
"The truth is, we all face hardship of some kind, and you never know the struggles a person is going through. behind every smile, there's a story of personal struggle."
_Andrienne C. Moore
Matahari mulai bangkit dari tidurnya, menyapa hangat dalam keabadian, memberi harap ditengah keputus asaan. Terdengar tawa dari sepasang wanita cantik, menggetarkan hati menghangatkan jiwa bagi siapa saja yang mendengarnya.
sayangnya, tawa itu harus berhenti seketika oleh seseorang yang tidak diharapkan kedatangannya.
Angel mendecakkan lidahnya. "Ck, kau ini mengganggu saja! apa kau tidak tahu caranya masuk dengan sopan?"
"Apa katamu! Aku rasa selain otakmu, telingamu juga bermasalah nona Western. Aku sudah mengetuk sedari tadi, kau saja yang tuli!" Seru Elisabeth dengan suara cemprengnya.
"Wah Avery, kau mulai berani denganku rupanya." kata Angel mengejek yang membuat Elisabeth gelagapan, wajahnya berubah panik.
"Hehehe, ah ibu bos kau bisa saja. Aku mana berani padamu" balas Elisabeth menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara wanita yang sedari tadi diam menyaksikan perdebatan kedua gadis cantik dihadapannya ini mulai menginterupsi pembicaraan mereka.
"Ada apa dengan penampilanmu hari ini Avery?" tanya Anastasya menjelajahi memandang Elisabeth dari ujung kaki ke ujung kepala.
Elisabeth terkekeh kecil. "Ini adalah fashion tren musim ini, nyonya Western pertama. Aku merasa seperti nyonya Malik hari ini."
"Kau tidak sakit, suhu mu normal. Apa kau butuh psikiater? mungkin dalam mu yang bermasalah." tanya Anastasya sembari menempelkan telapak tangan di keningnya.
Tiba-tiba Angel tertawa keras, dia memegangi perutnya yang terasa sakit karena tawanya. Angel melirik Anastasya yang membekap mulutnya menyembunyikan tawa. Elisabeth menganga lebar menyaksikan ibu dan anak itu tertawa bahagia diatas penderitaannya.
Wah, sayang sekali dua wanita Western sudah gila.
"Apa kau membawa kaca? Kau harus lihat wajah bodoh mu itu? Aku yakin rahangmu sebentar lagi akan lepas jika kau tidak segera menutup mulutmu!" Angel berujar disela-sela tawanya.
"Diamlah sialan!" desis Elisabeth geram.
"Maafkan aku, Aku hanya bercanda. ujar Anastasya mengusap pelan bahu Elisabeth.
"Lucu sekali yah?!" Elisabeth mendengus jengkel.
Angel masih asyik dengan tawa bodohnya, dia tidak punya kekuatan menjawab pertanyaan Elisabeth.
"Sudahlah Angel, lihat wajah Elisabeth sudah memerah seperti tomat." Sindir Anastasya melihat wajah Elisabeth yang berubah merah padam.
Angel semakin tertawa keras. Dia mengusap kedua sudut matanya yang berair.
Cih, tunggu saja bagianmu Angel.
"Baiklah, Karena sudah disini, aku akan pulang mengganti baju, bisa kau temani Angel?" tanya Anastasya.
Angel membawa pandangan jengkel dari Angel ke arah Anastasya. "Tenang saja nyonya Western pertama, kau bisa mengandalkan ku."
"Ya sudah, mommy pulang dulu." ujar Anastasya mendaratkan kecupan lembut di pelipis putri cantiknya. Dia beralih pada Elisabeth "Titip angel Elisabeth."
Elisabeth mengangguk kepala sebagai jawaban.
"Dimana Tuan Western?" tanya Elisabeth memulai pembicaraan.
"Selain kau aneh ternyata kau juga pikun Avery, apa kau lupa kalau ini masih hari kerja, jadi daddyku pasti di kantor" ujar Angel kesal.
"Ck, kau ini. Aku bertanya, karena aku tahu bahwa keluarga Western saingan berat Handerson. Jadi buat apa lagi Daddy mu ke kantor". dengus Elisabeth pelan.
"Diamlah Avery, otakmu yang seujung kuku itu tidak akan mengerti tentang profesionalisme" Angel tersenyum mengejek. Dia sangat menikmati wajah merah padam di hadapannya.
"WHAT THE ****, WESTREN!, Aku memang bodoh tapi kan tidak terlalu bodoh. Aku bisa menjadi asisten mu di perusahaan raksasa Handerson." Elisabeth berucap bangga.
Angel mengibas-ngibaskan tangannya di udara. "Baiklah terserah kau saja Avery" ujarnya pasrah, lama-lama isi kepalanya bisa keluar jika harus menanggapi perkataan sahabatnya.
Hening.
"Apa kau baik-baik saja" Elisabeth membuka pembicaraan, rasa penasaran semakin bertumpuk di dadanya.
Angel terkekeh kecil "Kalau aku tidak baik-baik saja, mana mungkin aku bisa melawan mu."
"Aku mendengar semalam kau pingsan lagi, angel".
"Kau ini, seperti baru tahu saja. Aku kan memang sering pingsan."
Ck, Tidak nyambung bodoh.
Elisabeth bungkam, otaknya mulai bekerja merangkai kata yang tepat untuk Angel.
"Aku tahu kita memang belum lama berteman, tapi aku mengenalmu. Aku bisa merasakan kesedihan saat menatap matamu, sandiwara tegarmu cukup sampai disini Western. Ucap Elisabeth setelah berhasil menyusun kalimat yang tepat. Angel mengerutkan keningnya bingung.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara parau. sialan! dia mati-matian menyembunyikan suaranya agak tak bergetar.
"Kau sudah boleh menangis sekarang, itu maksudku. Tidak ada orang lain disini, kau bisa menangis sepuasmu." Elisabeth berujar pelan, dia menepuk pundaknya memberi akses pada gadis itu.
" A-aku tidak apa-apa, Avery" ujar Angel dengan suara serak. Elisabeth tidak mengatakan apa-apa lagi, dia berdiri dan merengkuh tubuh lemahnya. Dia sudah tahu Angel akan selalu menutupi semua kesedihannya. Di usapnya lembut rambut panjang Angel. Elisabeth semakin mengeratkan pelukannya saat badan Angel mulai bergetar.
Angel menumpahkan seluruh tangisnya, menangis sekencang-kencangnya. Hatinya terasa sakit, nafasnya tercekat tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain menangis. kali ini biar seperti ini, biarkan aku menangis.
"A-aku tidak gila, Elisabeth. Aku tidak ingin di terapi lagi. Elisabeth ku mohon tolong aku." ujar angel dengan nafas tersenggal-senggal.
Ya, Tuhan bagaimana bisa gadis lemah ini menanggung semuanya sendirian.
Elisabeth mengangkat wajah yang sedari tadi bersembunyi di pundaknya. Sepasang manik hijau emerald berhadapan dengan manik hitam angel.
"Hanya kau yang bisa menolong dirimu Angel" kata Elisabeth masih menatap lekat manik hitam itu.
"Kau tidak gila angel!" seru Elisabeth kencang.
"Aku perempuan gila, apa kau tidak ingat bahwa seluruh negeri ini menyebutku seperti itu! AKU GILA, AKU GILA, SIALAN!" Angel berteriak histeris, tangannya menarik rambutnya keras melampiaskan kesakitannya.
PLAK....
Satu tamparan kuat mendarat di pipi mulusnya. Angel menyentuh bekas tamparan di wajahnya. Panas, sakit, perih semuanya menyatu menjadi luka. "A-apa yang kau lakukan" Angel bertanya dengan suara seraknya.
"Aku mencoba menyadarkanmu." jawab Elisabeth dingin.
"Kau menyakitiku." ucap Angel lemah.
"Kau lebih menyakitiku." balas Elisabet parau. Dia tidak sadar melayangkan tangannya di wajah Angel.
Hening.
"Kau tidak gila Angel, jangan katakan itu. Itu sangat menyakitkan." kata Elisabeth lirih.
"Aku tidak....... " Angel mengangkat wajahnya, dia tidak sanggup meneruskan kalimatnya saat wajah Elisabeth berderai air mata.
"Kau egois." desis Elisabeth, dia ingin menyadarkan Angel bukan hanya dia yang menderita.
Apa? Egois, aku egois?
"Apa katamu? Aku egois?" tanya Angel dengan nada tidak percaya.
"Kau tidak sadar?"
Angel menatap marah Elisabeth.
"Pergilah! Aku tidak ingin ada keributan, aku ingin istirahat."
Tawa menggema Elisabeth menghentikan keinginan Angel. Angel menatap bingung gadis dihadapannya.
"Apa kau pernah sekali saja memikirkan kami? Apa kau pernah sekali saja memikirkan penderitaan nyonya dan tuan western?" bisik Elisabeth pelan, dia menahan air matanya yang ingin tumpah.
deg!
Jantung Angel seperti berhenti saat mendengar kenyataan itu. Dia meremas sprei tempat tidurnya kuat.
Merasa tidak ada jawaban Elisabeth kembali menambahkan. "Kau tidak pernah tahu, setiap saat ibumu menahan sakit dan penyesalan. Kau juga tidak pernah tahu bagaimana ayahmu melawan dunia saat semua orang mengatakan bahwa kau gila! Apa kau tahu semua itu Angel?!"
DEG!
Angel bungkam, wajahnya semakin dihujani tetesan air mata.
"Kenapa kau diam, apa kau tidak punya jawaban?" Tanya Elisabeth dingin.
Tangis Angel pecah, dia sama sekali tidak punya jawaban atas pertanyaan itu. Dia tidak pernah tahu bahwa bukan hanya dirinya yang menderita. Semua orang menderita karenanya.
"Maafkan aku, aku memang egois, ku mohon maafkan aku" Angel berujar terputus-putus karena tangisnya.
Elisabeth menatap iba, sepersekian detik dia melingkupi badan bergetar itu dengan kedua lengannya.
"Jangan menangis Angel."
"Aku memang egois Elisabeth, maafkan aku."
"Tidak apa-apa, maaf mu akan berarti jika tidak hanya sekedar kata-kata, jadi tenanglah. " Elisabeth berbisik lembut di telinga Angel.
"Katakan padaku apa yang harus ku lakukan, kau bilang hanya aku yang bisa menolongku bukan? Jadi ku mohon, katakan padaku bagaimana caranya? Bagaimana caranya aku menyelamatkan diriku? tanya Angel bertubi-tubi. Dia sangat frustasi, lagi-lagi masa lalu itu kembali menguncang hidupnya.
"Tenang Angel, kau harus tenang." peringat Elisabeth.
Angel masih menangis, air matanya sangat sulit berhenti.
"Ku mohon katakan Elisabeth." Angel memelas dengan sangat menyedihkan.
"Apa kau yakin."
Angel mengangguk cepat, dia ingin lepas dari penderitaan yang sudah mengikatnya bertahun-tahun.
Elisabeth mengangkat wajah Angel, menggenggam tangannya lembut. Dia meremas tangan yang berada di bawah telapak tangannya. Dan berhasil, tangis Angel mereda, nafasnya mulai berangsur normal. Angel menatap manik hijau itu penuh harap.
"Angel, apa kau yakin dengan jawabanku?" tanya Angel mulai ragu.
Angel mengerutkan keningnya. "Katakanlah."
Elisabeth berucap dalam sekali tarikan nafas. "Kau...
harus berdamai dengan masa lalumu."
DUAR....
Akhirnya setelah sekian lama boom itu bangun dari tidurnya. Menhancurkan kepingan hati yang tersisa.
Angel menatap Elisabeth takut. Sekujur tubuhnya menjadi dingin, telapak tangan yang menggenggamnya erat tak lagi mampu menghangatkan tubuhnya. Angel menatap kosong gadis dihadapannya.
Berdamai dengan masa lalu?
Bagaimana mungkin? Aku bahkan tidak ingin lagi kembali bertemu dengannya.
Apakah benar, hanya kau yang jadi penawar lukaku? Sampai kapan sakit ini kan kutahan?