RAINAYA

RAINAYA
Duapuluh Satu


Luna menatap ngilu jahitan-jahitan yang ada di wajah Rain,meskipun sudah mengering tapi tetap saja Luna meringis-ringis,seoalah dia yang terluka. Ia mengambil salep lantas mengoleskannya di bekas luka Rain agar cepat mengering.


" Kalau sampai nenek gerandong itu dateng lagi bakal gue habisin dia." umpatnya,kali ini Rain meringis, emosi Luna membuatnya menekan kulitnya terlalu keras. Buru-buru Luna melemahkan jarinya.


"oooppssss,gue emosi,sorry." Luna menatap wajah sahabatnya ini yang makin hari makin kusam,ceruk matanya makin dalam, ia seperti 10 tahun lebih tua dari umur Rain sebenarnya. Luna lantas bersembunyi di bahu Rain,ia mencoba menahan segala kesedihannya. Rain menepuk bahu Luna.


" Kenapa lu yang nangis?" heran Rain. Buru-buru Luna melepas dekapannya.


Sore ini Luna pulang lebih cepat, hampir satu bulan Rain dirawat di rumah sakit. Hampir setiap hari ia menengok sahabatnya ini. Luna mulai senang dengan keadaan Rain yang semakin hari semakin membaik. Rain sudah bisa diajak berbicara, ia tidak sekosong kemarin-kemarin. Meskipun jika dilihat dengan seksama wajahnya memang begitu sunyi, seperti semak belukar yang ditumbuhi padang ilalang yang luas dan hanya diriuhkan oleh suara angin di siang hari dan suara jangkrik di malam hari.


Rain mengajak Luna untuk duduk di tepi danau di belakang paviliun kamar perawatannya. Tempatnya lumayan tersembunyi,karena hanya pemilik kamar VIP saja yang memiliki akses ke tempat ini. Sebuah danau yang tidak terlalu luas dan dipinggirnya ditanami bunga mawar berwarna warni. Airnya tenang, Luna tidak menyangka kalau di Rumah Sakit ada tempat serelaks ini. Luna bahkan merasa ia seolah ada di taman bunga rekreasi.


"Rain lekaslah menikah." pinta Luna, memang tidak tepat jika ia membicarakan pernikahan di suasana seperti ini, tapi Luna merasa lebih tenang jika ada seseorang yang bisa menjaga Rain. Luna tidak ingin ada yang melukai Rain lagi,apalagi masa lalunya. Luna ingin Rain memulai kehidupan barunya. Hidup kembali menjadi orang yang baru dan hidup berbahagia.


" Menikah? Siapa yang mau sama wanita kotor kaya gue Lun. Bahkan sebelum kejadian itu gue sudah kotor. Taaaa...." belum sempat Rain melanjutkan kata-katanya,Luna sudah menutup mulut Rainaya.


"Stop gue gak mau denger itu lagi. Itu masa lalu,cuma sampah. Buah jauh-jauh Rain....Gue bersumpah laki-laki itu gak akan tenang sepanjang hidupnya. Dannnn ahhhh....please Rain kalau Shaka dateng dan ngejauhin lu,Lu teriak yang kenceng. Harusnya kemaren lu laporin dia dan kakaknya ke polisi. Biar kapok! Okelah mereka ngaku-ngaku keluarga ningrat,tapi gak ada akhlaq semua. Bad attitude! Sampah! Kotor"


"Gak semudah itu....."


"Kenapa si lu selalu kicep kalau di depan dia. Dia itu jahat Rain." Setetes airmata jatuh membasahi pipinya. Luna menghela nafasnya dalam-dalam. Luna sadar ia berbicara terlalu jauh, Luna hanya ingin Rain tidak terlalu berbaik hati kepada Shaka.Memang, Luna dan Rain adalah sepasang sahabat dengan dua kepribadian yang berbeda. Luna tidak suka menangis apalagi lemah di hadapan laki-laki atau orangtuanya sekalipun. Sedangkan Rain adalah seorang perempuan yang bertekuk lutut dihadapan laki-laki. Sudah sering Luna memakinya,tapi itu semua hanyalah angin lalu untuk Rain. Yang ia tahu, ia teramat sangat mencintai Shaka. Cintanya yang tidak akan pudar tapi nyatanya harus dikotori oleh pria yang teramat ia cintai. Bukan hanya cintanya yang rusak,tapi hampir separuh dirinya sudah terhempas. Bahkan ketika ia sudah ada digenggaman pria lain, bahkan setelah hampir setahun ia bebas terlepas dari Shaka rupanya itu belum cukup,ia merasa masa lalu selalu membayangi kehidupannya.


"Nangis Rain yang kenceng. Biar keluar semua." selalu itu yang Luna katakan ketika melihat Rain menangis. Selama ini Luna paham betul Rain memendam perasaannya sendiri. Ia yakin belum seluruhnya ceritanya bersama Shaka yang ia ketahui, Shaka sudah mengambil Rain sahabatnya yang dulu. Tiga tahun Shaka menyiksa Rain dalam keterpurukan dan selama tiga tahun itu juga Rain tidak pernah menyadari bahwa ia hidup di bawah ketersiksaan. Hanya Luna yang menyadari hal itu. Hampir setiap hari mata Rain bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Tangan lu kenapa?" waktu itu Luna keheran-heranan melihat lengannya yang membiru dan bekas luka dikeningnya.


" Eh...kebentur aja..." buru-buru Rain menghindari pertanyaan Luna. Ia segera mengambil beberapa berkas dan sibuk mencari-cari dokumen yang sebenarnya tidak ia cari. Luna menghargai keputusan Rain yang tidak mau bercerita, tapi Luna sadar ada yang salah dari hubungan mereka. Pasti semalam Rain dicengkeram atau bahkan dipukuli oleh Shaka. Luna merasa sangat frustasi, kadang ia hanya meremas-remas rambutnya untuk menahan amarah.


Hima membuka ruangan tempat Rain dirawat,tapi tidak seorangpun ada di dalam situ. Ia menatap wanita yang ada di sebelahnya. Ya....sore ini ia datang bersama Ibunya. Tante Alya datang dengan memeluk sebuah vas bunga berwarna transparan serta bunga mawar putih yang disusun berseling dengan bunga lili,begitu cantik. Hima memandang wajah ibunya, seketika wajahnya yang cerah merona berkilat awan hitam. Hima terlihat panik,ia mengusap bahu ibunya.


"Ma....Hima cari Rain dulu."


Hima mengangguk, sepintas ia melihat Rain meninggalkan Handphone di atas kasurnya. Ia segera berlari menghambur keluar.


Tante Alya mengamati ruang perawatan Rainaya,tampak rapi, ia meletakkan vas bunga di meja di samping tempat tidur kemudian ia membuka tirai jendela kamar. Ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Rain duduk di pinggir danau. Tante Alyapun segera menyusul Rain.


"Rain." panggil Tante Alya. Rain dan Luna sedikit kaget dengan kehadiran Tante Alya. Ini kali kedua Luna bertemu dengan Tante Alya, pertemuan pertamanya ketika ia datang ke lamaran Rain. Luna menjabat tangan Tante Alya,setelah itu ia langsung memeluk Rain tanpa aba-aba. Rain terharu,tapi ia takut calon ibu mertuanya ini melihat keadaannya yang sekarang. Ia sadar Tante Alya sedang mengamatinya, sekali lagi Ibu ini memeluk Rain,seolah ia adalah anak perempuannya yang sudah lama tidak ia jumpai.


" Maaf Mama baru sempat menengok dan maaf juga karena Papa masih di luar kota." Tante Alya sedikit kaget karena wajah Rain yang babak belur, padahal Hima mengatakan bahwa Rain hanya terluka karena kecelakaan kecil.


" Kamu kenapa sayang?" suaranya penuh dengan kepanikan,tapi justru menciptakan jarak yang canggung diantara mereka bertiga.


"Rainn...a...a"


"Rain jatuh Tante." sela Luna. Ia hanya tidak ingin ini semua menjadi panjang,


" Tante kita masuk ke dalam aja yuk. Anginnya makin kencang." ajak Luna. Ia segera membantu Rain berdiri dan memegang botol infus Rainaya.


Hima berusaha mengatur nafasnya,ia lega karena sekembalinya ke kamar, Rain sudah ada di situ. Buru-buru ia memegang bahu Rain,menatap Rainaya dalam-dalam.


"Jangan khawatir,tadi Rain hanya duduk di tepi danau di belakang kamar ini." Tante Alya berusaha menenangkan anak semata wayangnya. Hima menghempaskan nafasnya, ia sudah sangat khawatir. Ia masih trauma,takut jika Rain sedang dalam bahaya. Tante Alya segera menolong Rain untuk merebahkan dirinya. Raut mukanya tidak bisa berbohong,ia begitu cemas, apalagi melihat Rain yang nampak kurus. Sesekali punggung tangannya ditelungkupkan di kening Rain, memastikan bahwa Rain tidak sedang demam. Tidak berapa lama Luna mohon diri untuk pulang dan suasana mulai cair. Tante Alya mengusap pipi Rain.


"Tan....eh...Mama,boleh Rain peluk?" wajah orang di dalam ruangan ini meneduh seketika,seolah hujan akan datang disertai badai dan angin kencang.