When I'M With You

When I'M With You
Chapter 23


"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sama anda". Ucap Ethan serius.


"Ya, silahkan bicara saja."


"Apa anda tau kalau saya menyukai anda, nona Arwen?? "


"Haahh!! A..Apa?? Anda menyukai saya??" Tanyaku kaget.


"Iya, sejak pertama saya melihat anda. Mungkin memang terlihat aneh tapi saya serius, mungkin juga ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama." Ucap Ethan semakin serius.


"Hahahaha.. upss maaf, cinta pada pandangan pertama anda bilang??" Tanyaku cengengesan sambil menahan debaran jantung yang semakin kencang dan tidak beraturan ketika melihat wajah seriusnya itu.


"Lantas apakah kita harus memulainya?? mencobanya??" Ucapku sedikit menggoda.


"Hmm..Tapi buat apa memulai kalau anda tidak punya perasaan terhadap saya." Ucap Ethan yang sedikit tidak percaya diri karena baru pertama kalinya dia merasakan jatuh cinta dan menyatakan rasa sukanya kepada seseorang.


"Itu hanya akan membuat saya terlihat menyedihkan" Ucap Ethan lagi sembari tertunduk.


"Dia terlihat imut dengan wajah memelas dan apa itu??? Apanya yang menyedihkan ?? Padahal kita belum mencobanya sama sekali." Ucapku dalam hati.


"beberapa hari ini saya terus memikirkan anda, ingin melihat anda, ingin mendengar suara anda. Saya tidak bisa menahan semua itu." Ucap Ethan kembali serius.


"Mari kita cari tahu dengan cara yang lebih efisien." Ucapnya kembali sembari menatapku.


"Cara yang lebih efisien?? Maksud anda cara yang seperti apa??" Tanyaku bingung.


"Kalau kamu ingin kabur, silahkan kabur sekarang! sebelum aku menciummu." Ucap Ethan dengan wajah yang semakin dekat dengan wajahku.


"A..apa?? Cium??". Wajah kami semakin dekat.


Tidak, aku harus kabur sekarang juga tapi hatiku... berkata jangan kabur. Dan tiba-tiba aku tidak bisa bergerak, tidak bisa melakukan apa-apa, seperti orang yang lupa caranya berjalan, yang aku pikirkan hanyalah.....


Bulu mata pria itu.


Jarinya.


Ujung hidungnya.


Lututnya.


Bibirnya.


Ujung lidahnya yang tercampur menjadi satu.


Dan aku pun langsung menaruh kedua tanganku di lehernya. Ya, mungkin aku begitu naif tapi setelah dirasakan, semuanya terasa sangat hangat, terasa sangat nyaman dengan aroma mint yang terasa dari mulutnya.


DEG DEG DEG!!


Debaran jantung yang terasa semakin kencang, dan ciuman ini terasa semakin panass. Akhirnya akulah yang harus mengontrol semua ini apabila terus dilanjutkan aku.. bisa terlambat ke toko.


"Haahh.. Astaga.. (dengan suara nafas yang menderu dan pipi yang memerah)"


Aku melepaskan kedua tanganku dari lehernya dan melepaskan pagutan bibir kami.


"Maaf tuan Ethan saya sudah hampir terlambat, saya akan berlari menuju toko sekarang. Sampai jumpa." Ucapku.


"Heiiii.. Tunggu!! Astaga gadis ini larinya cepat juga."


Sore harinya..


Apa yang tadi aku lakukan dengannya?? Astaga aku fikir sekarang aku sudah gila beneran. Jantungku yang tidak berhenti berdebar mengingat semua kejadian itu. Apa aku benaran sudah jatuh cinta dengannya?? Apa selama ini aku yang memungkiri semua itu (sembari memegangi bibir), Haaahhh....Kerjaku seharian ini jadi berantakan karena keingat kejadian tadi.


"Hei Arwen, Arwen, Arwennnnnnnnn...." Ucap Zivanna.


"Ahhh yaaa...kenapa?? Ahh.. lo na, sejak kapan lo


datang??"


"Lo tuh lagi mikirin apa sih?? gue panggil dari tadi tapi lo masih melamun aja." Ucap Zivanna.


"Melamun sambil senyum-senyum dan pipi memerah seperti tomat gitu. Apa jangan-jangan lagi melamun yang engga-engga (tanda kutip)." Ucap Zivanna lagi menggodaku.


"Apaan sih lo, mesum dasar."


"Hahaha... Temenin gue ngemol ya ada yang mau gue beli nih.


"mmm.. Gue... Gimana ya??"


"Kenapa?? Lo ga bisa ya?? Hmm.. Gue jadi curiga nih." Ucapnya sembari menatap kearahku.


"Se..sebenarnya ada yang sudah menungguku disebrang sana." Ucapku bernada pelan.


"Hahhh...Siapa???" Tanya Zivanna.


To Be Continued...