RAINAYA

RAINAYA
Duabelas


Rain memandangi bunga mawar berwarna putih  dan beberapa tangkai bunga lili yang sama putihnya. Diciumnya bunga itu, terasa harum semerbak sampai ke relung kepalanya. Masih teramat cantik, dengan beberapa titik air menempel di permukaan, duri-duri di batangnya sudah ditebas habis kemudian terbungkus kain spunbond berwarna pink muda dan pink fanta serta tali putih terikat di batangnya. 


get welson princess


Sebuah kartu ucapan terselipkan di antara bunga-bunga itu. Rain tersenyum, sungguh kekanakkan sekali.


"Norak." Lenguh Rain,bibirnya membentuk simpul begitu manis. 


Semenjak pulang dari rumah sakit, Hima rajin mengirimi bunga, rajin menanyakan kabarnya, Rain berusaha untuk menyambut Hima dengan sukacita, memasrahkan kembali cinta lamanya untuk dirangkai kembali. Tidak perlu terburu-buru, ia ingin kembali membangun sebuah istana dengan pondasi yang kuat. Rain tidak ingin membangun sebatas istana pasir di tengah terjalnya ombak yang sewaktu-waktu bisa terhempas begitu saja. Rain ingin kembali membangun istana di sebuah dataran hijau penuh pepohonan, disebuah bukit yang tenang, damai, yang di halamannya ditanami beraneka macam bunga berwarna warni, hanya ramai oleh kicauan burung dan tarian kupu-kupu di siang hari dan erikan jangkrik serta nyanyian katak di malam hari. Tidak ada keresahan di dalam istana, yang ada hanya kebahagiaan,tidak apa jika terkadang kacau ingin hadir, tapi dipersilahkan hanya sekejap saja,sebagai pemanis kehidupan.


“ Onty.” Alika menghampiri, ia membawa satu pack kertas origami. Semenjak keluar dari Rumah Sakit, Rain mengisi hari-harinya dengan bermain bersama Alika. Bukan aktifitas yang berat karena kakinya masih belum terlalu kuat, kadang Rain hanya menemani Alika menggambar atau mewarnai.


“Onty,mau dibikinin burung dong.” Pinta Alika. Rain menggaruk kepalanya, padahal dulu Rain jago membuat origami. Tapi rupanya otaknya sudah makin tumpul untuk mengingat ingat.


“Aduh Ka, kita bikin kapal-kapalan aja,” Alika langsung cemberut.


“ Om Shaka pinter bikin burung.” Tiba-tiba Alika nampak ketus. Rupanya Shaka masih ada di ingatan Alika. Rain ingat terakhir mereka bertemu, Shaka menghadiahkan Alika buku anak-anak dan kertas origami. Shaka dan Alika memang akrab, apalagi Alika juga jauh dari Ayahnya. Kehadiran Shaka seolah menjadi pengganti sosok Ayah untuk Alika. Lagi-lagi Rain terjebak dalam kenangan, begitu sempurna kehidupan mereka meskipun kadang dihiasi getirnya bumbu kehidupan. Shaka yang setiap hari Minggu selalu mengajak datang ke rumah Dinda untuk bermain dengan Alika. Kadang digendong-gendongnya si gempal ini di pundaknya.


" Lagi om lagi om, aku mau pegang langit." Alika kegirangan setiap kali Shaka mengangkatnya ke pundak.


" Bagusan juga kapal-kapalan, nanti abis itu kita taroh deh kapalnya di air beneran." Rain berusaha mengalihkan keinginan Alika.


" Di bak mandi?" Tanyanya polos.


" Ya jangan di bak mandi,nanti bisa disembur Mama kamu. Gimana kalau di ember aja, kita bisa main di taman depan, kan ada kran di sana." Raut wajah Alika menunjukkan perubahan yang signifikan. Ia memberikan kertas origaminya pada Rain, Rain memberikan selembar untuk dirinya sendiri dan selembar lagi untuk Alika.


" Alika harus ikutin Onty yah." Ia mengangguk-angguk sambil menyingkirkan rambut poni yang sudah mulai kepanjangan ke samping.


" Nanti Alika mainnya sama Mba Nah aja ya,kan kaki onty masih sakit." 


" Oke." Kata Alika sambil meringis lebar, terlihat gigi depannya yang sudah lepas satu. Terkadang Rain memang harus memiliki banyak cara untuk mengambil hati Alika. Karena bergaul dengan anak kecil itu memang gampang-gampang susah, harus penuh trik dan intrik.


***


Dengan hati-hati Rain turun ke lantai 1 di bantu asisten rumah tangganya, mba Nah. Lima menit yang lalu Hima menelpon, ia menyuruh Rain menunggunya di teras depan. Rain mengabulkan permintaan Hima,ia duduk di kursi depan, sore ini terasa sepi karena di rumah ini hanya ada ia,mba Nah dan Alika yang masih tidur sore. Benarlah, tidak berapa lama Hima datang, Rain sedikit terperanjat,ia menutup mulutnya lalu tertawa. Hima datang dengan mengendarai vespa berwarna kuning, dan helm retro warna putih berkaca kuning. Semasa kuliah dulu Hima sering menjemput Rain dengan vespa kuning. Hima melepas helmnya serta melepas jaketnya. Mereka terbahak berdua.


" Tara...." Goda Hima sambil menepuk jok motornya.


" Ngacoooooo" teriak Rain. Rain tidak menyangka Hima masih menyimpan motor ini dan rela berdebu-debuan melawan kemacetan setelah shifting panjangnya. Mba Nah yang melihat Rain sudah ada yang menemani langsung beranjak pergi.


" Mbak boleh minta tolong bawain 2 mangkuk sama sendok garpu. Air putih hangatnya 2 gelas yah." Perintah Hima penuh pertolongan pada mba Nah. Mba Nah mengangguk,dan tidak lama datang dengan pesanan Hima. 


Hima mengajak Rain duduk di bawah tangga, ia mengambil sebuah kantong plastik berisi bakso urat lengkap dengan mie dan potongan daging sapi kesukaan Rain. Rain makin terkesima dengan ulah Hima. Dengan hati-hati ia menuangkan bakso dan kuahnya ke mangkuk. 


" Ayo dimakan,mumpung masih panas." Pinta Hima,mereka duduk berhadapan di bawah pohon cemaram,tepat di depan rumah dan motor vespa kuningnya sengaja di parkir tepat di hadapan mereka duduk.


" Baso pak Bejo." Goda Hima, Rain kembali terkekeh,rupanya Hima sedang mengatur agar suasananya sama seperti di tempat bakso favorit mereka dulu, tempatnya memang hanya di pinggir jalan, kadang sengaja makan tidak di dalam kios agar lebih terasa anginnya. Hima bisa lebih puas untuk tertawa bersama tanpa takut pengunjung lain merasa terganggu dengan kebisingan  mereka. Usaha Hima tidak sia-sia karena ia kembali melihat senyum Rain, senyum tanpa paksaan.


"Norak." Rain memukul lengan Hima. Hima tidak bosan melihat Rain hari ini,ia sudah tidak sesuram kemarin, auranya sangat berseri. Hima coba meluruskan kaki Rain, khawatir jika terlalu lama menekuk akan membuatnya kesakitan.


" Aku udah bisa kok duduk kaya gini." Beritahu Rain. Ia tidak ingin Hima cemas.


Langit sore ini terlihat cerah membiru, segerombolan burung senja kadang terlihat beterbangan ke sana kemari. Gumpalan awan nampak berlari bekejar-kejaran. Senja yang biasanya sudah bersiap menyemaikan merah jingga di sore hari, kali ini nampak malu-malu untuk hadir. Seolah Tuhan menghentikan waktunya sejenak, membiarkan biru hinggap lebih lama, mengiringi sebuah senyum berlesung lebih lama tersungging dari si pemiliknya. Sementara itu matahari nampak ikut bersorak sorai dan bertepuk tangan dengan hari baru ini. Rainaya si mata kelabu mulai berpijar lagi. Bunga sepatu di tamanpun rasanya ikut tersenyum,ikut melambaikan tangannya.


" Selamat datang Rain." Bisik Hima dalam hatinya. Ternyata detak itu tidak pernah hilang, ia akan selalu hadir seperti pertemuan pertama mereka. Sepasang mata masih mencuri-curi pandang perempuan yang ada di depannya ini. Cantik tanpa riasan makeup apapun, perasaan itu kian membara,bagai api di dalam sekam,ia kembali membakar hati Hima,ia ingin memiliki Rainaya selamanya.


***


Rain menempelkan tissue hampir di seluruh muka, ia telah menyelesaikan sesi terapi patah tulangnya,wajahnya bercucuran keringat. Terapi hari ini lumayan menguras tenaga dan Rain mulai lega karena ia sudah bisa berjalan jinjit. Ia merasa kakinya mulai menguat,bisa diajak untuk kembali beraktifitas lagi. Dokter Eka, fisioterapisnya juga memeriksa kaki sebelah kirinya. Ia memastikan bahwa kaki kirinya tidak ikut cedera karena menopang beban selama kaki kanannya kurang optimal.


Rain sudah tidak sabar, hampir setiap detik ia melihat jam di pergelangan tangannya. Tadi pagi Rain memaksa datang dan pergi ke Rumah Sakit dengan menggunakan taksi, tapi Hima bersikeras mau mengantarnya pulang. Padahal Rain memahami jika Hima sibuk dengan pekerjaannya.


" Aku lama ya." Tiba-tiba Hima datang setengah berlari, cukup menjadi perhatian suster-suster di Rumah Sakit ini, selain masih lajang, Hima juga terkenal karena ketampanannya, beberapa kali ia juga terlihat di Rumah Sakit ini sedang bersama Rain. Tentu membuat orang lain penasaran dengan sosok Rainaya. Hima segera mengambil tangan Rain dan menggandengnya.


Rumah sakit ini lumayan besar, hampir semua makanan tersedia. Hima membelikan Rain segelas freshmilk dengan brown sugar.


Slurphhhhhh. Nikmat sekali, rasanya ini pertama kalinya ia meneguk minuman manis kekinian setelah kecelakaan itu. Hampir 7 bulan ia hanya minum jus, susu, teh manis atau airputih. Rain serasa hidup kembali. Otot-otot lemasnya serasa menegak kembali.


" 7 bulan makananku di atur,dan seorang dokter memberikan aku minuman manis dengan es yang begitu banyak,hampir memenuhi gelas." Goda Rain sambil menunjukan gelasnya.


" Sebenernya boleh-boleh aja kok, anggap aja ini hadiah dari aku." Rain tersenyum, sekejap mata minumannya habis. Hima menggelengkan kepalanya.


" Gimana latiannya?" Tanya Hima.


" Aku udah bisa jalan jinjit." Pamer Rain kegirangan, seperti anak kecil yang baru saja mendapat ranking satu.


" Aku bisa kerja lagi." Tambahnya penuh harap.


" Istirahat dulu sampe bener-bener kuat."


" Tapi dokter fisioterapisnya bilang justru aku harus banyak gerak dan olahraga." Hima mengangguk anggukkan kepalanya.


" Ya udah, tapi buang semua sepatu hak tinggi kamu!" Rain tersenyum. Suatu hal yang sangat mustahil jika Hima memerintahkan Rain untuk membuang semua sepatu kesayangan. Entah sudah berapa tetes keringat ia tukar untuk membeli sepatu-sepatunya, tidak berapa lama Rain tersenyum sinis.


" Tidak akan!" Teriaknya dari dalam hati.


 Sepintas Rain melihat Dokter Firman. Dokter Firman adalah psikiaternya dulu. Refleks Rain memandangi telapak tangannya. Ia baru sadar, sudah lama ia tidak pernah merasakan gemetaran lagi. Hima menengok ke arah belakangnya,ia penasaran siapa yang sedang Rain lihat. Hima  menepuk kedua telapak tangan Rain.


" Sudah sembuh." Hima berusaha membuyarkan pandangan Rain, menenangkan Rain, meyakinkan bahwa sekarang ia jauh lebih baik.


" Dokter Firman praktek disini juga?" Tanyanya lirih.


" Sepertinya sedang ada keperluan saja."  Rain menerawang jauh ke belakang,ia selalu mengira hidup tanpa Shaka adalah sebuah kemalangan sepanjang hidupnya. Bahkan Shaka hampir sepenuhnya menghancurkan hidupnya. Rain mengira tidak akan sembuh dari syndrome kecemasan dan ketakutannya. Tapi sudah hampir 6 bulan ini ia tidak merasakan apapun. Rupanya Tuhan terlalu baik, penggal demi penggal cerita ia jalani penuh jatuh bangun termasuk dipertemukannya kembali dengan cinta pertamanya. Begitu beruntungnya Rain karena perasaan Hima masih sama,seperti 7 tahun lalu, Himandra Antasena adalah laki-laki yang amat mencintainya dan mengungkung hidupnya dalam kesetiaan. Berulang kali mencoba menjalin hubungan baru dengan wanita manapun tapi selalu gagal. Ia masih diperalat oleh rasa bersalahnya karena menyiksa seorang wanita bernama Rainaya Wijaya. Rain berusaha menepis kenyataan bahwa Himapun pernah di ambang fatal membawanya dalam kekecewaan hidup, Rain selalu berteriak, melawan keputus asaannya. Rain ingin mengejar Hima, entah untuk memberikan pelukan selamat tinggal atau memohonnya untuk tidak pergi.


Lambat laun Rain menyadari, Hima berbeda dengan Shaka.  Langkah itu tidak pernah salah, Hima adalah laki-laki impian. Penuh tanggung jawab dan kesetiaan, meskipun hari-harinya begitu melelahkan, kadang ia juga mengambil hari libur untuk tetap bekerja tapi Hima bisa membagi waktunya, membuat Rain serasa selalu di dalam pelukannya. Tidak selalu bertemu tapi kadang hanya bersapa melalui telepon pun ternyata tidak hentinya membuat jantung Rain berpacu semakin keras bahkan ingin meledak. Meskipun terkadang Rain seolah mengingkari perasaannya,tapi ia berusaha mengusirnya jauh-jauh. Rain masih malu-malu untuk menyambut tangan Hima, tapi Hima tidak pernah menuntutnya untuk cepat-cepat berpaling kepadanya. Kadang Rain menyalahkan dirinya tapi Rain menyadari satu hal bahwa Shaka tidak lain adalah seonggok masa lalunya yang sudah hilang terbawa angin dan tidak tahu dimana.


***


Pak Zain menghentikan mobil tepat di depan lobby kantornya. Pagi ini Rain memutuskan untuk kembali bekerja, walaupun ia tetap harus memakai tongkatnya. Rain tidak membiarkan wajahnya polos dan penampilannya lusuh karena baru saja selesai dari masa penyembuhan. Ia menguncir kuda rambutnya, membiarkan poni depannya tergerai sangat manis, seperti masih remaja. Ia memberikan beberapa tepuk bb cushion, dan cream blush on agar terlihat makin segar dan merona, bibirnya hanya dipulaskan dengan lip tint berwarna orange,meski sangat natural tapi begitu memancarkan kecantikan Rain yang otentik. Kali ini ia mengikuti ultimatum dari Hima,untuk datang tetap memakai tongkat dan menggunakan sepatu flat.


Pintu mobil dibuka oleh security yang ada di depan, Rain disambut dengan senyum lebar dari pria besar tinggi semampai berseragam safari biru. Rain membalas dengan  senyum manis. Ia tidak menyangka hari ini sudah dimulai kembali, rupanya bisa berjalanpun adalah salah satu nikmat kecil dari Tuhan yang teramat sering ia lupakan untuk disyukuri . Meskipun Rain berjalan tertatih menggunakan tongkat, ia tetap menebar senyum tipis di sepanjang jalan.


Thing


Pintu lift terbuka, lift masih sepi,kira-kira hanya dinaiki 5 orang, rupanya Rain berangkat terlalu pagi. Padahal tadi pagi ia terburu-buru datang karena takut terjebak kemacetan, tapi ternyata ia malah datang terlalu pagi. Rain menatap dirinya sendiri dalam cermin di sekeliling lift. Ia terpaku, karena di sudut ia melihat orang yang sudah tidak ingin ia lihat lagi. Angell.


Angell mengamati Rain,dari ujung kaki sampai ujung kepala, Rain memang semakin cantik dan menawan,tapi ia kaget melihat Rain berdiri dengan kruk. Sebenarnya bukan Angell saja yang keheranan, ia menjadi pusat perhatian oleh semua orang yang ada di dalam lift ini. Rain berusaha tegar, tersenyum sedikit ketika pandangan mata mereka bertemu, meskipun Angell tidak membalas senyumannya bahkan terlihat seolah ingin menerkam Rain. Rain sedikit lega karena Angell keluar di lantai 19, sebuah kantor notaris. Dengar-dengar memang kantor baru, Rain memukul kepala belakangnya, karena itu pertanda bahwa ia akan sering bertemu dengan Angell. Sebelumnya Rain memberikan perlakuan baik pada Angell meskipun Angell tidak pernah ramah kepadanya. Tapi semenjak kecelakaan itu, Rain merasa percuma memberikan perlakuan baik terhadapnya. Ia akan tetap dianggap penjahat oleh si nenek sihir ini.


Sampai dikantor Rain dikejutkan dengan keadaan kantornya yang sudah meriah,padahal hari ini bukan ulangtahunnya, bahkan ada beberapa badut di datangkan. Sepagi ini rekan-rekan kerjanya menyiapkan semua ini, sampai ada potong tumpeng segala. Dinding kantor dihias sangat meriah, bahkan benang-benang yang ditempel foto-foto Rain dibiarkan bergelantungan. Rain semakin bersemangat untuk kembali bekerja, bahkan tadi ia sampai menitikkan airmata kebahagiaan. Ia bersyukur karena masih diberkahi umur yang panjang, dan kaki serta tangannya masih lengkap, tidak ada kurang apapun, tentunya ia bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik. HP Rain berbunyi, panggilan dari Hima.


"Ramai sekali." Hima sedikit kaget dengan suara berisik di telpon.


" Ada pesta penyambutan." Bisiknya


" Kalau gitu aku juga mau buat pesta penyambutan. Nanti pulang tunggu aku."


" Kamu pulang jam 7?" Tebak Rain.


" Iya, inget jangan kemana-mana biar aku yang jemput langsung ke kantor kamu." Rupanya Hima masih trauma dengan kecelakaan beberapa bulan lalu.


" Oke...jangan lupa sarapan ya."


" Kamu juga. Dahhh." Setelah menutup telponnya Hima melompat lompat kegirangan. Bahkan sampai hampir terjatuh karena lantai licin. Gayung bersambut, rasanya ia ingin segera melewati hari ini,agar bisa bertemu dengan Rainaya lagi.