
Gemericik aliran air di wastafel mengiringi pagi nan mendung, Rain masih terpaku, membiarkan air terbuang percuma, sepertinya otaknya bekerja terlalu keras, sudah berapa butir obat sakit kepala ia teguk, tapi masih dirasa kepala belakangnya justru makin mengencang. Bahkan airmatanya pun tertahan di ulu hatinya, diurutnya dadanya yang terasa makin mengurus. Tiga tahun tentu bukan waktu yang singkat bukan. Rupanya waktu benar-benar membuktikan bahwa apa yang ia berikan, apa yang ia tuluskan ya memang percuma. Tapi tidak seperti yang lalu, ia tidak menangis,kali ini ia hanya diam, berusaha menguatkan diri. Dilihatnya wajah sayunya di dalam cermin itu,hitam,gelap,kusam dan kehilangan kilaunya.
" Maaf, " Katanya parau. Telunjuknya bermain di cermin yang ada di hadapannya, kali ini airmatanya menetes walau hanya beberapa titik. Buru-buru ia membasuh mukanya, rupanya membiarkan mukanya sedikit basah oleh air sedikit melegakan.
" Huah. " Ia berteriak, tapi tersengal di tenggorokannya.
Rainaya keluar dari dalam kamar mandi, langkahnya gontai, kemudian ia melemparkan tubuhnya ke kasur, matanya memejam, dari belakang seolah ada dua tangan memeluknya
"Maaf." Suara yang ia kenal, bahkan hembusan nafas di belakangnya pun ia sudah hafal.
" Pergi. " Ia terisak, kali ini benar-benar terisak. Dia sadar suara itu hanya halusinasinya. Mana mungkin Shaka meminta maaf. Didekapnya tubuhnya dengan kedua tangannya, jari jemari nan mungil itu bergetar, Rain merasa tidak berdaya lagi dan benarlah matanya benar-benar terkatup, ia tertidur. Sungguh merupakan sebuah kebaikan ia bisa tertidur daripada menangisi sebuah perpisahan. Perpisahan yang sebenarnya sudah jauh-jauh hari ia yakini akan terjadi.
Suara ringtone di hpnya terdengar melengking. Rain menghempas, baru saja ia terlelap. Diliatnya nama pemanggil di handphonenya. Sedikit malas Rain mengangkat telponnya.
Kakak
" Hm. " Katanya memulai pembicaraan.
" Baru bangun?"
" Lu ganggu . " Rasanya Rain ingin memaki Kakaknya, sudah berapa hari ini ia tidak bisa memejamkan matanya,tapi giliran ia bisa terpejam,Dinda meracaunya.
" Turunlah ke lobby, gue pengen sarapan bareng.
Yang benar saja, jam 7 pagi kakaknya sudah menunggu di lobby apartemennya. Belum sempat Rain berkata apapun, telpon sudah ditutup. Rain menatap layar Handphonenya dengan malas. Dilemparnya Handphone itu,hingga mendarat tepat di atas bantal tempat tidurnya. Rain menghempaskan nafasnya,tangannya sibuk mencari ikat rambut, lantas menyingkap rambut tanggungnya untuk dikuncir ekor kuda. Poni ia biarkan tergerai. Sekali lagi ia memasuki kamar mandi dan menatap dirinya di dalam cermin. Dinda pasti akan matah-marah melihat keadaannya saat ini. Kantung hitam di bawah matanya sangatlah sulit untuk disembunyikan.
"Sial! " umpatnya.
Semenjak Dinda menikah dan memiliki anak, kakaknya ini memang jarang mengunjunginya. Sesekali datang hanya untuk membawakan lauk atau cemilan. Kakaknya ini memang terlihat sangat keibuan dan sabar. Kak Dinda... Ia pasti sangat sedih kalau melihat adiknya ini sedang berantakan. Rain menarik nafas dalam-dalam.
Rain bergegas turun ke bawah,masih menggunakan celana pendeknya dan hoodie berwarna hitam, turun ke parkiran. Digedor-gedornya kaca mobil silver milik kakaknya.
"Anak tengik!" kesalnya. Dinda tau betul adiknya, ia sadar adiknya ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dinda melepas sabuk pengaman yamg sedari tadi masih terkunci di pinggangnya.
"Rain" panggilnya lirih. Rain menolehkan mukanya. Ia mengangkat dagunya yang sejak tadi ia buang jauh-jauh.
" Kak din, gue putus sama Shaka. "
Dinda tercekat, bodoh... Bagaimana mungkin Rain memutuskan hubungan yang sudah 5 tahun berjalan. Detak jantungnya seolah berhenti, sesak sekali rasanya jika mengikuti ego anak ini. Belum lagi dia yang sudah berumur hampir kepala tiga. Bayangan terbebas dari merawat anak ini seakan sirna. Semenjak orang tuanya tiada, memang Dinda yang seutuhnya mengurus Rain, meskipun mereka tidak satu rumah.
"Kenapa?" Kali ini nada suara Dinda meninggi, ia termasuk orang yang sabar, tapi kali ini dia tampak tidak sabar. Ditatapnya wajah adiknya, ya Tuhan, Dinda mengerjapkan matanya,tangannya sibuk menopang kepalanya. Diremasnya rambut di kepalanya, berulang kali ia melakukannya. Dinda mengenang adiknya 5 tahun lalu, ketika putus dari mantan sebelum Shaka. Ia benar-benar memelihara boneka hidup dan ia tidak mau hal itu terjadi pada Rain lagi.
Dinda mulai cemas dan tidak sabar, dilihatnya Rain hanya terdiam. Sudah kebiasaan dia bungkam dalam masalah. Rain memang anak yang periang dan menyenangkan, tapi ketika masalah datang, ia hanya akan diam. Beberapa kali Dinda memang memergoki Rain menangis, tapi ia berfikir paling hanya masalah kecil. Rupanya sampai harus sejauh ini. Padahal Dinda berharap tahun ini Shaka bisa meminang Rain. Setidaknya satu beban dihidupnya bisa terbebas. Dinda bisa lebih fokus untuk mengurus rumah tangganya. Tapi nyatanya semua harapannya hanyalah isapan jempol semata.
"Rain." Kali ini Dinda mengguncangkan tubuh Rain dan Rain tidak bergeming. Bahkan kali ini ia merasakan tubuh adiknya bergetar. Ya Tuhan, adikku yang malang. Dinda memperhatikan wajah adik yang ada dihadapan matanya ini. Tatapan matanya kosong, matanya memancarkan kesedihan yang teramat terjal. Kali ini Dinda sadar sesadar-sadarnya, adiknya tidak berbohong.
" Ahhh!" Dinda menjerit ketika terdengar suara kilat sambar menyambar. Ia menutup telinganya. Kakinya spontan langsung naik ke atas kursi. Dinda berusaha untuk melepaskan hoodie Rain. Ia takut Rain sakit karena kebasahan. Ia juga meraba celana adiknya,untungnya masih kering.
"Buka,nanti lo bisa sakit." pintanya. Tapi tangan Rain menyingkirkan tangan Dinda. Dinda diam mematung. Tanpa disadari Rain menghambur keluar. Tersadar adiknya keluar Dinda mencari-cari payung di belakang kursi kemudi, ia tampak begitu panik. Rain kenapa kamu selalu seceroboh ini, umpatnya.
Ting.
Bunyi satu pesan whatsapp
Aku mau sendiri
Ya itu dari Rainaya
Dinda menghempaskan nafasnya. Kepalanya langsung sakit, dipijit-pijitnya pelipisnya. Ia membayangkan wajah kedua orangtuanya. Memiliki seorang adik saja hampir membuatnya kalang kabut. Selalu ada saja masalah yang ia hadapi. Rain adalah satu-satunya titipan kedua orangtuanya yang teramat berharga untuk Dinda. Tapi untuk mengantarkannya sampai ke gerbang pernikahannya saja tidak tercapai-capai. Padahal dulu iapun menikah di umur 23 tahun. Sementara Rain, hampir 29 tahun tapi tetap saja ia masih hidup melajang.