
Entah mengapa Rain menjadi gemar duduk di pinggir danau di belakang paviliun kamar. Terkadang secara diam-diam ia keluar lantas berlama-lama disitu. Telinganya begitu hening,yang ia dengar hanya gemericik air. Angin sepoi-sepoi terkadang turut menerbangkan anak rambutnya. Rain memandangi sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Rainanya Wijaya,maukah engkau menerima pinanganku?" tanya Hima,wajahnya sangat bersinar waktu itu. Matanya begitu bening,suaranya seolah menghanyutkan segala rasa. Semua bercampur aduk menjadi satu. Bayangan kedua orang tuanya yang sudah tiada karena lebih dulu dipanggil Tuhan seolah turut mengangguk,mengaminkan pertanyaan Hima di depan keluarga besar yang semuanya berpakaian warna putih. Sejumput senyum bulan sabit turut melengkung merekah seolah mawar yang kuncup riang bermekaran dan hampir membuat semua kelopaknya gugur. Rain menganggukkan kepalanya. Bayangan masa lalu seolah luluh lantak,ia melupakan Shaka dan kenangannya. Rain menginjak semua daun kering di bawah pohon nangka dan membiarkannya diterpa angin. Ia menggunting kertas masa lalunya,puing-puingnya ia biarkan terbang dan tidak kembali lagi.
Matanya seolah meredup,Rain merasa dunia sudah mempermainkannya. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk kembali ke pelukan Hima lagi dan sama sekali ia tidak pernah membayangkan berpisah dengan Shaka. Namun nyatanya hidup yang ia jalani meski sepahit ini.
"Shaka aku nggaķ bisa hidup tanpa kamu." Rain pernah terisak seperti itu. Meskipun ia tahu sedang berhadapan dengan siapa. Wajah laki-laki itu begitu dingin,tangannya bahkan sengaja disembunyikan agar Rain tidak mampu meraihnya kembali dan memohonnya untuk tetap tinggal. Di pelipisnya tergurat otot-otot yang seolah ingin menjalar keluar.
"Aku bukan Tuhan" elak Shaka. Rasanya ia sudah muak sekali dengan wanita yang ada di hadapannya ini. Rain begitu posesif,ia ingin menguasai seluruh waktunya. Ia ingin hidup menjadi laki-laki yang merdeka. Ia bosan selalu dikekang, Rain terlalu bergantung kepadanya. Shaka menatap wanita yang ada dihadapannya, ia sungguh muak apalagi melihatnya menangis dan merajuk.
plaaaakkkkk. Sebuah tamparan mendarat di pipinya. Seluruh panas menjalar di seluruh tubuh Rain,bukan hanya wajahnya yang terluka, sudah berkali-kali hatinya ditampar habis-habisan. Meskipun luka itu selalu sembuh dengan sendirinya tanpa perawatan dari si pemberi luka.
Rain merasa Shaka adalah pelabuhan terakhirnya,apapun akan ia lakukan demi keutuhan hubungan mereka, meskipun Shaka lebih sering menyakitinya. Beribu harapan selalu ia tanam saat langitnya hitam dirundung luka,meskipun bukan sekali dua kali ia berdoa tapi selalu ditolak Tuhan. Tidak pernah ia lelah, ia selalu menempatkan Shaka di pucuk pohon cemara,namanya selalu ia elukan. Selalu ia nomorsatukan,lebih dari segalanya.
Rain mengerjapkan matanya, bayangan pahit masa lalu tidak akan pernah hilang dari kepalanya. Rain termenung dan terbangun karena setetes air membasahi ujung hidungnya. Ia menengadahkan kepalanya,rupanya rintik gerimis datang. Rain tidak buru-buru masuk ke kamarnya. Kakinya justru tergerak untuk mendekat ke bibir danau. Di air hijau yang riuh karena rintik gerimis, Rain dapat melihat wajahnya. Diangkatnya kaki sebelah kanannya,bahkan telapak tangannya sudah mengenai permukaan air. Dan kedua tangannya sengaja direntangkan sembari tangannya direntangkan, sambil memejamkan matanya.
"Rain...." seorang berlari meraihnya. Hima melepas jas warna putihnya,lantas ia gunakan untuk menutup kepala Rainaya,bahkan ia meraih tiang infus lantas mengambilnya dan menggendong Rain. Hima tahu gerakan Rain masih lambat,ia takut hujan akan cepat deras.
" Himaaa...malu,turunin aku." Rain mencubit pinggang Hima. Hima tidak menghiraukan itu, ia tetap menggendong Rain sampai tempat tidurnya. Tangannya meraba baju Rain, memastikan ia tidak kebasahan. Untung saja masih kering,ia hanya mengusap rambut Rain dengan beberapa lembar tissue.
"Lain kali kalau butuh udara segar bilang sama aku."
"Kan kamu gak ada." Hima menuangķan segelas jus kiwi yang sengaja ia bawa dari rumah, gerakan tangannya menunjukkan kecemasan. Lantas ia terdiam,tangannya hampir meremas gelas dalam genggamannya. Matanya menatap Rain dengan tajam, Rain lantas menundukkan kepalanya.
"Kamu tau Rainaya Wijaya, sepanjang hidupku aku cemas memikirkan kamu. Jauh sekali,melebihi saat aku masih di Jerman!"
Deg....jantung Rain hampir saja tercekat. Ia menengadahkan pandangannya. Tapi sepatah katapun tidak keluar dari mulut Rain. Sepanjang perkenalannya dengan Hima ia baru pernah melihat matanya berkilat.
" Kamu masih bisa bertanya,jelas-jelas dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kakimu hampir kau jatuhkan ke danau" Rain terperanjat, ia tidak menyangka Hima akan berpikir sejauh itu meskipun sebenarnya Rain memang hampir saja gelap mata untuk menjatuhkan diri ke dalam danau.
"Kalau kamu mati lantas bagaimana dengan aku Rain." perkataannya mulai melemah. Tangannya meraih tangan Rain,bibirnya yang tampak pucat gemetar mencium tangan Rain berulang kali. Kali ini nampak Hima yang bertingkah seperti kesetanan. Rain tidak kuasa menahannya, ia mengusap kepala Hima,kemudian memeluk Hima. Hima merengkuh Rain,memeluknya erat-erat.
Rain sadar selama ini ia banyak menyakiti Hima, ia menganggap seolah dirinya orang yang paling terluka di dunia ini. Ia egois, ia tidak pernah sadar bahwa diantara segala kesakitannya ada seseorang yang selalu menantikannya. Hima bagaikan pemantik di malam gelapnya, tapi selalu ia kesampingkan. Rain baru menyadari betapa kejamnya ia yang selalu menomorsatukan kesakitan masa lalunya. Padahal masa depannya jauh lebih luas.
Sementara itu di balik jendela kamar,sepasang mata penuh amarah juga menatap mereka berpelukan. Shaka makin mendendam dengan binar kebahagiaan yang ada di depan matanya. Shaka tidak akan pernah menyangka Rain semudah ini melepaskannya dan sehancur inikah ternyata rasanya, Shaka merasa dihianati meskipun sebenarnya ia sendiri yang membakar istananya dan membiarkan permaisurinya diselamatkan orang lain.
***
Dinda membantu Rain menyisir rambutnya yang sudah mulai panjang. Ia lega karena doķter mengatakan bahwa dua hari lagi Rain sudah diperbolehkan pulang. Ia memutuskan untuk pindah kantor,semenjak kejadian pengeroyokan yang dilakukan Angell. Dinda takut Rain tidak selamat lagi.
Semakin hari Rain terlihat makin membaik,hubungannya dengan Hima berangsur pulih. Rain kembali percaya diri, padahal sebelumnya ia bersikukuh untuk meninggalkan Hima.
" Kak Din." panggil Rain memecah lamunan Dinda.
" Gue boleh ke Jogja Kak,kangen Mama Papa." sudah setahun belakangan ini Rain memang tidak pernah datang ke pemakaman kedua orangtuanya. Bahkan sebelum acara lamaranpun Rain belum sempat datang.
" Gimana kalau akhir tahun aja,biar sekalian kita semua kesana." Dinda sedikit ragu karena beberapa hari ke depan pekerjaan sedang padat-padatnya.
"Aku bisa sendiri."
" Rain....gak usah macem-macem. Nanti ada harimau menerkam lagi." candanya. Rain tersenyum kecut. Dinda menyadari perubahan wajah adiknya ini.
" Baiklah,tapi biar Kakak gak khawatir,boleh perginya sama Hima." Rain menganggukkan kepalanya.