
"Waiting is a sign of true love and patience, anyone can say I love you, but not everyone can wait and prove it's true".
Seorang pria tampan turun dengan gagahnya dari sebuah mobil sport keluaran terbaru. Dia melangkah lebar memasuki perusahaan ternama itu. Semua karyawan menundukkan kepalanya sabagai tanda hormat. Pria itu adalah Andreas William Handerson, CEO dari perusahan Handerson sekaligus pewaris tunggal seluruh kekayaan Handerson yang berada diseluruh belahan dunia. Hari ini dia menjabat sebagai CEO di Handerson menggantikan ayahnya Robert Handerson. Andreas melangkah dengan angkuh, menatap datar para manusia yang sudah seperti lautan manusia sejak kedatangannya. Dia tidak memperdulikan pekikan nyaring kaum hawa yang terpesona akan ketampanannya. Dia sama sekali tidak menghiraukan sapaan ramah dari seluruh pegawainya. Andreas terus membawa langkahnya memasuki sebuah lift khusus yang akan membawanya ke lantai atas.
Ting!
Andreas melangkah keluar dari dalam lift, semua pegawai menunduk hormat. Auranya benar-benar mencekam membuat para pegawai itu bergidik ngeri saat pria tampan berahang tegas itu mulai menunjukkan batang hidung mancungnya. Tiba-tiba langkahnya berhenti dihadapan seorang gadis berambut pirang yang masih menunduk takut.
"Dimana sekertaris ku?" tanya Andreas dingin saat dilihatnya meja bertuliskan sekertaris masih kosong.
"S-sebentar lagi dia akan datang Mr.Andreas." cicit gadis berambut pirang itu.
"Suruh dia segera keruanganku nanti." kata Andreas singkat. Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu dia segera berjalan memasuki ruangannya.
Elisabet mengelus dadanya lembut, dia meraup rakus pasokan udara disekitarnya. Mengisi paru-parunya yang sesak karena pesona pria tampan tapi berbahaya itu.
"Apa kau melihat angel?" tanya Elisabeth pada salah seorang wanita di sampingnya.
"Sepertinya dia belum datang."
"Si Western itu, apa dia sudah bosan hidup?" Elisabeth bergumam sendiri, dia mengambil ponselnya lalu mendial nomor sahabatnya itu.
"Halo Avery." ujar seorang gadis di dibalik panggilan itu.
"Aku sarankan kau segera datang sebelum surat pemecatan berada di atas mejamu hari ini juga." peringat Elisabeth.
"Sebentar lagi, aku masih mengantuk."
"Berhenti bicara omong kosong, Western. Mr.Andreas sudah datang dan dia mencarimu." jelas Elisabeth.
"Huh?, siap_
"Dia CEO baru Handerson dan dia baru datang dari Indonesia menggantikan Mr. Robert." jelas Elisabeth langsung memotong cepat pertanyaan angel.
"Apa!" pekik Angel. "kenapa kau tidak bilang dari tadi bodoh."
Elisabeth memutar kedua bola matanya. "Cepatlah kemari, jika kau ingin selamat." balas Elisabet lalu memutuskan panggilan itu.
Sementara di dalam sebuah kamar, Angel berlari terbirit-birit memasuki walk in closetnya. Tak berselang lama, Angel keluar dengan setelan kantornya yang sudah menempel di tubuhnya. Dia berlari menapaki anak tangga rumahnya sambil menenteng heelsnya dengan sebelah tangannya.
"Mom, give me morning kiss." Ujar Angel mendekati Anastasia lalu menempelkan bibirnya di kedua pipi mulus wanita itu.
"Sarapan dulu Angel." kata Anastasya memperingati.
"Aku tidak sempat mom, aku akan sarapan di kantor saja nanti"
"Baiklah, hati-hati di jalan." balas Anastasya mengalah.
Angel tersenyum manis. "Love you honey." ujar Angel menirukan kalimat Thom yang membuat Anastasya memerah.
"Pergilah." usir Anastasya halus.
"Aku tahu mom merindukan daddy" goda Angel.
Wajah Anastasya berubah sendu mengingat suaminya sudah tiga hari tanpa kabar. Aku akan membunuhnya jika dia sampai sakit. batin Anastasya.
"Pergilah sayang, kau sudah hampir terlambat." kata Anastasya mengalihkan pembicaraan mereka.
Angel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban terakhir dari percakapan mereka, dia berlari ke dalam mobil sportnya. Tanpa menunggu lama lagi mobil itu berjalan meninggalkan mansion besar itu.
Andreas duduk di kursi kebesarannya sambil mengetuk -ngetuk meja menggunakan salah satu jarinya. Pandangan kosong, tapi tidak dengan pikirannya. Sudah 4 hari dia di kota ini tapi tak kunjung juga menemukan gadisnya. Gadis itu seperti ditelan bumi, selama 6 tahun lamanya dia mencari gadis itu tak juga bisa ditemukan. Gadis itu seperti berada di planet yang berbeda dengan dirinya. Dia benar-benar bodoh sudah percaya dengan si brengsek itu.
"*Dimana Ella Jeremi?" tanya Andreas saat dia sudah tiba di pesta itu. Dia tidak memperdulikan setiap mata yang memandang kagum akan dirinya, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah gadisnya.
"T-tadi dia disana." balas Jeremi menunjuk salah satu meja yang menjadi tempat duduk gadis itu. William mengarahkan pandanganya mengikuti gerakan jari Jeremi.
"Dasar bodoh. Disana tidak ada siapa-siapa Jeremi!" tukas Willian tajam.
Jeremi menunduk takut, William akan berubah seperti monster jika sudah mengamuk. "D-dia tadi disana."
William menyugar rambutnya kebelakang, wajahnya berubah panik, dia membawa kedua manik birunya mengitari seluruh aula megah itu. Pandangannya berhenti pada sepasang pengantin yang tengah berbahagia. Dia menggerakkan kaki panjangnya mendekati pengantin itu.
"Wow, Andreas William Handerson?!" tukas Jhonson dengan senyum miringnya.
"Dimana gadis ini?" tanya William datar menunjukkan photo seorang gadis di ponselnya.
Jhonson melirik sekilas ponsel itu lalu mengembalikan pandangannya pada manik biru indah itu. "Aku tidak mengenalnya."
William mengangkat alisnya tinggi. "Dia salah satu tamumu, perhatikan baik -baik photo ini!" Perintah William semakin mendekatkan ponsel itu dihadapan Jhonson.
Tawa Jhonson membuncah, dia mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga William. "Dia wanita yang sangat cantik dan seksi, aku tidak akan melepasnya jika sampai dia berada disini". jawab Jhonson sambil menjilat kedua bibirnya yang membuat darah William mendidih.
BUGH !
Satu pukulan mendarat di rahang Jhonson, William meninju keras rahang pria itu hingga membuatnya jatuh tersungkur. Jhonson memegangi rahangnya yang terasa sakit. Para tamu berteriak ketakutan, aula itu berubah mencekam.
"**** you handerson!" teriak Jhonson.
William berjongkok lalu mencengkram leher pria itu "Jangan lupa Anthonio Jhonson, kau hanya seekor tikus menjijikkan. Jika bukan karena ayahku, kau akan tetap menjadi seekor binatang yang menjijikkan". desis William tajam semakin memperkuat cengkraman tangannya di leher pria itu.
Jhonson mengangkat sebelah tangannya ke atas kepala tanda menyerah. William melepas cengkraman itu dari leher Jhonson. "Jangan berani melihat bahkan menyentuh gadisku dengan tubuh kotormu. Jika kau berani menyentuhnya, pastikan kau punya nyawa lebih dari satu." ancam William menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "tanamkan di otak kecilmu, aku adalah Andreas William Handerson." sambungnya lagi sembari mengetukkan telunjuknya di pelipis Jhonson.
William berjalan menjauh dari kedua pengantin itu, membiarkan pria itu meraup udara sebanyak mungkin. Dia mengepalkan tangannya, rahang tegasnya menegang menahan amarah, matanya melotot tajam membuat semua orang merasa ketakutan. Dia berjalan melewati manusia -manusia yang tidak berguna itu dengan tatapan dingin dan membunuh. Dia ingin segera sampai di mobil mewahnya dan menyelusuri seluruh negeri ini untuk menemukan gadisnya.
Tiba-tiba salah satu pengawal William menghampirinya*.
"**Tuan muda, telepon dari Mr.Handerson" ucap pria itu.
"Pulanglah, kau sudah terlalu lama disana." ujar pria itu datar.
William mengukir senyum mengerikan di wajahnya. "Aku membencimu jika kau lupa satu hal Mr.Handerson"
"Dia disini." balas Robert.
"Jangan main-main denganku!" peringat William keras hingga helaan nafas frustasi terdengar dari balik penggilan itu.
"Angel disini Andreas, gadis mu berada di London."
deg!
"A-apa?" lirih William.
Tanpa menghiraukan suara dari balik panggilan itu lagi, William melompat kedalam mobil yang sudah dibuka pengawalnya sedari tadi.
"Erik! siapkan jet pribadiku sekarang juga, aku akan berangkat ke London malam ini." perintah William di balik kursi kemudi.
Lamunan William buyar saat didengarnya sebuah ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" perintah William.
Pintu ruangan itu terbuka menampakkan seorang pria berkulit sawo matang, wajahnya terlukis senyum bahagia. Dia berjalan mendekati meja CEO itu.
"Aku tidak tahu kau akan datang, William." ujar pria itu sembari mendudukkan dirinya.
"Demi Ella Jeremi, aku akan melakukan apapun"
"Kau sangat mencintainya rupanya." balas Jeremi datar
"Lebih dari sangat."
Jeremi mengelus pelan rahangnya. "Bagaimana kalau dia tidak memaafkanmu."
William menautkan kedua tangganya di depan dada, dia bersandar di punggung kursi kebesarannya. "Aku tidak mengenal kata tidak Jeremi."
Jeremi mendengus pelan. "Kau tidak berubah Liam." balas Jeremi, William terkekeh pelan sembari mengangkat kedua bahunya.
Jeremi tertawa melihat tingkah konyol sahabatnya ini, hingga suara dobrakan pintu keras mengejutkan mereka berdua.
BRAK!
Seorang gadis melangkah tergesa-gesa memasuki ruangan itu. "m-maafkan saya Mr.Andreas." ucap gadis itu dengan nafas terengah-engah sambil menundukkan setengah punggungnya.
deg!
Suara itu? Ella? itu suara Ella? batin William.
"a-aku m-minta ma_
Deg!
Kedua mata Angel membulat seketika, bibirnya bergetar, dia menelan salivanya kuat. Keringat mulai bercucuran di seluruh dahinya.
"L-liam" bisiknya pelan.
"Angel." panggil kedua pria itu tak kalah pelan. Mereka langsung berdiri menatap tak percaya bahwa gadis dihadapannya ini benar-benar gadis yang selama ini mereka cari.
"E-lla...... sayang?!" panggil William menghampiri Angel dengan mata berkaca-kaca. Angel tergugu di tempatnya, bibirnya kelu, badannya terasa kaku, dia melangkah mundur saat sepasang kaki panjang itu mulai medekat. William semakin mempercepat langkahnya, dan gotcha! dia berhasil menangkap tubuh mungil itu dan memeluknya erat.
"Aku menemukanmu, aku menemukanmu Ella, aku menemukanmu sayang." bisik William dengan suara bergetar. Dia menempelkan wajahnya di puncak kepala Angel. Dia menciumi puncak kepala gadis itu dengan lembut, Dia semakin mendekap erat tubuh Angel yang bergetar hebat.
"Siapa nama belakangmu?" tanya gadis berkacamata itu
"Kau akan terkejut saat mengetahui nama belakangku nanti." balas pria itu
"Selamatkan anakku Angel, hanya kau yang bisa menyelamatkannya"
"Dia punya warna mata yang sama sepertiku"
"Jangan khawatir uncle, tidak ada yang bisa mengalahkan takdir"
"Aku percaya jika takdirku bertemu dengannya maka kami akan bertemu"
Angel mengepalkan kedua tangannya mengingat potongan kalimat itu. Jadi, William anak dari tuan Robert Handerson, Andreas William Handerson. Apa ini, aku menyerang diriku sendiri dengan perkataanku. batin Angel.
Angel menggigit bibir bawahnya kuat. Kepalanya semakin sakit, nafasnya terasa berat. Matanya memanas menahan air mata yang ingin segera tumpah. aku tidak sanggup lagi. Lirih batin angel
Angel menangis keras membasahi jazz mahal itu, dia menumpahkan seluruh kesedihan yang sudah bertahun-tahun dipendamnya.
William menahan air matanya mendengar tangisan itu, dia mengelus sayang surai hitam gadis itu. "tenang Ella, aku disini." bisiknya lembut.
"Dasar ******!"
"Mati kau gadis sialan!"
"Dasar perempuan murahan!"
"Pergi kau!"
"Liam jangan pergi, aku takut. Liam, ku mohon jangan tinggalkan aku."
Angel menutup matanya mengingat kembali masa kelam itu. Dia hanya menangis di dada pria itu tanpa membalas pelukannya sama sekali.
Kenapa kau harus kembali Liam, aku sudah melupakan cinta dan luka yang dulu kau tanamkan padaku. Aku sudah tidak punya rasa selain benci untukmu.