
Rain tidak masuk kerja lagi,tubuhnya makin kering,ceruk di bawah matanya makin dalam. Hampir setiap hari Dinda menemani Rain, ia tidak ingin terlalu keras terhadap Rain, toh mau sampai marah-marah seperti apapun ia akan menjadi patung,lebih banyak diam tanpa suara. Dinda hanya ingin Rain memiliki gairah untuk sehat kembali. Dinda sadar adiknya ini sangat tertutup,ketika sedih ia hanya ingin sendiri. Ini bukan sekali dua kali,tapi sudah sering terjadi.
Pagi ini Dinda sedikit lega karena Rain mau meminum segelas jus pisang dan strawberry. Biasanya apapun yang ia suguhkan tidak pernah dimakannya. Saking pesimisnya Dinda diam- diam mengirim pesan ke Shaka.
" Datanglah, sebelum adikku jadi mayat hidup."
Jangankan di balas, dibacapun tidak. Memang benar-benar anak sialan, umpatnya dalam hati.
" Rain." Panggil Dinda. Rain menengok, Dinda merengkuh kepala adiknya.
" Maafin kakak." Dinda berusaha membuka pembicaraan. Hingga akhirnya Rain pasrah tenggelam dalam pelukan Dinda.
" Kak, aku minta maaf masih jadi beban pikiran Kak Dinda. Aku janji ini yang terakhir." Dinda tersenyum,ia tidak mau memaki-maki Rain. Ini awal mula Rain mau diajak berbicara dengan baik-baik. Dinda tidak mau adiknya menjadi depresi hanya karena Shaka. Shaka yang setengah bulan ini keberadaannya hilang entah kemana. Padahal hubungan Shaka dengan keluarga Rain sebenarnya sangat baik. Alikapun akrab dengan Shaka, setiap Sabtu atau Minggu mereka pasti berkunjung ke rumah. Bahkan belum ada sebulan yang lalu Shaka masih membawakan Alika buku mewarnai buah-buahan. Dan sekarang Alika sudah pintar menyebut nama-nama buah. Ahhh tapi kenapa seolah begitu cepat waktu merubah, mereka berpisah. Tanpa Dinda mengetahui duduk permasalahannya.
***
Hari sudah larut, Rain masih sibuk di depan monitor komputer,sesekali ia meminum air putih yang ada di dalam botol minumnya. Seusai ijin sakit 7 hari, pekerjaannya membludak. Rain masih harus menyelesaikan beberapa laporan. Ia terlihat begitu lelah, beberapa kali Rain terlihat memijit-mijit keningnya. Kemudian ia terpaku pada sebuah foto yang terpajang di meja, tentunya fotonya bersama Shaka. Sspasang kekasih yang terlihat sangat berbahagia, dengan setelan warna senada serta senyum yang sama-sama menampakkan gigi masing-masing. Rain tersenyim kecut. Buru-buru Rain melepas foto Shaka dari bingkainya. Ia meremas-remas foto itu dan membuangnya di tong sampah. Luna yang ada di sebelah Rain tampak manggut- manggut. Mungkin ia adalah orang yang paling bahagia mendenhar kabar bahwa Rain memutuskan hubungan. Ia lega sahabatnya akhirnya mempersilahkan ruang baru dalam kehidupannya. Ya... Rain berhak bahagia, lagian kenapa juga sih laki- laki setipe Shaka begitu digilai Rain.
Pernah suatu saat Luna memergoki Shaka memarahi Rain dan menunjuk-nunjuk Rain di pinggir jalan disaksikan beberapa puluh pasang mata menyaksikan drama murahan itu. Pernah pula Rain menangis sepanjang hari dan saat melihat Feed instagram Shaka, Luna melihat Shaka sedang bersama wanita lain,tertawa-tawa,sedangkan sahabatnya tenggelam di dalam kedukaan. Belum lagi dengan keluarga Shaka yang sering menyakiti Rain secara sembunyi-sembunyi, yaaa mereka tidak mengerti bukan jika selama inilah Shakalah yang mengungkung Rain dalam lubang penderitaan. Ia hampir seperti pajangan, dilalaikan begitu saja tapi saat Shaka butuh harus ada. Pernah Rain jatuh sakit, dua minggu di rawat di Rumah Sakit seorang diri, jangankan cemas,menanyakan kabarnyapun tidak. Rain hanya bisa pasrah terhadap takdir,ia selalu berkata tidak bisa hidup tanpa Shaka. Jika membunuh bukan suatu dosa besar sudah lama Luna ingin bunuh laki- laki itu.
Sebagai seorang sahabat Luna hanya ingin Rain bahagia. Luna ingin Rain menikmati hidupnya. Lantas menemukan cinta yang tepat. Bukannya laki-laki yang ia pungut sembarangan di jalanan. Terlalu banyak kedukaan Rain alami, dan puncak parahnya setahun belakangan. Rain menjadi sangat pendiam, ia makin menyendiri dan tentunya makin kurus.
Pekerjaan Rain sudah hampir selesai,ia melirik ke arah Luna, tangannya yang usil sengaja menggodai Luna.
" Udah belum?" Rain menakut-nakuti Luna.
" Ih apaan sih,merinding gue." protesnya sambil mengusap tengkuk lehernya sendiri. Lantas ia bergidik sembari melipat kedua tangannya.
" Rain, are you ok?" Luna kembali meyakinkan Rain. Walaupun saat ini Rain sedang tersenyum tapi Luna yakin, Rain tidak baik-baik saja .
Rain mengangguk.
" Gue naik busway nih. Lagi males nyetir."
" Gue anter ya." tawarnya.
" Gak usah, pengen nyibukkin diri."
" Nyusahin itu namanya. Denger deh,Rain pokoknya mulai sekarang gue gak mau lu nangis lagi gara-gara Shaka. Apalagi balikan,liat lu tuh cantik,banyak juga cowo- cowo yang mau ngedeketin lo. Inget kalau Orang-orangan sawah itu dateng lagi jangan mau!" tiba-tiba Luna mengancamnya.
***
Rain baru saja mandi, ia merebahkan tubuhnya yang seharian duduk tegak di atas kursi. Rain membuka handphonenya dan membuka sebuah request pertemanan di akun instagramnya.
Himandra Antasena
Teman lama yang ia temui di Rumah sakit kemarin. Sosoknya memang pernah hadir di hati Rain. Tapi itu dulu,sebelum ada Shaka. Hima terlalu berbeda tipe dengan Shaka, tapi yang ia lihat kemarin Hima tampak lebih segar. Dan ia terlihat lebih gemuk dari 7 tahun yang lalu. Tapi senyumnya tidak pernah berubah, masih sama. senyum yang berpayung senja, membuat Rain ingin menghangatkan diri di bawah payung itu lagi. Tapi Rain sudah menepis jaub angan itu.Rain mencoba mencari tahu di akun sosial media, ternyata Hima sudah menjadi dokter spesialis bedah, sama dengan Ayahnya.
Dari jaman sekolah Hima memang anak yang rajin dan pandai, ia selalu sibuk membaca buku. Tidak heran jika waktu itu Hima bisa lulus di Universitas Kedokteran ternama. Bahkan menduduki peringkat terbaik. Setahun menjadi dokter umum di sebuah klinik di timur Jakarta, bahkan pernah juga sampai mengabdi ke pedalaman Kalimantan. Semua Hima lakukan demi cita-cita besar yang sudah lama ia impi-impikan. Hingga kemudian mereka berpisah dengan sendirinya ketika Hima memutuskan sekolah spesialis ke Jerman. Tapi untuk Rain hal itu tidak terlalu menyakitkan,ya karena mereka hanya berteman, hampir jadian saja. Tidak seperti sekarang karena 5 tahun ini Shaka benar-benar pacarnya,pacar yang sudah mencampakkannya terang-terangan.
Rain memutuskan untuk menolak undangan pertemanan dari Hima. Nampaknya hatinya sudah beku, ia tidak mempersilahkan siapapun untuk masuk ke hatinya. Ia hanya ingin menikmati kesedihannya. Sendirian
***