
Berulang kali Hima menengok Handphonenya, dari pagi ia mengirimkan pesan untuk Rain tapi tidak dibaca juga, bahkan ketika jadwal prakteknya selesaipun belum ada jawaban. Hima menjadi ragu kembali,nampaknya awan kelabu kembali bergelayut di pelupuk matanya. Dengan mudahnya Rain bisa melupakan tawa renyah semalam,padahal setitik harapan sudah tumbuh di hati Hima. Padahal sebuah bintang sudah ia sematkan di atas ranting bunga. Kuncup seolah layu sebelum berkembang.
Hima menuangkan air putih ke dalam gelasnya, dari luar terdengar suara hujan. Hima bangkit dan memandang sebuah gedung di sebrang sana.
" Him kamu tau gak kenapa elizabeth gak suka sama Archduke Charles?" Hima mengernyitkan kepalanya.
" Elizabeth the golden age?" Sambung Rain.
"Kenapa?"
" Padahal Archduke ini bangsawan dari Austria yang kaya raya,ganteng,gombalannya juga mendayu-dayu. Sekarang cewek mana sih yang gak suka digombalin?" Rain memang selalu bersemangat jika menceritakan film kesukaannya. Semua film berbau sejarah ia hafal, dari kisah ratu elizabeth sampai kisah kerajaan ottoman Rain hafal.
" Kenapa elizabeth lebih tertarik sama walter Raleigh yang cuma seorang petualang. Bayangin dia cuma bisa kasih elizabeth barang-barang receh,kentang?tembakau? emas juga cuma sati peti" Hima mulai tertarik dengan perbincangan Rainaya.
" Kentang?"
" Ihhh kamu,aku kan tanya? Kenapa?"
" Ehmmmm kenapa?" Hima balik bertanya
" Karena Archduke gak nyaman diajak ngobrol,gak nyambung kalau diajak ngobrol, sedangkan Raleigh wawasannya luas,elizabeth tertarik sama dunia luasnya Raleigh."
" Kaya kamu ke aku dong." Goda Hima,tapi tidak lama Rain menjewer telinga Hima.
" Tapi kamu jangan sama kaya Raleigh soalnya dia maen belakang sama dayangnya Elizabeth." Hima menutup kembali mulutnya seolah ingin menarik kata-katanya.
" Ya mana aku tau kan aku gak nonton filmnya."
" Kamu sih nontonnya anime terus." Hima tergelak,rupanya diam-diam Rain memperhatikannya juga.
" Rain aku ini setia loh." Tiba-tiba pipi Rain bersemu merah,ia tersipu malu. Wajah Rain yang putih bersih nampak merah jambu jika tersipu malu. Sebuah perbincangan di masa silam,disertai merdunya suara berisiknya hujan.
Hujan selalu mengingatkan masa-masa indah Hima dan Rain semasa sekolah dulu. Hima selalu menemani Rain walaupun waktu itu Hima diantar jemput oleh sopir pribadi. Hima sering meminta sopirnya untuk pulang lebih dulu dan ia lebih suka membonceng Rain naik motor, waktu itu Hima belum bisa naik motor,jadi Rainlah yang memboncengkan Hima.
Rain anak yang sangat tertutup tapi jika bersama Hima dinding-dinding itu seakan roboh. Ia selalu bisa berbagi cerita atau berbagi senyuman. Semua tingkah lakunya natural tanpa dibuat-buat. Membuatnya selalu mengikuti bayang-bayang Hima. Ingin rasanya Hima menangkap bayangan itu,menjadikannya benar-benar hidup menjadi nyata. Hima merindukan Rain yang selalu bertanya kabarnya atau berbagi bekal makan siangnya.
"Rainaya...." Hima memanggil nama itu diantara suara rintik gerimis dan berharap Rain mendengarnya.
***
Rain duduk di balkon depan kamar rawat inap Alika. Dokter mengatakan bahwa sore ini Alika bisa dibawa pulang. Dinda dan Mas Indra,kakak iparnya sedang sibuk berkemas. Sementara itu Rain memilih di luar,sambil membuka satu box whooper, beef burger kesukaannya. Rain terkesima dengan burger yang ada di tangannya,ia sudah menelan ludahnya karena sudah tidak sabar menghabiskannya,seharian ini Rain belum makan,hidupnya terlalu ramai dipenuhi beberapa presentasi dengan klien.
Seperti biasanya Rain selalu berusaha menyingkirkan potongan timun fermentasi yang terselip di antara tumpukan roti burgernya. Segera dilahapnya makan pagi sekaligus makan siangnya. Tangan sebelah kiri sibuk mengambil satu cup besar cola dari dalam plastiknya.
" Pelan-pelan." Tiba-tiba Hima yang entah datang darimana, menghampiri,dan Rain langsung terbatuk-batuk,sedikit tersedak karena kaget dengan kehadiran Hima. Hima sedikit berlari, menghampiri dan mengambil minuman Rain dan membantunya untuk minum. Nampak wajahnya memerah,seperti biasa.
" M ma maa maaf aku kaget."
" Aku terlalu ganteng yah." Kata Hima dengan pose tangan menopang dagu.
" Ish gak pantes." Katanya sambil terus menggigit burgernya. Ekpresi wajahnya seperti tidak makan satu bulan lamanya. Pipinya yang sudah chubby makin mengembang karena terisi penuh makanan. Hima tidak berkedip melihat Rain.
"Mau?" Tawar Rain.
"Tapi potekan." Imbuhnya lagi.
Hima menggeleng, Rain tampak tidak ambil peduli,ia tampak kesusahan membuka saos sambalnya,kemudian tangan Hima mengambil alih,membantu Rainaya membuka sachet saosnya.
" Ih jorok,kamu udah cuci tangan belom,pasti kotor abis pegang-pegang pasien."
"Sembarangan." Hima tidak terima,padahal setiap mengakhiri praktiknya Hima selalu mencuci tangannya. Double cleanshing malah.
***
Suster rumah sakit sudah melepas infus yang ada di pergelangan tangan Alika,menutup bekas luka jarum suntik dengan plester berwarna pink bergambarkan hello kitty, kali ini Alika tidak menangis karena secara bersamaan Hima juga berpura-pura memberikan plester yang sama kepada Rainaya.
"Kita samaan deh." Rain berusaha mengalihkan perhatian Alika,agar ia selalu bergembira. Daritadi ia sudah ada dalam gendongan Ayahnya,nampak manja,maklum kakak iparnya ini lebih sering dinas ke luar pulau.
" Rain kamu kan gak bawa mobil,ayok bareng aja." Ajak Dinda.
" Aku aja yang anter kak." Tawar Hima, Rain sedikit canggung. Tidak ingin merepotkan siapapun.
" Aku naik taksi aja."
" Sama Hima aja." Perintah Dinda,nadanya sudah meninggi,Dinda berusaha memberikan celah pada Hima. Otomatis Rain mengiyakan saja. Masalah nanti pulang sama siapa urusan belakangan.
Selepas Alika dan orangtuanya pulang, Hima mengajak Rain masuk ke ruangannya. Di luar tadi Rain sudah tidak enak hati,karena merasa jadi pusat perhatian perawat jaga. Belum lagi Hima yang repot-repot membawakan tas laptopnya.
" Aku aja Me." Terkadang Rain keceplosan memanggilnya dengan panggilan kesayangannya dulu. Tapi entah kenapa Hima. merasa puas.
Rain memasuki ruangan kerja Hima,ruangan serba putih, di sudut ruangan ada beberapa plakat dan piagam tertata rapi, sebuah foto masa kecil,Hima kecil dipangku oleh Ayahnya,dan disebelahnya ibunya yang sangat cantik, berambut panjang bak bintang iklan shampoo,mereka tertawa sambil memamerkan gigi masing-masing. Rain duduk di sofa sambil menunggu Hima menyelesaikan beberapa pekerjaannya.
***
Windscreen wiper mobil Hima bergerak ke kanan dan kiri,menghapus sisa percikan air, di luar memang masih rintik gerimis. Hima sengaja menyalakan playlist lagunya,stevie wonder. Ia masih ingat betul selera lagu Rain,selera eyang-eyang. Hima selalu meledeknya demikian.
"And maybe with a chance you will find
You too like I
Overjoyed, over loved, over you
Over you"
Hima mencoba untuk bersenandung,sengaja dilakukannya untuk menarik perhatian, tapi Rain tidak bergeming. Hujan menjebaknya untuk bernostalgia. Ia tidak menyangka bisa duduk di samping laki-laki lain selain Shaka. Laki-laki yang sebenarnya sama pengecutnya dengannya. Yang dengan sengaja mencampakkannya, walaupun Hima sedikit berbeda,entah sedang dalam perjalanan kembali menyakitinya atau benar-benar akan merajut benang biru menjadi syal hangat yang senantiasa menghangatkan Rain,setiap saat.
Jalan gatot subroto ini biasa dilalui Rain dan Shaka,seolah di sepanjang jalan ada TV besar yang memutar kembali rekaman masa lalunya. Setiap hari Jumat atau sedang meeting di jarak berdekatan,Shaka selalu meluangkan waktu untuk menjemput Rain. Untuk sekedar bercerita kabar hari ini,atau menemaninya makan ayam kfc. Pundak Shaka adalah tempat ternyaman Rainaya, tempatnya bersandar meskipun terkadang segala yang ada di dalam pikirannya tidak sanggup ia ceritakan. Shaka tidak begitu suka Rain mengeluh ini itu,maka dari itu Rain menjadi orang yang pemendam.
Rain tidak menyangka jika 5 tahun ke depan akhirnya mereka berpisah,menciptakan jalan hidup masing-masing. Rain memutuskan pergi dan mengosongkan seluruh hatinya untuk siapapun. Walaupun secara diam-diam Shaka masih sering datang melalui mimpi buruknya. Tapi Rain berusaha menepis semua itu,Rain ingin membebaskan diri dari luka. Rain lelah bertahan karena pada kenyataannya selama ini Rainlah yang banyak berkorban,ia yang berusaha mempertahankan hubungan yang sebenarnya kosong.
"Rain?" Hima sadar Rain ada di dunia berbeda,jauh berawang,bibirnya pucat,keringat bercucuran di dahinya,meskipun sebenarnya di luar sangat dingin. Hima mengambil beberapa lembar tissue lalu memberikannya kepada Rainaya. Ia melihat tangan Rain bergetar kembali. Setiap mengingat Shaka, Rain memang selalu begini,bahkan pernah ia sampai seolah kehabisan nafas,nafasnya berdesis atau kadang seolah terhenti sejenak.
"Rain?" Hima mulai panik. Hima menghentikan mobilnya. Benar saja tangannya sangat dingin dan bergetar. Ia memegang tangan Rain,berusaha menghangatkan. Diambilnya jaket yang ada di kursi belakang untuk dikalungkan ke leher Rain. Rain masih mematung.
"Kita ke rumah sakit yah." Ajak Hima. Hima curiga karena keringat yang jatuh dari dahinya hampir sebesar biji jagung. Di luar batas kewajaran.
"Akuuu aku cuma kelelahan."
"Tapi udah sering aku liat kamu kaya gini." Hima tidak tahan melihat Rain seperti ini. Rain terdiam, selama 6 bulan ini Rain mencoba untuk menjadi orang yang tenang,Rain berusaha melepaskan semua mimpi dengan Shaka penuh ikhlas dan pasrah. Rupanya Rain belum berhasil atau memang ia belum siap untuk membuka pintu hatinya dengan laki-laki lain,tidak terkecuali dengan Hima,cinta pertamanya.
***
Rain memainkan sedotan di jus mangga pesanannya, Luna yang ada di depannya menepuk punggung tangannya. Ia mulai kesal, sudah setengah tahun berlalu tapi ia masih saja belum bisa mengendalikan dirinya. Luna sudah mendengar cerita tentang Hima, cinta lama yang sudah hilang tapi kembali lagi.
" Gue heran yaaa sama lo,pacaran lama-lama tapi endingnya kok tragis amat. Ya hampir sama kaya gue yang pacaran paling lama 3 bulan."
" Ya emang gitu kenyataannya." Raut muka Rain mulai berubah masam.
" Pacaran itu buat happy-happy. Mending juga kaya gue gak cocok ya putus. Wasting time."
" Gue gak gitu!" Protes Rain.
" Tapi apa yang lu dapet? Kurus kering,kepala penuh dengan masalah laki. Dan lu gak usah boong sama gue, Shaka pernah nonjok elu kan? Pernah ninggalin lu di jalanan kan? Terus apa yang lu harepin. Dia lee min ho? Ganteng banget? Kaya banget? Hidup juga masih sering nebeng lu!" Rain tercekat,ia tidak menyangka Luna mengawasinya sedalam itu.
" Gue tau semuanya Rain, gue tau semua yang lu pendem!" Luna mulai melirih sambil mengusap pundak sahabatnya. Luna berharap Rain tidak akan mengingat Shaka lagi.
" Sesekali aja sih rasa itu dateng Lun,belum siap gue,kaya gak siap aja ada laki-laki lain di samping gue."
" Okeeee,gue ngerti,nikmati patah hati lo,udah lama juga kan lo ngekang diri,nyiksa diri,nikmatin masa sendiri lo. Emmmm gimana kalau nanti malammmm..."
" No!" Rain sudah berjanji untuk tidak lagi hinggap di dunia malam. Luna memang temannya yang paling setia. Dari jaman masih mencari pekerjaan, mereka pernah sama-sama interview kerja di perusahaan sebelum Rain sekarang, kemudian berteman hingga saat ini. Luna memang sering berganti pacar, entah sudah berapa lama laki-laki berdatangan silih berganti. Tapi ia selalu bahagia-bahagia saja, bahkan hampir tidak pernah menangis karena urusan laki-laki.
Pernah Rain berangkat kerja dalam keadaan sudut mulutnya memar, tapi Luna tidak pernah mempertanyakan hal tersebut. Ketika ia datang dengan mata yang bengkak karena semalaman menangis, tapi Luna tidak pernah bertanya,selagi Rain tidak bercerita apapun. Luna selalu menjaga privacy Rainaya.
Luna orang yang pertama kali memperkenalkan Rain untuk datang ke club malam, tapi tidak pernah marah dan memaksa jika Rain menolak ajakannya. Persahabatan mereka memang demokratis, membebaskan satu sama lain.
" Rain,atau mau gue kenalin sama temen gue?" Tawar Luna. Rain meneplak jidat Luna.
" Preman!" Erangnya.
" Hima aja belom kelar."
" Ahhh dia kan masa lalu. Kalau buat gue gak ada kesempatan kedua!"
" Tapi gimana ngelepasinnya,dia nongol terus." Kali ini Rain merengek, Rain sadar selama ini waktu mempermainkannya,ia seolah selalu mempertemukan mereka berdua.
" Lu tau terakhir kali gue maboy,gue dateng ke rumahnya!"
" Rainayaaaaaaa.....edannnnnn!" Umpat Luna tidak percaya.
***
Rain menyesal karena hari ini sudah memakai sepatu heels 12cm, betis dan pahanya serasa mengencang. Ia berjalan tertatih-tatih dari parkiran menuju lobby kantor, Rain baru saja menyelesaikan presentasi penawaran kontrak kerja bersama perusahaan advertising. Bukan kontrak kerja yang besar, tapi entah kenapa Rain ingin turun tangan langsung, semenjak Alika masuk rumah sakit ia menyerahkan semua tugas luar ke staff yang lain. Rain merasa jenuh selalu di kantor, Rain menengok ke arah coffee shop di dekat lobby gedung ini. Tidak salah lagi, ada Hima dan bodohnya lagi Hima melihatnya. Padahal sudah berapa hari ia sengaja menghilang dari Hima,melihat Rain berjalan tertatih, Hima langsung beranjak dan keluar.
" Kamu kenapa?" Hima siap untuk merangkul pundak Rain.
" Hihhh malu." Geram Rain. Hima mengurungkan niatnya, ia melihat Rain kesusahan membawa tas jinjing,tas laptop dan beberapa map di tangannya. Tak kuasa,iapun mengambil semua itu dari jinjingan tangan Rain.
" Aku antar."
" Gak usah." Rain berusaha merebut kembali. Tapi tangan Hima menolaknya. Hima geram dengan si keras kepala ini. Sepintas ia melihat kaki Rain,yaaa bagaimana tidak tertatih,sepatunya menjulang tinggi.
" Lepaslah sepatumu. Pantesan!" Nadanya mulai meninggi, Rain membungkam mulut Hima, ia malu karena orang-orang di sekitar mulai memperhatikan.
Begitu sampai di ruangan Rain, Hima langsung membuka sepatu Rain,benarlah,tumit kakinya sudah lecet merah,jika dikompres dengan tissue swab sudah dapat dipastikan akan ada darah membercak.
" Kamu ada p3k?" Tanya Hima. Rain kebingungan,
" Kapas? Alkohol?"
Rain kemudian menelpon Nana,teman kerjanya di kubikal luar, tidak berapa lama Nana muncul dengan membawa kotak P3K, Nana menatap penuh selidik. Bukan hanya Nana yang ingin tahu,semua isi kantor ini juga kaget dengan kehadiran Rain bersama laki- laki dalam keadaan kaki terpincang-pincang.
" Kamu boleh keluar Na." Rain menyuruh Nana keluar karena tidak suka dimata-matai. Sementara itu Hima membalut luka Rainaya, Rain merintih- rintih,persis dengan kelakuan Alika kemarin.
Hima kesal,ia menatap sepatu Rain,sepatu berwarna biru sedikit tua,ujung sepatunya meruncing,heelsnyapun meruncing sekitar 12 cm,membayangkan memakai sepatu inipun ia sudah ngilu. Hima heran kenapa sepatu macam begini bisa disukai wanita,
" Buang aja sepatunya." Hima mencari-cari tempat sampah, dengan sigap Rain mengambil sepatunya kembali.
" Enak aja,ini tuh 3 bulan uang makanku." Hima terbelalak.
" Ngapain beli mahal-mahal kalau cuma bikin lecet kaki."
" Kayanya kaki aku kegendutan deh,biasanya gak gini." Hima menepuk jidatnya.
Hima sudah kembali ke Rumah Sakit, ia ingin segera mengakhiri jam prakteknya. Tapi masih ada 5 pasien lagi, padahal ia sudah tidak sabar mengantar pulang Rainaya. Siang tadi Hima berulang kali meyakinkan Rain untuk menunggunya pulang sampai jam 7 malam, ia lebih percaya dengan mengungkapkannya secara langsung daripada melalui pesan whatsapp atau panggilan telpon, karena Rain sering mengabaikannya.
"Rainaya,bener kan kamu mau nunggu aku pulang?" Yakin Hima. Wajah Rainaya menunjukkan keengganan,tapi ia tidak enak hati menolak Hima. Raut wajah Hima seperti anak kecil yang merengek kepada ibunya minta dibelikan ice cream, jauh berbeda dengan kesehariannya sebagai dokter yang berwibawa, meskipun sebenarnya Hima adalah dokter yang jenaka, bukan seperti dokter jantung seperti biasa yang terkesan angker.
" Aku mau jangan kemaleman."
" Jam 7 please." Mohon Hima. Hima sadar Rain sedikit meragukannya apakah ia benar akan menepati janjinya atau tidak. Semasa menjadi dokter umum dulu Hima sering mengecewakan Rain,bahkan pernah ia sampai lupa menepati janjinya. Waktunya sering tersita oleh pekerjaannya yang masih tidak tentu. Hima ingin menebus citra buruknya dulu,ia ingin Rain tahu bahwa saat ini ia menjadi prioritasnya. Apalagi kantor mereka sekarang bersebrangan,tentu akan mempermudah mereka untuk saling bertemu.