
"You are the first and the last thing on my mind, each and everyday."
"Angel?" Robby memanggil saat mendapati Angel hanya mengaduk makanannya tanpa selera. Saat ini mereka berada di kantin sekolah.
"Hm?" Angel bergumam.
"Apa kau baik-baik saja?" Robby bertanya, menatap bingung kearah Angel.
"Apa aku terlihat sakit?" Angel membalas dengan pertanyaan. Dia tidak ingin ada seorang pun mengetahui isi pikirannya.
"Apa ini tentang William?" tebak Robby, meyakinkan isi hatinya.
Angel tersenyum kecut. "Tebakanmu tepat sasaran" Angel berucap lirih tanpa menatap lawan bicaranya.
"Sepertinya dia sangat mencintaimu" Robby berujar langsung, menghentikan gerakan tangan Angel.
Hening.
"Aku tidak ingin membahasnya." ujar Angel singkat.
"Kau terlihat lebih hidup sejak mengenalnya." beritahu Robby.
"Aku tidak mengenalnya." Angel membela diri.
"Benarkah? tapi kalian sudah seperti pasangan kekasih. Kau tentu tidak lupa bukan peristiwa tadi pagi, semua orang membicarakan mu." terang Robby, mengingatkan Angel kejadian tadi pagi.
Angel menjadi buah bibir sejak pagi. Bagaimana tidak, seorang kulkas berjalan tiba-tiba dikecup dan dipeluk pria tampan bak dewa Yunani. Dan bukan hanya itu, seorang Angel yang tidak pernah berteman selain dengan Robby si **** pink tiba-tiba mengenal pria tampan lainnya. Dunia memang sudah gila, sesuatu yang mustahil mulai menampakkan wujudnya.
"Aku tidak punya jawaban untuk itu." balas Angel dingin.
"Aku tahu kau tidak bodoh Angel, kau tahu betul bukan itu maksud pertanyaanku." tukas Robby tajam.
Angel menghela nafas pasrah, sahabatnya ini selalu berhasil mencium kebohongannya. "Aku memang bertemu william di luar sekolah." ujar Angel langsung.
Hampir saja Robby menyemburkan isi mulutnya. Dia baru mencuci isi mulitnya dengan segelas air sesat Angel berucap kalimat langka.
"Dia......memintaku jadi kekasihnya." lanjut Angel berbisik.
"APA?!" seru Robby kaget, dia menutup mulutnya segera ketika menyadari semua mata memandang aneh padanya. "Kalian pacaran?!" sambungnya lagi tak kalah kuat.
"Suaramu Robby, pelankan suaramu." tegur Angel, menyadari semua mata menoleh kearah mereka.
Robby mengendurkan otot wajah menegangnya. "Jadi, kalian pacaran?" bisik Robby memastikan.
"Aku tidak bilang pacaran Robby." ujar Angel, mencegah Robby berpikir terlalu jauh.
"Lalu, bagaimana kau menjelaskan yang tadi pagi." ujar Robby, menuntut penjelasan Angel.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, aku tidak pernah bertemu dengan William sebelumnya. A-aku benar-benar tidak mengenalnya Robby." ujar Angel beruntun, menjelaskan jika William dan dirinya tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Kau tidak tahu apapun mengenai William?" Robby bertanya, menatap ragu wajah frustasi Angel.
"Aku benar-benar tidak tahu Robby." ujar Angel tak terbantah.
"Apa.... kau jika tidak tahu bahwa William adalah...."
Robby menghentikan kalimatnya yang sudah berada di ujung lidah, seseorang menepuk pelan pundaknya.
"Hey Robby kenapa kau hobby sekali bergosip, itukan kebiasaan wanita." rutuk Alfredo kesal, mengambil tempat duduk di samping Robby.
Angel memutar bola matanya malas, melihat kedatangan keempat pria yang tidak diharapkan duduk dimeja yang sama dengannya.
Aku jadi topik hangat lagi. batin angel kesal
"Aku tidak wanita, jika itu yang kau maksud." protes Robby.
"Kalau kau tidak wanita, jangan suka bergosip." geram Alfredo tertahan.
"Aku hanya ingin mengatakan pada Angel bahwa William....."
Lagi-lagi kalimat Robby tertahan, mendengar sebuah suara berat dari samping kiri Angel.
"Jangan melewati batasmu, Robby." peringat William, tatapan membunuhnya membuat nyali Robby menciut.
Hening.
Angel mengerutkan keningnya. Ada apa ini? Kenapa Robby terlihat takut?.
"Aku lapar sekali, kalian ingin pesan apa?" ujar Jeremi bersuara, menghentikan kobaran api yang mulai memanas diantara mereka.
"Apa saja." William menjawab datar, matanya tak lepas dari Robby yang sudah menunduk takut.
"Terserah padamu saja." kata Alfredo cepat.
Jeremi mengalihkan pandangannya pada Stefano. "Aku tidak lapar." ujar Stefano dingin, mengerti tatapan mata biru sahabatnya.
"Aku pergi dulu." ujar Jeremi meninggalkan tempat duduknya.
"Ayo Robby kita pergi." Ajak Angel, dia berdiri dari duduknya.
"Aku tidak menyuruhmu pergi." ujar William, mendongak ke arah Angel.
"Aku sudah kenyang." balas Angel datar
"Aku belum makan, temani aku makan." perintah William.
"Kau punya teman jika kau tidak tahu." balas Angel menyindir.
William menutup mata birunya yang mulai berkilat marah. "Aku hanya ingin ditemani olehmu."
"Aku tidak mau." tolak Angel cepat.
Hilang sudah kesabaran William yang sudah ditahan sedari tadi, tanpa aba-aba dia mencengkram pergelangan tangan Angel, menarik kuat hingga terjatuh kepangkuannya. William mengunci pinggul ramping Angel dengan melingkarkan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan brengsek?!" sentak Angel kuat, wajah datarnya memerah menahan amarah. Semua orang kembali menatapnya.
"Aku akan mencium mulutmu yang berani memakiku jika kau mencoba untuk turun." ancam William, menghentikan usaha Angel.
"Tolong lepaskan aku William, semua orang menatap ku." pinta Angel, memelas belas kasihan.
"Liam Angel, Liam." tekan William, mengoreksi panggilan Angel. Dia membawa mata birunya menjelajahi isi kantin. "Jangan berani menatap gadisku, jika kalian masih ingin melihat matahari bersinar." ancam William tajam, membalas tatapan menghina mereka pada gadisnya.
Seisi kantin terkesiap mendengar nada membunuh william, sepersekian detik mereka mengalihkan pandangan dari Angel.
"Ck, mataku kembali ternoda." ujar Jeremi tiba-tiba datang. Dia menatap jengkel ke arah pasangan yang duduk disampingnya. William menatap Jeremi acuh.
"Hey Robby cepat cari pacar, Angel sudah milik William." ujar Alfredo, meneliti wajah Robby yang semakin takut.
"A-aku ingin ke kamar mandi." Robby berujar dengan suara bergetar, tanpa menunggu lama dia beranjak meninggalkan tempat duduknya.
Jeremi terkekeh pelan, Alfredo dan kejahilannya adalah jiwa dalam tubuh.
"Turunkan dia William, dia tidak nyaman." kata Stefano tiba-tiba menyuarakan ketidaksukaannya, sedari tadi dia sudah memandang gerak gerik Angel yang sangat gelisah di pangkuan William. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher William, menahan malu.
William mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak terbiasa mendengar perintah jika kau lupa." balas William, memperingati kelancangan Stefano.
"Aku tidak suka dengan pemaksaan jika kau lupa." kata Stefano, membalas perkataan William.
"Dia gadisku, terserah padaku." William berujar sombong, menyunggingkan senyum mengejek.
Angel semakin tidak nyaman mendengar dua suara yang saling beradu, dia memutuskan mengangkat wajah dari ceruk leher William.
"A-aku ingin ke toilet." kata Angel pelan, menunduk kepala memilin-milin jari di atas pangkuannya.
William mengangkat wajah Angel dengan jarinya. "5 menit, jika dalam 5 menit kau tidak datang aku akan menghancurkan kamar mandi itu." gertak William.
Angel mengangguk cepat, dia tidak ingin ucapan William menjadi kenyataan.
"B-b-baiklah." balas Angel terbata-bata, berdiri dari pangkuan William, lalu mulai berjalan.
Angel tidak lepas dari pandangan Alfredo sedetik pun, kepalanya ikut berputar saat Angel sudah berjalan di belakangnya.
"Aku tidak akan berpikir dua kali untuk mencongkel matamu jika kau masih memandang gadisku, Stefano." desis William tajam, menyentak Stefano dari kegiatannya.
Stefano menatap dingin William. "Hati-hati ketika main api William." peringat Stefano.
William menyeringai. "Kau mulai tertarik padanya?" tanya William.
"Untuk saat ini tidak." tegas Stefano, menolak gagasan William.
Jeremi melirik Alfredo yang sedari tadi ikut bungkam seperti dirinya, mata biru mereka bertemu. Alfredo menelan ludah kasar, keringat dingin mulai membasahi kening putihnya. Jeremi berubah pucat, dia sudah yakin William akan segera bangun dari tidurnya.
Apapun yang terjadi ku harap aku masih bernafas besok. batin Alfredo.
Jeremi menatap gusar kedua sahabatnya bergantian. Semoga mayatku sampai ke London dengan utuh.
Rahang William mengeras mendengar pernyataan ambigu Stefano, mata birunya berkilat marah. Dalam sepersekian detik, William bersinggut maju, mencengkram kerah seragam Stefano sampai pria itu mendongak dihadapan wajah mengerikan William.
Jeremi dan Alfredo terbelalak, mereka langsung berdiri, memisahkan kedua kutub yang berbeda arah itu. Seisi kantin berteriak histeris ketakutan. Mereka berhamburan keluar menyelamatkan diri.
"Will, tahan emosimu." tegur Jeremi, menahan kepalan tangan William yang siap melayang di wajah Stefano.
"Fano ayo kita pergi" ujar Alfredo, menyelamatkan Stefano dari amarah William.
Stefano tidak bergeming ditempatnya, dia semakin memasang wajah menantang dihadapan William. "Kau.tidak.mencintainya." desis Stefano, menekan kata yang keluar dari mulutnya.
"Jangan menantangku Fano?!" geram William, bibirnya bergetar hebat, cengkraman di kerah Stefano semakin kuat.
"Aku akan menunggu.....,
menunggu topengmu terbuka, William."
Stefano berujar pelan dan tajam, matanya tertawa mengejek melihat amarah William semakin menjadi. Dia melepas kasar cengkaram William, lalu beranjak dari tempat duduknya.
Tiba-tiba.......
Bugh!!!
William mendaratkan satu bogeman mentah di wajahnya Stefano. Stefano terpental jauh, saat mendapat serangan tiba-tiba dari William.
"Apa kau gila?!" hardik Alfredo, membantu Stefano berdiri. Stefano mengusap darah di sudut bibirnya.
"Kau gila Will, dia sahabatmu." tukas Jeremi marah.
"Aku lupa tadi bahwa dia sahabatku." William berujar enteng, melihat Stefano meringis sakit.
"Tutup mulutmu brengsek, ada apa sebenarnya dengan kalian berdua?" tanya Jeremi menatap heran kedua sahabatnya. Dia tidak percaya William meninju sahabatnya hanya karena seorang gadis, Jeremi sangat mengenal William, Stefano dan Alfredo, mereka bersahabat sejak kecil. William tidak pernah semarah ini hanya karena seorang wanita, dan Alfredo, dia sama sekali tidak pernah tertarik dengan milik William. Ada apa ini?
William tidak mengacuhkan pertanyaan Jeremi sama sekali, dia segera meninggalkan mereka bertiga. Dia ingin menemui gadisnya, sudah lebih dari lima menit dia berada di dalam toilet. Rasa khawatir mulia melanda benaknya.
"Mau kemana kau Will?! teriak Alfredo, yang hanya dianggap angin lalu oleh William.
"Biarkan saja, biarkan dia tenang dulu" balas Jeremi, menghentikan usaha Alfredo.
Alfredo menghela nafas pelan, dia melirik Stefano. "Kita bawa Stefano ke UKS." putus Alfredo, merangkul Stefano menuju UKS.
Jeremi tidak bergeming ditempatnya, dia menatap punggung Stefano yang semakin menjauh.
Aku membenci situasi saat ini, tapi aku lebih membenci jika salah satu dari kalian menyakiti Angel.
Sementara didalam toilet, Angel menatap wajahnya di cermin. Dia menghela nafas pelan, hidupnya sudah rumit ditambah lagi dengan kedatangan William. Dia benar-benar bingung, apa maksud dan tujuan William mendekatinya. Dia sama sekali tidak mengenal William, tapi William seakan sangat mengenalnya. Angel menghela nafas sekali lagi. Dia mencuci tangannya, dia harus segera keluar sebelum William menghancurkan toilet ini. Baru saja Angel melangkah, suara pintu terbuka keras membuatnya tersentak. Di sana, seorang gadis yang sangat tidak ingin dilihatnya bersedekap sombong dengan senyum miring di wajahnya.
"Whoa, Upik Abu pangeran disini rupanya." sindir Monic tajam.
"Minggir, aku ingin keluar." ujar Angel, menyuruh Monica memberi jalan.
Monica mengangkat alisnya. "Kau boleh keluar setelah aku memberi pijatan kecil diseluruh tubuhmu." ujar Monic menyeringai, dia menutup pintu dengan kakinya.
Angel bersinggut mundur, melihat Monica semakin mendekat. Matanya seperti psikopath.
"Jangan takut adikku sayang." ujar Monica mengejek, dia segera menangkap lengan kurus angel yang hendak lari.
"Lepaskan aku Monic." Angel memberontak, mencoba melepas cengkraman dilengannya.
Monic menarik lengan Angel ke dalam salah satu kamar toilet dan menguncinya.
"Kau membuatku marah ******, sekarang terima akibatnya." bisik Monic kejam, menghempaskan cengkramannya. Monic langsung menarik rambut Angel, menyeret tubuh kecilnya ke depan sebuah bak besar berisi air.
"A-apa yang kau lakukan Monic." ujar Angel panik. Dia benar-benar ketakutan melihat kedua mata Monic seperti monster.
Monica tidak menjawab, dia langsung menenggelamkan kepala Angel ke dalam bak. Menekan kuat sampai angel mulai kehabisan nafas, lalu menariknya kembali. Monica melakukannya berulang kali. Monic menarik kepala Angel dari dalam air, kesempatan itu digunakannya untuk meraup nafas sebanyak mungkin. Nafas Angel tersengal-sengal, dia menarik nafas berkali mengisi rongga dadanya yang sesak.
Monic belum puas, dia menarik kembali rambut Angel, berdiri dari duduknya. Dia membenturkan kuat kening Angel di tembok, luka di dahinya kembali terbuka. Angel tergelak lemas, dia terjatuh. Darah deras mengalir dari dahinya.
Monic tersenyum miring. "Salam buat ayah." gumam Monic, melihat Angel tergeletak tak berdaya. Dia beranjak meninggalkan Angel sedirian lalu mangunci pintu dari luar.
"Bertahanlah sayang, suatu saat nanti kau akan bertemu bahagiamu. Ayah akan selalu disisimu meski tak lagi bersamamu."
Aku sudah tidak tahan lagi, maafkan aku ayah.
Angel sudah akan menutup mata dalam keputusan asaan, sebuah dobrakan pintu kasar membuat kelopak lemahnya kembali terbuka. Suara teriakan panik memenuhi pendengarannya.
L-liam?
Ku harap kaulah alasanku bertahan kali ini.