
Angel berjalan memasuki ruangannya, belum sempat ia mendaratkan bokongnya seketika pintu ruangannya terbuka lebar oleh seseorang yang membuatnya berjengkit kaget.
"Apa kau tidak tahu cara masuk yang benar Avery?!"bentaknya.
Elisabeth hanya mengangkat kedua bahunya. "kau ini! aku sudah pernah bilangkan awali hari dengan senyum"
"Tutup mulutmu sialan! kau hampir membuatku mati mendadak!" balas angel menatap gadis itu emosional.
"apa kau mulai bodoh?! matikan memang mendadak?! Aku tidak pernah mendengar jika seseorang mati harus ada pemberitahuan terlebih dahulu?!" ujarnya enteng segera mengambil tempat duduk dihadapan gadis pemarah itu.
angel memijit dahinya yang tiba-tiba terasa pening. "aku bisa gila kalau kau berlama-lama disini brengsek!" desisnya tajam. "keluarlah!" perintahnya.
"kau sangat tidak sopan Western! kau mengusir tamu, "gadis itu berdecak kesal dengan sengaja semakin memancing kemarahan perempuan pemarah itu. ntah kenapa wajahnya terlihat lucu jika marah.
"Tamu pantatku!" kau itu bawahanku sialan!"
"Wow! kau semakin cantik Western jika sedang marah"
BRAKKKK!! Elisabeth terlonjak dari tempat duduknya. ia mengelus dadanya yang tiba-tiba serasa seperti menabuh gendang di dalam sana. "Mati aku, singa betina mulai menunjukkan taringnya!" batin Elisabeth.
"Jika kau tidak segera keluar dari sini, aku bersumpah akan melemparmu dari ruangan ini!" ucapnya yang membuat Elisabeth seketika bergidik ngeri.
Elisabeth mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya. "uppss, santai western! kau serius sekali, aku hanya ingin bertanya"
Angel menarik nafas pelan menetralkan emosi yang sudah sedari tadi berkumpul di kepalanya. "Apa yang ingin kau tanyakan?!. "ku beri waktu 5 menit! Tukasnya.
Elisabet membelakak tak percaya. "Apa kau bilang! serunya.
"5 menit atau tidak sama sekali!" tegas angel.
"What the_
"4 menit!, waktumu tinggal 4 menit averiy" potong angel cepat tanpa memberi kesempatan kepada sahabatnya itu untuk melanjutkan perkataannya kembali.
Elisabeth menatapnya jengkel. "si brengsek ini benar-benar menyebalkan" batinnya.
"aku tahu apa yang ada di dalam otak mu itu Avery! jangan mengumpatiku di dalam sana! sindirnya telak yang membuat seketika kedua bola mata itu melebar.
"cih! selain pemarah, dia juga seorang peramal! batin Elisabet .
"baiklah aku hanya ingin bertanya, apa yang kalian bicarakan di ruangan big boss itu?"
"Wah, apa kau mulai turun kasta menjadi seorang wartawan tanpa tanda jasa avery?"
"Wah, apa otak pintar mu itu mulai berubah bodoh jadi bodoh sepertiku, Western? "kau tentu tahu bukan itu jawaban dari pertanyaanku" Sindir Elisabeth sinis yang membuat gadis dihadapannya mendengus pelan.
"kau mulai pintar rupanya avery."
"because of you western," balas Elisabeth tersenyum miring. "So how?" tanyanya lagi.
"yeah aku setuju dengan permintaan Mr Handerson" ujar angel enteng.
Elisabeth membekap mulutnya tak percaya. "seriously western?"
angel mengukir senyum diwajahnya sebagai jawaban.
"Oh my...!" kata Elisabeth seketika beranjak dari kursinya dan menubrukkan tubuhnya kepelukan sahabatnya itu. angel berjangkit kaget dan hampir terjungkal kebelakang jika dia tidak segera berpegangan pada pinggiran meja itu. "ah Avery sialan! lagi-lagi aku hampir mati karena mu!" batinnya.
"lepaskan aku sialan!" pintanya mencoba lolos dari pelukan erat itu. "aku tidak bisa bernafas Avery" ujar angel terbata-bata yang langsung membuat gadis berambut pirang itu melepaskan dirinya.
"APA KAU GILA, AKU TIDAK BISA BERNAFAS KARENA MU!" bentaknya.
Elisabeth mengukir cengiran bodohnya. "maafkan aku western itu karena aku terlalu bahagia"
" 5 menitmu habis, segera keluar dari ruanganku!"
"baiklah aku akan pergi, aku sudah mendapat apa yang aku inginkan" ujar angel mulai menggerakkan kakinya.
"ah Avery " ujar angel tiba-tiba sukses membuat langkah Elisabeth berhenti.
Elisabeth membalikkan badannya perlahan. "apa lagi?!, kau bilang 5 menitku sudah habis" dengusnya
"kau akan ikut denganku kali ini" katanya datar tanpa menoleh sedikit pun kearah Elisabeth.
"APA!" AKU TIDAK MAU" ujar Elisabeth membantah.
"ini perintah, aku tidak butuh pendapatmu!"
"*******"! umpat gadis itu pelan.
"aku juga mencintaimu avery, sekarang kau boleh pergi!" kata angel.
belum sempat Elisabeth menyentuh gagang pintu kaca itu, sebuah suara yang sangat dikenalinya kembali mengentikan langkahnya.
"Avery!" panggil gadis itu lagi.
Elisabeth memutar kedua bola matanya. "kali ini apalagi sialan!" batinnya
" aku bersumpah! aku akan memisahkan bagian tubuh atas dan bawahku, membiarkan kedua kakiku melangkah keluar dari ruangan suci ini sedangkan tubuh atasku tinggal bersamamu disini. aku berjanji akan melakukannya jika kau kembali menghentikan langkahku" geramnya.
angel tidak menghiraukan perkataan sahabatnya. "ini yang terakhir" ujarnya datar menatap lekat gadis itu
"ku harap ini penting" balas Elisabeth.
"Apa kau mengenal anak dari tuan Handerson?" tanya angel .
Elisabeth mengerutkan keningnya. "tidak! aku tidak mengenalnya, yang aku tahu Tuan Handerson memiliki hubungan yang buruk dengan anak laki-lakinya bahkan isterinya membenci Tuan Handerson"
"benarkah? apa kau tahu apa yang terjadi pada mereka Avery?
"wah aku tidak tahu western, aku bukan penyedia layanan gosip. maafkan aku kali ini aku tidak bisa membantumu". jawabnya tersenyum miring
Angel menyandarkan punggungnya di kursi hitamnya. "Pergilah, kau tidak membantuku sama sekali!" ujar angel kesal.
Elisabeth mencebikkan bibirnya. "terimakasih atas pujiannya tuan Puteri, kalau begitu hamba pamit undur diri" balas Elisabeth seraya membungkukkan badannya.
angel mengibaskan tangannya di udara sebagai jawaban.
"Cih, menyebalkan" batin Elisabeth.
"aku jadi penasaran apa yang terjadi dengan keluarga Handerson! batin angel.
Kini sang raja penguasa siang telah berganti dari tugasnya, menyembunyikan lelahnya dibalik cahaya indah dan damai. tertidur sebentar sebelum esok kembali bangkit memberi harapan. terdengar tawa indah dari ketiga orang yang berbeda usia itu. bulan menjadi saksi betapa bahagianya keluarga kecil itu.
"dan apa kau tahu sayang, mommy mu itu sangat sombong dulu" ujar pria itu mengingat kembali masa lalunya dulu.
"benarkah mom?" tanya angel.
"jangan percaya sayang, mom hanya menjaga diri dari seorang buaya darat" sindir Anastasia sinis.
"aku tidak mengatakan bahwa buaya darat itu adalah kau?!" jawab Anastasia yang membuat Thom seketika menghentikan acara makannya.
"Tapi aku merasa bahwa kau sedang menyindirku?" ucap Thom dengan nada mengejek.
"baguslah kalau kau merasa begitu?" jawab Anastasya datar.
"apa dad, punya pacar yang banyak dulu mom? tanya angel menimpali pertengkaran kecil itu.
"bukan pacar sayang, mereka hanya ******" dad hanya pacaran dengan mommy mu" ujar Thom yang langsung membuat kedua mata angel terbelalak kaget.
"tak perlu seperti itu angel, daddy mu memang penjahat kelamin" balas Anastasya datar.
"Apa kau bilang Anas? tanya Thom menahan kekesalannya. "aku tidak penjahat kelamin hanya saja aku pria normal, wajar bagiku melakukan itu" ujar Thom mencoba membela dirinya.
"Ck, untung saja kau tidak terkena penyakit akibat hobby aneh mu itu" balas Anastasia dengan mencebikkan bibirnya.
Thom terkekeh pelan. "Tuhan masih tidak ingin bertemu denganku?
"Bukan Tuhan Daddy, tapi setan!" potong Angel cepat.
Anastasya tertawa keras. "dan kau akan menjadi pemimpin para setan itu, karena kau adalah setan!" sambung Anastasya yang membuat angel ikut tertawa terbahak -bahak.
"kau tidak terlihat seperti berada di pihak ku hari ini my angel" tanya Thom mengangkat sebelah alisnya.
"aku sudah bosan berada dipihakmu, dad?" dengus angel. "kali ini biarkan aku di pihakmu mommy sayang" katanya sembari mengedipkan sebelah matanya mencoba membalas perkataan Thom.dulu.
"Kau balas dendam rupanya" ujar Thom.
"Yah, begitulah" balas angel mengangkat kedua bahunya acuh.
"baiklah mari kita sudahi pembicaraan ini, kalian harus segera beristirahat" kata Anastasya mulai beranjak dari duduknya.
Tiba-tiba Angel berujar. "Mom, Dad. can we talk? tanya Angel yang membuat Anastasya kembali mendaratkan bokongnya.
Thom mengangkat sebelah alisnya. "ada apa my angel?" tanyanya.
Angel membasahi bibir merahnya. berjanjilah bahwa kalian tidak akan marah" tukasnya menatap lekat kedua orang berbeda gender itu.
Anastasya menggenggam tangan putrinya. "ada apa sayang? bicaralah". perintahnya lembut.
angel mengangkat wajahnya, menatap tepat manik biru dan hitam itu bergantian.
"A-aku akan ke Indonesia" ujarnya terbata. ia mengepalkan tangannya kuat yang sedari tadi bersembunyi dalam genggaman tangan hangat itu.
DEG!
Anastasya terdiam sebelum akhirnya ia melepaskan tangannya dari genggaman itu.
"untuk apa?" ujarnya mulai bersuara.
"a- ku ada pekerjaan disana mom, Mr Handerson menyuruhku mewakilinya atas nama perusahaan Handerson untuk datang ke acara pernikahan rekan bisnisnya " jelas angel menatap takut kedua orang itu.
"tidak boleh! aku tidak mengijinkan mu! "ujar Tom tiba-tiba memberi ultimatum.
"tapi dad, a-aku_
"APA KAU TIDAK DENGAR ANGEL! AKU BILANG TIDAK BOLEH, YAH TIDAK BOLEH!" bentak Thom.
DEG!
angel menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa takutnya dengan membuang pandangannya kearah bawah. tangannya yang sedari tadi diatas meja kini berpindah kepangkuannya, saling meremas bergantian menautkan sela-sela jemarinya seakan memberi kekuatan. tubuh itu kembali bergetar.
"APA YANG KAU LAKUKAN, GABRIEL! teriak Anastasya tak kalah nyaring.
"diamlah Anas! jangan membuatku semakin marah" geram Thom.
"Tapi kau tidak perlu membentaknya, dia ketakutan brengsek!" maki Anastasya yang sudah berdiri dari duduknya. "Kau sudah gila ********, kau membuat putriku ketakutan!" serunya lagi.
"AKU BILANG DIAM SIALAN!" teriak Thom lebih lantang dari sebelumnya.
DEG! DEG! DEG!
Anastasya mengangkat wajahnya menatap lekat manik biru itu. "kau membentakku?" tanya Anastasya dengan suara bergetar.
"Anas, maafkan aku! a- aku tidak_
Anas mengangkat sebelah tangannya tepat dihadapan pria itu.
"Cukup Gabriel! aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi" ujar Anastasia sambil menghapus air matanya.
Ia segera menghampiri angel yang masih bergetar ketakutan. "ayo sayang, kita pergi" kata Anas merangkul gadis rapuh itu.
"sayang, my angel! maafkan aku! aku benar-benar tidak bermaksud seperti tadi" serunya mencoba menghentikan langkah kedua wanita itu.
"kau tahu gabriel, hari ini kau kembali seperti dulu! kau selalu berhasil dikalahkan emosimu ! aku pikir kau sudah berubah, nyatanya tidak sama sekali! kau tidak pernah berubah! benar kata Jack, kau tetaplah seorang Gabriel yang memutuskan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu!" jelas Anastasya meninggalkan Thom bersama penyesalan di raut wajahnya .
"kau tahu Anas, saat kau meninggalkanku dulu, aku benar-benar ingin mati. aku hidup tapi tidak dengan jiwaku! saat aku tahu bahwa angel sakit aku kembali merasakan hal yang sama seperti aku kehilanganmu dulu!" lirihnya yang membuat kedua wanita itu seketika menghentikan gerakannya.
"kau tidak tahu bukan, kenapa aku menyelipkan namaku diantara nama kalian berdua? aku melakukan itu karena kalian adalah malaikatku! hidupku! aku tidak mengenal cinta sebelum bertemu denganmu Anas?! aku juga tidak tahu arti bahagia sebelum aku bertemu denganmu?!" jelasnya mulai terisak.
Tes!
sungai -sungai kecil itu mulai mengalir deras tanla izin membasahi wajah kedua wanita cantik itu. hatinya benar-benar tersayat mendengar isakkan itu.
"aku melakukan itu bukan karena aku pengecut Anas, aku hanya takut kehilangan lagi! angel adalah puteriku yang tak pernah kulihat sejak dia lahir, aku hanya mencoba menebus penderitaannya dulu disisa usiaku sekarang ini? lanjutnya lagi. "Maafkan aku! aku benar - benar menyesal! aku hanya takut kehilangan angel dan juga dirimu Anas! tapi ku mohon jangan membenciku! a-aku benar-benar tidak sanggup jika kalian berdua membenciku" kata Thom dengan berderai air mata.
tanpa mereka sadari seorang wanita tua berdiri tak jauh dari tempat itu. Dia adalah bibi Mary seorang yang juga mengajarkan laki-laki rapuh itu mengenal artinya ibu. wanita itu menggigit bibirnya kuat menahan suara tangisnya.
"aku mohon jangan siksa anakku nyonya, dia benar-benar akan mati jika kalian meninggalkannya lagi". batin bibi Mary.
"kau tahu bukan aku tidak akan hidup jika salah satu dari kalian meninggalkanku! aku tahu aku bukanlah ayah dan suami yang baik untuk kalian berdua! aku tahu akulah awal dari penderitaan kalian! tapi tidak bisakah kalian memaafkan pria berdosa ini?! tanya di sela-sela tangisnya.
"ku mohon hentikan gabriel, aku tidak akan meninggalkanmu!" batin Anastasia.
"Daddy maafkan aku! aku tidak akan pergi jika kau tidak mengijinkanku! aku tidak tahan lagi mendengar kenyataan ini! ku mohon hentikan! batin angel.
"baiklah, aku tidak akan memaksa kalian untuk memaafkanku" aku memang tidak pantas mendapatkannya!" kata Thom menghapus kedua airmatanya. aku hanya mengatakan apa yang kurasakan Anas. Thom Menetralkan nafasnya sejenak sebelum kembali berucap sesuatu yang menyakitkan.
"Aku memang pendosa Anas tapi aku bukanlah orang jahat! mungkin caraku salah tapi aku melakukan semua ini karena aku benar-benar takut dengan kehilangan, bagiku tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan" jelas Thom menatap lekat punggung kedua wanita itu yang masih setia membelakanginya sedari tadi.
"istirahatlah! selamat malam My angels." kata Thom meninggalkan kedua wanita itu yang masih mempertahankan posisinya. Seketika tangis kedua wanita itu pecah. saling beradu seakan memberitahu bahwa "akulah yang paling menderita disini".
"tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan" . kalimat itu benar-benar menyakitkan. Walau tak berwujud tapi mematikan.
"aku adalah saksi bagaimana takdir mempermainkan kalian bertiga! tidak ada kebahagian diantara kalian baik itu Thom, Anas bahkan angel. penderitaan adalah awal bersatunya kalian bertiga! aku harap kali ini saja semoga Tuhan menitipkan bahagiaNya diatas luka itu! batin bibi Mary.