You Are The Best Part Of My Life

You Are The Best Part Of My Life
Awal Pertemuan


"We don't meet people by accident, everyone is meant to cross our path for a reason."


Ready for Liam and Angel story? Happy reading guys.


A few years ago.


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat hari ulang tahun, selamat ulang tahun. Happy birthday Angel sayang?!"


Byurrrrrr.....


Aku terbangun dari mimpi indahku saat sesuatu yang dingin menyentuh wajahku. Aku terjengkit kaget saat air itu hampir membuatku tak bernafas. Aku duduk dan mulai mengisi rongga dadaku dengan udara disekitarku. Aku mengusap wajahku yang sudah basah. Baru saja nyawa ku terkumpul perlahan-lahan, suara teriakan nyaring mengalun di telingaku.


"Bangun sialan! Dasar sampah!" teriak gadis itu lalu beranjak keluar.


Blam.......


Suara pintu tertutup kembali membuatku berjengkit kaget. Ku pakai kacamata yang berada di atas nakasku. Aku melirik kearah nakas di sampingku. Pukul 5 pagi


Aku menghela nafas pelan lalu membuka selimutku, tiba-tiba mataku terpatri pada sebuah kelender kecil bercentang merah yang bertengger di meja belajarku. Hari ini, adalah hari ulang tahunku. Aku beranjak mengambil kelender mini itu, mengelusnya sebentar, sebelum sebutir air mata jatuh tepat ditanda merah itu. Aku mengusap wajahku yang sudah basah akan air mata, seperti biasa tidak ada yang istimewa di hari ini. Sejak kematian ayahku beberapa tahun lalu, hidupku berubah total, tidak ada lagi tawa yang ada hanya kesedihan dan penderitaan.


Aku meletakkan kalender mini itu kembali, ku gulung rambut hitamku lalu melangkah ke dapur melakukan rutinitas ku sepeti biasa. Upik abu, aku tidak jauh berbeda dengan dia, hanya saja dia berada di dunia dongeng sedangkan aku di dunia nyata.


"Apa kau sedang bersemedi di dalam kamarmu?!" seru seorang wanita paruh baya saat melihatku mulai menuruni anak tangga.


"Maafkan aku." ujarku datar tanpa menoleh ke arahnya. Pagi ku sudah terbiasa bersambut teriakan, setidaknya itu lebih baik dari sekujur luka di tubuhku.


"Jangan lupakan satu hal, ayahmu sudah mati. Kau bukanlah tuan Puteri lagi disini." kata wanita itu sinis lalu meninggalkanku seorang diri.


Aku hanya diam, ku mulai ritual pagiku mengolah berbagai bahan dapur ini menjadi berbagi jenis makanan.


Namaku Angela Gabriella Rivano, hari ini aku berusia 17 tahun. Orang bilang usia 17 tahun adalah usia yang paling menyenangkan, di usia itu, para remaja yang mulai beranjak dewasa akan mulai jatuh pada pesona lawan jenisnya. Para dewasa awal akan menjalin hubungan lain selain persahabatan. Itulah mengapa di 17 tahun disebut sweet seventen karena banyak hal yang manis terjadi di usia itu.


Tapi tidak bagiku, aku tidak berani bermimpi sejauh itu. Bagiku hidup hanya sebatas hidup, aku hanya perlu berjuang sampai alam memanggilku kembali. Tidak ada yang ku inginkan di dunia ini selain bertemu kembali dengan ayah.


Selain itu, aku seorang siswi di salah satu sekolah menengah atas terbesar di Jakarta. Aku punya seorang kakak perempuan bernama Monica Rivano dan ibuku bernama Rose Sisylia Rivano. Ayahku bernama Abraham Rivano, sayangnya ayahku sudah terlebih dahulu menghadap yang Maha Kuasa sejak usiaku 10tahun. Sejak saat itulah Tuan Puteri berubah menjadi Upik Abu.


"Hey Angel?!" panggil seorang gadis, siapa lagi kalau bukan Monika.


"Ada apa?" tanya Angel sambil melepas celemek yang menempel ditubuhnya sedari tadi.


"Kerjakan PR ku! aku meletakkannya di atas meja belajarku." perintah monica.


"Aku tidak mau, tulisan kita nanti sama. Aku tidak ingin dimarahi guru." tolak Angel. Tiba-tiba Angel merasakan sakit dikepalanya. Monika menjambak surai hitam itu dengan kuat.


"Apa kau mulai menantangku?!" geram Monica semakin memperkuat tarikan tangannya di rambut Angel.


"M-monic, s-sakit." ringis Angel sembari mencoba melepas tangan Monica dari rambutnya. Rasanya benar-benar sakit.


Monica melepas jambakannya hingga helaian surai hitam itu menempel di sela-sela jarinya. "Jangan lupa diri Angel, kau hanya sampah. Cepat kerjakan! kita beda kelas, meskipun gurunya sama, dia tidak sepintar itu bisa mengenali tulisanmu." kata Monika berlalu meninggalkan Angel yang masih meringis kesakitan. Angel menyentuh bekas jambakan Monica, rambutnya rontok berserakan di bajunya. Angel menepuk-nepuk bahunya membersihkan helaian rambut yang menempel di bajunya. selalu seperti ini, kapan ini akan berakhir.


Angel menaiki gundukan anak tangga, dia mengambil buku PR Monica lalu buru-buru mengerjakannya saat dilihat matahari mulai menampakkan sinarnya.


Angel mamatut dirinya di hadapan kaca, dia sudah berpakaian lengkap. Wajahnya berseri-seri mengingat bahwa hari ini dia sudah sebulan menjadi siswi kelas 3 menengah atas. Meskipun usianya tergolong muda namun Angel memiliki otak yang cerdas bahkan IQnya berada di atas rata-rata. Setidaknya Tuhan masih menitipkan harapan di atas deritanya. Angel mengambil sebuah bingkai photo di atas meja riasnya, seorang pria tampan dan gadis mungil tertawa bahagia didalam sana. Angel mengelus photo itu dengan ibu jarinya. "Ayah, apa malaikat itu ada? tanya gadis kecil itu dengan bibir mungilnya.


"Tentu ada sayang, malaikat itu adalah angel." jawab pria itu


"Benarkah?! jadi, angel adalah malaikat?! horeee... aku malaikat! aku malaikat! ayah, angel malaikat! seru gadis itu riang. Pria itu tertawa bahagia melihat tingkah gadis kecilnya.


Angel tersenyum pedih mengingat kenangan itu, dia membawa bingkai photo itu kedalam pelukannya. aku merindukanmu ayah, aku sunguh merindukanmu.


Angel mengambil tas punggungnya bersiap untuk berangkat sekolah . Dia keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga rumahnya dengan cepat. Dia tidak ingin terlambat kesekolah.


"Jangan lupa bayar uang kontrakan rumah." kata Rose saat melihat Angel mulai berjalan keluar. Angel menghentikan langkahnya, dia berbalik pelan.


"Uangnya sudah habis. Ibu dan Monica kan harus perawatan, kami tidak ingin punya kulit sepertimu."


Monica tersenyum miring, dia mendekati Angel lalu berbisik di telinganya. "Kau itu jelek, buta dan Men-ji-jik-kan." kata Monica menekan kata terakhirnya. Angel tidak menanggapi hinaan Monica, baginya hinaan itu sudah seperti pelengkap paginya.


Angel merapikan letak kacamatanya sebentar. "T-tapi Bu, Angel tida_


PLAK!


Angel meringis saat sebuah tamparan melayang di pipi mulusnya. Kacamatanya terhempas jatuh kelantai.


"Apa kau mulai bosan untuk hidup?" desis Rose. Dia seperti ingin menelan Angel hidup -hidup.


Angel menyentuh bekas tamparan itu. "Baiklah Bu, aku akan membayar kontrakan rumah." balas Angel dengan nada datar.


Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan menangis di hadapan mereka yang menindasnya. Air matanya terlalu berharga untuk itu. Dia berjongkok mengambil kacamatanya lalu berjalan keluar. Angel mengayuh sepedanya, dia ingin segera sampai ketempat yang membuatnya nyaman. Hanya tempat itu yang membuatnya merasa lebih baik.


"Dasar bodoh." gumam kedua wanita itu bersamaan sepeninggal Angel.


Angel termenung diatas atap sekolahnya, dia meraba pipinya yang masih meninggalkan rasa panas. Sakit di pipinya tidak sebanding dengan sakit hatinya. Dia melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Angel menutup mata, merentangkan kedua tangannya menikmati hembusan angin di wajahnya . Hembusan angin itu menerbangkan rambut hitam sebahunya kesana kemari. Helaian rambut hitam itu mulai menutupi wajah cantiknya. Kesenanganya terganggu oleh sebuah suara berat dan seksi.


"Katakan pada angin, jangan bertiup terlalu kencang. Aku tidak ingin wajah cantikmu tertutupi rambut indahmu." kata pria itu menatap lekat wajah Angel dari samping.


Angel menolehkan kepalanya, manik hitamnya bertubrukan dengan manik biru pria itu. Dia mengamati pria itu dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Tampan. batin Angel berbisik.


Wajahnya perawakan bule, hidungnya mancung, bibir bawahnya sedikit tebal menambah kesan seksi, sepasang mata biru nan tajam yang dapat membuat siapa saja terpesona dalam keindahan. Angel larut dalam amatannya, hingga suara itu kembali menyadarkannya.


"Apa aku segitu mempesona nona?" Ujar pria itu tersenyum menggoda.


Angel mengubah raut wajahnya kembali datar, dia lalu mengembalikan pandangannya seperti semula. Dia sudah menghentikan aktivitasnya sejak pria itu bersuara. "Who are you?" tanya Angel tanpa menoleh kearah pria itu.


"Tatap aku saat bicara, nona."


Angel bungkam, tanpa menghiraukan pria disampingnya. Dia mengambil kacamata yang tergeletak di pahanya kemudian memakainya. Dia segera beranjak dari atap sekolahnya lalu mulai menjauh dari pria itu.


"Happy birthday." ujar pria itu. Angel menghentikan langkahnya kemudian berbalik pelan. Beberapa lipatan kecil mulai terlukis di wajah cantiknya.


"Siapa kau?" tanya angel ketus. Dia heran bagaimana pria ini tahu bahwa hari ini adalah ulang tahunnya.


"Seseorang yang akan selalu hadir dalam hidupmu."


Air muka Angel kembali datar, dia segera berbalik tanpa membalas perkataan konyol pria itu. Dasar aneh


"Happy brithday Angel, happy sweet seventen Angela Gabriella Rivano......


My..... Ella." sambung pria aneh itu dengan pelan dan lambat. Nada suaranya menyiratkan bahwa dia mengenal Angel.


deg


Langkah kaki Angel kembali berhenti. Punggungnya menegang, jantungnya berdegup kencang, berlomba-lomba seakan ingin meloncat keluar. Dia menempelkan telapak tangannya tepat di jantungnya yang berdetak tak karuan. Siapa laki-laki ini.


Tanpa pikir panjang lagi, Angel berlari kencang menjauh dari pria aneh itu. Pikiran buruk mulai menghantuinya. Menjauh adalah cara terbaik menyelamatkan dirinya saat ini.


Pria itu tersenyum miring melihat Angel berlari ketakutan. "Menarik." gumamnya pelan.


Sampai jumpa lagi Empat mata.


*My


Ella*.......