
" We may love the wrong person, cry for the wrong person. But one thing is sure, mistakes helps us to find the right person".
Sebuah ballroom mewah bak istana disulap menjadi aula pesta yang cantik nan megah. Para tamu mulai berdatangan memenuhi aula itu. Benar-benar menakjubkan, tak hanya megah juga elegant tetapi juga memiliki nuansa negeri dongeng. Setiap tamu berpakaian seperti puteri dan pangeran, aula mewah itu benar-benar seperti sebuah tempat yang disulap menjadi istana kerajaan.
Para tamu terlihat sedang berbincang - bincang, beberapa dari mereka ada yang sedang duduk di meja bar menikmati racikan alkohol sembari mengobrol. Alunan musik mengalun lembut dan indah semakin menyempurnakan pesta itu. Terlihat sepasang pengantin baru tersenyum bahagia sembari menyalami para tamu.
Suasana itu berubah hening sekejap ketika melihat pintu terbuka lebar.
Disana tampak seorang putri berjalan dengan anggun, dibelakangnya seorang gadis berambut pirang yang tak kalah cantik berjalan mengikuti langkah kaki tuan puteri. Mereka adalah Angelina Gabriella Western dan Elisabeth Avery. Jika Elisabeth terlihat menawan dengan gaun hitam yang menjuntai indah maka lain halnya dengan Angel yang tampak berbeda dari biasanya malam ini. Dia terlihat seperti puteri dari khayangan.
Gaun merah melekat sempurna di tubuh mungilnya, lekuk tubuh yang selama ini bersembunyi mulai berteriak memamerkan keindahannya. Gaun merah itu menyisahkan belahan panjang hingga memperlihatkan betis juga paha mulusnya. Punggungnya terbuka bebas seakan memberi akses para Adam untuk menyentuh kulit halus tanpa noda itu. Bibir seksinya dipoles gincu merah dengan make up tipis yang membuatnya benar-benar seperti puteri dari negeri dongeng. Rambut hitam dan panjangnya disanggul rapi keatas, membuat leher jenjang itu terlihat menggiurkan. Benar-benar sempurna.
Heels merah yang menghiasi kaki indahnya menapaki marmer putih itu dengan anggun.
Angel terus berjalan sambil mengukir senyum indah di bibir merahnya, para tamu seketika membelah kerumunan mempersilahkan sang ratu melangkah masuk. Mereka menganga lebar menatap tak percaya bahwa Cinderella benar-benar nyata. Beberapa dari mereka meneguk ludah melihat kecantikan Dewi itu. Berbeda halnya dengan para Hawa yang menatap kesal mereka berdua, seakan kecantikan mereka tidak berguna jika dihadapkan dengan kedua wanita itu.
Angel terus melangkah tanpa memperdulikan bisik - bisik yang menggangu telinganya begitupun halnya dengan Elisabeth.
"Good evening, Mr.Jhonson". Sapa angel dengan senyum indahnya setelah berhasil melewati kerumunan manusia itu.
"Good evening, Ms.Western. I am happy to see you to night." balas Jhonson.
"Me too, congratulation on your marriage, Sir". Ucap Angel seraya menjulurkan tangannya kepada kedua mempelai itu.
"Thank you so much" Jawab Jhonson membalas jabatan tangan angel.
"Sorry sir, I need to tell you something. I didn't come behalft on Handerson company. I come behalft on Gabriel Company". Jelas angel yang membuat kening mulus pria itu berlipat kecil.
"Didn't Handerson company represent his secretary to come to my party?" Tanya Jhonson.
" I am sorry Mr.Jhonson, I am Elisabeth Avery. I come behalft on Handerson Company". Potong Elisabeth cepat seraya menjulurkan tanggannya untuk mengalami sepasang pengantin itu.
"I see. I am sorry for my impoliteness, ladys". Ujar Jhonson membungkukkan setengah badannya.
"It's fine, Mr.Jhonson". Jawab angel membungkukkan badannya.
Jhonson menoleh sebentar pada isterinya. "My wife, please take Ms.Western and Ms.Elisabeth to the place of sitting. Each table has been named among them according to their names". Jelas Jhonson kepada isterinya. Pengantin wanita itu mengganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Follow me miss, over here". Jelasnya mempersilahkan kedua wanita itu untuk mengikutinya.
Selepas kepergian mereka, seorang pengawal Jhonson membisikkan sesuatu padanya. Dia Memberikan sebuah benda pipih berwarna gold, Jhonson menganggukkan kepalanya dan menerima benda pipih itu.
"Hallo, Mr.Western?" Tanya Jhonson ketika benda itu sudah menempel di salah satu telinganya.
"Congratulation on your wedding Mr.Jhonson" Balas Thom**.
"Thank you Mr.Western. What can I do for you Mr.Western? I know you contacted me just not for stale, right? Tanya Jhonson telak.
Suara gelak tawa terdengar dari seberang sana. "You know me so well Mr.Jhonson" balas Thom disela tawanya.
"Tell me". Tukas Jhonson menyeringai.
Thom terdiam sejenak lalu berucap. "Don't let Andreas William Handerson meet with my Angel" Desis Thom tajam.
Jhonson kembali menyeringai. "I did it, Mr.Western". Balasnya mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
Dia menyapu pandangannya keseluruh aula megah itu, hingga berhenti tepat pada kedua wanita cantik itu. Jhonson mengangkat sebelah sudut bibirnya. Sekali tepuk dua nyamuk mati. Batin Jhonson.
"Please sit here, Ms.Western. This table is for Gabriel Companies" Ujar wanita itu mempersilahkan angel untuk duduk. "and for Ms.Avery, This table is for Handerson Companies". Sambungnya lagi mempersilahkan Elisabeth duduk tepat di sebelah meja Angel. Mereka berdua duduk di meja terpisah oleh jarak yang tidak terlalu jauh.
"Thank you Mrs.Jhonson". Balas mereka berdua bersamaan.
"You are welcome, enjoy your party". Kata wanita itu tersenyum, meninggalkan mereka berdua dalam kebingungan. Angel buru-buru pindah duduk di sebelah Elisabeth.
"Western apa yang kau lakukan!" Seru Elisabeth keras yang langsung ditutup oleh telapak tangan angel.
"Pelankan suaramu, Avery". Decak angel kesal.
"Apa yang kau lakukan disini, ini tempat duduk Handerson".
"Aku sekertaris Handerson jika kau lupa, Avery".
Elisabeth mendecakkan lidahnya. "Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kita dipisah begini?"
"Aku juga tidak tahu Avery. Sebelum berangkat daddy menyuruhku datang atas nama Gabriel Corp" Terang angel sembari menggaruk pelan kepalanya.
Elisabet mengerutkan keningnya. "Aku juga, sebelum berangkat daddymu menyuruhku datang atas nama Handerson Corp".
Kedua wanita itu terdiam dalam kebingungan. Sebenarnya apa yang terjadi kenapa aku merasa ini sudah seperti direncanakan. Batin Angel.
Lamunan mereka pecah saat seorang pelayan menghampiri meja mereka.
"Wine, please?." Tawar pria itu.
"Soft drink, please." Ujar Elisabeth tiba-tiba.
Pelayan itu mengukir senyum lalu menaruh minuman itu tepat di hadapan mereka. Dia membungkukan badannya hormat lalu pergi tanpa melepas tatapannya dari Angel.
"Sedari tadi pelayan itu melihatmu tanpa mengedipkan mata angel" kata Elisabeth.
Angel mendengus pelan sambil menyesap minumannya. "Kau tahu apa sebutan pria seperti itu di negara ini Avery?" Tanya Angel.
Elisabeth menggelengkan kepalanya.
"Mata keranjang!" Balas Angel datar.
"Apa itu?" Tanya Elisabeth dengan raut wajah bingung.
"Sejenis makanan ringan". Jawab Angel enteng yang membuat Elisabeth manggut-manggut. Angel menahan senyum melihat kebingungan itu masih terpatri di wajah bule Elisabeth. Avery yang malang, benar-benar bodoh. Batin Angel terkikik geli.
"Astaga Avery!" Seru Angel tiba-tiba yang hampir membuat Elisabeth menyeburkan minuman yang berada dalam mulutnya.
"Brengsek! Kau membuatku terlihat menyedihkan jika sampai aku mengeluarkan sumpah serapahku saat ini" Sindir Elisabeth saat minuman itu berhasil melewati tenggorokannya.
"Bagaimana ini, aku tidak tahu rupa anak dari Mr.Handerson" Kata Angel panik.
"aku juga tidak tahu, jangankan wajahnya namanya saja aku tidak tahu".
"Ah biarkan saja, aku tidak ingin ambil pusing. Jika sudah takdirku maka aku akan bertemu dengannya" Jawab Angel dengan senyum bodohnya, membuat Elisabeth membatin sendiri. Kalau kau tahu, kenapa harus bertanya, dasar aneh.
Larut dalam kenikmatan pesta tanpa mereka sadari seorang pria memperhatikan interaksi mereka.Tidak, tepatnya dia memperhatikan Angel dan segala tingkah lakunya. Mulutnya terbuka lebar, kedua matanya membola, bibirnya bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Dia segera merogoh sakunya mengambil benda yang sedari tadi terdiam di tempat gelap dan kecil itu.
Satu panggilan tidak berhasil, kedua kalinya juga tak berhasil. Dengan sisa-sisa kesabaran dia kembali mendial nomor itu. Angkat bodoh, kau harus lihat apa yang aku lihat sekarang ini. Batin pria itu.
Hingga nada nyaring itu bersambut dengan bentakan keras memekakan telinga.
"MATI KAU JEREMI! AKU BILANG AKU TIDAK MAU KE PESTA ITU, SIALAN! bentak suara itu. Jeremi menjauhkan telepon genggamnya dari telinganya yang sudah ingin meledak. Kemudian ditempelkan kembali saat deru nafas tak beraturan terdengar dari balik panggilan itu.
"L-liam, a-aku_
"Tutup mulutmu! Kau menggangu tidurku brengsek" Potong pria itu.
"Liam, ku mohon jangan tutup dulu" Kata Jeremi dengan nada menyedihkan.
Terdengar helaan nafas pelan di balik ponsel itu. "Aku harap ini penting, katakan." Ujar William memerintah.
"A-aku melihat m-malaikat disini".
Hening sejenak, tidak ada suara yang terdengar di balik panggilan itu. Tiba-tiba tawa membuncah kembali memekakan telinga Jeremi. "Ck, tidurlah Jer. Lanjutkan mimpi indah mu". Kata William setelah menyelesaikan tawanya. Belum sempat William menyentuh tanda end, sebuah kalimat kembali terlontar dari bibir Jeremi.
"Aku melihat Ella, William".
deg! deg!
Keheningan kembali menyapa dari balik panggilan itu.
"A-apa kau bilang?" Tanya William dengan nada terdengar tak percaya.
"Ella, ada disini. Malaikat ada disini William". Ucap Jeremi menekan setiap kata, meyakinkan bahwa dia tidak main-main. "Aku akan memberi bukti jika kau tidak percaya". Tanpa menunggu balasan dari William dia mengakhiri panggilan itu lalu membuka aplikasi kamera. Dia berjalan mendekati meja kosong yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat wanita itu berada. Dia membidik kedua wanita itu dengan diam -diam lalu mengirimnya pada William.
William tersadar dari keterkejutannya saat dia mendengar ponselnya berdering menandakan pesan masuk. Tanpa pikir panjang dia langsung membuka pesan itu. Matanya membulat sempurna, disana di photo itu gadisnya sedang tertawa bahagia. William memperbesar layar itu seakan meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi. Dan ternyata ini bukanlah mimpi, gadis itu benar-benar Angel. Gadisnya kembali, dia telah kembali. William mendekap erat ponsel itu, menghujani ciuman disana. Kedua matanya menangis bahagia. Aku menemukanmu, aku menemukanmu Ella.
William keluar dari kamarnya masih dengan mendekap ponsel itu erat. "Pak Budi!" Panggilnya keras.
"I-iya Tuan?" Jawab pria tua itu takut. Dia tidak pernah mendengar William berteriak keras seperti tadi. Dia takut telah melakukan kesalahan.
"Siapkan mobil, aku akan menjemput gadisku!" Perintahnya dengan wajah yang berbinar bahagia. Dia berlari kembali ke dalam kamar, meninggalkan pak Budi dengan berbagai pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
Apa sebentar lagi akan kiamat? kenapa Tuan William tersenyum? Diam saja sudah aneh dan menakutkan, sekarang dia malah tersenyum. Dan siapa lagi gadisnya? Apa dia sudah gila?. Batin pak Budi.
William masih mempertahankan senyum bahagianya. Dia tidak menyangka bahwa Tuhan akan mempertemukan mereka kembali. Dia mulai mengacak- acak isi lemari, memilih pakaian yang tepat untuknya, sesekali bibirnya bersiul sambil mematut dirinya dihadapan kaca. Dia menyisir rambut halusnya menggunakan jemarinya. Kau benar-benar tampan William. Gumamnya sambil tersenyum kecil.
"*Kekasihku tampan sekali, jangan berani melukai tubuhmu karena semua itu milikku"
"Liam, pakai ini kau akan semakin tampan"
"Liam, saat seribu alasan membuatku membencimu, aku punya sejuta alasan untuk kembali mencintaimu*"
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.
Senyum merekah kembali menghiasai wajah tampan itu, sesekali dia tertawa seperti orang bodoh mengingat kenangan mereka dulu. Dia menatap dirinya kembali di hadapan kaca besar itu, mengelus rahangnya yang sudah bersih dari rumput liar mengerikan. Kini wajahnya kembali tampan mempesona. Dia benar -benar gila jika sudah menyangkut gadisnya. Angel mampu membuatnya berubah menjadi manusia juga jadi monster mengerikan. Semua karena gadis mata empat itu.
Kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi. Sekali ku katakan milikku, maka akan tetap milikku selamanya. Suka atau tidak kau harus tetap disisiku. William membatin.