkan wajahnya ke arah Angel yang masih berdiri seperti patung. William semakin kesal saat dilihatnya Angel sama sekali tidak menanggapi perkataannya. Dengan sekali hentakan, Angel duduk di tempatnya. William menarik ranting kecil itu, mendudukkan gadis itu secara paksa.


"Ahhh, sakit." ringis Angel memegangi pergelangan tangannya yang memerah.


"Begitu lebih baik." balas William tanpa memperdulikan ringisan gadis di sampingnya.


Angel menatap tajam pria itu. "Kau menyakiti ku!"


"Bukan menyakitimu, tapi menyukaimu."


Dasar keparat sinting!


Angel tidak menanggapi perkataan William, dia mengeluarkan buku dari dalam tasnya lalu menatap ke depan.


"Silahkan mulai pelajarannya!" perintah William yang hanya dibalas oleh anggukan ibu Annisa.


Siapa sebenarnya pria disampingku ini? sepertinya dia sangat ditakuti? Apa aku melewatkan sesuatu?


Sepanjang pelajaran berlangsung, Angel benar -benar tidak fokus. Dia benar-benar risih saat mendapati William tengah menatapnya. Pria itu memilin-milin rambut Angel dengan jarinya, sesekali dia juga mengusap lembut kepala Angel. Semua itu tidak luput dari amatan ibu Annisa, dia hanya menatap datar lalu melanjutkan pelajaran.


"Bisakah kau berhenti menggangguku?!" geram Angel tanpa mengalihkan tatapannya dari papan tulis.


"Kau sangat cantik."


"Terimakasih."


"Berapa minus rabun matamu? kacamatamu jelek sekali. Matamu ada 4, kau membuat mata indahmu jadi jelek." protes William. Dia mengamati kacamata Angel dari samping, dia benar-benar kesal saat mata palsu itu menutupi mata cantik Angel.


"Berhentilah, aku harus belajar. Aku tidak ingin beasiswaku dicabut." pinta Angel mencoba memberi pengertian pada pria itu.


"Aku akan membunuh mereka jika berani menyakitimu."


Cih, kau pikir kau siapa?!.


Dasar sombong!


"Liam, ku mohon." ujar Angel memelas.


William menghentikan kegiatannya di rambut Angel. "Aku menyukainya, aku menyukai saat kau memanggilku Liam."


Angel tidak menghiraukan William, dia tetap fokus memindahkan tulisan yang di papan tulis kedalam buku catatannya.


"Apa boleh aku memanggilmu, Ella? tanya William


"Terserah."


"Ella?"


"Hm?"


"Jadilah kekasihku."


deg!


Apa ini kado ulang tahunku? sayang sekali aku tidak punya keberanian mengatakan Ya. Kau seperti tamu Wiliam, singgah sebentar lalu pulang dengan pamit bahkan terkadang tanpa pamit. Aku tidak punya kekuatan lagi saat luka baru timbul di hatiku.