RAINAYA

RAINAYA
Duapuluh


Setetes embun dari kelopak bunga sepatu berwarna merah jambu menitik,kemudian diikuti oleh tetesan yang lain. Disekitarnya segerombolan kupu-kupu berwarna kuning seolah berlari berkejaran. Mereka seakan menggoda tetes embun yang ikhlas jatuh ke bawah lalu dengan pasrah menyeringai, menyusup pagi yang dingin bergerimis ini lantas bergumul menyatukan diri ke permukaan tanah. Beberapa burung hitam nampak terbang hilir mudik kemari, bunga sepatu nampak menengadahkan kepalanya lalu menatap silau ke atas langit yang biru merinai. Ia memang seolah bersembunyi diantara semak daun tapi ia tidak pernah lupa untuk tersenyum lantas mengucapkan selamat pagi kepada semesta.


Seorang laki-laki tidak hentinya menatap opera pagi di taman belakang rumahnya. Sekelebat muncul seorang wanita yang tidak pernah ia lupakan. Wajahnya yang mendayu sendu tapi selalu banyak mutiara yang berkerlip disitu. Rain adalah lautan lepasnya, dimana ia rela karam dengan pasrah. Tangan lembutnya yang senantiasa membelai rambutnya,menimang-nimang seolah ia adalah seorang bayi kecil yang sedang menangis mencari-cari ibunya. Bibir merah jambunya selalu mencari-carinya jika ia malas untuk bangun pagi.


"Bangun..." rengeknya,sambil bibir merekah itu terus menciuminya tanpa henti.


Atau ia yang selalu membawakannya segelas susu almond panas,dan sambil meniup-niup uap panas itu ia mengusapkan telapak tangan tepat di pipinya. Dan ketika ia membuka matanya,binar dalam manik mata itu selalu memabukkannya. Seolah hangat menjalar ke sekujur tubuhnya, seolah suara saxophone dengan lagu "memory" mendayu-dayu di telinganya. Membuatnya ingin terpejam sembari memeluk wanita ini dan terkadang ia tidak ingin bangun untuk selama-lamanya. Ia sadar bukanlah seorang laki-laki yang sempurna untuk Rain. Kadang ia masih suka bermain dengan wanita lain, kadang ia lebih sering ragu mampukah Rain menjadi wanita di masa depannya. Tapi ia selalu yakin...Rain adalah tempatnya berpulang. Meskipun sebenarnya banyak dorongan yang meminta ia memutuskan hubungan dengan embun paginya ini.


"Putuskan, ia tidak baik." begitu selalu yang Kak Angell minta. Tanpa ia sadari seorang wanita yang selalu ia tolak kehadirannya adalah seonggok intan yang terkepung lumpur. Terlalu banyak kesalahan yang selama ini Shaka lakukan dan selalu dimaafkan Rain begitu saja. Dua tahun terakhir ini Rain memang lebih pendiam, sudah lama ia tidak pernah mendengar nada tinggi keluar dari mulut mungilnya. Sempat beberapa kali Shaka memergokinya menangis, hanya seorang diri. Ia menelungkupkan kepalanya di kedua lututnya, Rain menjelma menjadi putri airmata. Melihat hal itu Shaka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk sekedar memberikan pelukanpun rasanya tangannya terlalu berat. Ia puas karena Rain mempertahankan kehadirannya dengan segenap airmatanya. Shaka puas karena ia melihat di depan matanya ada seorang wanita yang benar-benar mencintainya dengan segenap airmatanya. Bahkan Shaka tidak segan-segan membiarkan tangannya yang perkasa ini melukai Rain. Shaka tidak pernah menyesal,bahkan ia merasa puas, ingin dan ingin kembali mengulangnya.


Shaka memukul-mukulkan tangannya pada sebuah gundukan tanah. Ia ingin mengeram kesal, ia tidak terima karena pada akhirnya Rain sendirilah yang berhianat. Bahkan di lehernyapun telah melingkar nama laki- laki lain. Kemana perginya Rain yang dulu. Rain yang selalu tidak tahan untuk memeluknya dari belakang,hingga hembusan nafasnya berdesir melalui lubang telinganya lantas menggetarkan sekujur tubuhnya. Rain yang tidak pernah untuk tidak manja dan sangat bergantung padanya. Rain yang meskipun berulang kali ia tinggalkan tapi selalu kembali sepedih apapun itu.


"Jangan tinggalin aku." ingatnya. Bayangan wajah itu tidak pernah pergi dari ingatan Shaka. Bahkan ketika ia bersenang-senang dengan perempuan lain, rintih tangis Rain selalu terngiang di telinganya,binar mata Rain selalu muncul di pelupuk matanya. Akhir-akhir ini semakin sering hadir dan tidak mau pergi.


Tanpa terasa airmata menjatuhi pipinya,bahkan sangat deras.Untuk ukuran laki-laki seperti Shaka jelaslah merupakan suatu hal yang mustahil terjadi. Ia menangis sambil tangannya terus memukul-mukul ke tanah. Setitik rasa cinta di hati Shaka seolah tumbuh kembali,ia merasa tidak bisa melepas Rain begitu saja,ia ingin memiliki Rain seutuhnya. Pohon yang tinggal seutas ranting kering seolah kembali hidup dan menumbuhkan tunas-tunas baru berwarna gebyar hijau.


"Shaka." Angel berteriak melihat kelakuan adiknya. Sudah berapa hari ini tingkah laku Shaka memang mencurigakan, bahkan ia tidak mau makan,meskipun Angell sekuat tenaga memaksanya. Buru-buru ia menghentikan tangan Shaka,takut adiknya terluka. Angell mengambil tissue dari dalam tasnya lantas membersihkan tangan Shaka yang kotor. Ia semakin heran karena melihat adik laki-lakinya ini menangis.


"Kenapa Shaka!" Angel tidak sabar, karena ia bingung dengan kelakuan adiknya ini.


"Apa karena si pembawa sial itu!" berulang kali Angel memang selalu mengatakan Rain ini pembawa sial. Ia tidak suka dengan Rain yang ingin menguasai seluruh waktu adiknya. Belum lagi setahun ini ia melihat karir Shaka semakin melemah dan sepenuhnya berantakan,bahkan beberapa bulan yang lalu ia diberi pilihan untuk mengundurkan diri karena perusahaannya mengalami kebangkrutan.


"Apa kamu mau tangan Kakak yang membunuh dia. Kamu sudah hancur Shaka. Lupakan dia! Menikahlah dengan wanita pilihan kita!" Shaka tidak bergeming, sesungguhnya ia ingin berteriak, tapi Shaka menghormati Angell sebagai Kakaknya. Kali ini mata Angel sudah berkaca-kaca. Shaka jauh menerawang, sama sekali tidak ada rencananya untuk menikahi wanita lain. Apalagi pilihan orang lain, bagaimana mungkin ia melupakan seorang wanita yang hampir sepanjang hari menangis untuknya. Andai saja Shaka menyadari perasaan ini lebih awal mungkin perpisahan ini tidak pernah terjadi. Tapi sekarang memandangnyapun Rain sudah tidak sudi, perlakuannya yang demikian justru membuat Shaka makin terobsesi pada Rain. Perasaan itu semakin besar membuncah, Shaka tidak peduli lagi dengan penolakan keluarganya,apapun caranya akan Shaka lakukan untuk mengembalikan Rain dalam kehidupannya lagi.


"Sebelum kau bunuh Rain,akan kubunuh kau terlebih dahulu!" ancam Shaka sambil kedua tangannya mencekik leher kakaknya ini. Baru kali ini ia mendengar Adiknya sekasar ini. Angel memberontak, tangannya berusaha menyingkirkan tangan Shaka. Shaka menatap Mata Angel dengan kilat amarah. Shaka murka karena Angel berani melukai Rain. Shaka tidak terima karena selama ini Angel terlalu banyak mencampuri kehidupannya. Selama ini ia hanya bisa diam,tapi lambat laun ia merasa perasaan ini tidak bisa diam.


Angel meronta,ia tidak menyangka adik kecilnya ini sudah menjelma menjadi hewan buas. Shaka yang ia rawat melebihi segalanya lantas menghianatinya karena perempuan itu. Perempuan yang tidak akan pernah sejajar dengan keluarga Hadiningrat. Setetes airmata meleleh di pipinya, ketika cengkraman tangan Shaka mengendur lantas ia meronta. Ia berhasil lepas dari tangan Shaka.


"Kamu gila!" teriaknya.


"Aku memang gila!" Balas Shaka,mereka bersahut-sahutan saling hardik menghardik,hampir membuat Mbak Nana,asisten keluarganya ini ketakutan. Ia melihat kedua majikannya ini dari jauh,tangannya sudah bergetar sambil memegang Handphone,kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Shaka,adikku. Kakak mati-matian membela kamu. Inikah balasan kamu!" Shaka termenung,tangannya sudah mengepal. Kepalanya sudah mengencang,urat-urat di pelipis kepalanya seolah ingin keluar dari cangkangnya. Sesekali ia menatap Angel,tatapan tidak suka dan begitu sinis.