
Arwen POV
Zivana pun ikut menitihkan air matanya, seakan dia juga ikut merakan dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini.
Karena aku sudah sahabatan lama dengan Zivana, dia pun juga memanggil ayahku dengan sebutan ayah. Begitu pun juga dengan ibu, sewaktu ibu masih hidup Zivana dekat sekali dengan ibu karena sejak kecil Zivana tidak pernah lagi bertemu ibunya semenjak orang tuanya bercerai. Ibunya pun tidak pernah mencari dan menemuinya. ya inti dari semua itu Zivana menggangap orang tua ku juga sebagai orang tua dia. Makanya setelah kepergian ibu, Zivana juga sangat sedih sangat terpukul karena dia beranggapan engga bakal ngerasain yang namanya kasih sayang seorang ibu lagi. Dulu aku sempat berfikir betapa beruntungnya aku punya keluarga yang utuh, punya ayah dan ibu yang selalu menyayangiku. Karena kebagiaan anak adalah terletak kepada orang tuanya. Tapi setelah ibu meninggal aku tau apa yang di rasakan Zivana, apalagi sedari kecil ia sudah di tinggalkan, Zivana pun tidak tau apakah ibunya itu masih hidup atau sudah tiada. karena sang ayah pun juga tidak pernah membicarakan tentang ibunya sama sekali.
"Iya engga apa-apa na, lusa adalah jadwal ayah buat operasi bypass jantung, gue bingung harus cari uangnya kemana na?? Tabungan gue engga cukup buat bayar semua itu.. hiks hiks" Ujarku sambil menangis.
"Whattt??? Operasi bypass jantung?? Memang ayah punya penyakit jantung??". Tanya Zivana kaget dengan apa yang aku bicarakan.
"Gue juga engga tau na, tapi yang gue liat selama ini ayah baik-baik saja, sehat-sehat saja, ayah pun sering olah raga dan tidak merokok pula. Jerry pun engga pernah lihat kalau ayah punya ciri-ciri sakit jantung , kemarin Jerry telfon katanya tiba-tiba aja ayah jatuh pingsan sehabis olah raga. Gue harus cari uang itu secepatya, gimanapun caranya, apa lo punya channel supaya gue bisa kerja sampingan??" tanyaku kepada Zivana.
"Kalau untuk channel pekerjaan gue ga ada tapi nanti gue akan bantu lo buat cari-cari ya, memangnya berapa biaya yang di butuhkan buat operasi jantung ayah??."
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Zivana, Jerry langsung memotong pembicaraan serius kami.
"Kak Zivana, boleh ajak kakak pulang engga?? Kakak belum istirahat semalaman, kakak juga engga mau makan, aku bujuk dari tadi engga mau. Aku cuma engga mau kalau nanti kakak sampai jatuh sakit juga. Malem ini biar aku yang temani ayah disini, lagi pula besok hari libur sekolah."
"Iya.. Iya.. iya.. Tapi kamu gapapa disini sendirian Jer??" Tanyaku kepada Jerry.
" Ya ga apa-apalah ka, aku kan anak laki-laki masa iya ga berani, kalaupun ada yang tidak aku mengerti kan aku bisa tanya perawat disini, aku juga bisa minta tolong sama dia." Jawab Jerry.
"Ya sudah kakak pulang ya, besok kakak kesini lagi buat gantiin kamu."
"Iya iya kak. Sudah sana pulang istirahat di rumah." Ucap Jerry sambil mendorong badanku keluar dari ruang rawat ayah.
"Kak Zivana titip kakak ya." Ucap Jerry
"Iya Jer kamu tenang saja ya." Jawab Zivana
To be continued...