You Are The Best Part Of My Life

You Are The Best Part Of My Life
Yes or No


"The first time I saw you, my heart said you are the one."


"Bagaimana? Yes or no." tuntut William menatap lekat wajah Angel.


"W-why me?" tanya Angel. Dia tidak ingin terjebak dalam pesona William hingga membuatnya menyesal suatu saat nanti.


William menahan emosinya yang mulai terpancing. Sial! gadis ini sangat sulit ditaklukkan. Tanpa menghiraukan tatapan ragu Angel, William mengangkat tubuh kurus gadis itu ke pangkuannya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang kecil Angel.


"Apa yang kau lakukan?!" pekik Angel. Dia tidak pernah bersentuhan seintim ini dengan pria, wajahnya berubah pucat dipangkuan William.


"Diam!" bentak William saat Angel mencoba turun dari pangkuannya.


Nyali Angel menciut. "Turunkan aku." Angel berbisik lirih dengan kepala menunduk.


William mengangkat dagu gadis dipangkuannya. "Tatap aku saat bicara Angel!" peringat William tajam.


Angel menganggukkan kepalanya.


"Bagus." Ujar William penuh kemenangan. Dia mendorong wajahnya lebih dekat dengan Angel. Kini kedua wajah itu hanya berjarak beberapa senti.


"Kau sangat cantik Ella." bisik William, membiarkan jari telunjuknya menjelajahi setiap sudut wajahnya. Tatapannya terpaku di bibir ranum yang belum tersentuh sama sekali.


Angel terkesiap, pikirannya buruk mulai menghantuinya. "L-liam"


"Hm?." gumam William sambil mengelus lembut bibir bawah Angel dengan ibu jari.


"Plese d-don't." Angel memelas, ia meremas pelan pundak William dengan sebelah tangannya yang sedari tadi menggantung indah.


William berhenti mengelus saat bibir Angel bergetar takut. "Kau takut?


Angel kembali menganggukkan kepalanya.


William tertawa.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu." ujar William disela tawanya. Dia menarik jarinya, Angel menghembuskan nafas lega. Dia kembali teringat akan pertanyaannya.


"Liam, Kenapa harus aku?" kata Angel mengulang pertanyaannya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pernyataan cinta William yang mendadak.


"Apa hati punya rencana jatuh cinta pada siapa?" tanya William.


"Apa maksudmu?" kebingungan masih melandanya.


William tersenyum hangat. "Kau akan mengerti saat kau jatuh cinta."


Hening.


"Apa... jatuh cinta akan terluka?" tanya Angel penuh selidik.


deg!


Senyum hangat di wajah tampan William memudar perlahan. "Apa kau takut terluka?"


"Sangat takut."


"Kenapa kau selalu ketakutan?" tanya William lembut membenamkam sela jemarinya di rambut Angel.


"Karena aku sendirian." balas Angel


Tatapan William terkunci tepat di kedua manik hitam Angel. Apa yang terjadi denganmu?.


"Aku tidak mengenal mu Liam, kita hanya bertemu sekali di atap sekolah. Tiba-tiba kau datang menghujani ku dengan cinta. Kau tahu, kehadiranmu membuat duniaku jungkir balik. Aku tidak ingin terjebak oleh cinta semu lalu berujung tangisan. Aku tidak akan kuat jika yang luka adalah hati." sambung Angel dengan berani membalas tatapan manik biru William. Dia mengutarakan beberapa rumit perasaanya saat ini.


"Aku berjanji akan jadi penawar lukamu jika kau bersamaku." kata William


"Aku tidak punya jawaban untuk saat ini." balas Angel setelah dia berhasil mengumpulkan suaranya. Dia bungkam sesaat mendengar kalimat itu.


"Aku tidak akan menagih jawabanmu untuk saat ini" ujar William mengalah. Dia tidak ingin memaksakan keinginannya, baginya kenyamanan Angel yang terpenting. Dia tidak bisa merebut hati Angel dengan cara memaksa.


"Terimakasih. Boleh aku turun?" tanya Angel sedikit berbisik pelan, diujung suaranya tersirat ragu.


William terkekeh. "kau juga bisa keluar dari ruangan ini sekarang juga."


"Benarkah?" tanya Angel berbinar.


"Dengan satu syarat?" pinta William dengan senyum licik. Binar bahagia meredup dari wajah Angel secepat angin berlalu.


"A-apa?" cicit Angel takut.


Mata William tertuju pada bibir merekahnya, William menyeringai. "Let me kiss you." bisik William, dan detik selanjutnya kedua bibir itu menyatu dalam kecupan. William memagut, ******* menggerakkan bibirnya di bibir ranum Angel. Tanpa permisi, William mengecap rasa manis dari bibir mungil itu. Angel menegang, matanya membola. ******** kau Liam!


Ciuman itu berlangsung lama, William melepaskan pagutannya saat pukulan-pukulan kecil Angel menyadarkannya untuk berhenti. William menatap wajah Angel yang sudah kehabisan nafas, dia mengelus lembut bibir basah yang baru saja dinikmatinya.


"Ciuman pertama bukan?" goda William.


"Terimakasih sudah mengajariku." balas Angel datar.


Wow, aku sudah siap dengan rasa panas di wajahku, kau malah berterimakasih Ella. Kau memang sesuatu sayang, dan kau .....milikku!.


"Bagaimana rasanya mengenal dunia baru? tanya William.


"Apa aku sudah bisa pergi?" tanya Angel tanpa menjawab pertanyaan William.


"Aku akan mengajarimu hal baru jika kau menerimaku." ujar William. Dia semakin tertarik mengorek emosi yang mulai muncul di wajah cantik Angel.


Aku sudah muak!


Angel melepas kasar dekapan di pinggangnya. Dia segera berdiri dan membenarkan penampilannya. Dia tidak bisa menunjukkan perasaannya saat ini, kesal, takut, gelisah, marah semua berkumpul jadi satu. Angel mencoba menyembunyikan semua itu dibalik wajah datarnya.


"Saya permisi, tuan." pamit Angel membungkukkan badannya sedikit.


"Aku akan menyetubuhimu jika kau berani menunjukkan sikapmu itu sekali lagi dihadapanku." desis William tajam, pelan dan mengancam dibalik punggung Angel.


Angel kembali terkesiap, dia mematung mendengar kalimat mengerikan itu.


Suara ketukan sepatu mulai menggema, William melangkah mendekati Angel. Dia membalikkan punggung Angel kasar.


"Apa perlu ku ingatkan lagi tentang posisimu?" tanya William dengan mata yang hampir meloncat keluar.


"kau sudah menciumku bukan? Apa lagi sekarang?!" geram Angel menahan kobaran api didalam hatinya.


"Aku bukan tuan mu! Kau gadisku!" teriak William murka di hadapan wajah Angel. Angel menutup matanya, tangannya terkepal kuat.


"Apa aku pernah mengatakan ya?!" tanya Angel mengangkat dagunya tinggi.


"Jangan membuatku marah Ella, kau adalah milikku!"


"Aku bukan milikmu!" tukas Angel tajam.


"Jangan menguji kesabaran ku Ella!" ujar William sembari mencengkram rahang Angel kuat.


"L-liam s-sakit, L-lepaskan." pinta Angel memelas.


William tersadar, dia melepas cengkramannya dari wajah Angel meninggalkan rona merah menyakitkan di wajah pucatnya. "Ini peringatan terakhir untukmu, sekarang pergilah." ujar William menatap Angel yang sedang menahan kesakitan.


Angel menyentuh rahangnya yang terasa sakit, dia langsung berbalik tanpa melirik sedikitpun pada pria dihadapannya.


"Liam?" panggil Angel saat berada di ambang pintu.


William mengangkat alisnya.


"Apa kau tahu? aku merasa kaulah yang akan membuatku semakin terluka nantinya." ujar Angel lirih lalu pergi.


deg!


Saat aku melukaimu, aku harap aku juga yang akan jadi penawar untukmu.


William memandang kosong bayangan gadis yang sudah sirna dari ambang pintu. Maafkan aku.


Erik!!!!! panggil William pada seorang pria yang berdiri di luar pintu. Dia melampiaskan amarah dibalik teriakannya.


"Ada apa tuan muda?" tanya Erik


"Dalam 10 menit aku ingin informasi mengenai Ella secara lengkap." perintah William tak terbantah.


"Baik tuan muda." balas Erik menyanggupi perintah William.


Aku tidak ingin jadi pelampiasan amarah nantinya, lebih baik menuruti keinginannya.


"Satu lagi.... beli kafe ini dari Bento, tidak boleh ada yang menginjakkan kaki selain aku diruangan ini. Aku tidak ingin orang lain menikmati harum tubuh gadisku."


Huh, apa dia mulai gila? Tidak ada yang berbeda dari ruangan ini, wanginya sama seperti tadi.


"Apa kau tidak dengar?!" tanya William menyadarkan Erik dari kebingungan.


"B-b-baiklah tuan muda."


"Jika Bentos menolak, lakukan cara kotor." ujar William angkuh. Dia menggerakkan tangannya di udara mengisyaratkan Erik segera keluar.


"Pergilah, aku tidak ingin kau terlalu lama menikmati harum gadis ku."


Erik hampir saja menjatuhkan rahang jika dia tidak segera menutup mulut lebarnya. Dia sudah gila rupanya. "Baik tuan muda, saya permisi." balas Erik membungkukan setengah badannya.


Waktu menunjukkan jam 11 malam, sudah saatnya Angel untuk pulang. Dia berjalan menuju sepeda kesayangannya yang sudah setia menunggunya sejak tadi. Tiba-tiba Angel dikejutkan oleh suara klakson dari belakangnya.


"Masuklah, aku akan mengantarmu pulang." ucap William dari dalam mobil.


Angel diam, raut wajahnya penuh pertanyaan. Dia masih disini? Untuk apa?


Mobilnya mewah sekali, kenapa ada William di dalam mobil mewah itu? Siapa dia sebenarnya?


"Hey, kacamata! Aku tidak menyuruhmu jadi patung disana." panggil William lagi. Angel terkesiap, lamunannya buyar.


"Tidak, terimakasih." balas Angel singkat.


"Aku akan menggendongku jika kau tidak segera masuk detik ini juga."


Angel menahan kekesalannya yang sudah menjadi-jadi. Dengan berat hati dia memutuskan memasuki besi berjalan itu.


"Apa kau suka sekali diancam?" tanya William saat Angel sudah duduk disampingnya.


"Begitulah." ujar Angel datar


"Pakai sabuk pengamanmu, Angel!" William berujar dengan panik. Gadisnya tidak boleh sampai terluka.


"Oke." balas Angel singkat.


Mereka terdiam lama, William menatap kearah luar dari balik kaca mobilnya. Angel menyandarkan punggungnya melepas penatnya di kursi empuk itu.


"Ella....kenapa kau harus bekerja seperti ini?" tanya William tiba-tiba bersuara, dia masih menatap kearah luar.


"Karena aku butuh makan." balas Angel.


"Apa kau tidak lelah, Ella?


Aku sangat lelah, hingga aku tidak bisa mengatakan pada dunia rasa lelahku.


"Kenapa harus lelah, bukankah hidup adalah perjuangan?


"Apa kau membenciku?" tanya William


"Apa kau melakukan kesalahan?" Ella membalas pertanyaan William dengan pertanyaan.


Hening.


"Kau tahu, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Tapi Ella, jika suatu saat nanti kau terluka olehku, tetaplah disisiku, Aku membutuhkanmu." William kembali berujar tiba-tiba.


William mengerutkan kening saat angin membisik keheningan, dia menoleh kesamping. William terkejut saat melihat Angel sudah tertidur pulas. Dia melepas sabuk pengaman dari tubuhnya, bergeser lebih dekat dengan Angel, William menaruh kepala Angel bersandar di dadanya. Dia mengamati wajah cantiknya, tangannya terulur membersihkan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu. William menyelipkan helaian rambut Angel dibalik telinganya. Sangat cantik, kau seperti malaikat saat tidur.


William mengelus pelan bibir ranum Angel, masih jelas terasa rasa manis bibir ranum itu.


William mendaratkan satu kecupan lembut di dahi Angel. "Sleep tight My Ella." bisik William lembut.


"Tuan muda, ini hasil penyelidikan nona Angel.


"Nona angel disiksa oleh kedua wanita di photo itu."


"Apa kau pernah mendengar kisah Cinderella?"


"Tuan muda, kita sudah sampai." ujar seorang pria dari balik kemudi.


Lamunan William berakhir, dia membuka jendela mobilnya sedikit. Sebuah rumah minimalis terpampang dihadapannya. William mengamati rumah kecil yang menjadi tempat tinggal gadisnya dari dalam mobil.


Angel terbangun dari tidurnya, tubuhnya tiba-tiba menegang. Mati aku, aku tidur di dada si bodoh ini.


William menahan senyum saat melihat wajah Angel berubah merah. Dia sudah tahu bahwa angel sudah bangun hanya saja dia tidak ingin kesempatan ini berakhir dengan cepat.


"Ehemm." William berdehem mengamati gerak-gerik Angel.


Angel mati kutu, dia tidak tahu harus berbuat apa. Memalukan! Apa dia tahu aku sudah bangun? bagaimana caranya keluar?


Tiba-tiba sebuah ide terlintas diotaknya.


"Apa aku sudah sampai?." ujar Angel pura-pura bingung. Dia mengangkat kepalanya dari dada bidang William, dia segera mengarahkan tangannya membuka pintu, dan gotcha pintunya tidak tertutup. Tanpa pikir panjang lagi, Angel segera keluar dan berlari kencang kedalam rumah.


William tertawa keras.


"Menggemaskan sekali." gumam William saat melihat Angel lari terbirit-birit.


"Ayo pergi!" perintah William, dia melihat sekilas ke arah rumah Angel untuk yang terakhir.


Angel bersandar di pintu rumahnya, jantungnya berdegup kencang. Dia benar-benar salah tingkah. Dia mengintip sebentar dari balik kaca jendela yang ditutupi gorden, ternyata mobil itu sudah pergi. Angel menarik nafas lega, dia berjalan menaiki gundukan tangga rumahnya.


"Apa ****** ingat pulang?" tanya Monic yang bersedekap angkuh. Monic menahan amarahnya saat melihat Angel bersama William.


Angel berhenti. "Aku tidak ******." balas Angel datar.


"Apa ****** akan teriak ******?"


"Aku lembur supaya dapat bonus."


"****** juga lembur demi bonus." ujar Monic tersenyum miring.


"Terserah padamu." balas Angel dingin. Dia tidak peduli apa kata Monic.


"Angel!" panggil Monic kembali menghentikan langkahnya.


"Apa lagi." balas Angel malas.


"Aku menginginkan William, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?!" tanya Monic. Dia beranjak meninggalkan Angel yang mematung di ujung tangga.


deg!


Kau selalu menginginkan milikku monic dan aku selalu memberikannya padamu. Untuk kali ini saja, bolehkah aku mempertahankan milikku?