
"I wrote your name on the pages of my heart, I reflected your face on the mirrors of my soul and I displayed you in the galleries of my eyes. I love You.
_ Love Message From Heart.
Disinilah Monica sekarang, terduduk diatas kursi dengan tangan dan kaki yang terikat, tidak hanya itu matanya juga ditutup, membuatnya tidak bisa melihat apapun. Dia tidak tahu apa kesalahannya sehingga berakhir seperti ini.
"T-tolong lepaskan saya, a-apa yang kau inginkan dariku." isak Monica, berusaha melepaskan ikatan tubuhnya. Walaupun kedua matanya ditutup, dia bisa merasakan bahwa dia tidak seorang diri di dalam ruangan itu.
Monica tidak pernah membayangkan bahwa dia akan mengalami hal mengerikan seperti ini dalam hidupnya. Dia benar-benar bingung untuk apa dia diculik.
"Aku tidak suka air mata, diam jika kau masih ingin hidup." ujar Erik dingin, mengancam gadis dihadapannya. Tubuh Monic berhenti bergerak, badannya mulai bergetar mendengar nada dingin menusuk itu. Dia tidak ingin mati konyol sebelum berhasil merebut William dari Angel, dia tidak rela Angel hidup bahagia, benar-benar tidak sudi.
"K-kenapa k-kau menculik ku." ujar Monic bergetar ketakutan, dia bisa merasakan bahwa pria itu menatap tajam dirinya.
"Kau akan segera tahu jawabannya." balas Erik dingin.
Bunyi kenop diputar membuyarkan pikiran Monic yang sedari tadi bekerja menebak jawaban pria yang menculiknya. Langkah kaki menggema memenuhi indera pendengaran Monic, seketika aura diruangan itu begitu mencekam. Bulu roma Monic bangun dari tidurnya, keringat jagung mulai bermunculan di area pelipisnya. Sialan situasi apa ini!
"Tuan muda, anda sudah datang?" ujar Erik mengatur nada bicaranya setenang mungkin. Sebenarnya jantungnya tak kalah hebat berdegup kencang saat bertatapan langsung dengan manik biru tajam itu.
"Apa matamu mulai berhenti berfungsi?!" tanya pria itu tajam, pria itu adalah William.
Tuan muda? jadi, bukan pria ini yang menculik ku? Brengsek, ada apa ini sebenarnya.
"Maafkan kebodohan saya tuan." balas Erik, mengakui kesalahannya.
William hanya menatap dingin tanpa berujar apapun, matanya terfokus pada sebuah objek dihadapannya. Dengan langkah besar, dia mendekati hasil buruan tangan kanannya. Monic berubah panik saat mendengar langkah kaki mendekatinya, dia mulai meronta di kursinya berusaha melepaskan ikatan yang membelit tubuhnya.
William tersenyum miring, melihat usaha gadis bodoh di hadapannya. "Aku tidak akan membunuhmu." William berujar enteng, mendaratkan bokongnya di kursi kosong tepat dihadapan gadis itu. Dia melepas paksa dasi yang sedari tadi mengikat lehernya, lalu membuka jas yang melekat ditubuh atletisnya, dengan sigap Erik segera mengambil jas dan dasi itu.
"A-apa yang k-kau inginkan, siapa kau?!" tanya Monic dengan suara bergetar, saat ini seluruh sarafnya membeku, dia sangat ketakutan meski hanya mendengar suara dari sosok pria dihadapannya.
Suara tawa mengerikan, membuat punggung Monica semakin menegang, keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"Ck, aku hanya ingin bermain sebentar." ujar William tenang namun menakutkan.
"L-lepaskan aku, ku mohon." pinta Monica memelas, dia sudah perduli akan harga dirinya, apapun akan dilakukannya demi melepaskan diri dari cengkraman pria pshycopath itu.
"Kau tidak boleh lepas begitu saja." balas William dingin.
Wajah Monic berubah merah padam mendengar sepenggal kalimat dari bibir pria itu, dia sudah membuang jauh-jauh egonya, dan memohon sesuatu yang tidak pernah terpikir olehnya. kebebasan.
"APA YANG KAU INGINKAN *******!" bentak Monic memaki, meluapkan emosi yang sudah ditahan sejak tadi.
PLAK....
Rasa sakit, perih, tiba-tiba terasa di sebelah pipinya. Monic meringis kesakitan, mendapat tamparan keras di wajahnya.
"Jangan berani berteriak pada tuan muda." peringat Erik tajam, emosinya meledak saat mendengar Monic berteriak di wajah tuannya. Tanpa menunggu perintah tuannya, Erik bergerak maju dan melayangkan tamparan keras di wajah gadis itu.
"Jangan merusak kesenanganku Erik." ucap William kesal, dia menggerakkan tangannya mengisyaratkan Erik untuk mundur.
Erik menyadari sikap lancangnya, dia melangkah mundur. Dia tidak boleh terlalu gegabah, atau nyawanya akan melayang.
"Apa kau pernah bertemu dengan seorang psikopath? Atau..... pernah menonton salah satu film psikopath? tanya William, mengangkat sebelah alisnya, Bibirnya tersenyum meremehkan melihat gadis siluman itu tak berdaya.
deg!
Apa dia psikopath?
"Sepertinya belum. Baiklah, aku akan sedikit bercerita untukmu." sambung William ringan, menebak raut wajah Monica. Jiwa iblisnya berteriak puas, melihat wajah gadis itu pucat seperti mayat.
"Aku sangat menyukai tiga tokoh psikopath di dunia ini, yang pertama Ted Bundy, kedua Jack The Ripper dan terakhir adalah Lionardo Cianculi." ujar William memulai ceritanya, menatap lekat penutup mata Monic, seperti sedang menatap matanya.
Glekk!
Monic menelan ludahnya kasar, siapa yang tidak tahu ketiga tokoh psikopath tersebut. Psikopath paling kejam di dunia yang tidak berpikir dua kali menghabisi korbannya, demi memuaskan hasrat membunuhnya.
"A-apa maksudmu?" tanya Monica, setelah berhasil membuka mulutnya.
"Apa kau pernah mendengar kisah dari ketiga pshycopath itu?" tanya William, tanpa berniat menjawab pertanyaan gadis itu.
Monic membisu, nafasnya mulai memburu. Aku tidak ingin mati di tangan pria sakit jiwa ini.
"Maksudku adalah dari ketiga psikopath itu Jack The Ripper adalah favoriteku." William menambahkan, mengamati raut wajah menegang yang terlihat jelas di wajah gadis itu.
William tersenyum miring, mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga Monica. "Kau ingin tahu alasannya?" bisik William pelan.
Monic terkesiap merasakan deru nafas hangat membelai telinganya, dia segera membawa wajahnya, menoleh menjauh dari bisikan mengerikan itu.
"L-lepaskan aku, aku tidak pernah berbuat kesalahan padamu. Aku juga tidak mengenalmu." ujar Monica beruntun, air mata sudah membasahi pipinya.
William tertawa. Mata birunya menggelap, sepersekian detik dia mencengkram kuat rahang Monica.
"Kau. menyakiti. milikku." desis William tajam, matanya berkilat merah seperti monster.
Monica menangis kencang, rahangnya sangat sakit. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud." Monica berucap disela-sela tangisnya, dia tidak tahu apa maksud perkataan pria dihadapannya. Miliknya? dia saja tidak mengenali pria sakit jiwa itu.
William menatap datar wajah takut gadis itu, lalu melepaskan cengkeramannya kasar. Wajah Monic terlempar kesamping.
Dia bersedekap di kursi kayunya. "Aku sangat menyukai Jack The Ripper karena dia memiliki seni yang sangat hebat saat membunuh. Apa kau tahu bagaimana dia melakukannya? William bertanya, yang hanya dijawab kebisuan oleh Monic.
William melanjutkan ceritanya saat melihat Monic membisu. "Jack akan berhadapan langsung dengan korbannya, kemudian menyergapnya, lalu dia akan menggunakan tangannya untuk mencekik korbannya hingga tewas. ujar William menempelkan tangannya di leher gadis itu, Monic terkesiap saat merasakan tangan besar itu di lehernya.
"Eitss tunggu dulu, dia tidak akan membiarkan korbannya tewas begitu saja, Jack akan menggorok leher korbannya hingga darah segar mengalir dari hasil lukisan leher korbannya. Dia akan menyaksikan korban itu kehabisan nafas, baginya suatu keuntungan, melihat nafas seseorang berhenti tepat dihadapannya. Setelah itu, Jack akan memotong-motong bagian tubuh korbannya, membentuknya menjadi potongan-potongan daging kecil, kemudian dia mengambil ginjalnya, lalu memakannya." Jelas William lambat, pelan dan senyum mengerikan yang terpatri di wajahnya. Tangannya mulai bergerak membelai seluruh area leher Monica, matanya sudah dipenuhi nafsu ingin membunuh saat ini juga.
deg!
Monic membeku, jantungnya berdetak cepat, pikirannya sudah melayang untuk menduga-duga apa yang akan dilakukan pria sakit jiwa ini terhadapnya. Air matanya semakin menetes, dia dapat merasakan kursi yang didudukinya juga ikut bergetar.
"A-apa yang kau inginkan?!" tanya Monic berani.
Hening.
"Bagaimana....... kalau kita bermain seperti Jack dan korbannya."
deg!
Apa dia akan memotong-motong tubuhku seperti yang dilakukan Jack?
"APA KAU GILA! LEPASKAN AKU! teriak Monic frustasi, dia semakin memberontak di tempat duduknya melepaskan tali yang mengikat tubuhnya.
"DIAM! AKU BISA MEMBUNUHMU DETIK INI JUGA." balas William tak kalah nyaring, menekan tangannya di leher gadis itu.
Monic berhenti berontak, dia menangis histeris. Wajahnya semakin panik saat mendengar kursi dihadapannya bergerak.
"Ahhkk!!!" pekik Monica tiba-tiba saat merasakan sakit di kepalanya, wajahnya menengadah ke atas. William menjambak kuat rambut Monic seperti ingin lepas dari kulit kepalanya.
"S-sakit, L-lepaskan." ringis Monica, kepalanya terasa pening.
William menatap marah wajah kesakitan itu. Seperti itulah dulu Ellaku memohon ampun padamu, tapi kau tidak memiliki belas kasihan sedikit pun padanya.
Monica terkesiap saat sesuatu yang dingin dan tajam menempel di wajahnya, bibirnya bergetar ketakutan, jantungnya berdetak tak karuan.
William mengeluarkan belati perak dari kantong celananya, lalu menggerakkan belatinya menyusuri seluruh wajah yang sudah bersimbah air mata itu, tanpa menunggu lama lagi, William menggoreskan mata belatinya ke kulit wajah Monica.
"Aaaaa........" jerit Monic kesakitan, dia merasakan darah segar merembes dari wajah membasahi bajunya.
"Sakit, ******?!" ujar William semakin menarik kuat surai hitamnya. Dia tidak peduli melihat luka dan air mata di wajah Monica.
Erik hanya menatap datar pemandangan di hadapannya, baginya itu sudah hal biasa.
"Ku mohon, jangan bunuh aku." pinta Monica memohon belas kasihan.
"Ck, kita hanya bermain, dan aku belum puas mendengar jeritan mu". komentar William. "Kau akan lebih menjerit setelah ini." bisik William di telinganya. Monica menggeleng ketakutan, badannya meronta-ronta.
William menghujam belati itu di punggung kirinya, kemudian mencabutnya, lalu dia menghujam belati itu di bagian kanan perutnya. Suara jeritan memenuhi ruangan itu. William menghentikan aktifitas mengerikan itu, dia melepas jambakannya.
"Permainan berakhir, ******." bisik William lalu menghujam belatinya untuk yang terakhir kali tepat di punggung sebelah kanan gadis itu, suara jeritan kesakitan kembali memenuhi ruangan itu, kini seluruh tubuhnya sudah bersimbah darah. Monica pingsan di kursi dengan keadaan mengerikan.
William tersenyum bangga melihat hasil karyanya, dia melepas kain yang menutupi mata gadis itu. "Ingatlah suaraku, aku akan menjadi mimpi buruk mu." bisik William, yang tidak didengar lagi oleh Monica.
William menegakkan punggungnya, lalu menatap dingin tangan kanannya yang berdiri seperti patung tanpa ekspresi.
"Bawa dia ke rumah sakit, aku tidak ingin dia mati terlalu cepat." perintah William.
"Baik tuan muda."
"Satu lagi, lukis kening mulusnya, aku belum sempat melukisnya karena dia langsung pingsan. Ukir tepat seperti luka di dahi Ella" ujar William tajam, menekan kalimat terakhir yang keluar dari bibirnya.
"Baik tuan muda." jawab Erik, menyanggupi perintah William.
William keluar dari ruangan mengerikan itu, dia ingin segera bertemu gadisnya. Dia sudah sangat merindukan gadis kulkasnya.
Angel memandang ke arah luar dari balik dinding kaca kamarnya. Senyum manis terbit di wajahnya tatkala pemandangan indah itu memanjakan kedua matanya yang mengabur. Walaupun penglihatan kurang jelas, tapi manik hitamnya bisa menangkap beberapa objek besar. Lipatan bibir itu terbuka lebar melihat anak-anak berlarian sambil tertawa bahagia. Aku juga pernah sebahagia itu.
"Apa pemandangan di luar sana lebih indah dariku? tanya William mengganggu aktifitasnya. Angel terkesiap, dia lalu mengalihkan pandangan pada pria tampan yang sedang berdiri sembari bersedekap. Dia tersenyum manis ke arah pria tampan itu.
deg!
William terpesona sesaat Angel menoleh padanya, dia seakan lupa bernafas. Ellaku sangat cantik.
Dia menepuk pelan pipinya, menyadarkan bahwa dia sedang tidak bermimpi. Gadis itu berdiri tak jauh darinya, senyum manisnya bertengger indah di wajah cantiknya, rambut gadis itu diikat rapi menampilkan leher jenjangnya, tapi sayang William harus menelan kekecewaan, hari ini gadisnya memakai turtle neck menutupi leher seksinya.
"Liam, kau sudah pulang?" tanya Angel lembut, mempertahankan senyum manisnya.
Tanpa menjawab William melangkahkan kakinya cepat ke arah Angel, dia langsung mendekap erat tubuh gadis dihadapannya. Angel tersentak kaget.
"Aku merindukanmu Ella." bisik William, menyuarakan rindunya dalam dekapan gadis itu.
Angel mengerutkan kening bingung, tiba-tiba hidungnya menangkap sesuatu yang janggal dari balik tubuh William.
"Liam....... kenapa aku mencium bau darah dari tubuhmu?"
deg!deg!deg!
Sial, aku lupa membersihkan diri terlebih dahulu.