You Are The Best Part Of My Life

You Are The Best Part Of My Life
I love you Ella


"I dare you to mention your happy pill and say I love you."


"Jam berapa kau pulang tadi malam?!" tanya Rose saat melihat Angel berkutat di dapur seperti biasanya.


"Hampir tengah malam." balas Angel dingin. Dia sama sekali tidak menatap lawan bicaranya.


"Ck, apa kau berubah dari pelayan kafe menjadi pelayan ranjang?!" sindir Rose sinis.


Angel menghentikan kegiatannya segera sesaat mendengar perkataan ibunya, dia mengubah posisi menghadap Rose. Angel menatap dingin wajah sombong Rose.


"Jangan tatap aku dengan bola mata menjijikkan itu!" cetus Rose geram. Dia seakan ingin membunuh pemilik manik hitam itu saat ini juga. Rose sangat membenci warna mata itu.


"Kenapa? Mengingatkanmu dengan sesuatu....


ibu?!" tanya Angel skartis, dia sengaja menekan kata terakhir dari bibirnya. Tampak Rose mengetatkan rahangngnya, Angel benar\-benar sudah menguji kesabarannya.


Mari kita hitung, 1 2..


PLAK...


Suara tamparan keras terdengar nyaring, pipi Angel terlempar kesamping.


Benarkan, seperti biasa selalu disambut dengan tamparan. Lagi-lagi kau bermain api Angel.


"Jangan panggil aku ibu dengan mulut kotormu!" kata Rose tegas, matanya memerah karena marah.


"Kenapa? bukankah aku juga putrimu?" tanya Angel langsung.


Tawa Rose membuncah, dia tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan bodoh Angel.


"Kau masih bertanya kenapa? tanya Rose jenaka.


"Beri aku jawaban." tantang Angel.


"Itu karena aku membencimu, aku tidak sudi kau panggil ibu. Itulah jawabannya." desis Rose tajam.


deg!


Sesakit itukah, aku hanya ingin kasih sayang ibu.


"Kau menyedihkan nyonya Rivano, kau tidak hanya gagal jadi seorang ibu tapi juga seorang isteri." Angel menyindir tak kalah tajam dari Rose. Amarah semakin terlihat jelas di wajah putih Rose.


"Ahhhhhhkkk...."


Kepala Angel mendongak keatas setelah dia menyelesaikan kalimatnya, Rose menjambak kuat rambut Angel hingga membuat kulit kepalanya seakan ingin lepas.


"Sakit, ******?!" ejek Rose. Dia semakin menarik kuat rambut Angel. Bibir Angel meringis kesakitan.


"Lepaskan!"


"Kau menantangku rupanya." Rose mengeram marah melihat keberanian Angel. Tanpa rasa kasihan, dia membenturkan kening Angel di pinggir meja.


"Ahkkk......." Angel memekik nyaring, dia menyentuh pelipisnya. Darah?!


Darah segar dan hangat mengalir membasahi wajah Angel. Tangan bergetarnya kembali meraba pelipisnya, dia menghapus jejak darah di sekitar pelipisnya.


"Itu akibatnya jika kau berani menantangku." peringat Rose, dia tidak peduli sama sekali saat melihat darah mengalir di pelipis Angel. Tanpa rasa bersalah, dia meninggalkan Angel.


"Kau sangat pintar menyimpan luka." sindir Monic sinis. Dia sudah melihat pertengkaran mereka sejak tadi, kali ini dia tidak ingin jadi pemain.


"Aku hanya belum ingin membukanya." balas Angel dingin. Dia beranjak mengambil kotak P3K di lemari dapur. Keningnya akan infeksi jika tidak segera diobati.


"Butuh bantuan?" tawar Monic dengan nada mengejek saat melihat Angel kesusahan mengobati lukanya.


"Tinggalkan aku, itu bantuan yang ku inginkan darimu." Kata Angel tegas. Dia muak melihat keberadaan Monic disekitarnya.


"Wow, saran yang bagus." celetuk Monic. Dia sama sekali tidak tidak mau tahu keadaan Angel. Sandiwaranya cukup sampai disini.


Angel sibuk mengobati keningnya, dia menggunakan cermin untuk membantunya menutup luka di kening dengan perban.


"Ah Angel, aku lupa satu hal" ujar Monic kembali berbalik pada Angel.


Angel diam, dia tidak mau tahu apa yang akan disampaikan Monic.


"Aku hanya ingin mengatakan, aku akan membuat lukamu jauh lebih parah jika kau berani merebut William dariku." Peringat Monic tajam.


Deg!


Tangan Angel menggantung di udara, dia melihat banyangan dirinya sendiri di dalam cermin. Ada sakit yang kasat mata di dalam cermin itu.


"Aku harap telingamu masih berguna walau matamu sudah tidak lagi." sambung Monic kemudian berlalu pergi.


Merebut? bukankah sebaliknya?


Angel kembali meneruskan kegiatannya, dia ingin segera berada di atap kedamaiannya.


Angel memarkirkan sepedanya tergesa-gesa, dia ingin segera meluapkan kesesakan yang sudah menggumpal di hatinya.


"Angel." panggil Robby saat melihat Angel sudah selesai memarkirkan sepedanya.


"Ada apa Robby?" tanya Angel tanpa basa basi.


"Kenapa dengan keningmu?" tanya Robby mengamati perban yang menempel di kening Angel.


"Jatuh." balas Angel singkat. Dia segera memasuki gerbang sekolah.


"Aku mencium bau kebohongan?" sindir Robby. Tebakannya tidak mungkin salah, luka itu pasti dari kedua wanita siluman itu.


"Kau sudah tahu ternyata." balas Angel datar.


Angel mendadak berhenti saat Robby sudah berdiri dihadapannya.


"Apa yang kau lakukan, minggir." cetetuk Angel. Dia ingin sampai segera di tempatnya.


"Jelaskan dulu kenapa kau bisa terluka?" desak Robby. Dia merentangkan kedua tangannya supaya Angel tidak kabur.


"Minggir Robby." geram Angel tertahan.


"Tidak mau." balas Robby gigih mempertahankan usahanya.


Angel menghela nafas kesal, dia membuang pandangannya ke bawah. Dia menutup mata, menghembuskan nafasnya kasar. Kekesalannya sudah berada di ubun-ubun.


"Minggir atau aku......." Angel tak melanjutkan kalimatnya, dia menatap bingung pria gendut dihadapannya. Telapak gendut Robby menempel di mulut lebarnya. Matanya ingin mencuat keluar.


"A-angel?" panggil Robby tanpa melihat ke arah Angel.


"Ada apa?" tanya Angel semakin bingung.


"S-s4, a-ada S4 dibelakangmu."


"Huh?".


Angel berbalik pelan, kerutan bingung yang semakin berlipat di dahinya terlihat jelas. What the hell!.


Disana, 4 orang siswa dengan jenis ketampanan yang berbeda-beda, berjalan dengan gagah. Angel membenarkan letak kacamatanya, mengusir keraguan terhadap penglihatannya. Angel tidak salah, pangeran dari negeri dongeng benar-benar nyata dihadapannya. Angel hampir saja terlena, hingga seorang pria bermata biru mulai menunjukkan batang hidung mancungnya yang sedari tadi bersembunyi di balik bahu lebar pria tampan lainnya.


"L-liam?" lirih Angel pelan.


"Tutup mulutmu Ella, sebelum aku memasuki goa hangatmu lagi." bisik William. Dia terkikik geli melihat tatapan Angel yang terpesona.


Angel tersadar, dia segera mengatupkan rahangnya.


Suara tawa seksi dan berat terdengar dari balik punggung William.


"Yo're so beautiful, lady." Ujar salah satu pria tampan itu. Dia tidak bisa lagi menahan tawanya saat melihat wajah lucu Angel.


"William bisa kau bergeser sedikit, kami ingin berkenalan dengan Nona cantik ini." ucap pria tampan satunya lagi. Jika pria tampan tadi bicara formal, pria ini terlihat lebih vulgar. Lihat saja gaya bicaranya, sangat menggoda.


"Tidak boleh bersentuhan, dia gadisku." peringat William. Dia menggeser tubuhnya berdiri di samping Angel, tidak ada yang boleh melirik miliknya apalagi mengambilnya.


"Hy, namaku Nathan Jeremi Oliver, kau bisa memanggilku Jeremi." ujar pria formal itu mengulurkan tangannya.


Angel terlihat kikkuk, suasana disekitarnya tiba-tiba berubah canggung. Dengan ragu, dia mengulurkan tangannya.


"Angel, namanya Angel." tukas William, dia langsung menyembunyikan tangan Angel di genggamannya sebelum bersambut dengan tangan Jeremi.


"Dasar posesif." ujar Jeremi jengkel


"Hanya melindungi milikku dari pria busuk seperti kalian." balas William tak mau kalah.


Cih, kau juga sama. batin Angel.


"Biar aku saja yang memperkenalkan kalian" putus William.


"Kenapa?" tanya Angel.


William berdecak kesal, dia tidak menjawab pertanyaan Angel. "Kalau yang tadi namanya Jeremi, pria mesum ini bernama Alberto Jhonson dan kulkas berjalan yang disana namanya Stefano Zacharya." jelas Thom memperkenalkan pria tampan itu satu per satu. Angel hanya menatap sebentar, dia menggeser kedua bola matanya kesamping Alberto, matanya terpaku. Sepasang manik hitam itu bersambut dengan manik birunya. Stefano Zacharya? dia terlihat sama denganku, matanya menyiratkan luka. batin Angel.


"Tutup mulutmu William tengik." balas Alberto, dia tidak terima saat William mengatainya mesum. Salahkan para wanita itu yang tidak tahan menolak pesonanya.


"Kenapa kalian bisa bahasa Indonesia?" tanya Angel mengamati satu per satu pria dihadapannya. Dia sudah memutus pandangannya dari wajah Stefano saat mendengar teriakan Alberto.


"Itu karena keluarga kami punya bisnis disini, Indonesia sudah seperti rumah kedua bagi kami." jelas Jeremi menjawab kebingungan Angel.


"Apa kalian juga dari London? tanya Robby tiba-tiba menimpali obrolan mereka. Angel hampir saja melupakan keberadaan Robby, dia terlalu larut mengamati pria itu satu per satu.


"Benar, dari mana kau tahu?" tanya Alberto menyelidik.


"Kalian punya jenis kulit dan warna mata seperti Liam". balas Robby


"Dan jangan lupakan juga tinggi badan yang mengalahkan tiang listrik." gurau Jeremi yang membuat riuh tawa terdengar.


"Sepertinya kita terlalu asyik dengan peran kita, para penonton terlihat nyaman ditempatnya." ujar Alberto mengedarkan pandangannya. Betapa terkejutnya Angel saat kerumunan itu membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi mereka, semua mata memandang tak berkedip ke arah mereka. Angel bergerak tak nyaman, dia tidak suka jadi pusat perhatian.


"Bisa kita bubar, aku tidak suka jadi aktor." ujar Stefano tiba-tiba bersuara. Matanya menatap lekat kearah Angel, dia meneliti gerak- gerik Angel yang mulai tidak nyaman.


"Wah, kulkas mulai cair." ujar Alberto dengan nada mengejek.


"Bisa kita pergi?" kata Stefano mengulang pertanyaannya.


"Baiklah kita pergi. Robby tolong antar kami keruang kepala sekolah, kami masih baru disini." pinta Jeremi yang dibalas oleh anggukan kepala Robby.


"Tunggu!" seru William tiba-tiba menghentikan langkah mereka.


"Apa lagi?" tanya Stefano jengkel.


Wiliam menarik kasar tangan Angel. "Ada apa dengan wajahmu?" tanya William tajam saat Angel sudah berada dihadapannya. Dia tidak memperdulikan lelucon sahabatnya dari tadi. Dia hanya mengamati wajah Angel, pikirannya dipenuhi deretan pertanyaan.


"Huh?" tanya Angel.


"Jangan membuatku mengulang kalimatku, Ella".


"Aku tidak apa-apa."


William menghela nafas pelan, dia tidak boleh marah. "Siapa yang melakukannya, hm?" tanya William lembut, dia mengelus sudut bibir Angel yang terluka. Jarinya naik menyentuh perban yang menempel di keningnya.


"A-aku jatuh dari sepeda." Angel berujar gelagapan. Matanya bergerak gelisah, dia sangat takut mendengar nada lembut mengancam William.


"Benarkah?"


"I-iya."


"Kau tidak berbohong Ella?" tanya William menuntut.


"Tidak". balas Angel mantap.


William menaruh sebelah tangannya di atas kepala Angel, dia mengusap lembut surai hitamnya.


"Apa lukanya tidak apa-apa?" tanya William, dia kembali mengelus sayang perban di kening Angel.


"Tidak apa-apa." balas Angel datar menyembunyikan degup jantungnya yang meronta tak karuan.


William tersenyum tipis. "Tutup matamu!" perintah William.


"Huh?" tanya Angel bingung.


"Aku bilang tutup mata Ella, bukan huh hah heh". kesal William, suasana hatinya berubah buruk melihat kepolosan Gadisnya.


Tak ingin memancing amarah William, Angel menutup matanya.


CUP


Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Angel yang dibalut perban. William menempelkan bibirnya disana, Angel mematung. Dia langsung membuka matanya.


"Kecupan bisa menghilangkan rasa sakit." ucap William mengedipkan sebelah matanya, dia terkekeh melihat wajah tegang Angel.


Angel hanya menatap wajah William tanpa berucap.


William memajukan bibirnya kembali di wajah Angel, dia mengecup dahi Angel lembut, lama dan penuh perasaan.


Angel tak lagi berontak, dia menutup matanya meresapi kecupan lembut di dahinya.


"Morning kiss." Ujar William mengelus bekas kecupan di dahi Angel.


Hatiku tidak akan bertahan jika terus seperti ini. batin Angel


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan buatku khawatir, kau mengerti?" bisik William, dia langsung membawa Angel ke dalam dekapannya.


Sorak-sorai para siswa mengiringi suasana romantis mereka berdua, mereka menjerit melihat kedua pasangan bak Cinderella dan Pengeran tengah dimabuk asmara cinta.


Tanpa mereka sadari seorang gadis mengepalkan tangannya kuat hingga memutih, Monic menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya. Dadanya bergemuruh, dia menatap pasangan itu dengan penuh amarah.


Kau menantangku Angel, aku akan membunuhmu Upik abu. Tunggu dan lihat saja, kau akan segera berakhir mengerikan.


"Jiwa jomblo ku meronta -ronta". lirih Jeremi menatap kemesraan sahabatnya.


"Kapan aku sepeti itu juga?" ujar Alberto.


"Angel dan William memang serasi." kekeh Robby


Jangan bermain apa jika tidak ingin terbakar. batin Stefano.