
Dinda berteriak histeris, suaranya hampir habis, urat-urat di lehernya seolah ingin terburai keluar. Indra memeluknya dari belakang, tidak hanya berteriak,tubuhnyapun meronta-ronta, ditepuk-tepuknya dadanya sendiri. Sementara itu di depan matanya Hima terduduk lemas,ia hampir tidak bisa berkata apapun, ia lunglai kemudian terduduk lemas. Beberapa suster yang melewati ruangan dan mengenal Hima seolah memandanginya penuh selidik. Hima yang biasa tampil rapih sekarang terlihat acak-acakan. Bahkan ia seolah kehilangan wibawanya.
Hima sadar sudah lama meninggalkan wanita di dalam ruangan itu terlalu lama. Ia kemudian bangkit dan masuk, semenjak peristiwa menjijikan itu Rain hanya mematung. Hari-harinya berlalu begitu saja,ia hanya bisa diam sepanjang waktu. Bibirnya nampak biru kering karena terlalu banyak dimasuki obat. Tangannya sudah hampir keriput dan sangat lemah tanpa daya. Melihat hal demikian membuat Hima hancur, dari dokter Firman ia juga mengetahui bahwa Rain mengalami kekerasan seksual. Alat vitalnya mengalami trauma yang cukup serius, bahkan di hari peristiwa itu terjadi seorang perawat menemukan Rain diam terduduk dan darah segar menetes di kakinya. Rain tidak menampakkan reaksi apapun, ia diam seribu bahasa. Hima tahu siapa pelakunya.
"Sus,kenapa Rainaya bisa jatuh?" tanya Hima kepada suster yang terakhir menangani Rain.
" Dok tadi ada laki-laki melapor jika darah Nona Rainaya naik ke selang infusnya. Ta....tapi..." suster itu bingung karena merasa diinterogasi oleh Hima.
" Masih ingat orangnya?" Hima memotong perkataan perawat itu.
" Tinggi,kurus,rambutnya ikal,pakai kacamata."
Hima menghela nafasnya, Hima ingin mengumpat, tapi tidak bisa,ia hanya bisa memukul-mukulkan tangannya di jendela Rumah Sakit. Hari-harinya berubah dipenuhi awan hitam. Apalagi Rain menolak untuk bertemu dengannya. Pernah sekali waktu ia sampai memecah gelas yang ada di meja dan menakuti Hima akan memutus urat nadinya dengan pecahan gelas jika Hima tidak pergi. Tentu saja Hima terpukul, Rain menjadi sangat kacau,dan ia tidak kalah kacaunya.
"Pergi!" usir Rain, pecahan gelas yang runcing itu sudah berada di atas permukaan kulitnya. Hima memundurkan kakinya pelan. Tangannya berisyarat, ia ingin Rain menghentikan perbuatan membahayakan itu.
Rain membanting pecahan gelas itu lalu kembali menangis histeris. Di ujung bangsal, Dinda yang baru saja pulang untuk berganti pakaian langsung berlari mendengar teriakan adiknya. Ia lari menerobos pintu kamar perawatan Rain. Didapatinya sang adik histeris, Dinda merengkuh adiknya,menelungkupkan kepala Rain tepat di pelukannya. Suara erangan tangis Rain membuat sekujur bulu kuduknya berdiri, belum lagi beberapa pecahan gelas berserakan. Dinda menutup mulutnya, meskipun ia tidak tega mendapati adiknya semenyedihkan ini tetapi Dinda berusaha terlihat tegar. Hima yang tadi sudah mundur akan beranjak meninggalkan Rainpun mendekat. Ia mendekat,memunguti serpihan pecahan-pecahan kaca. Bahkan ia meremas potongan-potongan runcing dalam genggaman tangannya. Dinda merasa jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya. Cukup lama ia melihat Hima terdiam, hingga akhirnya Hima meninggalkan kamar ini dengan tetes-tetes darah di sepanjang jalan.
Tangan Hima tidak berhenti mengepal jika mengingat laki-laki yang dengan tega menyentuh Rain dengan beringas. Padahal ia tahu Rain tidak berdaya, bahkan ia babak belur karena ulah kakaknya sendiri. Bagaimana mungkin di dunia ini ada laki-laki berhati iblis seperti Shaka.
" Maafin Kakak Him, kamu anak yang baik. Kakak yakin ada banyak wanita baik yang menantikan kamu." mohon Dinda. Dinda tidak sampai hati karena adiknya membuat hari-hari Hima makin terpuruk. Dinda ingin Hima memutuskan pertunangannya dengan adiknya. Ia sadar adiknya tidak utuh, Dinda menyadari adiknya mengalami depresi yang tidak akan secepat itu bisa sembuh. Hima berhak bahagia, daripada meratapi Adiknya.
"Rain tidak gila Kak, dia sehat." bela Hima. Dinda menarik nafasnya panjang, Indra yang ada di sampingnya menepuk-nepuk pundaknya.
"Kita harus menerima kenyataan Him. Bukan cuma kamu yang tidak terima. Kakak juga...kita juga berat,tapi Rain harus sembuh!"
" Kalau Kak Dinda keberatan merawat Rain,biar saya Kak!" Hima marah,ia berdiri dan beranjak meninggalkan Dinda dan Indra.
***
Aku tahu engkau serapuh bunga ilalang,yang jika tertiup angin kencang langsung membuyar menjadi puing-puing. Tapi apakah engkau tahu....sesungguhnya engkau adalah bunga melati di pagi hari. Baunya begitu khas,harum semerbak dan meninggalkan kenangan yang sulit untuk dilupakan. Melati yang jika kucium,seolah isi kepalaku ingin tertidur,bersandar diantara pundakmu lalu sayup-sayup kudengar engkau bersenandung dan seluruh jiwaku ikut memerah jambu memelukmu.
Malam yang begitu pekat gelap,meskipun sudah hampir sebulan ini matanya ikut gelap, hanya derik jangkrik yang terdengar. Dalam sujud ikhlas, sepasrah-pasrahnya manusia yang mengalah pada jalan hidup Tuhan,Hima duduk bertahiyat akhir. Mulutnya komat kamit berdoa,sangat lirih. Sebuah doa ia terbangkan ke langit,bukan doa yang panjang. Tolong sembuhkan Rainaya Wijaya.
Hima memegang pucuk kepala Rain,matanya terpejam,ia masih begitu tenang terlarut dalam doa. Ia yakin dengan campur tangan Tuhan semua tidak ada yang mustahil. Setelah mengamini doanya ia mengecup dahi Rain. Jarinya menyentuh kantung matanya yang semakin cekung,setetes airmata jatuh di pipi Rain. Bukan airmata Rain,melainkan kekasihnya sendirilah yang meneteskan airmatanya. Buru-buru ia mengusap airmata itu dengan satu kecupan syahdu di pipi tirus Rain.
" Hima aku ini wanita kotor." katanya lemah,pandangan matanya kosong,mulutnya gemetaran,tangannya juga ikut gemetar. Sore tadi Rain sudah mulai berbicara. Tapi sekalinya berbicara kata-kata itu terdengar begitu menyakitkan untuk Hima.
"Rain...aku gak akan peduli itu. Jangan pernah kamu bilang kaya gitu lagi ke aku. Kamu Rainaya Wijaya,kamu kuat Rain" tolaknya tanpa berani ia memandang wajah Rain. Ia tak kalah gemetarannya dengan Rain. Rain merasa dirinya sudah cacat dan tidak berarti lagi. Tapi entah kenapa Rain juga tidak ingin membalas perbuatan bejat Shaka atau Kakaknya. Berulang kali Rain mendengar umpatan Dinda di telinganya. Dinda sangat ingin menyeret Shaka dan Angell ke penjara, tapi Rain sama sekali tidak bergeming. Baginya membawa semua masalah ini ke jalur hukum justru akan membuatnya semakin mengingat peristiwa buruk tersebut dan membuat batinnya justru semakin terluka.