When I'M With You

When I'M With You
Chapter 22


"Ya anda memang benar, tapi menurut saya ga mesti menyiksa diri juga sih!. Hahh.. Yasudah terserah anda saja, saya mau melanjutkan tidur saya, anda ini sangat mengganggu."


"Maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat anda, tapi sudah mendengar suara anda saja saya kembali bersemangat."


Hahh.. Apa apaan dia ini?? Untung saja lewat telfon kalau secara langsung, bisa-bisa dia melihat mukaku yang memerah seperti tomat ini.


"Terserah anda saja, byee.."


Aku langsung menutup telfon darinya secara sepihak, haduhh apa-apaan dia itu selalu telfon di jam-jam segini dan bilang rindu denganku... Hanya bertemu beberapa kali sudah bisa bilang rindu denganku. Aaaaahhh tidak.. tidak kenapa jantung ku jadi berdebar seperti ini?? Tidak mungkin kan aku menyukainya. Ya tidak mungkin karna hatiku hanya untuk senior seorang... Senior oh seniorr semoga aku memimpikanmu malam ini.


Keesokan harinya ...


Sinar mentari telah menyambut, seketika aku membuka mataku dengan keadaan sangat kaget. Oh my God apa-apaan tadi kenapa.. Kenapa aku malah mimpiin orang itu?? Astaga.. Engga engga engga boolehhhhhhh.... Teriakku sambil menepuk-nepuk pipiku. Apa itu?? Kenapa aku malah jadi mimpiin dia?? Dan mimpinya sedang berciuman pula... Ahhhhh sepertinya aku mulai gila...Aku berjalan menuju kamar mandi sembari menepuk nepuk kepalaku.


ting tong ting tong...


suara bel rumah berbunyi dan dan aku segera bergegas untuk membukakan pintu.


"Pagi nona Arwen.." Tiba-tiba saja ada dia di depan rumahku. Ya siapa lagi kalau bukan si Ethan Morgan.


"Loh!! Ko anda di depan rumah saya? Sejak kapan?" Tanyaku kaget


" Saya baru saja sampai, kebetulan sekali anda keluar."


"Ada urusan apa anda kesini??"


"Saya mau mengantar anda berangkat kerja, kita kan searah."


"Tidak perlu, saya jlan kaki saja tuan lagi pula tidak terlalu jauh."


"Kalau begitu saya anter jalan kaki saja, gimana??"


"Hahhh... Terserah anda saja tuan."


Dan akhirnya kami pun jalan berdua menuju tempat kerjaku, haihh... orang ini dengan pakaian kebesarannya itu mau berjalan kaki denganku. Di sepanjang perjalanan tidak ada obrolan apapun dan sesekali aku melirik ke arahnya dan bertanya dalam hati. Apa sih maksudnya orang ini??? ketika kami sedang berjalan tiba-tiba saja...


"Aaahhhhhh......" Aku teriak dan refleks berlari dan anjing itu pun mengejarku. Aku berlari dan terus berlari sampai aku melihat sebuah pohon, jreenggg... disinilah aku di atas pohon. Aku takut bahkan sangat takut kalau saja sampai anjing itu menggigitku. Anjing itupun masih setia menunggu dan menggonggongiku. Beberapa menit kemudian akhirnya Ethan datang bersama si pemilik anjing itu, si pemilik pun meminta maaf dan segera membawa pergi anjing itu tapi aku masih di atas pohon ini, aku tidak bisa turun... Huhuhuhu.


"Nona Arwen cepat anda segera turun!"


"Aku tidak bisa turun. Sampai matipun tidak bisa turun, ini seperti jurang tinggi sekali." Ucapku dengan tubuh yang gemetar.


"Haahhh... terpaksa deh merentangkan tangan siap-siap untuk menangkap. Cepat anda segera melompat!"


"Aku benar-benar tidak bisa melakukannya kalau aku jatuh dan teluka terus mati atau lenyap, bagaimana??"


"Jangan bersikap gila. Cepat turun!! kamu mau di situ selamanyaa??? Tutup matamu dan aku akan menangkapmu"


"Tidak tidak aku sangat berat.. Nanti kalau ada bagian tubuhmu yang patah bagaimana??"


"Sudah lompat cepat!! Aku akan menangkapmu."


Syuttttt.... Aahhhhhhhhh...


Dan akhirnya aku melompat, menjatuhkan diri mencari mati.


GREPP...


"Harusnya kamu turun dari tadi."


Aku terdiam, terpaku, aku hanya bisa menatapnya.. Dan apa ini?? Kenapa debaran jantungku sangat kencang?? Dan untung saja aku tertangkap olehnya.


"Aku tau aku sangat tampan jadi tahan saja." Ucapnya sambil terkekeh melihatku.


"Haaaahhh!!! Siapa yang bilang kamu tampan. Mmm.. Tolong turunkan aku cepat!"


To be continued.....